Pak Aby,

Kalau disewakan memang banyak yang nolak. Karena bisa
saja setelah disewa kemudian tidak dimanfaatkan alias
ditelantarkan tetapi bila alasannya untuk investasi
rasanya sih boleh-boleh aja, asal mengikuti aturan
yang ada.

wassalam,
AAS

--- Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Pak Aby,
> Saya senang anda bicara Pariwisata dan pulau-pulau,
> sebenarnya inilah salah satu kekuatan pariwisata
> kita. Saya pernah dengar ceramahnya Alm. Ruslan
> Abdulgani tentang bagaimana Soekarno pidato di PBB
> tentang kepulauan Indonesia.... Our country has more
> than ten thousands.. and located in the center of
> equatorial.... ternyata setelah pidato itu Bos
> Rockyfeller mendatangi Soekarno terus nanya boleh
> nggak nyewa  barang 10 pulau untuk membangun
> "paradise"....
> 
> Jadi memang dambaan orang subtropis itu adalah
> mempunyai pulau di tropis.....sayangnya ide pak
> Sarwono untuk menyewakan island tadi ditentang
> habis... Saya masih ingat bagaimana kita menjual
> pariwisata Raja Ampat puluhan tahun yang lalu.....
> baru sekarang memperoleh hasil (meskipun tidak
> seberapa)...... tapi alangkah banyaknya yang
> mengkritik kalau kita menjual tanah air ke orang
> bule.
> Pak Aby semoga upaya kita membangun Morotai mendapat
> hasil yang memadai..
> salam 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected];
> [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Saturday, August 4, 2007 2:43:44 AM
> Subject: [referensi] re: Indonesia Timur, A Dozen
> Dreams (7) Strategi Pariwisata
> 
> 
> Milisters ysh, 
>  
>  
> Dalam rangka upaya pembangunan nasional…. wajar
> bahwa muncul pemikiran untuk “menjual” pulau-pulau
> kecil diwilayah terpencil atau tertinggal……  baik
> dalam rangka upaya perbaikan struktur makro ekonomi
> nasional kita dengan masuknya investasi … maupun
> juga  dalam rangka upaya perluasan kesempatan kerja
> yang muncul daripadanya, ataupun demi  berbagai
> aspek positip lainya.………
>  
> Morotai …. sebagai pulau diujung utara propinsi
> Maluku Utara .. sebagai bagian dari wilayah
> propinsi-propinsi seribu pulau…. yang pada masa
> perang Pasifik pernah  menjadi bagian dari ajang
> peperangan antara Jepang dan Sekutu dimana disana
> pernah tinggal tak kurang dari 60.000 tentara sekutu
> sampai tak kurang 1 tahun lamanya …dengan berbagai
> perlengkapannya,..termasuk dengan dibangunnya  7 
> landasan udara disana … hingga sering disebutkan
> oleh masyarakat sekarang (ibarat) “ Jakarta hari
> ini, Morotai tempo dulu”…… Morotai cukup “menggoda”
> untuk mendorong munculnya ide “menjualnya” kepada
> investor asing ……bagi  mendorong munculnya kegiatan
> ekonomi  disana….… 
>  
> Namun kalau kita coba perhatikan ……. rata-rata
> komponen utama dari perekonomian negeri-negeri
> kepulauan (terpencil) ditengah lautan luas seperti
> Maldives (dilautan Hindia), Hawaii , Tahiti , Fiji ,
> Palau ,  dsb.  (Lautan Pasifik) …. rata-rata yang
> paling menonjol adalah perekonomian-perekonomian 
> pariwisatanya  dan perikanannya……. 
>  
> Hawaii misalnya …. walaupun disana terdapat
> hasil-hasil seperti kayu cendana, penangkapan ikan
> paus, ternak, gula serta nanas …. namun ekspornya ke
> AS misalnya ‘dihadang’ oleh jauhnya jarak kesana
> yang dengan sendirinya menimbulkan biaya pengapalan
> yang mahal……. sehingga peran dari produk-produk
> tersebut dalam perekonomiannya lalu kecil saja ….
> tak sebesar sektor pariwisata misalnya yang pada
> tahun 1997 mencapai 24.3% dari Gross State Product
> (GSP), lalu diikuti oleh sektor pendidikan tinggi, 
> layanan kesehatan serta nampaknya juga dari sektor
> belanja militer yang berpangkalan disana…….   
>  
> Mungkin pada kali lain kita dapat mendiskusikan
> perekonomian perikanan atau bahkan industri lainnya
> …. namun dalam kaitan dengan keinginan “menjual”
> Morotai yang unik itu….kali ini saya ingin sedikit
> mendiskusikan tentang masalah bagaimana kita dapat
> menegakkan ‘infrastruktur’ atau ‘merintis’
> pengembangan sektor pariwisata sebagai sektor
> pembangunan baru yang penting dari kawasan ini…….
> yang menurut saya, juga nampaknya menurut pengamatan
> mbak Irma ….. masih amat demikian lemahnya …….
>  
> *           *           *
>  
> Seusai membaca postingnya mbak Irma “Pulau
> Morotai.........unforgetted island......”,  yang
> disambung  tanggapan oleh Prof Waworoentoe dengan
> judul  sama… eeh saya beberapa hari ini jadi latah
> dan sentimental … lalu sering menyenandungkan 
> “Unforgettable”nya duet  Nat dan Natalie Cole itu ….
> lalu membayangkan pura-puranya mbak Irma adalah 
> ‘Natalie’-nya … lalu pak Prof Wawo adalah ‘Nat’-nya
> gitu…… 
>  
> Saya sebenarnya ya mau juga sih pura-pura
> membayangkan jadi  ‘papa Nat’-nya lalu berduet sama
> sidia yang imut  ini ……. Cuma sayang … suara saya
> tidak bisa berat dan empuk seperti Harvey  Malaiholo
>  gitu, dan paling banter  juga hanya akan kecil
> melayang mirip suaranya Bram Titaley opanya mas
> Harvey  itu….. jadi kalau mau maksa dikeluarin juga
> ya tentu nanti bisa malu-maluin  ……
>  
> Unforgettable, thats what you are
> Unforgettable though near or far
> Like a song of love that clings to me
> How the thought of you does things to me
> Never before has someone been more .....
> 
> Unforgettable in every way
> And forever more, thats how youll stay………
> 
> 
>  
> Entahlah, …  walau ini apa boleh buat sangat tidak
> dipercayai oleh mas BTS yang amat rasionalis itu…., 
> tapi mungkin pak Alim benar ….  ada daya magis
> tertentu dari pulau Morotai … atau dari
> petuah-petuahnya pak Imam sesepuh Morotai ….
> sampai-sampai pak Alim yang katanya tidak bisa
> berenang tapi malah lalu sejak itu jadi  samasekali
> tidak takut … dan malah menjadi pehobi berkelana
> dilaut luas …..
>  
> Soal magis-magisan…. kalau saya sih agak sedikit
> lain….. sejak dari masih muda dulu …  yang namanya 
> “lautan Teduh” itu  (daripada “Lautan Pasifik” saya
> selalu lebih senang menyebutnya begitu) … selalu
> menimbulkan kerinduan berat tersendiri …. yang
> diawali dari  mendengar acara radio RRI Jakarta yang
> kalau tak salah  dulu namanya  “Irama Lautan Teduh”…
> yang kala itu  sering  memperdengarkan  lagu-lagu
> irama Maluku yang umumnya berupa paduan suara …..
> iramanya maupun alat musik utamanya ukulele dan
> slack-key guitar atau apa namanya gitu ….
> mendayu-dayu… sangat mirip dengan lagu-lagu Hawaiian
> yang terkenal itu…….. 
> Lalu ketika tahun 1962 kita mulai punya stasiun
> televisi yang pertama TVRI…. lalu ada acara “The
> Hawaiian Seniors”…. dimana tak hanya secara audio
> ... tetapi juga visual…. nah, sejak itu semakin
> jatuh cinta saja deh saya pada Irama Lautan Teduh
> itu…… dan tanpa sadar juga  pada pulau-pulaunya dan
> nyiurnya ……..
>  
> Agak berbeda dengan pak Alim…. rasanya daya magis
> yang membuat saya jatuh cinta berat pada wilayah
> Tepian Lautan Teduh itu adalah elemen-elemen seperti
> …irama Hawaaian songsnya itu yang khas memakai
> ukulele dan slack-key gitar itu. . … lalu
> pulau-pulau serta pohon nyiurnya yang
> melambai-lambai (yang lalu lagu ”Rayuan Pulau
> Kelapa” kita juga membangkitkan Nasionalisme atau
> rasa cinta tanah air dan bangsa…) … 
> lalu akibatnya merembet  saya jadi senang juga pada
> atribut-atribut serumpunnya seperti baju kemeja
> lengan pendek bergambar bunga-bunga (tapi kalau yang
> kalung bunga lalu rok dari rumput atau rafia lalu
> atasnya  beha  dari batok kelapa dan tarian hula sih
> maaf nggak ya)…. lalu last but not least ….
> kesederhanaan dari suasana yang ditampilkannya….
> pantai, rumah gubug beratap ilalang, nyiur, dan
> background laut yang  biru ….. tetapi lalu entah
> kenapa kok  itu lalu mendunia ….. 
> Nah, inilah yang seharusnya secara lintas sektoral 
> kita harus  pelajari dan ketemukan apa sih ‘kata
> kunci’nya dari sukses ‘menjual’ budaya semacam itu
> pada dunia…… yang  ini kaitannya dengan  arah bicara
> tentang strategi “industri” pariwisata pulau  negeri
> kita ……..
>  
> *           *           *
>  
> Bicara secara lintas sektoral….. kalau menyangkut
> strategi pengembangan “industri” wisata pulau
> (kebetulan ini menyangkut  konteks pulau terpencil)
> ….. yang pertama membuat saya berbesar hati adalah
> bahwa tentu pak Alim dari DMI masih berkenan
> mendukung ….. juga kiranya pihak pak Rofiq dari
> kementerian PDT sudah pasti  feeling saya beliau
> juga akan peduli …..  
> Lalu Pak Puspo, pak Hardjono, pak Lukman, pak Sunu,
> pak Eka, pak Eko HS, pak Prasetyo, pak Gubjen
> Portugis di Kastela  dan banyak teman lain yang tak
> dapat disebutkan namanya satu-persatu ….. saya
> percaya…. tentu semua cukup menaruh perhatian besar
> pada hal yang satu ini ….: ”pembangunan
> pariwisata”…. 
>  
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC

Kirim email ke