Rekan-rekan dan khususnya rekan hengky abiyoso
  Sungguh menarik dan senang menerima dan membaca posting hengky pada hari 
sabtu santai ini. 
  Kebetulan minggu ini saya juga baru saja kembali dari Nusa Utara (terjemahan 
dari Noorder eilanden atau Sangir Talaud) yang masih juga serumpun atau 
segugusan dengan Maluku Utara dan Morotai sehingga pasti juga merupakan bagian 
dari 'cultural complex' Indonesia Utara atau 'bibir Pasifik'  yang hengky telah 
identifikasikan sampai ke gugusan kepulauan dan budaya Pan Pasifik besar itu. 
  Sama dengan perjalanan ke Morotai yang baru lalu ini, perjalanan ke Satal ini 
sebenarnya juga suatu tapak tilas dari perjalanan pertama saya pada tahun 1950, 
waktu mana saya hanya gunakan suatu Higginsboat yang pada waktu itu dinamakan 
kapal BO karena registrasinya adalah BO dengan nomer. Sebetulnya kapal BO itu 
dibuat untuk sungai atau laut yang tiada berombak karena landasnya datar dan 
tidak dalam mungkin hanya setengah meter. (rekan-rekan yang keliling Morotai 
sudah merasakannya kalau harus menerjang gelombang atau alun tinggi) Nah ini 
perjalanan dari Manado ke Tagulandang, Siau terus ke Tahuna memang bisa 
berteduh dibalik pulau tapi pulaunya sih kecil dibanding dengan laut terbuka, 
tambahan lagi arusnya suka berputar-putar  (seperti sekitar Siau). tetapi kali 
ini saya gunakan kapal Ekspres Bahari yang bisa 5 jam dari Manado terus ke 
Tahuna tapi kalau singgah di Tagulandang dan Siau yah bisa 7 jam. Kapalnya 
cukup comfortable ada 3 kelas VIP, executive dan economy. Saya
 pilih yang economy, bukan saja karena murah tapi terutama karena ada 
pemandangan terbuka dan juga masih di ac. Saya kira kapasitasnya bisa 300 
penumpang.  Kalau dibandingkan dengan Kereta api jarak sedang jelas cukup 
competitive, kalau dibanding dengan pesawat terbang jelas menang daya angkut 
penumpang, untuk mass bisnis transit apalagi untuk pariwisata.  Jadi ini segi 
teknis transportasi lautnya. Kesan keadaan sosial di Sangir (Tahuna) belum 
begitu berubah sejak 50 tahun lalu walaupun tidak ada gejolak tapi cenderung 
malahan tambah merosot. Kabupaten baru Siau Tagulandang  Biaro mengandung 
harapan dan juga tantangan. Hampir sama saja dengan Maluku Utara.Saya diduga 
outmigration lebih besar dari natural increase  Tapi analisa saya belum lengkap 
karena saya masih akan ke Talaud lagi.  
   
  Masalah berikut adalah masalah pariwisata. yang oleh Aby secara nostalgis, 
telah mengangkat 'kompleks budaya santai Lautan Teduh' ini. Mungkin ciri santai 
(tanpa serious stress)pulau pulau Lautan Teduh inilah yang menyebabkan orang 
barat yang rada pragmatic itu tergiur, tidak saja arus gelombang yang datang 
dari barat sepanyol dan portegis tetapi juga perancis seperti Gauguin seorang 
pelukis mengidamkan Tahiti (seperti banyak pelukis Barat lainnya mengagumi 
Bali)  dan R.L.Stevenson yang dalam buku Treasure Island juga mencoba mendalami 
mistik atau misteri South Seas itu.. Sedangkan  James Michener dalam novelnya  
Hawaii membuka peran Frank Sinatra sebagai GI Joe di Perang Pasifik, mungkin 
mendekati era pasca perang dengan Nat King Cole dalam duet bersama anaknya 
Natalie.sehingga nostalgi generasi lautan teduh itu sungguh menjadi 
'unforgettable' 
   
  Tapi barangkali sintesa dalam alam, budaya, gaya gerak hula atau , hela 
rotan, bambu gila,  pete cingke, pala manis pedes, atau popeda sagu, agaknya 
sudah tercapai walaupun belum dalam suatu niche pasaran global. Rasanya Bram 
Titaley atau Bram Aceh dengan kroncong, ukulele yang juga disintesa dari slack 
key guitar portegis (konon utk menghemat snar gitar yang mudah putus sengaja di 
kendorin - slack, sehingga memberi warna khas keroncong, wah ini sebelumnya 
dangdut lho). - kayaknya suatu 'slack key' style patut juga kita kembangkan 
sebagai alternatip planning Maluku Utara. 
   
  Segitu dulu nanti saya sambung kalau sudah kembali dari Talaud. Pak Wawo   
   
   .  

hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              
Milisters ysh, 
  
  
  Dalam rangka upaya pembangunan nasional…. wajar bahwa muncul pemikiran untuk 
“menjual” pulau-pulau kecil diwilayah terpencil atau tertinggal……  baik dalam 
rangka upaya perbaikan struktur makro ekonomi nasional kita dengan masuknya 
investasi … maupun juga  dalam rangka upaya perluasan kesempatan kerja yang 
muncul daripadanya, ataupun demi  berbagai aspek positip lainya.………
  
  Morotai …. sebagai pulau diujung utara propinsi Maluku Utara .. sebagai 
bagian dari wilayah propinsi-propinsi seribu pulau…. yang pada masa perang 
Pasifik pernah  menjadi bagian dari ajang peperangan antara Jepang dan Sekutu 
dimana disana pernah tinggal tak kurang dari 60.000 tentara sekutu sampai tak 
kurang 1 tahun lamanya …dengan berbagai perlengkapannya,..termasuk dengan 
dibangunnya  7  landasan udara disana … hingga sering disebutkan oleh 
masyarakat sekarang (ibarat) “Jakarta hari ini, Morotai tempo dulu”…… Morotai 
cukup “menggoda” untuk mendorong munculnya ide “menjualnya” kepada investor 
asing ……bagi  mendorong munculnya kegiatan ekonomi  disana….… 
  
  Namun kalau kita coba perhatikan ……. rata-rata komponen utama dari 
perekonomian negeri-negeri kepulauan (terpencil) ditengah lautan luas seperti 
Maldives (dilautan Hindia), Hawaii, Tahiti, Fiji, Palau,  dsb.  (Lautan 
Pasifik) …. rata-rata yang paling menonjol adalah perekonomian-perekonomian  
pariwisatanya  dan perikanannya……. 
  
  Hawaii misalnya …. walaupun disana terdapat hasil-hasil seperti kayu cendana, 
penangkapan ikan paus, ternak, gula serta nanas …. namun ekspornya ke AS 
misalnya ‘dihadang’ oleh jauhnya jarak kesana yang dengan sendirinya 
menimbulkan biaya pengapalan yang mahal……. sehingga peran dari produk-produk 
tersebut dalam perekonomiannya lalu kecil saja …. tak sebesar sektor pariwisata 
misalnya yang pada tahun 1997 mencapai 24.3% dari Gross State Product (GSP), 
lalu diikuti oleh sektor pendidikan tinggi,  layanan kesehatan serta nampaknya 
juga dari sektor belanja militer yang berpangkalan disana…….   
  
  Mungkin pada kali lain kita dapat mendiskusikan perekonomian perikanan atau 
bahkan industri lainnya …. namun dalam kaitan dengan keinginan “menjual” 
Morotai yang unik itu….kali ini saya ingin sedikit mendiskusikan tentang 
masalah bagaimana kita dapat menegakkan ‘infrastruktur’ atau ‘merintis’ 
pengembangan sektor pariwisata sebagai sektor pembangunan baru yang penting 
dari kawasan ini……. yang menurut saya, juga nampaknya menurut pengamatan mbak 
Irma ….. masih amat demikian lemahnya …….
  
  *           *           *
  
  Seusai membaca postingnya mbak Irma “Pulau Morotai.........unforgetted 
island......”,  yang disambung  tanggapan oleh Prof Waworoentoe dengan judul  
sama… eeh saya beberapa hari ini jadi latah dan sentimental … lalu sering 
menyenandungkan  “Unforgettable”nya duet  Nat dan Natalie Cole itu …. lalu 
membayangkan pura-puranya mbak Irma adalah  ‘Natalie’-nya … lalu pak Prof Wawo 
adalah ‘Nat’-nya gitu…… 
  
  Saya sebenarnya ya mau juga sih pura-pura membayangkan jadi  ‘papa Nat’-nya 
lalu berduet sama sidia yang imut  ini ……. Cuma sayang … suara saya tidak bisa 
berat dan empuk seperti Harvey  Malaiholo  gitu, dan paling banter  juga hanya 
akan kecil melayang mirip suaranya Bram Titaley opanya mas Harvey  itu….. jadi 
kalau mau maksa dikeluarin juga ya tentu nanti bisa malu-maluin  ……
  
  Unforgettable, thats what you are
Unforgettable though near or far
Like a song of love that clings to me
How the thought of you does things to me
Never before has someone been more .....

Unforgettable in every way
And forever more, thats how youll stay………


  
  Entahlah, …  walau ini apa boleh buat sangat tidak dipercayai oleh mas BTS 
yang amat rasionalis itu….,  tapi mungkin pak Alim benar ….  ada daya magis 
tertentu dari pulau Morotai … atau dari petuah-petuahnya pak Imam sesepuh 
Morotai …. sampai-sampai pak Alim yang katanya tidak bisa berenang tapi malah 
lalu sejak itu jadi  samasekali tidak takut … dan malah menjadi pehobi 
berkelana dilaut luas …..
  
  Soal magis-magisan…. kalau saya sih agak sedikit lain….. sejak dari masih 
muda dulu …  yang namanya  “lautan Teduh” itu  (daripada “Lautan Pasifik” saya 
selalu lebih senang menyebutnya begitu) … selalu menimbulkan kerinduan berat 
tersendiri …. yang diawali dari  mendengar acara radio RRI Jakarta yang kalau 
tak salah  dulu namanya  “Irama Lautan Teduh”… yang kala itu  sering  
memperdengarkan  lagu-lagu irama Maluku yang umumnya berupa paduan suara ….. 
iramanya maupun alat musik utamanya ukulele dan slack-key guitar atau apa 
namanya gitu …. mendayu-dayu… sangat mirip dengan lagu-lagu Hawaiian yang 
terkenal itu…….. 
  Lalu ketika tahun 1962 kita mulai punya stasiun televisi yang pertama TVRI…. 
lalu ada acara “The Hawaiian Seniors”…. dimana tak hanya secara audio ... 
tetapi juga visual…. nah, sejak itu semakin jatuh cinta saja deh saya pada 
Irama Lautan Teduh itu…… dan tanpa sadar juga  pada pulau-pulaunya dan nyiurnya 
……..
  
  Agak berbeda dengan pak Alim…. rasanya daya magis yang membuat saya jatuh 
cinta berat pada wilayah Tepian Lautan Teduh itu adalah elemen-elemen seperti …
irama Hawaaian songsnya itu yang khas memakai ukulele dan slack-key gitar itu. 
. … lalu pulau-pulau serta pohon nyiurnya yang melambai-lambai (yang lalu lagu 
”Rayuan Pulau Kelapa” kita juga membangkitkan Nasionalisme atau rasa cinta 
tanah air dan bangsa…) … 
  lalu akibatnya merembet  saya jadi senang juga pada atribut-atribut 
serumpunnya seperti baju kemeja lengan pendek bergambar bunga-bunga (tapi kalau 
yang kalung bunga lalu rok dari rumput atau rafia lalu atasnya  beha  dari 
batok kelapa dan tarian hula sih maaf nggak ya)…. lalu last but not least …. 
kesederhanaan dari suasana yang ditampilkannya…. pantai, rumah gubug beratap 
ilalang, nyiur, dan background laut yang  biru ….. tetapi lalu entah kenapa kok 
 itu lalu mendunia ….. 
  Nah, inilah yang seharusnya secara lintas sektoral  kita harus  pelajari dan 
ketemukan apa sih ‘kata kunci’nya dari sukses ‘menjual’ budaya semacam itu pada 
dunia…… yang  ini kaitannya dengan  arah bicara tentang strategi “industri” 
pariwisata pulau  negeri kita ……..
  
  *           *           *
  
  Bicara secara lintas sektoral….. kalau menyangkut strategi pengembangan 
“industri” wisata pulau (kebetulan ini menyangkut  konteks pulau terpencil) ….. 
yang pertama membuat saya berbesar hati adalah bahwa tentu pak Alim dari DMI 
masih berkenan mendukung ….. juga kiranya pihak pak Rofiq dari kementerian PDT 
sudah pasti  feeling saya beliau juga akan peduli …..  
  Lalu Pak Puspo, pak Hardjono, pak Lukman, pak Sunu, pak Eka, pak Eko HS, pak 
Prasetyo, pak Gubjen Portugis di Kastela  dan banyak teman lain yang tak dapat 
disebutkan namanya satu-persatu ….. saya percaya…. tentu semua cukup menaruh 
perhatian besar pada hal yang satu ini ….: ”pembangunan pariwisata”…. 
  
  utamanya karena  dalam perekonomian kita…  pariwisata adalah penghasil devisa 
non-migas terbesar kedua setelah industri tekstil …. yang bukan tak mungkin 
kalau industri manufaktur kita terus sempoyongan seperti sekarang ini…. 
pariwisata harus tampil sebagai penghasil utama devisa negeri kita ……….
  
  Cuma kalau sudah bicara atau mau bicara tentang strategi pengembangan 
pariwisata begitu …. kita juga jangan sampai lupa untuk menyertakan para 
stakeholder maha penting lainnya….. ialah seperti dari Ditjen Pariwisata, 
Ditjen Kebudayaan, Perhubungan, masyarakat arsitektur,  ahli lansekap, 
masyarakat senirupa, para ahli fashion etnik, para ahli seni tari, ahli musik  
daerah, bahkan ahli kuliner, dsb…… 
  
  Mengapa begitu?....... yah, bukannya apa ….. kalau Bali misalnya …. sejak 
1930 sajapun ia sudah ‘laku’ dijual sebagai komoditi pariwisata (ke Eropa)………. 
, demikian juga Kebun Raya Bogor, Borobudur, Prambanan, Istana Yogyakarta, 
Trowulan dsb….. dengan elemen-elemen andalannya…. semuanya boleh dikata  
masing-masing  ‘sudah siap dipasarkan’………
  
  Namun sementara itu Maluku Utara ataupun khususnya pulau Morotai ….. walaupun 
pada dasarnya  ia memiliki  potensi pariwisata yang besar  seperti dengan 
banyaknya pulau-pulau serta panoramanya yang indah asli…..…namun dapat 
dikatakan segalanya nyaris  serba ”masih mentah”……., belum diolah,  belum rapi 
dan ‘belum siap’  untuk dijual…..
  
  *           *           *
  Sejak dari faktor perhubungannya ….. faktanya hari ini penerbangan reguler ke 
Morotai dapat dikatakan tidak ada …….  lalu jaringan jalan lokalnya juga tak 
ada sepotongpun ruas jalan yang dapat dibanggakan  ….. infrastruktur sarana 
akomodasinya yang membanggakan juga belum sebuahpun disiapkan ……
  Untuk urusan seni budayanya… maupun tampilan budayanya seperti tercermin dari 
arsitektur khas bangunan-bangunannya …..  maupun dari berbagai macam benda alat 
rumah tangga dsb…. sebagai cerminan seberapa tingginya seni produk budaya 
setempat ……. seperti misalnya barang ukir-ukiran …. pakaian daerah…. seni tari, 
seni suara, seni patung, seni lukis …..
  Nyaris belum ada secuilpun bangunan disana walau sekedar sekecil gardu hansip 
sekalipun yang menggambarkan  tampilan arsitektur etnik asli yang khas itu 
seperti apa …. seperti katakanlah (menurut saya mutlak) …“Hibualamo” yang saya 
‘temukan’ di Tobelo yang sebenarnya amat sangat  menakjubkan itu ……. 
  Didaerah yang  infratruktur pariwisatanya masih ‘mentah’ begitu….. susah 
kalau kita hanya mau bicara makronya ... dan samasekali tak mau menyentuh 
bicara mikronya …….
  Padahal namanya  ”merintis pembangunan pariwisata”  didaerah yang ‘masih 
mentah’itu …… semuanya dapat dimulai dari sekedar pembuatan  contoh-contoh 
kecil saja…. yang oleh Pemdanya seharusnya digalakkan …… yang walau tentu itu 
akan lebih merupakan urusan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan …. namun setidaknya 
unsur-unsur seperti gubernur dan bupati sebagai pemimpin tertinggi didaerah  … 
mereka dapat dan harus berperan banyak….  
  Untuk urusan peraturan zonasi ….. khususnya yang menyangkut perlunya 
sebanyak-banyak bangunan publik harus mengangkat dan mengekspos unsur 
arsitektur lokal…….   saya pikir pak Gubernur Jendral Portugis yang 
berkedudukan dibenteng Kastela Ternate itupun juga boleh saja melebarkan 
wilayah jajahannya sampai ke  Morotai….. asalkan janji seni budaya dan 
arsitektur disana dapat digalakkan pengembangannya……sebaik seperti di Bali…..… 
  Katakanlah misalnya untuk hotel-hotel atau penginapan sederhana yang telah 
ada …. sekedar seperti  ibarat “memakai topeng wajah” …..  setidaknya cukuplah 
wajah depannya saja  “direinkarnasi” atau “direnovasi” dan diinsert disana 
unsur-unsur arsitektur etnik itu….. baik mulai dari  hanya “pagarnya saja”…. 
“gerbangnya saja”….. atau “wajah depan bangunan hotelnya saja”…..atapnya saja… 
dsb. dsb…..
  
  *           *           *
  Rata-rata bangunan candi didunia yang telah berusia ribuan tahun atau belasan 
abad ….  Angkor Wat di Kamboja, Borobudur, Prambanan, Kalasan…. selain usianya 
serta bentuknya yang unik yang menjadi data tarik ….  materialnya yang terbuat 
dari batu kali atau batu dari  lava beku bekas tumpahan gunung api yang dibuat 
bentuk-bentuk kubus…. lalu menampilkan teksturnya yang kasar tetapi khas ….. 
membuat tak bosan-bosnanya mata memandang dan mengaguminya……..
  Demikian  pula dari sukses pariwisata Bali yang mendunia ……kalau kita tengok 
unsur arsitektur  bangunannya …... kita melihat bahwa unsur dinding berupa 
kombinasi batu  kali atau batu cadas yang selain dibuat bentuk kubus juga malah 
diukir-ukir…. lalu dipadu dan dikombinasikan dengan susunan batu bata merah… 
lalu atap-atap bangunan dibuat dari alang-alang ….. bahkan itu diterapkan juga 
pada hotel berbintang lima……..kita lihat bagaimana  turis dari segala penjuru 
dunia demikian terpesona  ….  lalu bahkan setuju menjuluki Bali sebagai pulau 
dewata……..
  *           *           *
  Kalau kita sudah bicara “industri”……didunia industri itu…. produk apa yang 
laku keras dipasar… tak lama kemudiaan berbagai tiruannya segera muncul ….. 
menempel ketat yang asliya…….
  
  Untuk Morotai atau Maluku Utara …… yang maaf, seperti belum jelas identitas 
budayanya yang khas dan menonjol demikian kuatnya….. kalau benar mau  
menggalakkan pariwisatanya…… yang itu adalah sektor terbesar kedua non-migas 
setelah tekstil …. dan menimbang bahwa Bali mendunia…. bahkan di New York dalam 
2 tahun berturut-turut  memperoleh penghargaan “Pulau Wisata Terbaik Diunia”….. 
  
  Kita…,  maaf….. sebenarnya tak perlu ragu untuk berpikir praktis  untuk 
jangka pendek ini meng-imitate saja  Bali ….. mereplicate Bali … mengcopy dan 
mempaste… membuat derivat atau turunan berbagai model elemen wisata Bali ….. 
tetapi detailnya jangan persis….. tetapi diubah dengan menonjolkan kekhasan 
budaya Maluku Utara  sendiri ……
  
  Kiranya untuk memulai strategi pariwisatanya itu ……dalam rangka agar kita 
bisa “sukses” menjual  Maluku Utara…. Maluku Utara penting untuk segera 
mendirikan Dewan Seni Budaya Daerahnya …… dan lebih penting lagi…. dipusat….. 
harus duduk bersama ….. Ditjen Penataan Ruang…. Meneg PDT… MenPar&Bud…. IAI, 
untuk pengembangan arsitektur etniknya…., para pakar budaya dipelbagai bidang 
seperti misalnya saja Ghea Sukasah dan Poppy Darsono untuk kepakaran dibidang 
busana etnik Maluku Utara…., para ahli seni rupa seperti Nyoman Gunarsa dkk….,  
pakar kuliner seperti Rudy Khoirudin,  dsb……
  
  Menjual produk pariwisata….. janganlah masih mentah lalu kita sudah buru-buru 
ingin segera saja membawanya kepasar……... 
  
  
  Sementara demikian dulu,
  
  Salam,
  aby
    
---------------------------------
  Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.  

         

       
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.

Kirim email ke