Pak Wawo,
Saya ikut berdukacita atas wafatnya adik bapak, saya pernah ketemu dan lihat
beliau waktu mampir ke rumah bapak di Tomohon itu. Saya jadi ingat punya sepupu
tinggal di Den Haag yang juga seperti adik Bapak itu dan juga sudah wafat tahun
yl. Tapi disana kan Pem.Bld sudah sangat well-organized sehingga untuk
keluarga2 yang punya handycap-person begitu sudah ada komplek perumahan khusus,
sehingga oom saya papanya itu bisa berbagi masalah dengan tetangga mereka. Saya
waktu itu juga terharu melihat adik Bapak itu, semoga beliau diterima
disisiNya. Saya jadi ingat juga dengan sohib saya Nellie alm. yang juga punya
putri bermasalah, yang membuat Nellie sering stress dan kita sering
menghiburnya. P.Akil menyebut kalau kita punya anggota keluarga yang demikian
itu sebenarnya "ladang amal" yang dititipkanNya kepada kita.
Kayaknya kaktus dan lumut itu dalam sekali ya pak maknanya. Kaktus itu tumbuh
tanpa air dan di padang pasir lumayan memberi sedikit kehijauan disekitar
kegersangan, sementara lumut itu tumbuh sendiri bila ada air atau lembab dan ga
mudah untuk ditumbuhkan, kayaknya saya belum pernah tau ada orang yang
membudidayakan lumut ya? Kedua tanaman itu hanya bisa tumbuh bila ada matahari
yang membuat mereka berwarna hijau. Mungkin kita perlu belajar falsafah kaktus
dan lumut...hehe.
Semoga p.Wawo sehat dan semangat selalu.
Amin dan salam - 2ny
--- On Thu, 7/10/08, Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Opa yang mantri Cacar......
To: [email protected]
Date: Thursday, July 10, 2008, 3:47 PM
Reny, dan juga rekan Andri Budiman lagi-lagi saya terhibur masih
ada professional yang idealis seperti juga dimaksud Cut S. Tapi sejalan juga
dengan observasi rekan Andri B. kita sebetulnya tidak lagi 'professional' yang
terhibur tapi sudah terasing dari banyak kenyataan, terasing dari masayarakat
yang menurut kita masa bodoh, terasing dari sesama atau professional yang
senasib, terasing dari generasi-generasi digital atau google yang engga usah
sekolah, jadi kayanya sudah ada knowledge dan moral yang baru tapi entire
lifestyles and economies. Yah kita kan tinggal ngaku saja, kalau orang manado
itu bilang ....so tua ngana sayang... Jadi ternyata kita tokh terhibur karena
udah jadi kakek and still have
our stupid ideals. Reny saya sebulan lalu ditinggalkan adik yang sepanjang
hidupnya lumpuh dan juga tidak bisa berbicara normal, walaupun ia sama sekali
tidak bersekolah namun ia sanggup tumbuh dan hidup sebagai manusia yang normal,
kadang-kadang malahan melebihi orang yang normal, pernah waktu ia baru kembali
dari pengungsian waktu masa pergolakan Permesta saya mencoba bertanya padanya
apa kesannya, jawabnya singkat : ..yakis.. dalam bahasa manado sama dengan
bullshit.. lantas baru-baru ini bukan di tomohon menyelenggarakan flower
festival, memang adik saya tidak mengalaminya lagi , tapi selama hidupnya ia
sangat tekun ingin memelihara kembang atau tanaman, saya coba bawakan kembang
dan anggrek dari bandung dan jakarta, ternyata hanya dua yang ia tertarik
cactus yang sungguh kerdil dan yang paling susah adalah lumut yang memang
sangat sukar tumbuh, atau sangat sukar kalau kita ingin menanamnya. Mungkin
this was the
challenge that was given to her sebagi cucu mantri cacar.. yah Reny. Jadi
sepanjang jalan antara Tomohon dan Manado ada termbok talud memang dibangun PU,
tapi waktu flower festival semua lumut-lumut tembok itu dikupas malahan dibakar
dengan blower. Nah inilah hikmah dan message Meike adik saya , kan nati lumut
itu bertumbuh lagi kalau kemarau dan festival itu sudah lewat. Barangkali
selaku professional kita diberi ilmu dan kebijakan, but can we live up to those
ideals, mungkin with all my sympathy to the generations that can or will have
to survive without a laptop. Pak Wawo.
----- Original Message ----
From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Thursday, July 10, 2008 11:13:23 AM
Subject: [referensi] Opa yang mantri Cacar......
Pak Wawoo...
Saya ambil cerita yang ringan saja deh.... yaitu jadi tau bapak punya opa
mantri cacar.... kok bisa sama ya dengan opa saya juga mantri cacar hehe....
beliau oleh semua orang di kampung saya dulu dipanggil "pak Caca", termasuk
cucunya yang sekolah di planologi ga mau manggil opa.... hehe......
Kalo opanya pak Wawo sempat punya sawah mau jadi ring road, sawahnya opa saya
itu sudah ga tau dimana letaknya karena anak-anaknya semua hidup di Jakarta dan
yang di kampung ga ngurusin juga kayaknya pada jadi ambtenaar (bener nih pak
tulisannya maksudnya pegawai?).
Hehe...kita bikin "persatuan cucu mantri cacar" bisa tuh pak, cucunya opa saya
itu buanyak banget karena opa saya itu zaman dulu rupanya biasa punya istri
dimana dia datang untuk mencacar hehehe...mungkin ga ada
hotel dimana menginap di rumah penduduk dia dilamar, kan dia hidup dinegeri
yang matriachat.. ..
Salam - 2ny
--- On Wed, 7/9/08, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com> wrote:
From: Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] Re: [perkotaan] Re: Kemiskinan Reinterpreted or Job
Creation Preferred?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Wednesday, July 9, 2008, 8:19 PM
.... Ini gambaran gedenya, tapi saya sekarang persis dalam situasi semacam
ini:.... kebetulan saja saya memang cucu dari seorang yang dahulu adalah mantri
cacar jah yang mesti suntik cacar penduduk, kebetulan lagi si opa yang diberi
nama tete-paksi (vaccinateur) punya sebidang tanah yang mulanya adalah kebun
kelapa tapi dengan segala akalnya telah ia jadikan kobong pece atau sawah.. Nah
sawah ini rupanya oleh Pemerintah Kabupaten sekarang diincar oleh karena setiap
ibukota kabupaten itu perlu ada ringroad,
............ ..