Ass wr wb Sanak Palanta kasado no, Menarik sekali mengangkat topik mengenai PKL.
Kalau kita mau jujur,mengingkapi kasus PKL ini,haruslah dilihat dari Pendekatan Sosial Ekonomi Masyarakat sebetulnya. Pendekatan Ekonomi kerakyatan dan Pendekatan Ekonomi non kerakyatan. Sebetulnya,dari foto2 zaman Belanda pun,kalau kita lihat,yang dibangun oleh Belanda adalah "los" sebetulnya,karena biaya sewa murah dan bisa terjangkau oleh semua pedagang yg mau berjualan. Jadi betul2 ekonomi kerakyatan yg dilakukan Belanda zaman dahulu,yg sangat pro rakyat banyak. Karena Bangsa kita,masih pedagang menengah ke bawah sebetulnya.Jangankan untuk mengontrak toko puluhan sampai ratusan juta rupiah,untuk modal awal galeh saja masih byk yg berhutang. Jadi sebaiknya,bukan toko yg dibangun banyak2,lalu dikontrakan puluhan dan sampai ratusan juta rupiah setahun,tetapi "LOS" saja yg sebaiknya yg dibangun banyak2,sehingga sewanya jadi murah dan terjangkau oleh semua calon pedagang,terutama bagi pemodal lemah. Makanya,byk orang tua2 kita yg merasa lebih nyaman hidup di zaman Belanda daripada hidup di zaman Orba katanya. --------- Pendekatan Non Kerakyatan,terutama akan menguntungkan pemodal Besar saja sebetulnya dan bagaimana mengeruk kredit pembangunan toko2 dan mall2 saja sebetulnya,dan akan mematikan pengusaha kecil dan menengah. Sedikit,pamatang2 hari sabalun beduk magrib tiba. Wasalam, Kurnia Chalik Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Wed, 17 Jul 2013 03:55:20 To: Rantaunet<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [R@ntau-Net] OOT: PKL Tanah Abang Akui Bikin Macet Jalan Sanak2 sa palanta yth. Iko tambahan berita dari suduik pandang PKL Tanah Abang Salam FMNS L65bdg PKL Tanah Abang Akui Bikin Macet Jalan Rabu, 17 Juli 2013 | 09:08 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Pedagang kaki lima (PKL) Pasar Tanah Abang, Jakarta, mengaku keberadaan mereka berkontribusi terhadap kemacetan Ibu Kota. Lokasi berjualan yang tak hanya di bahu tetapi juga badan jalan membuat arus lalu lintas tersendat. "Iya sih, kendalanya begitu (bikin macet)," ujar Tri (38), salah seorang PKL, kepada Kompas.com, Selasa (16/7/2013). Tri yang sehari-hari berjualan celana panjang mengaku mau dipindahkan ke Blok G asalkan ramai pengunjung. Ia optimis pengunjung akan berdatangan jika semua pedagang kompak menempati Blok G. Ia berharap pengalaman relokasi 2005 lalu tidak terulang. Permasalahan yang terjadi kala itu adalah sebagian blok belum rampung dibangun. Oleh karenanya, mau tak mau pedagang yang tak kebagian kios kembali ke jalanan. Namun, selain dikarenakan keberadaan PKL yang memakan lebih dari separuh badan jalan, Tri menyebut bahwa kurangnya lahan parkir juga menjadi penyebab kemacetan. Kondisi itu menyebabkan bermunculannya parkir on-street. Ia berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa bijak terhadap usaha informal ini. Sementara itu, pedagang lain, Akmadi (40), tidak mau hanya PKL yang dituding sebagai biang kemacetan. "Bukan dari PKL aja (yang bikin macet). Lihat tuh mikrolet ngetem sembarangan," ujar Akmadi. Pria yang sehari-hari berjualan seragam ini mengaku pada dasarnya PKL mengganggu perda (peraturan daerah). Ia pun mengatakan, berjualan di jalan raya melanggar aturan. "Cuma ada kebijakan dari pemerintahlah. Orang mau berdikari. Jangan diusir, terus didiemin aja," imbuh dia. Penulis : Estu Suryowati Editor: Ana Shofiana Syatiri Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
