Ada kajian dampak lingkungan, hanya bagaimana pelaksannya. Pasti ada beberapa kajian dalam hal ini, tetapi biasanya dikiaji dan dikomisikan menulisnya kepada enviromentalists di luar negeri. Mereka memberikans aran dan rekomendasi, namun pelaksanaannya, itulah yang harus dipertanyakan. Saya kebetulan menterjemahkan salah satu Master Plan Batam itu pada awal 1990an.
Sjamsir Sjarif Santa Cruz, California, March 09, 1911 *) *) Kalau diperhatikan beda tanggal saya mengomentar (March 09, 2011) dengan tanggal Ritrina penulis semula )Batam, 10 Maret 2011), ada beda satu hari. Jangan dikira saya salah. Beda waktu antara California (PST) dengan Indonesia (WIB) ada 15 jam. Kami terbelakang 15 jam dari Indonesia. DFi daerah WIB sekarang pasti jam 1 sore Kemis, sedangf bagi saya masih jam 10 malam, Rabu. --- In [email protected], Dasriel Noeha <dasrielnoeha@...> wrote: > > Saya yakin semua industri di Batam didirikan tanpa ada kajian dampak > linkungan (Andal) sebelumnya, sehingga untuk monitoring nya pasti susah > karena tidak ada tujukan RKL/RPL-nya. > > Dan juga alat untuk Oil Spill Containting apakah memadai di Batam? Untuk > mengatasi polusi hydrocarbon di Pantai yang indah seperti kata Rina ini?? > > > > --- Pada Rab, 9/3/11, rinapermadi <rinapermadi@...> menulis: > > > Dari: rinapermadi <rinapermadi@...> > Judul: [R@ntau-Net] Tanjung Pinggir yang terpinggirkan > Kepada: [email protected] > Tanggal: Rabu, 9 Maret, 2011, 10:36 PM > > a > > Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, > Dunsanak palanta > Sekedar berbagi cerita….. > > Tanjung Pinggir yang Terpinggirkan > By : Ritrina > > > Hampir di setiap hari libur di kota rantauanku ini, Batam, banyak sangat > kendaraan yang melaju ke arah pinggiran kota. Apalagi kalau bukan mencari > suasana yang alami. Berhubung kami tinggal diatas sepetak daratan maka > pinggiran yang ku maksud adalah pantai. Pantai yang menghembuskan angin > kesejukan menyeka keringat keletihan dan kejenuhan setelah sepekan bergelut > dengan berbagai barang elektronik ataupun barang-barang menjemukan lainnya. > Angin segar yang dicari sampai ke pelosok-pelosok daratan Batam ini sungguh > sangat gampang dicapai. Begitulah nasib tinggal di pulau kecil ini. > > Begitupun dengan diriku Kawan. Aku yang gila dengan segala bentuk hiburan > pantai dan laut ini sangat bersemangat bila roda kendaraan telah ditujukan ke > pinggiran pulau ini mencari tempat melepas kejenuhan di pasir-pasir putih di > tepian. Ada banyak pilihan pantai yang bisa kami tuju dengan mudah dari rumah > kami yang juga terletak di dekat kawasan pinggir dari pulau Batam ini. > > Sebut saja Pantai Marina, Pantai Tanjung Pinggir, Pantai Tanjung Datuk, > Pantai Bengkong Sadai, Pantai Nongsa, Pantai Melayu Sekilak, Pantai Setokok, > Pantai Melayu Jembatan 4 Barelang, Pantai Melur, Pantai Serangon di Jembatan > 5 barelang dan paling ujung dari Barelang setelah jembatan 6 Barelang sana > tak ada namanya. Semua itu telah pernah kukunjungi. Bahkan pantai-pantai yang > alami di pulau-pulau kecil tidak bertuanpun telah pernah ku jajaki. Serasa > mendamparkan diri di pulau antah berantah, berbekal seorang kapten perahu > yang disebut Pancung dan sebilah parang, kelapa-kelapa muda segar menjadi > santapan kami di tengah terik udara laut setelah lelah memancing. > > Hobi memancing adalah awal jalan yang mengantarkan kami menjadi penjelajah > beberapa kawasan pulau di perairan Melayu ini. Walaupun hanya menggunakan > perahu bermotor yang tidak begitu besar, semua itu menjadikan perjalanan > penuh tantangan dan pengalaman baru. Air laut yang penuh siraman warna langit > selalu mengikuti kemauan warna sang pengusa cakrawala itu. Kadang biru, > kadang bening kadang merah saga bila di ufuk telah terbit atau terbenam > mentari ketika dia muncul atau tenggelam ke peraduannya. > > Belakangan ini sungguh hatiku miris Kawan, aku yakin kamupun akan juga merasa > miris sepertiku. Tahukah dirimu, semua yang kudeskripsikan tadi itu > perlahan-lahan akan lenyap dari Bumi Lancang Kuning ini. Terakhir aku > berkunjung ke Kawasan Wisata Tanjung Pinggir Sekupang, sandal dan baju > anak-anakku yang sibuk bermain di tepian terpaksa harus kubuang ke tong > sampah di tempat pembilasan. Bahkan tempat bilaspun tidak lagi hanya > menyediakan air untuk membilas air laut yang asin setelah sibuk meraba-raba > dan mengelus air laut itu. Bensinpun juga mereka sediakan. > > Tahukah dirimu Kawan, untuk apa mereka harus menyediakan bensin disana?. > Kapal-kapal besar yang tak tahu diri itu, nun di tengah-tengah laut sana. > Mereka parkir disana dengan nyamannya, berbenah-benah dan bebersih-bersih > membuang segala macam bentuk sampah. Sampah mereka yang berbentuk cairan > hitam berminyak yang mengeping membulat kecil-kecil dibawa hempasan ombak ke > pantai. Kepingan-kepingan lembek ini bila menempel di baju maka baju itu > bagus dibuang saja sebab sudah tak bisa dicuci lagi. Gomok kapal yang > mengerikan itu perlahan-lahan menempel dimana-mana. Sangat susah melihat > ikan-ikan kecil yang terkadang di kawasan pantai yang normal akan > berseliweran di sisi-sisi kaki yang tengah dibenam di air dangkal pantai. > > Gumpalan-gumpalan pasir yang membingkah di pinggiran pantai ternyata adalah > bulatan-bulatan gomok berminyak yang menaburi pantai. Menyedihkan memang > Kawan, sungguh menyedihkan. Telapak kaki yang menapak disana penuh noda > hitam berminyak dan sangat lengket. Bagaimana nanti, bagaimana nanti? > Hatikupun bertanya-tanya. Pemandangan lepas pantai yang indah menyibak > pemandangan gedung-gedung menjulang di seberang sana. Nun jauh disana > terhampar pemandangan kota dunia, Singapura. Melirik sedikit ke sisi kanan > mata terlihat julangan anjungan kokoh yang seperti tumbuh dari dalam laut, > Anjungan yang dibangun oleh sebuah perusahaan besar yang sering dikunjungi > pejabat Negara, Mc Dermot. > > Pohon-pohon kelapa yang tumbuh di hamparan rumput golf di atas tebing kecil > di sepanjang pantai ini. Akankah dia menjadi gersang atau tetap menghijau > sampai nanti. Sebab dipupuki oleh racun-racun berminyak yang dilepas dari > tengah laut sana. Sungguh amat sangat disayangkan Kawan. Aku berharap yang > pemegang bola panas kepentingan mampu menjawab semua tanyaku sebagai rakyat > ini. Tolong jangan jadikan pantai-pantai indah dimanapun di negri ini seperti > pantai ini. > > Batam, 10 Maret 2011 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
