Tarimokasi da Akmal
Ambo menikmati tulisan dan tanggapan2 da Akmal, Imajiner dibawah ko
tantunyo.
Semoga harapan kito basamo, seperti apo nan auda kamukokan dapek tajadi
handak no dikampuang kito untuak nan terbaik.

Baitu juo jo bahasan2 nan lain, semoga tatap memberi pencerahan dan maminteh
postingan2 dengan data dan dalil2 nan jaleh.

Wassalam

Pada 21 Desember 2014 13.25, Akmal Nasery Basral <[email protected]>
menulis:

> Fend,
> jadi kalau dibuat resume berdasarkan peringkat pertumbuhan ekonomi (PE) ,
> peringkat PE Sumbar sebesar 6,38% ada di posisi ke-4 (dari 10 provinsi,
> dengan posisi 1-3: Jambi, Bengkulu, Babel), meski masih di atas:
>
> 5. Sumut (6,22 %).
> 6. Sumsel (6,01 %).
> 7. Kepri (5,73 %).
> 8. NAD (5,18 %)
> 9. Riau
> 10. Kepri
>
>
> Uniknya jika data PE ini kita bandingkan dengan PES (Pertumbuhan Ekonomi
> Syariah) 2015 yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), posisi Sumbar
> dalam hal DPK (Dana Pihak Ketiga) pada Bank Syariah juga di posisi ke-4.
>
> Siapa saja 3 besar provinsi di Pulau Sumatra untuk ukuran PES?
>
> Jangan kaget, 3 besar provinsi itu semuanya provinsi yang berada di BAWAH
> Sumbar dalam rangking PE, yakni (ambo mulai terbalik dari peringkat 4 ke
> peringkat 1):
>
> 4. Sumatra Barat: 1,38 % (Rp. 2,553 triliun).
> 3. Sumsel: 2,03 % (Rp. 3,760 T).
> 2. Riau: 2,04% (Rp. 3,788 T).
>
> dan yang berada di peringkat 1 untuk pertumbuhan ekonomi syariah terbaik
> di Pulau Sumatra adalah ... *eng ing eng* .... *Sumatra Utara dengan
> pertumbuhan 3,35% (Rp 6,214 T) atau lebih dari dua kali Sumbar dari
> kapitalisasi DPK!*
>
> ** * **
>
> Melihat hasil perbandingan data pertumbuhan ekonomi itu, dua sahabat
> Bujang dan Ucok terlibat obrolan di Ahad siang.**
>
> Bujang: "Lho, kok bisa provinsi yang tidak berdasarkan ABS SBK mengalahkan
> provinsi yang bersandarkan ABS SBK dalam pertumbuhan ekonomi syariah?"
>
> Ucok: "Cemmana nggak bisa. Gubernur kami kan hafidz. Mungkin dia yang
> banyak sosialisasikan pentingnya ekonomi syariah. Mungkin ya. Jangan kau
> pelintir pulak pendapatku ini nantik."
>
> Bujang: "Ah, kalau soal hafidz, gubernur kami pun hafidz pula. Apa bedanya
> coba?"
>
> Ucok: "Alamak, kau tanyakan balik pulak padaku. Cobalah kau yang telusuri
> sendiri, Jang. Harusnya menurutku yang awam syariah ini, dua provinsi
> teratas dalam pertumbuhan ekonomi syariah di Sumatra itu adalah Sumatra
> Barat daerahmu atau Aceh. Terserahlah mana yang mau posisi 1-2. Ini Aceh
> pun di peringkat 5 pulak. Cemanna? Apa kata dunia?"
>
> Bujang: "Hmm... benar juga pendapatmu, Cok. Sekarang aku punya dugaan
> mengapa pertumbuhan ekonomi syariah di provinsiku tidak menggembirakan."
>
> Ucok: "Nah, baguslah itu, sebagai calon intelektual mulai dulu dengan
> dugaan sebelum kau cek di lapangan. Apa dugaanmu."
>
> Bujang, "Tadi data itu dari sisi DPK, bukan?"
>
> Ucok: "Botul!"
>
> Bujang, "Berarti Dana Pihak Ketiga atau Dana Masyarakat?"
>
> Ucok: "Botul lagi! Tapi apa inti dugaanmu, jangan hanya berputar-putar
> seperti mencari ketiak ular saja kau, Jang."
>
> Bujang, "Kalau Dana Masyarakat rendah, berarti menunjukkan juga tingkat
> kepercayaan masyarakat kepada bank syariah, bukan?"
>
> Ucok: "Ah cerdas jugak ternyata kau. Kini aku tahu lanjutan dugaanmu."
>
> Bujang: "Sok tau! Coba lanjutkan kalau kau memang tahu Cok?"
>
> Ucok: "Lanjutannya adalah, kalau DPK rendah, partisipasi masyarakat
> rendah, berarti di mana orang-orang Minang nan *kayo rayo*, nan *bapitih*
> tu, menempatkan uang mereka? Betul begitu maksudmu, Jang?"
>
> Bujang: "Begitulah. Hhhmm, Cok, menurutmu di mana kira-kira orang Minang
> nan *kayo rayo* tu menyimpan uang mereka ya? Kenapa sedikit sekali dana
> mereka di Bank Syariah?"
>
> Ucok: "*Meneketehe*. Kau tanyakanlah pada rumput yang bergoyang."
>
> Bujang: "Seriuslah sikit, Cok. Jangan bergurau terus."
>
> Ucok: "Nanti kalau aku serius kasih masukan, kau tersinggung pulak karena
> merasa diajari."
>
> Bujang: "Ya tidaklah. Mungkin kau sebagai orang luar bisa melihat lebih
> obyektif, Cok."
>
> Ucok: "Ini pendapatku pribadi ya, jangan disebut-sebut sebagai pendapat
> orang Batak terhadap orang Minang pulak. Ini benar-benar pendapatku
> pribadi, untukmu secara pribadi pula. Paham?"
>
> Bujang: "Paham."
>
> Ucok: "Ah tak jadilah, nanti kau marah pulak. Kata orang-orang dulu, lidah
> tak bertulang. Kau yang bilang minta masukan, minta masukan, giliran nanti
> dikasih masukan yang tak sesuai dengan keinginanmu, merepet pulak kau tujuh
> hari tujuh malam, atau malah mendiamkanku seakan-akan aku patung batu di
> Museum Nasional. Tak lah, tak lah ....."
>
> Bujang: "Ucoooooooooookkkkkkkk! Please? Bitte? Kasihlah masukan sikit
> saja. Ya, ya, ya ..."
>
> Ucok: "Nehi, nehi! Nanti pendapatku kau jadikan belati yang kau putar
> balik ke leherku. Nehi!"
>
>
> **dialog imajiner. Siapa Ucok siapa Bujang tak penting. Yang penting
> adalah bagaimana mencari tafsir dan penjelasan komprehensif, mengapa tiga
> provinsi yang berada *di bawah* Sumbar dalam Pertumbuhan Ekonomi
> (Nasional) justru berada *di atas* Sumbar dalam Pertumbuhan Ekonomi
> Syariah, sekaligus sebagai refleksi komunal, "Ada apa dengan orang-orang
> kaya Sumbar?"
>
> (Karena DPK dari golongan penduduk miskin yang bisa dipastikan kecil,
> tidak signifikan dalam total DPK itu, sehingga tidak perlu penjelasan
> apologetik, "Ini karena orang-orang di Ranah belum pada melek pentingnya
> Bank Syariah sehingga tidak tertarik menggunakan BS."
>
> Wahai orang-orang *kayo rayo nan batipih malimpah ruah* di Palanta RN,
> mohon dengan hormat cek rekening/m-rekening masing-masing, sudah berapa
> jauh dunsanak ikut berperan dalam MEMPERBURUK PERINGKAT SUMBAR dalam Bank
> Syariah dengan ketidakpercayaan dunsanak untuk menyalurkan amanah harta
> yang dititipkan Allah kepada dunsanak saat ini? Dan lebih suka menyimpannya
> dalam pelbagai produk keuangan konvensional di dalam dan luar negeri?
>
> "Ya ayyuhal ladzina" nan bapitih di Ranah jo Rantau Minang nan aktif
> memantau dan berinvestasi si sektor moneter dan mengintip pergerakan bursa
> dari pagi sampai pagi lagi, setiap hari, berapa banyak yang sudah dunsanak
> investasikan di SEKTOR RIIL dan microfinance yang mendorong perputaran
> ekonomi umat di Sumatra Barat via Bank Syariah? Kalau sudah ada, apakah
> jumlahnya signifikan dengan tabungan/inventasi dunsanak pada bank
> konvensional?
>
> Kalau sampai pada Laporan OJK 2015 (tahun depan), peringkat DPK Sumbar di
> Bank Syariah masih di peringkat ke-4 atau bahkan lebih buruk lagi, maka itu
> jelas kesalahan orang-orang kaya Sumbar, bukan kesalahan rakyat badarai
> yang hidup sehari-hari pun sudah sangat sulit.
>
> Siapa yang ingin melihat Sumbar berada pada peringkat 1 DPK pertumbuhan
> Bank Syariah tahun depan mengalahkan Sumut? Ah ya, semuanya ingin Sumbar
> berada di peringkat 1 PES. Kalau begitu pertanyaan diubah:
>
> Siapa dari orang-orang kaya Minang yang bersedia mengalihkan tabungan,
> deposito dll, pada bank konvensional masing-masing ke bank syariah (atau
> unit usaha syariah) di Minang secara signifikan?
>
> Jangan sampai "prestasi" tahun ini terulang lagi tahun depan: kalah dari
> Sumut, negeri asal Nagabonar.  Bah, apa kata dunia?
>
>
> Salam,
>
> ANB
>
>
> --



*Wassalam*



*Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke