Rekan-rekan milister ysh semua,

Dari diskusi dan eyel-eyelan yang terjadi dengan
sangat menarik, saya ingin sedikit membelokkan tema
pembicaraan yang sudah bergulir sedemikian indah.

Melanjutkan diskusi tentang "membangun daerah" dan
"daerah membangun", serta trend urbanisasi Indonesia
yang tingkat urbanisasi di tahun 1970 masih 17,1% dan
tahun 1980 juga masih 22,1%. Seperti yang disampaikan
oleh Pak Aby, tingkat urbanisasi Indonesia melesat
pesat sejak tahun 1980. Akibatnya, di tahun 2000,
tingkat urbanisasi tsb sudah mencapai 42%,
diperkirakan tahun 2007 ini merupakan tahun peralihan
Indonesia dari sebagian besar penduduk tinggal di
pedesaan, menjadi negara yang sebagian besar
penduduknya tinggal di perkotaan. 

Di tahun 2010, tingkat urbanisasi Indonesia akan
menjadi 53,7%. Dan selanjutnya, di tahun 2030 akan
menjadi hampir 70%. Dengan tingkat pertumbuhan dan
pertambahan absolut yang sangat tinggi (karena jumlah
penduduk Indonesia cukup besar), saya pikir
angka-angka tsb perlu kita (perencana) cermati secara
matang agar kita dapat melakukan tindakan apa yang
diperlukan untuk dapat mengantisipasi implikasinya.

Dengan pertumbuhan dan pertambahan absolut yang besar
(tahun 2000 sekitar 87,9 juta orang tinggal di
perkotaan, tahun 2015 akan menjadi 144,4 juta dan
tahun 2030 akan menjadi 186,7 juta), sudah dapat
diramalkan bahwa Indonesia akan mengalami tekanan
penduduk perkotaan yang sangat signifikan. Apalagi
hinnga kini kita belum memiliki pengalaman urbanisasi
yang cocok dijadikan sebagai "best practice" (mengutip
dari hasil diskusi kita sebelumnya). 

Menariknya, terjadi pergeseran trend urbanisasi pada
proses urbanisasi yang akan datang. Proporsi penduduk
perkotaan yang tinggal di kota-kota besar relatif
menyebar, dengan menyisakan sebagian besar penduduk
perkotaan di kota-kota kecil dan menengah yang setiap
kotanya berpenduduk kurang dari 500 ribu. 

Kota yang berpenduduk lebih dari 10 juta masih hanya
akan ada 1 di tahun 2015, yaitu Jakarta. Kota
berpenduduk antara 5-10 juta juga cuma 1 di tahun
2015, yaitu Bandung. Dan kota dengan penduduk antara
1-5 juta akan berjumlah 10, dimana 7 buah kota
merupakan kota-kota di Jawa plus Medan, Palembang dan
Makasar yang berada di luar Jawa. Seluruh kota jutaan
penduduk ini hanya akan memiliki sekitar 40 juta jiwa
(28% dari seluruh penduduk perkotaan). Sementara itu,
jumlah kota yang berpenduduk antara 500ribu - 1juta
hanya akan sebanyak 8 buah kota di tahun 2015 dengan
jumlah penduduk sekitar 5,8 juta (cuma 4% dari seluruh
penduduk perkotaan Indonesia). Namun, jumlah penduduk
perkotaan yang tinggal di kota-kota dengan jumlah
penduduk di bawah 500 ribu akan berjumlah sekitar 100
juta jiwa yang tersebar ke dalam ratusan kota kecil
dan menengah.

Jadi salah satu trend ke depan adalah pertumbuhan dari
kota-kota kecil dan menengah. Makasar yang Pak Aby
inginkan bisa menjadi sebuah kota metropolitan besar
(mengutip istilah Pak Aby untuk kota yang berpenduduk
antara 3-5 juta jiwa), diperkirakan baru mencapai 1,7
juta di tahun 2015. Sementara Medan sekitar 3 juta dan
Palembang 2,3 juta jiwa. Padahal, seperti yang saya
pikir kita pahami beersama, perhatian kita terhadap
pembangunan kota-kota kecil dan menengah hingga saat
ini masih sangat minim. Kota-kota kecil seperti itu
masih menjadi "anak tiri" dalam discourse pembangunan
perkotaan kita. Perhatian kita cenderung terkuras pada
Jakarta, Bandung dan Surabaya dan beberapa kota besar
lain, sementara jumlah saudara-saudara kita di
kota-kota kecil meningkat semakin banyak. lebih dari
itu, kita semua pasti paham dengan kemampuan/kapasitas
dari kota-kota kecil semacam itu untuk mengelola
urbanisasi dan pembangunan perkotaannya. Saya yakin
semua setuju apabila saya mengatakan bahwa
kemampuannya "teramat sangat minim sekali", sebagai
suatu ungkapan metabolis dari kondisi kapasitas
institusi, finansial, teknis, dsb, dari kota-kota
kecil seperti itu.

Saya pikir, selain mengandung sejumlah ancaman dan
tantangan sebagai akibat dari implikasi perkiraan
urbanisasi tsb, prediksi ini memiliki sebuah peluang
yang perlu bisa kita manfaatkan. Menurut saya
pemberian fokus dan perhatian kepada urbanisasi dan
pembangunan perkotaan bagi kota-kota kecil dan
menengah akan berpeluang untuk menjadi salah satu
kunci keberhasilan pencarian "best-practices"
pengelolaan pembangunan perkotaan Indonesia. 

Untuk itu, saya ingin mengundang diskusi dan debat
dari rekan-rekan semua terhadap suatu kasus riil yang
akan kita hadapi ini. Apakah kita ingin
pengalaman-pengalaman buruk dari proses urbanisasi
kita juga terreplikasi di kota-kota kecil kita?
Apabila tidak, apa yang perlu kita cermati dan
waspadai.

Mohon tanggapan dari rekan-rekan semua.

Salam hangat selalu,

Fadjar
PWK Undip


--- hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   
> Para milisters semuanya ysh,
>   Terimakasih pak Risfan masih  berkenan melanjutkan
> diskusi......alamat kita pasti akan dapat menarik
> banyak manfaat daripadanya...... berikut adalah
> tanggapan saya kembali atas beberapa penggal
> paragraf beliau dari posting yang lalu......tidak
> semuanya bersifat menolak.... tetapi setidaknya
> menyodorkan alternative opinion .....
>    
>   >>>>>>> ”........Jargon “daerah membangun”
> digunakan sebagai ganti “membangun daerah.” Tapi
> beberapa departemen sektoral belum. 
>   Lebih dari itu orientasi kebijakan nasional masih
> didominasi kebijakan makro dan sektoral. Atau lebih
> tepatnya sasaran pertumbuhan ekonomi nasional. Ini
> bisa dimengerti, bagaimanapun pemerintah (rezim)
> yang berdurasi kerja 5 tahun dituntut untuk
> menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonomi,
> stabilitas moneter dst, daripada indicator yang
> berjangka panjang. Itulah tantangannya. 
>   Masalahnya bagaimana para perencanaan wilayah
> meyakinkan mereka akan pentingnya aspek kewilayahan/
> pemerataan, yang sejalan dengan sasaran pertumbuhan
> (ekonomi). 
>   Untuk itu, di lingkungan PWK sendiri biasa
> digunaka hasil penelitian Salah el-Shakhs (1972)
> atau Henderson (2000) yang menjelaskan korelasi
> antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat urbanisasi
> serta pola distribusi kota-kota (rank size rule,
> primacy index) juga sulit diberikan..........”.
>   +++++++ Walaupun “membangun daerah” dan “daerah
> membangun” adalah  dua hal yang filosofinya amat
> berbeda...... namun bagi rakyat itu tidak terlampau
> penting ......yang penting adalah bagaimana
> konkretisasi dari  kedua “permainan  pembalikan
> kata-kata” itu......
>   ”Meyakinkan mereka” boleh jadi tidak harus
> merupakan satu-satunya gambaran tentang upaya,
> harapan serta “satu-satunya pihak”  seperti dewa
> kepada siapa para planner perlu “mengajak bicara” 
> …… 
>   Selain dari “mereka” yang ‘pertama’ itu yang
> katakanlah lebih banyak merupakan pihak teknokrat
> ….. masih ada stakeholder keruangan yang lain
> (“mereka” yang “kedua”. “ketiga” dst.) yang adalah 
> misalnya  saja  para pemain lapangan seperti para
> businesman, industrialis  manufaktur maupun
> industrialis properti……… yang diantaranya
> dikota-kota besar di Jawa sebagiannya bisa jadi juga
> menjadi bagian dari pemain “zero sum game” itu
> ........ namun tidak semua dari mereka hanya akan
> bermain  kalau ada “turunnya kelunakan kebijakan
> fiskal” dsb......... 
>   Tidak semua dari para “pemain lapangan” setiap
> akan melangkah harus berpegang terus pada referensi
> pemikiran  teoretik makro seperti “sasaran
> pertumbuhan ekonomi nasional”......  atau  apalagi
> berpegang terus pada textbook keruangan seperti dari
> el-Shakhs, Henderson, Richardson dsb. itu.......... 
>   Alih-alih berpegang pada textbook keruangan......
> para”pemain lapangan” itu utamanya lebih melihat
> pada “peluang nyata dilapangan”.......
>   Lapindo misalnya yang “ketemu batunya’ dengan
> tambang lumpur  di Porong Sidoarjo ....... ketika
> pada awalnya mereka memutuskan akan mengebor perut
> bumi disana ...... mereka tidak usah terlampau
> banyak memakai analisis-analisis makro ekonomi atau
> apalagi text bok keruangan itu....... yang mereka
> lihat pertama-tama  adalah “peluang
> dilapangan”...... seperti bahwa ternyata
> diperbatasan  Jateng-Jatim sampai ketimur itu “perut
> bumi kita itu demikian kaya dengan berbagai hasil
> tambang mineral ”............
>   Jadi karena itu kembali lagi kepada “bagaimana
> daerah membangun” atau “bagaimana membangun daerah’
> yang dimata rakyat dibolak-balik keduanya sama saja
> ........ dan “bagaimana meyakinkan mereka” yang
> tidak harus hanya para teknokrat itu saja...... maka
> “meyakinkan ‘mereka’ yang lain” yang bukan kaum
> teknokrat tetapi “para pemain lapangan” adalah
> menurut saya bisa-bisa lebih dari 50% lebih penting
> dibanding hanya  “bagaimana meyakinkan mereka” yang
> “pertama” tadi yang adalah  para teknokrat
> itu.......
>   Karena itu berbicara tentang “meyakinkan para
> pemain lapangan” ...... referensi materinya bukan
> dan tidak harus berupa deretan teori-teori makro
> ekonomi  yang tidak bersifat “visual imaginatif” itu
> terus...... tetapi saya kira ”lebih simple daripada
> itu” ialah seperti tentang perlunya menyodorkan
> “paparan-paparan visual simulatif” ...yang walau
> sepintas tidak bersifat makro.... dan hanya bersifat
> “lokal”.... tetapi bisa saja yang “lokal”itu
> bermuatan makro dan internasional.......
>   Katakanlah  tentang “rencana kota greater
> metropolis lain yang baru” bertaraf internasional
> (biasa....apalagi kalau bukan  jualan saya tentang
> Greater Makassar” itu)...... yang pasti cocok dengan
> selera mereka .......... selain bahwa fakta
> empiriknya kota greater metropolis adalah “kota yang
> benar-benar mandiri” dan  pemain utama kegiatan
> ekonomi...........
>   Pertama ...... masyarakat planning memang beda...
> dan bukanlah maaf,  sekedar masyarakat ekonomi makro
> yang hanya lebih banyak menyodorkan  visualisasi
> grafik dan tabel-tabel..... dan maaf..... kiranya 
> tidak banyak menyodorkan visualisasi keruangan 2-D
> atau 3-D dalam bentuk simulasi “interaksi keruangan”
> antar unit-unit ruang dan manusia seperti bahasa
> para planner dan arsitek ....... dalam rangka
> “menawarkan alternatif pembangunan untuk
> kesejahteraan kehidupan”...... seperti walaupun
> nampaknya  “kok hanya fisik” dan nampak amat sepele
> dimata mereka...........
>   Seperti tentang makna sosial ekonomi dari sebuah
> superblok dengan penggal jalan bulevar  dan komponen
> fisik “gedung dan pabrik” disisinya ....dimana ia
> dapat begitu amat berarti bagi kesejahteraan
> kehidupan manusia walau bentuknya adalah sekedar 
> bagaimana  dari sebuah komponen fisik ruang  seperti
> “setiap pagi gedung-gedung pencakar langit dan
> pabrik itu ‘melahap’ ribuan manusia”..... lalu
> bagaimana sorenya pada pukul 5 mereka “memuntahkan
> kembali ribuan manusia”..... tetapi dengan itu lalu
> nyatanya terdapat “kehidupan yang sejahtera”....... 
>   Sebagai tambahan “referensi tidak ilmiah” tentang
> ampuhnya paparan visual more than paparan teoretik
> .......... sebuah pepatah Cina  kuno mengatakan
> bahwa “...melihat satu kali jauh lebih berarti
> daripada mendengar seribu kali”........
>   Jadi “paparan visual imajinatif kepada para pemain
> lapangan” seperti tentang gambar perspective
> rendering tentang sebuah superblok pada  sebuah 
> rencana  greater  metropolis lain ‘nun jauh disana’
> ......dimana  disana bisa digambarkan tentang adanya
> “industri memimpin” instant (hasil dari relokasi
> industri memimpin di Jawa  yang diboyong kesana....
> seperti  katakan tentang merelokasi  semua industri
> sepedamotor di Jawa kelokasi sekitar greater
> metropolis baru.....yang walau mahal tapi bulan
> depannya kontan  pasti dapat menjanjikan kelanjutan
> detak kehidupannya yang memimpin kegiatan ekonomi
> seperti sebelumnya ditempat lama)....... 
>   Strategi ini sebagai generator pembangunan
> diwilayah........ yang tentu dengan itu perlu
> dibarengi dengan banyak  rencana lain seperti
> diantaranya .... sebuah superblok dengan simulasi
> “manhatannisasi” kawasan.... ditambah dengan
> simulasi tentang “orchad-roadisasi” sebuah  rencana
> penggal jalan bulevar.......dimana untuk inisiasi 
> pengembangan satu-dua ‘pencakar langit’ sampai 40
> lantai  “sebagai pembangkit gairah” yang katakan
> masing-masing seharga 500m rupiah  sebuahnya .....
> dimana dengan itu bisa dididiskusikan oleh “antar
> para pemain lapangan” termasuk diantaranya disini
> adalah BUMN..... sebagai perintisnya ........
>   Lalu dengan itu berbagai imajinasi tentang
> alternatif pembangunan keruangan “not  always again
> and again that zero sum game” seperti yang terus
> terjadi di Jawa dan seputar Jabodetabek........yang
> ini ditempat baru bisa mencakup beberapa sektor
> pembangunan lainnya seperti pariwisata dsb.   bisa
> dibayangkan .......
>   Kiranya ........ model-model alternatif 
> “...paparan oleh para perencanaan wilayah dalam
> meyakinkan mereka” ...... itu selalu masih ada
> variasi harapannya yang lain ..... seperti bahwa
> “mereka” itu bukan hanya “para teknokrat” saja ....
> “harapan”dari para pemain lapangan itu tidak hanya
> “kelunakan fiskal saja”dan tidak selalu harus hanya 
> berupa “paparan teoretik makro ekonomi
> saja”.........
>    
>   >>>>>>> “...Urbanisasi, metropolitan,
> megapolitan....... 
>   ....Urbanisasi dalam arti sesungguhnya punya
> konotasi “kemajuan” (kehidupan mengkota), tetapi di
> negara sedang berkembang untuk sebagian besar
> hanyalah perpindahan penduduk ke kota, atau
> “tiba-tiba jadi kota”. 
>   Lapangan kerja pertanian sudah ditinggalkan,
> sedang sektor perkotaan (industri, jasa) tidak bisa
> dimasuki. Jadilah lautan sektor informal, atau
> dualisme kehidupan perkotaan. Dalam hal ini tentu
> menjadi pertanyaan: apakah city-size bisa menjadi
> ukuran keberhasilan?.......”.
>   +++++ Pada masa-masa awal meningkatnya proses
> urbanisasi di negara sedang berkembang ...atau
> katakanlah lebih jelasnya di Indonesia sesudah
> tahun-tahun 1970-an bersamaan dengan berawalnya
> ‘era’ industrialisasi diseputar kota metropolitan
> dinegeri kita..... banyak muncul pandangan sinikal
> yang terus  mengedepan gambaran bahwa urbanisasi
> dinegara sedang berkembang itu tidak “ideal” seperti
> yang terjadi dinegara maju..., hanya membawa
> “kemajuan yang semu”.... dan banyak lagi gambaran
> lain yang pokoknya ingin mengatakan bahwa urbanisasi
> dinegara sedang berkembang itu berlangsung secara
> buruk dan murahan....
>   Mereka yang mengatakan itu seperti lupa bahwa pada
> masa-masa 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121

Kirim email ke