Setuju denga sdr Muli bahwa kota dibentuk oleh banyak faktor. Dan kota-kota
modern pada umumnya memang "terbentuk" oleh faktor-faktor ekonomi (economic
geography). Tidak mustahil kota semacam Chicago merosot posisinya,. Hanya untuk
kota sebesar dan sekomplex itu, keuntungan agglomerasi dan kecanggihan service
business nya mungkin bisa cepat menyesuaikan diri. Begitu pula Pittsburg.
Yang nyata sudah jadi masalah barangkali kalau di USA dan negara sahabatnya
adalah kota-kota bekas pangkalan militer. Ini diskusinya banyak ditemui di
newsletter atau mailist. Dalam konteks Indonesia, yang nyata adalah kota-kota
eks tambang yang sudat kekurangan deposit, atau harga komoditi nya sudah
merosot.
Tapi kajian seperti ini dalam jangka pendek, barangkali menarik kalau dilihat
pada "pergerakan harga properti", karena mereka melihatnya tidak dalam kurun
"sejarah" (puluhan tahun) tetapi kurang dari satu dekade bahkan. Misalnya
General Motor, harus menutup beberapa pabriknya, juga Lockheed kehilangan
kontrak F-!^, adanya eksodur industri ICT di kota-kota menengah, langsung
diikuti eksodus karyawan, bisnis2 penunjang - langsung harga property merosot.
Jadilah kota merana, kecuali kalau Pemdanya sangat kreatif mencari kelompok
pelaku kegiatan baru, banting stir ke sektor lain. Disinilah perlunya skenario
antisipasi, bukan cuma forcasting dari trend. Bagaimana nasib Kediri kalau
Gudang Garam harus tutup karena bisnis rokok sudah obsolete (dibatasi)? ini
bisa jadi exercise mungkin. Bagaimana menyiapkan Pemda dan masyarakat
menghadapinya?
Jadi pertanyaan: apakah pembangunan prasarana itu jadi sebab pertumbuhan
ekonomi kota, ataukah menyusul saja untuk menguatkan? Mungkin ada grafik yang
bisa menjelaskan kapan yang satu mendahului yang lain.
Salam,
Risfan Munir, IAP
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.