Alhamdulillah,
tarimo kasih ateh sharing nan sabana boneh,Mak MM***.

Untuak soal Pak Ahmad Tohari, nan ambo tulih adolah saroman iko Mak MM:
______
Ambo ado lo kisah menarik dari Pak Ahmad Tohari (sastrawan penulis trilogi
"Ronggeng Dukuh Paruk" dan salah satu Kiai NU) dalam membesarkan anak yang
ingin ambo sharing. Tetapi setelah mendengarkan pengalaman para senior di
palanta ko lebih dulu.
______

Jadi bukan nan Mak MM tulih (dan duga) seperti ini:

-----------
ambo raso paralu manggarihi kalimaik di panghujuang ko :
Ahmad Tohari nan kabatulan punyo turunan anak padusi sadonyo, mungkin
manururik Sanak ANB s-u-k-s-e-s manjadikannyo anak-anak baguno (?).
_______

Sabab anak AT indak padusi sadonyo (ambo indak parnah manulih itu, dan
manyabuik s-u-k-s-e-s, tapi "kisah menarik" ...

Sabananyo ambo masih manunggu sharing caro mandidik anak dari para senior
lain, dek karano baru tigo urang nan bacarito pengalaman langsung (Mak
Darwin Chalidi, Mak Dave dan Mak MM) dan surang pangalaman indak langsung
(Mak Duta).

(Tapi mungkin topik ko indak menarik dibanding "sharing" soal rencana Si
Burung Biru akan melebarkan sayap di Minang).

Dek karano sanak Afda Rizki alah pulo batanyo soal Pak Ahmad Tohari ko,
ambo parnah batanyo ka Pak AT (tahun 2006) baa caronyo mandidik 5 anak
(ambo lupo urutannyo, tapi kalau ndak salah 3 padusi 2 laki-laki, atau 3
laki-laki 2 padusi). Wakatu itu anaknyo nan katigo hampir S3 di Jepang,
mungkin umur sekitar 27-28 tahun.

Kiro-kiro sarupo ikolah pambicaraan ambo jo liau (lokasi pembicaraan di
Univ Pelita Harapan Karawaci, Tangerang. Saat itu 28 Oktober 2006, Pak AT
diundang sebagai narasumber Bulan Bahasa membahas novelnya. Tahun
barikuiknyo, ambo nan jadi narsum di UPH untuak novel ambo "Nagabonar Jadi
2").

________

ANB: Mas, saya mau tanya, bagaimana cara Mas mendidik anak?

AT: Rasanya biasa saja, meski saya bersyukur lima anak saya lulus S1 semua
bahkan yang ketiga ini sedang garap disertasi S3 di Jepang. (Lalu beliau
menyebutkan ado anak lainnyo nan S2). Sebetulnya Mal, kalau melihat
kehidupan saya, susah membayangkan anak-anak saya bisa mendapat pendidikan
tinggi seperti itu. Akmal lihat saja saya ya seperti ini. Pendapatan dari
menulis saja. Istri pun hanya guru SD. Memang saya punya pesantren kecil
juga. Tapi tidak sebanding besarnya dengan pesantren-pesantren terkenal NU.

ANB: Lalu bagaimana Mas mendidik anak?

AT: Yang saya dan istri perhatikan benar adalah apa yang masuk ke dalam
perut mereka. Istri saya kan juga pengelola koperasi SD, yang kadang-kadang
di akhir tahun ada pembagian keuntungan. Biasanya kalau ada tambahan uang
seperti itu, kami perhatikan benar, ini sungguh-sungguh bersih atau masih
ada yang meragukan meski sedikit. Karena kan nggak mungkin keuntungan hasil
usaha kita kembalikan. Jadi kami terima saja.

Tapi untuk membeli makanan haruslah dari uang yang benar-benar kami yakin
bersih. Kalau yang agak ragu-ragu, kami belikan entah pakaian, sepatu,
pokoknya yang tidak masuk perut. Itu yang nomor satu.

Kalau mengajar agama, sholat, puasa, dll, saya kira hampir semua orang tua
sama. Apalagi kalau seperti saya yang dari kultur NU dan punya pesantren
juga.

ANB: Baik mas, jadi pertama soal kepastian halalnya sumber makanan yang
masuk ke perut anak-anak. Lalu apalagi?

AT: Nah, yang kedua ini mungkin yang khas saya. Karena saya beberapa kali
bicara dengan para kiai untuk soal yang kedua ini, sejauh ini belum ada
yang melakukan. Mereka bahkan bilang merinding setelah mendengarkan cerita
saya.

ANB: Para kiai bilang sampai merinding mendengar cara Mas Tohari
membesarkan anak?

AT: Iya. Dan itu bukan cuma satu-dua orang yang bilang. Jadi cara saya dan
istri mendidik anak adalah setelah kami didik mereka saat kecil dan remaja,
maka setiap anak saya, tidak laki tidak perempuan, begitu berumur 17 tahun
langsung saya bai'at. Satu persatu.

Misalnya Akmal anak saya. Begitu Akmal umur 17 tahun, maka saya bilang,
"Akmal, menurut hukum agama dan hukum negara, kamu sudah dewasa sekarang.
Maka bapak akan 'membai'at' kamu (AT mencontohkan bersalaman dengan saya --
ANB) supaya kamu mengatakan dengan setulus-tulusnya, seikhlas-ikhlasnya,
bahwa bapakmu ini sudah mengajarkan SEMUA ILMU AGAMA YANG BAPAK TAHU
kepadamu, dan kamu akan membebaskan bapak kelak di Yaumil Akhir kalau
ditanyakan kepadamu apakah dulu bapakmu bertanggung jawab mengajarkan agama
kepadamu, Akmal.

Setelah 'bai'at' itu terjadi, dan anak saya mengatakan hal di atas, maka
setelah itu saya akan membebaskan anak-anak saya melakukan apa saja yang
mereka inginkan, dan saya pun bisa lebih tenang karena pada prinsipnya
mereka sudah mengadakan perjanjian dengan Tuhan sendiri.

---------

Mendengar cerita Pak AT itu Mak MM***, ambo pun maraso merinding mendadak
saat itu.

Jadi, utang ambo bacarito soal Pak AT sudah lunas ya Mak MM dan sanak Afda.

Salam,

Akmal N. Basral
Cibubur











Pada 26 Desember 2012 14:49, Muchwardi Muchtar <[email protected]>menulis:

> Sanak

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke