aku copaskan, cepenku ttg pak Polisi ya, untuk perbandingan aja,
wassalam,
 
POLISI ITU
 
Oleh: Dasriel
 
 
Ini kisah seorang polisi yang bertugas di pinggir jalan.
Kisah ini terjadi di Balikpapan.
 
Seorang polisi muda dan berpenampilan rapi dengan seragam polisi lalu lintas.
Ia dengan senyum sedang memperbaiki sebuah sepeda motor yang rusak pada bagian 
lampu send-nya akibat terjatuh.
 
Seorang ibu separoh baya yang rupanya yang mengendarai sepeda motor itu berdiri 
disampingnya ditemani oleh seorang murid SMA.
Si Ibu barusan tersenggol sepeda motornya oleh sepeda motor seorang anak uda 
yang mengendarai dengan ugal-ugalan. Lampu sein motor itu copot dan tercampak 
dijalan, bautnya lepas. Si polisi mengambilnya dan berusaha untuk memasangkan 
kembali.
 
Alangkah baik hatinya polisi itu. Ia melakukan itu tanpa pamrih apapun. Dan ia 
tidak minta bayaran pada ibu itu. 
 
Itu persis saya ketahui, karena diam-diam saya memarkir mobil saya di pinggir 
jalan di depan tempat kejadian itu. 
Saya amati melalui kaca spion saya, si ibu membuka dompetnya dan mengeluarkan 
uang kertas dua puluh ribuan dan mau memberikan kepada si polisi, namun saya 
lihat dengan masih tersenyum si polisi menolaknya. Itu dilakukan oleh polisi 
bukan karena kebetulan si putri ibu itu adalah seorang gadis yang cantik. 
 
Bukan karena itu. Itu semata-mata terjadi karena polisi itu memang baik. 
Kalaulah si ibu itu berpikiran ingin mengambil si polisi untuk menjadi menantu 
atau calon suami atau setidaknya menjadi pacar si gadis, itu bisa secara 
kebetulan saja. Dan kebetulan yang bisa saja terjadi. Si polisi muda dan 
tampan, sedangkan sigadis cantik jelita. 
 
Bukan itu yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah 
kebaikan si polisi yang baru kali ini saya temui.
Jarang saya temui polisi seperti sang polisi yang saya temui di kota Balikpapan 
di sini.
Mungkin ini perintah komandannya. Berarti komandannya juga orang yang baik, 
saya membatin dalam hati.
 
Kalau seluruh polisi di tanah air ini seperti polisi muda tadi, atau 
komandannya seperti yang akau bayangkan, aku jamin Indonesia akan aman dan 
damai dari gangguan para penjahat. Tapi sayangnya harapan hatiku tidak terkabul.
 
*
Sementara di lain tempat.
Pagi itu hari Sabtu di ibu kota.
 
Di sebuah lampu merah dua buah sedan dihentikan oleh seorang polisi 
lalu-lintas. Dua orang ibu keluar dan menghadapi polisi yang berkumis tebal 
dengan topi polisi kuning putih, sedang melakukan degosiasi. Kembali saya 
mengamati mereka melalui kaca spion saya.
Dua lembar uang kertas lima puluh ribu meluncur ketangan polisi itu yang dengan 
lihai cepat sekali melipatnya kedalam kantongnya. Saya tahu ibu itu tidaklah 
melakukan pelanggaran. Mereka Cuma kebetulan berhenti 
 
Sang Polisi telah mengambil kesempatan itu mencari rejekinya dengan 
memanfaatkan konsep dasar sebuah ilmu fisika. Yakni konsep ruang dan waktu.
Polisi itu mempunyai ruang tempat ia bergerak bebas elakukan aksinya. Ya di 
pinggir jalan dan di lampu merah. Ia mempunyai waktu. Waktu tugasnya ia 
manfaatkan. 
 
Namun, ia lupa bahwa di dunia ini ada hukum lain yang berlaku. Hukum yang 
diatur oleh Sang Pencipta Hukum itu sendiri. Hukum Kepatutan. Hukum Hak dan 
Kebenaran. Naehnya hukuim ini bersifat dan mempunya dua dimensi. Ia mempunya 
dimesi pada kwantu pertama yaitu hukum nyata. Orang baik akan disukai orang. 
Orang jahat akan dibenci orang. Dan itu terbukti dan itu nyata adanya. Namun, 
ada dimensi lain. Dimensi ini sukar dinyatakan dengan rumus matematik rumit 
yang mengenalkan integral dan differential sampai lipat empat. Pada salah satu 
rumus untuk memecahkan peliknya humum kwantum adalah dengan bantuan integral 
dan diferesial. Pada hukum yang satu ini belum bisa dibuktikan. Itu karena ia 
memeiliki dimensi lain yang tidak terukur, yaitu akal manusia yang 
Diciptakan-Nya juga. 
 
Seperti orang baik dan patuh pada ajaran Tuhan. Namun, didunia ia tidak 
beruntung. Tetap saja ia miskin. Tapi kenapa ia kelihatannya gembira, dan tak 
pernah menyesali hidupnya yang pas-pasan. Itui karena ia paham. Bahwa ada 
dimensi lain ditubuhnya. Ada partikel lain yang mengalir di tubuhnya yang orang 
lain tidak punya. Ia mempunyai sesuatu yang lebih yang menghidupkan semua sel 
tubuhnya. Sel itu bernama Sel Keikhlasan. Ia ikhlas menerima rejeki yang telah 
ditetapkan oleh Penciptanya. Ia berusaha seperti orang lain. Apaun hasilnya ia 
serahkan kepada Kehidupannya yang ia tahu Diatur oleh-Nya.
 
Bagaimana mengukur sebuah keikhlasan dengan sebuah besaran matematika? Atau 
bisakah diukur dengan ilmu staistika non-parametrika yang rumit itu?
Jawabannya juga rumit. Namun, kalau kita mengerti akan Ajaran-Nya dengan baik, 
jawabannya sebenarnya mudah. Ya itu, tergantung partikel mana yang mengaliri 
kwantum kedua di tubuh kita ini.
 
Polisi itu tidak menyadari bahwa sel ini juga ada ditubuhnya. Tapi sel ini 
dikalahkan oleh sel merah yang jahat yang juga mengaliri darahnya. Sel iblis si 
penggoda. Yang mengukur orang dengan sikap keserakahan dan tidak pernah puas. 
Itu menggoda sang polisi di lampu merah. 
 
Terjadilah kisah-kisah diatas. Kisah-kisah buat pelajaran bagi yang mau 
mengambil hikmah dari kisah itu.
 
Kita menyebutnya oknum polisi.
Artinya Pribadi polisi yang tidak baik, dan yang baik. Bukan instansi polisinya.
 
Itulah dunia. Itulah yang kita lihat. Karena kita ada di dunia ini, dan 
berjalan serta hidup di dunia itu juga. Jadi kejadian itu telah kita saksikan.
 


--- Pada Kam, 10/3/11, Hanifah Damanhuri <[email protected]> menulis:


Dari: Hanifah Damanhuri <[email protected]>
Judul: Re: [R@ntau-Net] Polisi Cepek
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 10 Maret, 2011, 1:14 AM


Assalammualaikum Wr Wb bapak Refflus

Kalau kami rakyaik badarai gon, dapek senyum dari urang hebat dan kayo .. itu 
saroman jo dapek sadakah gadang atau dapek durian runtuah. ... angek ati .. kok 
tingga di kampuang wak .. bisa sakampuang urang  urang tau .. saroman jo ayam,  
bakotek .. kotek kami saking angek ati.

Alhamdulillah Hanifah lai acok basuo jo urang-urang kayo nan elok nan randah 
hati.

Mudah-mudahan kok nyampang kayo lo Hanifah nanti, tainda juolah handakno dari 
sipaik sombong dan angkuh. Amin

Wass

Hanifah







Pada 10 Maret 2011 10:36, <[email protected]> menulis:

Tips Menghadapi Polisi Cepek

Oleh: Reflusmen | 23 July 2010 | 06:04 WIB

Untuk pengendara mobil (sopir) pasti mengenal namanya Polisi Cepek, ada juga 
yang memberi julukan Pak Ogah. Julukan Pak Ogah ini mungkin saja terinspirasi 
dari serial Film Unyil beberapa tahun lalu, dimana Pak Ogah selalu meminta uang 
Cepek untuk setiap jasa yang dilakukannya. Polisi ini biasanya kita temui di 
perempatan, pertigaan, jalan satu arah yang sangat sempit, jembatan yang hanya 
dapat dilalui satu mobil atau jalan berlubang.
Tugas Polisi Cepek ini sangat mulia, karena bisa mengatur lalu lintas agar 
tidak terjadi kemacetan dan membuat jalan semakin lancar, ini kalau kita lihat 
dari kaca mata positip. Bisa juga Polisi Cepek menjengkelkan karena seolah-olah 
dia justru membuat jalan menjadi macet agar dia bisa berfungsi (mendapatkan 
uang) dari jasa yang diberikannya, begitu kata sebagian orang ha ha ha …
Asal usul Polisi Cepek ini ntah dari mana datangnya, mungkin saja karena 
kekurangan Polisi Lalu Lintas atau bisa juga terjadi karena pemuda pengangguran 
yang lagi iseng.
Dari pengamatanku terhadap keberadaan Polisi Cepek yang setiap hari kutemui, 
Polisi Cepek yang bertugas pagi tak pernah kutemui di siang atau malam, begitu 
sebaliknya. Ternyata banyak pelajaran yang bisa diambil dari mereka antara 
lain: kekompakan, pembagian tugas yang jelas dan mereka menjalankan tugasnya 
dengan ikhlas, walaupun tidak dikasih uang. Ini pengalaman pribadiku lho …!
Kadang-kadang terngiang dipikiranku, kok bisa kompak ?. Apakah karena mereka 
senasib, sesama pengangguran ?. Entahlah ! Tanyakan saja pada rumput yang 
bergoyang (pinjam syair lagu Ebiet G Ade). Seandainya semua sisi kehidupan bisa 
berjalan seperti ini, alangkah indahnya dunia ini ha ha ha ……

Tip menghadapi Polisi Cepek.

Berpijak dari pendapatku tentang perkejaan mereka yang mulia, aku selalu 
membuka kaca jendela dan menghidupkan lampu sen untuk menunjukan arah yang 
kutuju, memberikan senyuman dan kadang-kadang aku memberikan uang. Kalau aku 
memberi uang selalu kuberikan dengan tersenyum. Apabila tidak memberi, aku 
mengangkat tangan.
Mengapa tidak selalu memberikan uang ?. Sebenarnya ini adalah taktikku untuk 
melihat seberapa ihklas mereka membantu. Dari hasil pengamatanku selama ini, 
khususnya dipertigaan jalan dari dan/atau ke rumah yang kulewati setiap hari, 
membayar mereka dengan tersenyum juga mendapat balasan senyuman. Pernah suatu 
kali anakku bertanya. Kok mereka kenal dengan Ayah?. Itulah pertanyaan anakku 
melihat Polisi Cepek melambaikan tangan sewaktu aku lewat.
Ada juga  beberapa kejadian yang membuat aku merasa tersanjung dengan Polisi 
Cepek ini.
Begini ceritanya.
1. Di suatu pertigaan persisnya di Jalan Raya Bogor, ada seorang Polisi Cepek 
dengan tampang sangat sangar, bertato diseluruh tangannya (mungkin mantan 
residivis). Setelah aku dapat jalan, aku memberikan uang sambil menegur dan tos 
tangannya. Keesokan harinya sewaktu aku lewat, dia menegurku dengan ucapan yang 
tidak kusangka sama sekali.
Pak. Apa kabar ?. Dari tadi saya menunggu Bapak, begitu katanya. Alhamdulillah……
2. Kejadian lainnya di daerah Situbundo sewaktu aku dan keluarga menyetir mobil 
ke Bali. Disana terdapat suatu jembatan darurat yang hanya dapat dilewati oleh 
satu mobil. Berdiri  seseorang yang sudah cukup berumur memegang bendera merah 
mengatur lalu lintas. Sambil menunggu giliran, aku memberikan sebatang rokok 
dan ngobrol beberapa kata menanyakan mengapa di Jalan Pantura ada jembatan 
darurat. Bapak itu memberi penjelasan bahwa jembatan yang lama hanyut dibawah 
air bah. Anda ingat tragedi air bah beberapa tahun yang lalu yang banyak 
memakan korban ?
Setelah beberapa hari kemudian, aku kembali dari Bali dan melewati jembatan itu 
lagi. Apa yang terjadi ? Si Bapak itu menegurku. Pak ! Bagaimana perjalanannya 
?. Semoga Bapak dan keluarga selamat dalam perjalanan. Begitu doanya. Aminnnn……

Ternyata !. POLISI CEPEK JUGA MANUSIA.         Wassalam : Reflus Lk 53
Powered by Telkomsel BlackBerry®

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. E-mail besar dari 200KB;
 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke