Pak Wawo ysh, Terima kasih untuk waktunya kemarin malam, bersama Pak Risman kita masih sempat dengan yakin(iku) menghisap shabu-shabu. Termasuk klarifikasi terhadap pemahaman saya tentang 'dosa', yang sebenarnya menurut bapak suatu metoda 'trial and error dalam dunia paedogogi'. Karena pengetahuan bila tidak berangkat dari success story, tentunya berangkat dari retrospeksi secara senantiasa.
Saya memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang tumbuhnya ilmu futurologi ini, namun tentunya disesuaikan dengan kesempatan bapak. Juga lanjutan kisah tentang futurolog Amerika yang merencanakan masa depan Jepang itu. Memang saya berangkat dari suatu penafsiran skeptis, dari perenungan dosa itu, bila perencanaan (< 20-25 tahun) tidak bebas nilai, karena begitu banyak variabel dan koefisien yang mempengaruhi. Terlebih bila timeline ini masih bisa tergenggam oleh suatu generasi (: rezim), yang bisa dengan mudah 'direvisi', 'disiasati', dan juga 'dimodifikasi'. Permasalahannya, seberapa cakap dan bijak kita mampu memahami variabel penyebab deviasi itu; apalagi penggalan-penggalan era itu harus disikapi secara technical/social engineering. Yang mengakibatkan: terkadang perencanaan itu tertinggal oleh realita, atau malah meloncat terlalu jauh dari realita. Dan kembali permasalahan utamanya adalah: generasi. Saya kira bapak telah menyaksikan perjalanan 2-3 generasi, sedikit banyak penilaian bapak saya coba rasakan. Bila harapan dan optimisme itu hanya ditumbuhkan dari suatu pandangan bebas nilai, maka kita harus meletakkan sesuatu itu di luar jangkauan kemampuan satu generasi, dan hanya 1 derajat tidak lebih dan tidak kurang dari batas kemampuan insaniah. Saya kira, sekaligus ini koreksi, pemikiran sekurangnya 25 tahun ke depan menjadi pelengkap kebutuhan saat ini; tentang suatu masa ketika kita sudah menjadi sangat tua, dan yang terpenting anak/cucu kita menjadi dewasa dan menghadapi dunia ini sebagai warisan. Saya kira demikian dulu pak. Sekalian mengumumkan juga rencana kemarin bila 'kopi darat akbar geng motor kita' akan kita adakan sekitar bulan Desember. Salam. -ekadj 2008/7/23 Hannie Waworoentoe [EMAIL PROTECTED]: > > > Eka dan rekan milis lainnya, > > > > Eka, ini memang sangat mustahil, saya tulis reply untuk Eka malahan diatas > computer Eka sendiri di Jakarta, padahal bisa aja ngomong langsung. Tapi apa > boleh buat media milis ini memang punya keuntungan yang lain, salah satu > adalah lebih effisien karena kita harus pikir baik-baik sebelum tulis > jawaban. > > > > OK sekarang mengenai subyek 10, 15. 20, 25 dan yang *diamond* adalah 50 > tahun. Well ini semuanya sih cuma batas-batas waktu conceptual yang > tertentu, tapi saya coba berikan beberapa tanggapan: > > > > Pertama terhadap yang masih pendek 10-15 dan 20 tahun, *these were rather > technical planning periods* yang secara konvensional digunakan dalam > penyusunan rencana yang katanya dahulu terutama dipengaruhi oleh* cycles*atau > yang lazim disebut > *bussiness-cycles*, yang kata ekonom suka berulang oleh karena itu > dinamakan siklus, lantas ada juga yang menggunakan *umur* (biasanya dari > mahluk atau species) atau usia yang biasanya dinamakan *generasi* dan > entah karena alasan apa dipakai 20 tahun untuk satu generasi, maybe dari > lahir jadi dewasa lantas sudah bisa mati atau *regenerate*, well that is > biological entah ada juga species yang lebih lama seperti penyu yang seratus > tahun, OK itu planning teknis. > > > > Kalau kategori kedua kelihatannya bukan bisnis tahunan tapi *development > cycles*, seperti dikiur menurut gejala lahir, gestation, maturation atau > pendewasaan, lalu kembali di *undevelop* atau di *redevelop*, tapi ini > juga masih rada bio atau economic oriented, yang jelas semuanya itu masih > liniar atau ikut garis yang selalu satu arah, memang engga masuk akal kalau > kita berlawanan arah, kecuali kalau untuk analisa sejarah, jadi * > regressive* atau *past oriented *dan bukan *future oriented.* > > > > Nah sekarang barangkali yang bukan linier dan bukan future oriented yang > bukan linier itu bisa dipelajari dalam matematika, pakai segala teori atau > program yang non linier, tapi itu terlalu kompleks dan juga engga banyak > digunakan oleh planolog (kecuali yang rada sinting) Nah yang non future itu > bisa yang regressive atau melihat kebelakang, tapi sebetulnya bukan untuk > masalah analitis (yang pengen cari pencerahan doang) tapi juga untuk memberi > masukan kreatip. Jadi ini adalah tinjauan atau kritik spesifik pada > futurologi. > > > > *Well that opens a very different perspective* yang saya barangkali ingin > tinjau adalah *kecepatan atau percepatan dari perubahan*, ini juga rada > mechanistic jadi bukan saja *the speed of change but also the acceleration > of change*, nah ini saya kira Eka bisa kembangkan juga: kalau terhadap > *kecepatan > atau speed* itu jelas hanya soal *waktu* atau proses perubahannya, Tapi > kalau fenomena *change* itu jauh lebih menarik, tidak saja *climate change > * tapi juga *social and economic change* dan terlebih lagi *political > change*, and *what not* Mungkin yang paling menarik adalah *cultural and > philosophical change, * perubahan budaya, peradaban dan falsafah > > > > Cuma yang terakhir ini mungkin rada sukar kita mikir cultural change > sebelumnya cultural perception kita itu sudah cukup kuat atau ngerti. > Otherwise I think this is just a waste of time. > Secara singkat memang 50 tahun itupun masih *a very short half century. * > ** > *Diam-diam tahun depan sudah lima puluh tahun saya mengemban suatu program > pendidikan planologi, and that seems very short indeed. Pak Wawo , > incidentally terima kasih untuk computermu. ** > * > > ----- Original Message ---- > From: ekadj08 <[EMAIL PROTECTED] com> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Sent: Monday, July 21, 2008 12:00:42 AM > Subject: [referensi] Milis Futurologi > > Pak Wawo ysh, > > Saya bukan Eko pak, tapi ingin menanggapi sedikit pandangan bapak. Saya > tertarik dengan `pengakuan dosa', untuk sesuatu hal adalah `kesempurnaan' > dari `a perfect mistake' yang pernah bapak > sampaikan<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/367>(…son > if you have to make mistakes, you might as well make some good mistakes > perhaps even a perfect mistake …) > > > > Salah satu `mistake' itu menurut hemat saya adalah time duration yang > terlalu dekat, 10, 15, 20, atau 25 tahun; adalah `suatu masa' yang masih > terjangkau oleh `satu generasi'. Sehingga varia[n]si mistake itu mudah > dimodifikasi sehingga menjadi `a perfect mistake'. Kita tokh tidak ingin > terjebak dalam > konspirasi<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/433>ini. > > > > Karena bapak telah mengalami masa yang panjang, saya terilhami dari `a > glorious weekend <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1037>' > untuk suatu penerawangan yang lebih jauh; setidaknya ukuran minimal 50 > tahun <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4179>. Kiranya > berkenan bila saya mengajak bapak dan rekan-rekan yang berminat untuk saling > berbagi dalam pandangan-pandangan masa depan ini dalam wacana > baru<http://groups.yahoo.com/group/futurologi>. > Mudah-mudahan tahun depan sedikit komunitas ini dapat berkontribusi dalam > Plano50. Salam. > > > > -ekadj > > > > *Subscribe to futurologi* Powered by tech.groups. > yahoo.com<http://tech.groups...yahoo.com/> > > . > > >

