Pak Aunur ysh, Bapak benar soal perusahaan tdk akan peduli di mana lokasi nilai tambah, yg penting untung... saya jadi bertanya2, apa mereka memang tdk pernah berpikir utk memproses di Indonesia dg energi yg murah? Atau mereka punya energi yg lebih murah? (nuklir perancis misalkan)..atau ada alasan lain? nilai strategis bahan baku mineral mungkin? sehingga mereka tdk banyak bergantung pada negara lain... AUS dan CAN adalah anglo-saxon, biasanya saling mendukung dlm kebijakan politik LN bersama Inggris dan US. Eropa bagaimanapun tentu lebih dekat ke Anglo-Saxon dr pd Asia. Jepang dan Korea sangat bergantung pd US perekonomiannya... bisa kita bayangkan kalau produksi peralatan tempur mereka terhambat akibat processing baja nya diboikot oleh Indonesia... apa skenario geopolitik ini mungkin Pak Aunur? untuk menjawab mengapa mereka "melewati" Indonesia walau energi nya murah...
salam, Eko. --- Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Eko ysh, > Anda benar soal china, itulah yang menjadi keprihatinan Beijing.... > maka dua sayap itu adalah komitmen meraka yang mungkin sia-sia, > seperti kita prihatin akan perkembangan KTI. Tapi saya > berbincang-bincang dengan salah satu CEO (Frederick Tsao) dari > Singapore. Katanya Bisnisman akan invest jika visi dari pemerintah > cukup jelas dan visi dua sayap ini cukup jelas. > Tentang bisnis mineral, memang sampai sekarang dikuasai oleh > segelintir perusahaan, tapi mereka tidak perduli akan negara yang > memperoleh nilai tambah asal ada energi murah mereka akan membangun > smelter di sana. Mampukah kita menawarkan energi lebih murah dalam > jangka panjang? Kita punya batubara, gas, panas bumi dan air, yang > leih murah dibanding minyak bumi. > semoga menjadi pemikiran kita untuk mengembangkan wilayah tengah > Indonesia, karena kita butuh prime mover. > salam > > ----- Original Message ---- > From: Eko BK <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Saturday, August 25, 2007 12:18:23 AM > Subject: Re: [referensi] Re: Rantai produksi dan spatial planning: > How? > > > Pak Aunur dan Pak Eka serta milisters ysh, > > Mohon ijin bergabung dlm diskusi ini Pak. Ada beberapa hal yg menarik > perhatian saya, terutama tulisan Pak Aunur: > > 1. Mengenai kebijakan pengembangan wilayah RRC dg 2 jalur utama. Dari > kacamata saya Pak, China berhasil mengembangkan wilayah coastalnya > bukan semata karena ada jalur perdagangan laut di sana tetapi paling > tidak juga karena: > a. China memiliki network yg besar akibat masyarakat china perantauan > yg tersebar di seluruh dunia, termasuk di Hongkong, yg merupakan > negara > di mana pengusahanya mau melakukan investasi dlm bentuk FDI pertama2 > ke > mainland dlm jumlah besar. Saya kira sampai sekrg ex migran dari > Shenzen ke Hongkong masih merupakan investor terbesar ke mainland. > Persamaan etnik, culture dan sejarah serta faktor keluarga berperan > besar dlm hal ini. > b. Faktor stabilitas politik, infrastruktur yg siap, tenaga kerja > murah, produktivitas tinggi, dan berbagai kelebihan RRC yg lain > membuat > negara2 barat tidak ragu berinvestasi ke China. Tentu di sini peran > jalur perdagangan laut sangatlah penting. > Keinginan pemerintah RRC mengembangkan jalur darat sebenarnya adalah > bagian usaha mereka utk mengembangkan wilayah bagian Barat China > (kalau > saya tdk salah). Tetapi saya meragukan efektivitas usaha tsb. > mengingat > bahwa: > - kapital cenderung teraglomerasi di ruang > - infrastruktur juga cenderung teraglomerasi di ruang > Prediksi saya, sampai ruang coastal habis terbangun, pertumbuhan > pembangunan yg pesat di RRC tetap akan terkonsentrasi di wilayah > coastal dan tdk akan tergeser ke barat. > Nah point a dan b di atas tidak dimiliki oleh Indonesia, sehingga > pembukaan ALKI utk persinggahan kapal2 asing menurut hemat saya tidak > akan mampu utk tumbuh sepesat China, bahkan penetapan Batam sebagai > KEK > pun tdk akan membuat Batam mampu menjadi Spore atau Hongkong karena > tidak adanya point a dan b di Indonesia. > > > 2. Saya sependapat dg ide Pak Aunur ttg menstop mineral Australia dan > diolah di Indonesia utk mencegat nilai tambah agar berada di negara > kita. Menjadi pertanyaan saya mungkin pada cara bagaimana kita hendak > melakukannya Pak. Sejujurnya saya agak buta bisnis mineral. Tetapi > dari > sebuah studi ttg geopolitik mineral di dunia (Géopolitique des > ressources minières) maka negara eksportir terbesar mineral dunia > adalah Australia dan Canada. Kedua negara tsb memiliki penguasaan > teknologi yg lebih baik dari Indonesia dan berada di kelas negara2 > maju > utk bisa meningkatkan nilai tambah ekspor mineral mereka. Tetapi > mengapa mereka tdk melakukan itu? Rasanya soal energi bukanlah > jawaban > Pak, karena kalau saya tdk salah Canada juga memiliki cadangan > energi. > Mungkin masalahnya lebih pada bahwa bisnis mineral ini dikuasai > perusahaan2 di beberapa negara besar saja (US, Jerman, Jepang, Percs, > UK, dll) yg didukung kuat oleh kebijakan pemerintah masing2...kalau > transport cost nya sama dan mereka (demand) punya energi, kenapa > mereka > harus kasih value added nya ke pihak ketiga seperti kita? > > Tapi sekali lagi ini pemikiran saya saja Pak yg tdk mendalami bisnis > mineral tambang. Barangkali Pak Aunur dan Pak Eka tidak berkeberatan > membagi jawabannya. Terimakasih. > > Salam, > Eko. > > > > > > --- Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Pak Eka dan militers ysh, > > ALKI yang dikemukakan pak Eka betul! sebenarnya diskusi kami dengan > > teman2 dari BI waktu itu > > adalah karena melihat konsep China dalam mengembangkan wilayah, > > sekarang China mempunyai jalur utama antara China Selatan dengan > > Singapore yang mereka sebut "main axis", menurut mereka ini tidak > > bisa membuat wilayah china yang lain berkembang, maka mereka > > mempromosikan dua sayap (two wings) yakni sayap darat dengan > Vietnam, > > Thailand, Camboja serta sayap laut dengan Filipina, Indonesia, > Brunei > > dan Malaysia. Jadi ALKI II hanya mau menggambarkan lokasinya saja > > tapi bukan Alur Internationalnya, tapi alangkah lebih baiknya kalau > > mineralnya Australia kita cegat di selat makasar untuk memperoleh > > nilai tambah.baru kita teruskan ke utara. Kaltim dan Kalsel memang > > sumbernya energy, demikian juga Sulawesi yang ternyata juga ada > > ladang-ladang gasnya. Mineral memerlukan energy yang besar untuk > > menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi, yakni smelter-smelter, > > dan beberapa diantaranya limbahnya diperlukan sebagai bahan baku > > industri petrokimia (kaltim mempunyai > > banyak minyak dan gas sebagai bahan baku industri petrokimia). > > memang sekarang industri kita hanya industri pupuk... namun kita > > punya potensi untuk industri dasar yang lain termasuk industri > dasar > > logam.... inilah yang kita punyai di selat makasar. > > salam > > > > ----- Original Message ---- > > From: - ekadj <[EMAIL PROTECTED]> > > To: [email protected] > > Sent: Friday, August 24, 2007 9:05:02 AM > > Subject: [referensi] Re: Rantai produksi dan spatial planning > > > > > > Pak Rofiq ysh, > > Pandangan bapak sebenarnya dapat menggamit beberapa pakar di milis > > ini. Kajian maritim bisa diulas lebih lanjut oleh Pak Alim, dan > > sebenarnya Pak Deni tahun ini sedang mempersiapkan ¡sesuatu¢ di > ALKI > > II. Ruang Kalimantan hingga Sulawesi tentunya telah menjadi > perhatian > > Pak Bin. > > Sebagai amatiran, saya coba tanggapi satu-satu, kebetulan di > beberapa > > tempat itu dulu saya juga pernah kunjungi cukup intens. > > Pertama masalah ALKI, ketentuan hukum internasional sebenarnya > sudah > > melindungi ¡hak¢ kapal-kapal asing untuk melakukan lintasan > pelayaran > > di perairan dalam. Penetapan ALKI dalam PP No. ?? sebenarnya > > menjustifikasi alur-alur pelayaran di perairan dalam Indonesia > untuk > > ¡lintasan internasional¢. Sebuah kaidah yang saya pernah dengar > > tentang masalah ini adalah, kapal-kapal asing itu diperkenankan > untuk > > melintasi jalur itu dan ¡hanya¢ memperoleh kesempatan ¡satu kali¢ > > sandar di pelabuhan domestik untuk kebutuhan logistik kapal. > Sehingga > > sebenarnya jalur ALKI itu bukanlah dimaksud kapal-kapal itu dapat > > berlabuh di sembarang pelabuhan, apalagi melakukan aktivitas > > bongkar-muat. Lintasan yang ditentukan juga adalah bukan lintasan > > umum yang digunakan oleh kapal-kapal domestik. Saya belum tahu akan > > menempatkan dimana ALKI itu dalam kuadran SWOT. Namun pandangan > yang > > terlalu optimis menempatkan ALKI sebagai ¡peluang¢, menurut saya > > masih > > terkategori ¡overlook¢. > > Kedua masalah ruang sekitar ALKI II, bila banyak pandangan > > memprediksi Makasar akan tumbuh berkembang untuk aktivitas keuangan > > dan bisnis, saya sambil menutup mata juga akan berpendapat serupa. > > Tanpa intervensi Pemerintah dan usaha-usaha kebijakan lainnya, > > Makasar pasti akan berkembang ke arah itu. Sehingga, menurut hemat > > saya, menjadikan Makasar sebagai ¡demplot¢ dan memberikan > ¡perhatian > > berlebih¢ sungguh tidak menarik, karena tidak ada tantangan bagi > > perencanaan pembangunan. > > Secara persebaran aktivitas, memang pesisir timur Kalimantan lebih > > berkembang dibandingkan pesisir barat Sulawesi. Saya lebih tertarik > > dengan Kalimantan Timur, yang justru lebih sexy untuk ¡tindakan > > perencanaan¢. Realitas yang saya lihat 10 tahun yang lalu, > > kelihatannya kapal-kapal asing lebih senang ¡singgah¢ di antara > > Batulicin dan Kotabaru, pilihan lainnya memang Makasar. > > Bila kita coba mengaitkan, sembari memberikan masukan kepada > berbagai > > pihak, saya coba memberikan saran untuk pengembangan koridor ALKI > II > > ini yaitu: 1) mengembangkan 3 titik di utara-tengah-selatan sebagai > > checkpoint; 2) titik utara-selatan dapat berupa 2 entry point, > yaitu > > Buol-Tolitoli dan Tarakan di utara dan Ampenan atau kawasan lebih > ke > > bawah di selatan; 3) titik tengah dapat dikembangkan di Makasar > atau > > Pare-pare, atau di Batulicin-Kotabaru. Muatan di ke-3 titik > > checkpoint itu di antaranya memang untuk supply energy, seperti > depot > > Pertamina dll. > > Saya kurang tahu industri ikutan dari pertambangan energi, > > minyak-gas-batubara, namun bila bapak dapat memberikan pencerahan > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out. http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469

