Pak Onnos dan rekan-rekan Kapetiers ysh,
+++: Menurut saya, sebaiknya focusnya bukan kepada pengurangan jumlah Kapet
dari 13 jadi 5, dan pengecilan luasan Kapet yang lama. Namun bagaimana proses
mengevaluasinya dan apakah solusi kebijakan yang diberikan tersebut sudah
melalui studi yang 'benar' dan terbuka terhadap masukkan dari berbagai pihak
terkait ? Kemudian, langkah-langkah apa yang akan dilaksanakan untuk minimal
jangka 5 tahun y a d ?
>>>: Ya Pak Onnos... tentang Kapet 13 akan dipertahankan tetap menjadi 13
>>>atau menjadi 5 atau berapa angka lainnya ..... atau luasannya akan tetap
>>>dipertahankan, diperkecil atau digeser dsb..... saya kira yang menarik dan
>>>terbuka untuk masukan seperti keinginan bapak.... adalah silahkan
>>>masing-masing setiap orang boleh mengajukan argumennya.......
Jadi saya kira akan cukup menarik kalau bapak juga pada postingnya
seharusnya sudah menyertakan argumen bapak juga... tentang kenapa sebaiknya
biar tetap 13 kapet saja..... sehingga para Kapetiers dunia maya ini serta
para pejabat otoritas Kapet beneran dapat mengcollect argumen bapak juga
...... dan setidaknya kita bisa langsung segera mendiskusikan argumen bapak
juga.... siapa tahu anda punya bisa menghasilkan pencerahan baru.......
Satu aspek dari keunikan masalah planning adalah bahwa kita bicara tentang
serba ramalan, serba prediksi serta serba ekspektasi tentang arahan
perkembangan masa depan sosial ekonomi dari suatu ruang wilayah atau kawasan
tertentu.......
Maka disitu jelas bahwa pada pekerjaan planning..... selalu terkandung
nuansa ramalan, perkiraan , asumsi dsb.... yang semuanya tidak dapat
dikatakan sebagai eksak.... seeksak seperti kita mencetak kue apem, carabika...
atau dalam industri mobil bagaimana mesin press body dapat menghasilkan
demikianbanyak barang-barang cetakan seperti bagian pintu mobil atau kap mesin
dengan demikian presisinya (walau tetap ada persentase kegagalan juga) .......
Tetapi walau begitu...sepertinya kita masih bisa berpegang pada
logika-logika...... dimana dari situ kita lalu tidak ngawur-ngawur amat dalam
serba prediksi dan serba ekspektasi kedepan itu...........
Karena itu ..... sama-sama bicara tentang masa depan atau masa yang akan
datang sebagai ciri kuat dari pekerjaan perencanaan, atau perencanaan
pembangunan atau perencanaan ruang ... ...... tidak bisa lain kita hanya
dapat sebanyak-banyak bersandar pada logika-logika serta merefer pada hasil
studi2 keruangan... serta pada kisah-kisah empirik dari negara-negara lain yang
pernah melakukan pembangunan wilayah ... baik yang berhasil dengan gemilang
ataupun yang tidak banyak berhasil.......
Dari yang berhasil.. sedikit banyak kita bisa menganalisisnya mengapa ia
berhasil..... sebaliknya dari yang gagal kitapun bisa menarik pelajaran pula...
kenapa ia dulu gagal?......
Bersandar pada logika-logika..... contohnya seperti misalnya kalau ada
gula... diasumsikan hampir pasti logikanya akan ada semut datang..... logika
ini umumnya telah diterima amat luas sekali bahkan oleh awam sekalipun
dimana-mana........
Kalau ada suatu aktivitas ekonomi yang besar... diprediksikan dengan kuat
tentu akan datang migran.... kalau suatu industri memimpin berupa suatu
industri padat modal dan padat karya diletakkan disuatu kawasan kapet... maka
kuat diprediksikan bahwa ia akan kemudian menimbulkan dampak multiplier effect
yang luas... serta kesempatan kerja yang luas... dsb......
Atau kalau kita (atau investor) bisa menghasilkan sesuatu didaerah kapet...
bisa memasarkannya ... dan bisa mendapat nilai tambah yang memuaskan.....
disertai dukungan seperti fasilitas pengapalan barang menuju pasar (dari
kapet umumnya masih mengharapkan Jawa sebagai pasarnya, atau Singapura, Asia
Timur dsb)....tentu itu setengahnya telah dapat mendorong investor untuk lebih
berketetapan hati untuk merealisasikan rencana investasinya ..... tetapi itu
baru cerita setengah jalan........
Bahwa berbagai investasi raksasa atau menengah pada akhirnya setelah
menyediakan sebagian dari modalnya....... lalu tidak bisa tidak mereka tetap
harus pergi kelembaga keuangan.... untuk minta ditambahin modal.... bahkan
untuk proyek yang besar sering harus memerlukan konsorsium beberapa bank untuk
bersama-sama membiayai dan berbagi resiko..... Maka pada gilirannya .........
seolah-olah suatu proyek investasi didaerah Kapet itu lalu bukan lagi
tergantung kepada investor pelaksana.....
Tetapi benar-benar lebih tergantung lagi nasibnya kini pada penilaian
kelayakannya oleh lembaga keuangan atau konsorsium bank tadi itu........
Disini .... apa yang kemarin-kemarin diistilahkan sebagai
spidolisasi-spidolisasi ruang oleh para otoritas perencanaan ruang
.......dimana untuk itu masih diback-up lagi dengan berbagaai surat-surat sakti
bernama PP, Keppres, Permen... persetujuan DPR dsb.......lalu simsalabim
diyakini investor akan berdatangan....... tetapi nyatanya disini kita atau
para otoriotas keruangan itu akan berhadapan dengan apa yang disebut namanya
dengan kenyataan-kenyataan......
Kalau para otoritas keruangan mencoret-coret peta dan membagi-baginya
sampai berbelas-belas petak banyaknya ..... dan disitu tak ada taruhan selain
daripada paling-paling cerita gagal.... dan itupun akan terjadi (dinyatakan)
satu dasawarsa kemudian.... dimana rezim telah berganti bahkan beberapa
kali.... dan para mantan otoritas itu bahkan kadang sudah tak seberapa jelas
lagi batang hidungnya atau rimbanya ........ tetapi para bankers benar-benar
harus bertaruh dengan uangnya....... bisakah kembali dengan selamat atau
tidak?.....
Disinilah para otoritas keruangan seyogyanya menyertakan sebanyak-banyak
logika psikologis, sosiologis, logika-logika industri, logika-logika lembaga
keuangan..... dsb. dsb...... seperti tentang perlunya mencek-ricek kembali ....
apa yang secara psikologis kiranya akan mendorong atau menghambat tak hanya
para investor pelaksana dan pelaku bisnis.... tetapi lebih serem lagi justru
menyangkut pertimbangan dari para investor keuangan yang akan mempertaruhkan
keberadaan uangnya ........
Para investor pelaku bisnis mungkin setengahnya adalah para petualang.......
mereka bisa saja sikut kiri sikut kanan.... kekiri berkolusi dengan pejabat
daerah ..... kekanan berencana setengahnya mengakali bank (utamanya bank BUMN,
yang dulu juga banyak senang diajak berakal-akalan, dan satu dua jadi meringkuk
dipenjara )...... dan ketika apa yang didapatnya sudah berhasil.... ia tinggal
mengaku sakit dan berobat ke Singapura dan tidak pernah kembali...... dan
tinggallah kapet mungkin akan medak-medak atau mangkrak..... dan bank tinggal
gigit jari...
Jadi kalau dari13 kapet itu ada kapet yang kosong melompong....tidak ada yang
datang berinvestasi...... lalu ia dikatakan sebagai kapet yang gagal.....
itu juga bukan lalu artinya pasti selama itu tidak pernah ada investor yang
pernah datang dan tertarik berinvestasi disana....
Sangat bisa jadi..... masalahnya adalah beberapa investor telah pernah
mencoba berinvestasi....... tetapi giliran pergi ke bank untuk minta tambah
modal... mereka ditolak dibiayai....... karena bank lebih jeli matanya untuk
melihat bahwa ada beberapa poin yang belum masuk diakal..... seperti tentang
infrastruktur dilokasi ... dsb....
Jadi kembali ke pertanyaan apakah 13 kapet atau 5 kapet ...... saya sendiri
secara pribadi malah berpikir berbeda pula...... ialah apa salahnya hari ini
dibuat 1 (satu, setunggal, hiji, one) atau 2 (dua, kalih, two) saja
dulu...... tetapi pastikan bahwa ia benar-benar jadi ..... ia tumbuh.. ia
berkembang.... dan kalau dalam 1 tahun ia telah benar-benar nampak seperti
yakin pasti akan bertumbuh kembang ....... apa salahnya kontanesok harinya
membuat lagi 1 atau 2 kapet lagi ditempat lain ..... demikian dan seterusnya
sehingga akhirnya bisa dikembangkan total 13 kapet yang semuanya benar-benar
tumbuh dan berkembang dengan pasti .... atau kalau masih kurang bisa ditambah
lagi menjadi 20, 25, kapet dst... apa salahnya?........
Bagi rakyat sebenarnya tak banyak bedanya....... apakah mau pake kapet atau
tidak .... mau sedikit kapet atau banyak kapet ....... yang penting adalah
seperti kata pak Onnos sendiri .. ialah endingnya tidak menjadi cerita Kopat
Kapit......
Bagirakyat adalah apakah akan ada perluasan kesempatan kerja yang
menyenangkan atau tidak...... apakah hidup menjadi lebih baik dan lebih mudah
atau tidak......
Wah.... sebenarnya menarik untuk melanjutkan diskusi ini.. tetapi baru
menanggapi satu paragrap bapak sudah sepanjang ini jawabnya.. jadi mungkin
perlu bersambung ya pak?.....
Sementara demikian dulu dan salam,
aby
Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Aby dan rekan-rekan Kapetiers ysh,
Menurut saya, sebaiknya focusnya bukan kepada pengurangan jumlah Kapet dari 13
jadi 5, dan pengecilan luasan Kapet yang lama. Namun bagaimana proses
mengevaluasinya dan apakah solusi kebijakan yang diberikan tersebut sudah
melalui studi yang 'benar' dan terbuka terhadap masukkan dari berbagai pihak
terkait ? Kemudian, langkah-langkah apa yang akan dilaksanakan untuk minimal
jangka 5 tahun y a d ?
Dalam era keterbukaan/demokrasi dan otonomi yang sedang mencari bentuk di
negeri kita saat ini, sepertinya model pendekatan 'musyawarah mufakat' dalam
pengambilan keputusan untuk perencanaan semacam Kapet ini seharusnya dapat
diuji-cobakan. Sekaligus ini dapat sebagai 'test-case' untuk pelaksanaan
'public-participation' dalam proses perencanaan sesuai salah satu amanat UU-PR
27/2007.
Mengenai SDM dan Kelembagaan untuk mengelola Kapet, saya sepakat untuk
dipersiapkan dengan lebih serius. Mungkin butuh proses penyiapan SDM dalam
jangka menengah/panjang yang tidak sederhana, terutama untuk wilayah KTI.
Semoga melalui diskusi informal di ruang maya ini dapat ditindak-lanjuti dengan
diskusi 'copy-darat', dan dapat jadi masukan bermanfaat untuk 'para boss' yang
sedang diberi amanat rakyat untuk mengambil keputusan secara formal yang
mungkin diam-diam membaca milis ini.
Wassalam,
Onnos
---------------------------------
To: [email protected]
CC: [EMAIL PROTECTED]
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tue, 10 Jun 2008 03:59:14 -0700
Subject: [referensi] Re : Diskusi Mezzogiorno dan Kapet (4)
Milisters semuanya ysh,
Singkat cerita bahwa kisah 13 Kapet lalu dikoreksi akan menjadi 5 Kapet saja
......dimana untuk itu dilakukan 3 macam langkah..... yaitu kesatu akan
dipertahankan proyek itu tetap sebagai Kapet......., langkah kedua, menseleksi
dan hanya menyisakan 5 kapet saja ........ dimana disitu diprioritaskan
pertimbangan ketersediaan SDA, lokasi strategis serta dukungan infrastruktur
yang telah ada (artinya bukan infrastruktur nyaris nol)......, dan alternatif
ke-3 memperkecil luas wilayah daerah yang menjadi Kapet........
Maka koreksi itu seperti kita lihat ....... salah satu contohnya
adalah....seperti pertama....... Kapet DAS Kakab......
Kalau tak salah... Kapet DAS Kakab adalah singkatan dari Kawasan pertumbuhan
ekonomi Daerah Aliran Sungai Kapuas, Kahayan dan Barito.......
Kita lihat itu adalah semula kawasan pembangunan yang demikian luasnya
meliputi kawasan dengan panjang pantainya saja tak kurang dari 600-an km.......
Demikian berat medannya.......banyak muara sungai yang lebar dan
rawa-rawa.... antara Sampit dan Banjarmasin sekitar 100-an km depan pantainya
banyak reef sehingga banyak pantainya tak mudah didarati ....... tak seramah
seperti Pantura Jawa yang hampir semua bagian pantainya dapat didarati perahu
dan menjadi pemukiman... karena pantainya yang rata-rata landai dan
berpasir.....
Das Kakab sangatlah kurang infrastruktur pendukungnya......... maka Kapet
itu akan diperkecil wilayahnya menjadi antara Sampit hingga Pangkalan
Bun.....yang memang walau itu masih juga cukup berat.... tetapi setidaknya
itu sudah jauh lebih masuk diakal dibanding dengan rencana ambisius sebelumnya
yang nampaknya lebih bermodalkan semangat saja...... dan sejak awalpun sudah
lumayan jauh dari logika keberhasilan.......
Dengan koreksi, disitu nampak bahwa setidaknya bila semula Das Kakab itu
meliputi panjang pantai tak kurang dari 600km..... maka kawasan pengembangan
ekonomi itu kini dipersempit menjadi sekitar antara Sampit dan Pangkalan Bun
saja yang panjang pantainya menjadi sekitar 200-an km saja....... dan
diharapkan dua titik pertumbuhan kota Sampit dan kota Pangkalan Bun itu akan
relatif lebih menarik, lebih aglomeratip dan lebih masuk diakal untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan ditengah diantara keduanya.........
Itu juga sekaligus menunjukkan bahwa suatu kawasan pertumbuhan ekonomi
yang relatif lebih sempit sehingga lebih merupakan cluster........ dengan
pusat berupakota........ ia memang jauh akan lebih masuk diakal
untuk berkembang...... dibanding suatu kawasan luas... dengan pusat yang tak
jelas......
Jadi sedikit banyak .... bagi yang sudah talak satu dengan teori kutub
atau pusat pertumbuhan..... ini dapat kembali mengingatkan... bahwa tak ada
yang salah dengan teori kutub pertumbuhan itu........
Setidaknya kitapun harus menyadari pula .... bagaimana sulitnya menarik
investasi kekawasan tanpa pusat yang prospektip serta tanpa infrastruktur
yang layak demikian (ingat Bari-Taranto-Brindisi di Mezzogiorno).......
apalagi untuk investasi asing...... karena dalam Global Competiveness Index
2007 saja.... Indonesia hanya menempati urutan no. 50 dari semula malah lebih
parah ialah no. 69......
Sebenarnya Kapet yang tidak usah terlampau berlebihan luasnya........ ia
seperti memang akan lebih efisien... dan ia seperti akan lebih cepat
menumbuhkan aglomerasi....... karena berbagai macam investasi akan dapat
relatif saling berdekatan jaraknya .. sehingga saling kedekatan itu akan
memunculkan berbagai keuntungan......seperti tentang relatif lebih mudah
merangsang tumbuhnya aglomerasi atau kecenderungan kedatangan serta pemusatan
dari berbagai investasi kegiatan lain yang baru....... yang cenderung merasa
cukup prospektif untuk datang bergabung.......serta akan relatif lebih mudah
untuk mendorong kedatangan SDM bermigrasi untuk mengumpul pula...
Sebagaimana DAS Kakab akhirnya direncanakan dipersempit kawasannya dan
pusatnya digeser serta ditetapkan berupa 2 (dua) kota ialah Sampit dan
Pangkalan Bun.......
Atau Kapet Mbay di Flores yang direncanakan dialihkan menjadi berpusat di
Kupang......
Tentang Kapet Bukari (Buton Kolaka Kendari).....yang akan dialihkan menjadi
Kapet Kendari..... saya teringat ketika pada tahun 1994 atau 1995an bertemu
dengan seorang petinggi di Puslitbang Deptrans PPH misalnya...... yang berasal
dari Peternakan IPB... dengan berapi-api beliau ini mengatakan bahwa seputar
Bau-Bau nanti akan menjadi kawasan industri perikanan terpadu yang modern
...... sampai saya ternganga-nganga dibuatnya .......
Ya bagaimana tidak...... nuansa psikologisnya kala itu adalah .....apa-apa
yang disentuh oleh tangan teknologi Habibie... dipercaya oleh suharto dan
mereka sebagai hampir pasti semuanya jadi......
Rancangbangun dan rekayasa pesawat.... pesawatnya bisa mabur .... industri
strategis senjata dan kapal disentuh Habibie lalu maju .... sampai-sampai ICMI
pun tidak sreg kalau tidak meminta Habibie sebagai Ketua......... maka kalau
suatu kawasan lalu atas nama Habibie (sebagai Ketua Dewan Pengembangan KTI)
sudah disebut sebagai akan menjadi pusat perikanan terpadu modern...... lalu
siapa berani tidak percaya?.............
Yah... itu kisah masa (dasawarsa) lalu...... dimana proporsi penduduk urban
kita masih dekat seputar angka 40% ... dimana dengan proporsi penduduk kita
seputar angka 60% masih rural....... maka wacana pembangunan agraris selalu
masih memperoleh tempatnya dibaris depan........ dan wacana pembangunan urban
seperti lebih banyak masih dianggap sebagai cerita orang mengigau saja.........
Sementara demikian dan salam,
aby
---------------------------------
Enrich your blog with Windows Live Writer. Windows Live Writer