Pak Wawoo... Saya ambil cerita yang ringan saja deh.... yaitu jadi tau bapak punya opa mantri cacar.... kok bisa sama ya dengan opa saya juga mantri cacar hehe.... beliau oleh semua orang di kampung saya dulu dipanggil "pak Caca", termasuk cucunya yang sekolah di planologi ga mau manggil opa.... hehe...... Kalo opanya pak Wawo sempat punya sawah mau jadi ring road, sawahnya opa saya itu sudah ga tau dimana letaknya karena anak-anaknya semua hidup di Jakarta dan yang di kampung ga ngurusin juga kayaknya pada jadi ambtenaar (bener nih pak tulisannya maksudnya pegawai?). Hehe...kita bikin "persatuan cucu mantri cacar" bisa tuh pak, cucunya opa saya itu buanyak banget karena opa saya itu zaman dulu rupanya biasa punya istri dimana dia datang untuk mencacar hehehe...mungkin ga ada hotel dimana menginap di rumah penduduk dia dilamar, kan dia hidup dinegeri yang matriachat.... Salam - 2ny
--- On Wed, 7/9/08, Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [referensi] Re: [perkotaan] Re: Kemiskinan Reinterpreted or Job Creation Preferred? To: [email protected] Date: Wednesday, July 9, 2008, 8:19 PM .... Ini gambaran gedenya, tapi saya sekarang persis dalam situasi semacam ini:.... kebetulan saja saya memang cucu dari seorang yang dahulu adalah mantri cacar jah yang mesti suntik cacar penduduk, kebetulan lagi si opa yang diberi nama tete-paksi (vaccinateur) punya sebidang tanah yang mulanya adalah kebun kelapa tapi dengan segala akalnya telah ia jadikan kobong pece atau sawah.. Nah sawah ini rupanya oleh Pemerintah Kabupaten sekarang diincar oleh karena setiap ibukota kabupaten itu perlu ada ringroad, ..............

