Bu Cut,
Apa kabar? 
Saya juga bukan pesimis, tapi sedih berkepanjangan. Negeri ini lagi sakit 
parah, ga tau lagi harus darimana mengobatinya. Ga diobati bapak mati, diobati 
ibu mati hehe.... ga bener ya pada sekarat barangkali...
Saya pernah sampaikan ke teman2 duluuuu bahwa penataan ruang itu kayaknya ga 
cocok kalau diurus secara proyek (katanya proyek itu harus selesai khan?) 
sementara penataan ruang kan ga pernah selesai. Tapi UUPR yang baru ini seperti 
menciptakan bagi-bagi proyek yang makin banyak... asyik tuh ! 
Coba saja sekarang kan semua provinsi harus punya proyek revisi RTR yang harus 
sudah ditetapkan sebelum tanggal 27 April 2009, semua kabupaten/kota harus 
menyiapkan dana (baca:proyek) untuk revisi/review RTR masing-masing kab/kotanya 
walaupun baru saja sebelum 27 April 2007 sudah ditetapkan. Lalu mendekati 
tanggal 27 April 2009 dan 27 April 2010, di Dep.PU (cq. Ditjen PR) bakal 
kebanjiran pekerjaan harus memberikan rekomendasi terhadap semua usulan 
revisi/review RTR itu..... mungkin bisa jadi proyek lagi tuh ya. 
Kenapa bu kok ibu bilang kita perlu menyampaikan berbagai teori "dengan tanpa 
perlu menyinggung contoh-contoh 'kesalahan/kekeliruan' para birokrasi ?" Kok 
sepertinya ada nada putus asa? Hehe... siapa niiih yang pesimis ? Mungkin 
cocoknya bikin kabaret saja ya? Ini negeri buat orang-orang yang kritis sudah 
seperti jadi "anjing menggonggong kafilah berlalu" ? Tapi saya juga bukan saja 
sedih, tetapi mulai ngeri juga melihat negeri ini, lihat saja itu kebijakan 
menaikkan harga BBM berkepanjangan demo, gas jadi sulit, di daerah terjadi 
antrean mobil. Kira-kira 2 minggu yl, di Bangka katanya sudah biasa orang antre 
dari malam untuk mengisi BBM. Begitu juga di beberapa kota lain dari berita 
yang dimedia. 
Apa sanksinya bu, kalau pada tanggal yang ditetapkan UUPR, ternyata ada 
provinsi/kab/kota belum punya Perda RTR yang baru? Apakah semua Perda RTR yang 
ada jadi batal demi hukum? Apa negeri itu akan tercatat tanpa RTR ?
Mohon kawan-kawan para birokrat bisa bantu menjawab hal ini sebelum  kekacauan 
negeri tanpa RTR itu terjadi. Walaupun cuma jadi pajangan di lemari...hehe
Salam - 2ny

 
--- On Wed, 7/9/08, cut safana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: cut safana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: [perkotaan] Re: Kemiskinan Reinterpreted or Job 
Creation Preferred?
To: [email protected]
Date: Wednesday, July 9, 2008, 9:13 PM










    
            Yth. Bapak Hannie Waworoentoe
Salam kenal dan hormat saya untuk Bapak
Saya mohon Bapak jangan pesimis seperti ini, masih banyak bangsa kita yang 
berpikiran idealis, cuma karena posisi  hanya sebagai 'penonton' bukan 'policy 
maker' jadi hanya bisa berlinang air mata Pak. Namun demikian saya sebagai 
bagian dari rakyat, mohon dengan hormat kepada para profesional (dalam hal ini 
planners), kiranya tidak perlu bosan-bosan  'mengulas' teori-teori yang ada dan 
benar untuk pengembangan dan pembangunan wilayah  di dalam media khususnya 
koran-koran 'besar', dengan tanpa perlu menyinggung contoh-contoh 
'kesalahan/kekeliru an' para birokrasi (masalahnya tidak ada gunanya, 'emangnya 
gue pikirin'.... ...). Tetapi yang paling penting adalah misinya sampai Pak, 
rakyat bisa mengetahui/mengerti apa yang harus terjadi/terbangun/ tersistem/ 
ter-undang- kan/terkontrol dan ter-ter lainnya didalam negeri tercinta ini. 
Terima kasih
Salam Hormat. (cut safana)


----- Original Message ----
From: Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Thursday, July 10, 2008 6:19:07 AM
Subject: Re: [referensi] Re: [perkotaan] Re: Kemiskinan Reinterpreted or Job 
Creation Preferred?





Eko, mungkin Eko tidak mengira akan ada tanggapan dari pihak yang sebenarnya 
sudah tidak punya suara secara langsung, tetapi saya sepenuhnya menyokong atau 
pertahankan pendirian dan keyakinan Eko. Memang saya kira birokrasi dan 
sekaligus para konsultan yang tidak resmi dalam birokrasi tapi bagaimanapun 
juga harus ikut dalam permainan yang jelas munafik ini. For the time being 
mungkin mereka yang masih punya ideal atau keyakinan bahwa somewhere there 
there must be a truth, yah mereka termasuk kita tidak banyak yang dapat kita 
harapkan. Ini bukan hiburan tetapi kenyataan.  Jadi tetap bikin rencana-rencana 
netral yang engga ada risiko dan juga tidak ada musuh (kecuali yang ngerti),  
itulah birokrasi atau governance atau pemerintah sekarang, yah jangan 
digoyang-lah, don't shake the boat, maka selamatlah kita semua? well  
barangkali memang tidak semua, dan lebih celaka memang tidak selamat, what we 
are doing is just postponing the problems,
 jadi kalau engga besok yah pasti nanti semua dosa-dosa ini harus dibayar,  ini 
diseluruh dunia, coba kita lihat si Soros yang bisa mengatasi pelbagai krisis 
katanya begini: do you want to hear the bad news, yes we lost a lot of money 
(pokoknya semua bank-bank di dunia ini pasti lugilah) but do you know the good 
news , .. well it was not our money we lost (ja jelas semua pemegang saham yang 
atau kata gede  stupid stakeholders yang betul-betul lugi - engga apa sih kalau 
dia pinjem duit lagi, yah dari pemerintah bukan, nah si pemerintah dia dapet 
duitnya dari mana, yah kalau bukan dari pembayar pajak PBB segala, the problem 
is that these taxpayers do not revolt since they are just as stupid.  Ini 
gambaran gedenya, tapi saya sekarang persis dalam situasi semacam ini:.... 
kebetulan saja saya memang cucu dari seorang yang dahulu adalah mantri cacar 
jah yang mesti suntik cacar penduduk, kebetulan lagi si opa yang diberi nama 
tete-paksi
 (vaccinateur) punya sebidang tanah yang mulanya adalah kebun kelapa tapi 
dengan segala akalnya telah ia jadikan kobong pece atau sawah.. Nah sawah ini 
rupanya oleh Pemerintah Kabupaten sekarang diincar oleh karena setiap ibukota 
kabupaten itu perlu ada ringroad, whatever that means, malahan si kepala dinas 
PU sudah berhasil mendapat allokasi untuk membikin ringroad itu, walaupun belum 
ada RTRW atau apa saja yang dapat membenarkan ringroad itu. Well so I just 
asked that basic question  what do you need that ringroad for, dan pertanyaan 
yang lebih sukar tapi pantes untuk setiap planolog, dimana ringroad itu mau 
dibangun, yah rupanya pertanyaan ini rada sukar saya dapat jawaban. Secara 
kebetulan saya juga diminta untuk ikut rapat di PU Jakarta wah this not often 
happens, tapi waktu saya lagi nunggu tuan-tuan bappeda dan sekjen PU lagi rapat 
saya koq ketemu salah seoarang Kepala, kalau engga salah Kepala Bina Program, 
who said that he was jyust back
 from a rapat PU di Makassar, wah kebetulan nih lantas saya tanya soal ringroad 
di Ratahan ibukota kabupaten Mitra itu, well jelas jawabannya straight from the 
textbook, engga bisa tuh harus ada RTRW atau ada rencana yang jelas, oklah saya 
pulang cukup puas. Nah sekarang sudah tiga bulan lewat dan rencana ringroad itu 
kelihatannya engga dilanjutkan, tapi ada perkembangan baru yang tidak begitu 
aneh, kabupaten Mitra atau Minahasa Tenggara itu kebagian BANTEK, whatever that 
means pokonya you have to swallow it, datanglah konsultan dari Bandung PT Reka 
Spasia Indonesia yang dalam waktu singkat akan menghasilkan  suatu RTRW. Nah 
saya sudah tiga kali ke kantor BAPPEDA Mitra tapi engga bisa ketemu, dan nilpun 
juga rada susah. Well anyhow saya juga tahu bahwa uang untuk ringroad sudah 
turun dan biaya BANTEK juga sudah turun . Dengan kata lain Eko I am back at 
square one. Jadi kesimpulannya memang we have created our own problems. Sudah 
hampir 50 tahun lalu
 saya mulai ngajar di planologi itb,  akhirnya dosa-dosa ini saya harus 
tanggung juga. 
 
Memang milis ini sabar sekali, Jadi Aby, Eko Eka dan siapalah yang masih mau 
nulis, kenyataannya  all that knowledge is just considered buulshit by the 
birokrasi.  Rekan BTS anda sih bukan dalam birokrasi tapi jelas ikut prihatin, 
mungkin dosa Soros itu sukar diketemukan  tapi for the time being it is 
governments that take all the burden. Sudah lama saya coba keluar dari kemelut 
ini tapi hanya satu yang mungkin masih bisa jadi penyelamat:  kata orang 
tentang Benyamin Franklin.... he made himself rich by making his wants few.... 
kalau begitu kita bertapa saja kan.  Pak Wawo. 


 
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke