Pak Aby dan rekan-rekan Kapetiers ysh, Menurut saya, sebaiknya focusnya bukan kepada pengurangan jumlah Kapet dari 13 jadi 5, dan pengecilan luasan Kapet yang lama. Namun bagaimana proses mengevaluasinya dan apakah solusi kebijakan yang diberikan tersebut sudah melalui studi yang 'benar' dan terbuka terhadap masukkan dari berbagai pihak terkait ? Kemudian, langkah-langkah apa yang akan dilaksanakan untuk minimal jangka 5 tahun y a d ? Dalam era keterbukaan/demokrasi dan otonomi yang sedang mencari bentuk di negeri kita saat ini, sepertinya model pendekatan 'musyawarah mufakat' dalam pengambilan keputusan untuk perencanaan semacam Kapet ini seharusnya dapat diuji-cobakan. Sekaligus ini dapat sebagai 'test-case' untuk pelaksanaan 'public-participation' dalam proses perencanaan sesuai salah satu amanat UU-PR 27/2007. Mengenai SDM dan Kelembagaan untuk mengelola Kapet, saya sepakat untuk dipersiapkan dengan lebih serius. Mungkin butuh proses penyiapan SDM dalam jangka menengah/panjang yang tidak sederhana, terutama untuk wilayah KTI. Semoga melalui diskusi informal di ruang maya ini dapat ditindak-lanjuti dengan diskusi 'copy-darat', dan dapat jadi masukan bermanfaat untuk 'para boss' yang sedang diberi amanat rakyat untuk mengambil keputusan secara formal yang mungkin diam-diam membaca milis ini. Wassalam, Onnos
To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Tue, 10 Jun 2008 03:59:14 -0700Subject: [referensi] Re : Diskusi Mezzogiorno dan Kapet (4) Milisters semuanya ysh, Singkat cerita bahwa kisah 13 Kapet lalu dikoreksi akan menjadi 5 Kapet saja ......dimana untuk itu dilakukan 3 macam langkah..... yaitu kesatu akan dipertahankan proyek itu tetap sebagai Kapet......., langkah kedua, menseleksi dan hanya menyisakan 5 kapet saja ........ dimana disitu diprioritaskan pertimbangan ketersediaan SDA, lokasi strategis serta dukungan infrastruktur yang telah ada (artinya bukan infrastruktur nyaris nol)......, dan alternatif ke-3 memperkecil luas wilayah daerah yang menjadi Kapet........ Maka koreksi itu seperti kita lihat ....... salah satu contohnya adalah....seperti pertama....... Kapet DAS Kakab...... Kalau tak salah... Kapet DAS Kakab adalah singkatan dari Kawasan pertumbuhan ekonomi Daerah Aliran Sungai Kapuas, Kahayan dan Barito....... Kita lihat itu adalah semula kawasan pembangunan yang demikian luasnya meliputi kawasan dengan panjang pantainya saja tak kurang dari 600-an km....... Demikian berat medannya.......banyak muara sungai yang lebar dan rawa-rawa.... antara Sampit dan Banjarmasin sekitar 100-an km depan pantainya banyak reef sehingga banyak pantainya tak mudah didarati ....... tak seramah seperti Pantura Jawa yang hampir semua bagian pantainya dapat didarati perahu dan menjadi pemukiman... karena pantainya yang rata-rata landai dan berpasir..... Das Kakab sangatlah kurang infrastruktur pendukungnya......... maka Kapet itu akan diperkecil wilayahnya menjadi antara Sampit hingga Pangkalan Bun.....yang memang walau itu masih juga cukup ‘berat’.... tetapi setidaknya itu sudah jauh lebih masuk diakal dibanding dengan rencana ambisius sebelumnya yang nampaknya lebih bermodalkan semangat saja...... dan sejak awalpun sudah lumayan jauh dari logika keberhasilan....... Dengan koreksi, disitu nampak bahwa setidaknya bila semula Das Kakab itu meliputi panjang pantai tak kurang dari 600km..... maka kawasan pengembangan ekonomi itu kini ’dipersempit’ menjadi sekitar antara Sampit dan Pangkalan Bun saja yang panjang pantainya menjadi sekitar 200-an km ‘saja’....... dan diharapkan dua titik pertumbuhan kota Sampit dan kota Pangkalan Bun itu akan relatif lebih menarik, lebih aglomeratip dan lebih masuk diakal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan ditengah diantara keduanya......... Itu juga sekaligus menunjukkan bahwa suatu “kawasan pertumbuhan ekonomi” yang relatif lebih sempit” sehingga lebih merupakan “cluster”........ dengan “pusat” berupa”kota”........ ia memang jauh akan lebih masuk diakal untuk berkembang...... dibanding suatu kawasan luas... dengan pusat yang tak jelas...... Jadi sedikit banyak .... bagi yang sudah ‘talak satu’ dengan teori kutub atau pusat pertumbuhan..... ini dapat kembali mengingatkan... bahwa tak ada yang salah dengan “teori kutub pertumbuhan” itu........ Setidaknya kitapun harus menyadari pula .... bagaimana sulitnya menarik investasi kekawasan tanpa ‘pusat yang prospektip’ serta tanpa ‘infrastruktur yang layak’ demikian (ingat Bari-Taranto-Brindisi di Mezzogiorno)....... apalagi untuk investasi asing...... karena dalam Global Competiveness Index 2007 saja.... Indonesia hanya menempati urutan no. 50 dari semula malah lebih parah ialah no. 69...... Sebenarnya Kapet yang tidak usah terlampau berlebihan luasnya........ ia seperti memang akan lebih efisien... dan ia seperti akan lebih cepat menumbuhkan aglomerasi....... karena berbagai macam investasi akan dapat relatif saling berdekatan jaraknya .. sehingga saling kedekatan itu akan memunculkan berbagai keuntungan......seperti tentang relatif lebih mudah merangsang tumbuhnya aglomerasi atau kecenderungan kedatangan serta pemusatan dari berbagai investasi kegiatan lain yang baru....... yang cenderung merasa cukup prospektif untuk datang ’bergabung’.......serta akan relatif lebih mudah untuk mendorong kedatangan SDM bermigrasi untuk mengumpul pula... Sebagaimana DAS Kakab akhirnya direncanakan dipersempit kawasannya dan pusatnya digeser serta ditetapkan berupa 2 (dua) kota ialah Sampit dan Pangkalan Bun....... Atau Kapet Mbay di Flores yang direncanakan dialihkan menjadi berpusat di Kupang...... Tentang Kapet Bukari (Buton Kolaka Kendari).....yang akan dialihkan menjadi Kapet Kendari..... saya teringat ketika pada tahun 1994 atau 1995an bertemu dengan seorang petinggi di Puslitbang Deptrans PPH misalnya...... yang berasal dari Peternakan IPB... dengan berapi-api beliau ini mengatakan bahwa seputar Bau-Bau nanti akan menjadi kawasan industri perikanan terpadu yang modern ...... sampai saya ternganga-nganga dibuatnya ....... Ya bagaimana tidak...... nuansa psikologisnya kala itu adalah .....”apa-apa yang disentuh oleh tangan teknologi Habibie”... dipercaya oleh suharto dan mereka sebagai hampir pasti semuanya jadi...... Rancangbangun dan rekayasa pesawat.... pesawatnya bisa mabur .... industri strategis senjata dan kapal disentuh Habibie lalu maju .... sampai-sampai ICMI pun tidak sreg kalau tidak meminta Habibie sebagai Ketua......... maka kalau suatu kawasan lalu atas nama Habibie (sebagai Ketua Dewan Pengembangan KTI) sudah disebut sebagai akan menjadi “pusat perikanan terpadu modern”...... lalu siapa berani tidak percaya?............. Yah... itu kisah masa (dasawarsa) lalu...... dimana proporsi penduduk urban kita masih dekat seputar angka 40% ... dimana dengan proporsi penduduk kita seputar angka 60% masih rural....... maka wacana pembangunan agraris selalu masih memperoleh tempatnya dibaris depan........ dan wacana pembangunan urban seperti lebih banyak masih dianggap sebagai cerita orang mengigau saja......... Sementara demikian dan salam, aby _________________________________________________________________ Easily edit your photos like a pro with Photo Gallery. http://get.live.com/photogallery/overview

