Pak Risfan ysh, Memang saya mendengar bila salah satu metode dalam futurologi adalah melalui penyusunan skenario, di samping beberapa metode lain seperti pemodelan, simulasi, analisis trend, dll. Uraian bapak memperjelas beberapa pendekatan di dalamnya, mudah-mudahan dapat menjadi populer sebagai pilihan dalam kajian futurologi. Mengenai istilah 'peramalan' sepertinya kurang cocok karena terkesan 'kurang terukur'. Iskandar Alisyahbana menggunakan istilah 'penerawangan', namun hemat saya istilah 'mengukur masa depan' kelihatannya lebih bertanggung jawab. Mudah-mudahan ada rekan pembelajar yang bersedia berbagi wawasan lebih lanjut.
Sekelompok anak muda alumni ITB beberapa tahun yang lalu menerbitkan jurnal, sepertinya rekan-rekan Bang Zaid, salah satunya mengkaji tentang 'theory of complexity'. Saya kurang tahu kelanjutannya, namun kelihatannya berambisi membangun model-model kompleks. Dengan kata lain, selama ini telah ada bibit-bibit yang mencoba menembus kendala-kendala pendekatan itu. Extrapolasi begitu saja memang terkesan kurang bertanggung jawab, kita cukupkan di dunia perencanaan; dan sepertinya sekarang sudah mulai hati-hati. Saya dulu pernah membaca buku karya Siswono Yudhohusodo, ketika beliau bereksperimen dalam suatu skenario migrasi beberapa suku bangsa dan ras di Indonesia ini; sangat mengesankan dan cukup berhasil meyakinkan tentang trend antropologis itu. Sehingga metode skenario ini menurut saya cenderung populer ke depan, namun hendaknya juga menggunakan ukuran-ukuran. Salah satu keunggulan futurologi saya kira adalah tidak mengenal 'bangun kesepakatan' dan juga 'tidak butuh policy', dan semata tunduk kepada 'hukum alam' (sunnatullah); yang bagaimana pun disiasati, akan berlangsung juga. Cepat atau lambat, jauh atau dekat, di dunia atau di akhirat; dan kalau terukur mudah-mudahan menjadi berkat. Sehingga menarik juga dipelajari sebagai pengetahuan. Mengenai time-line atau duration time saya kira fleksibel saja, sekurangnya ada sedikit kemerdekaan kita dalam membayangkan masa-masa di depan kita (ini koreksi lagi). Mudah-mudahan diskusi kecil kita ini dapat berkembang lebih lanjut. Sebelumnya terima kasih pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], "risfano" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Pak Wawo, Eka dan rekan2 ysh, > > Bicara time-line atau cycles, dalam jangka panjang mau tidak mau bicara > skenario. Kata Peter Schward, skenario dibuat karena dalam kasus > kompleks extrapolasi sulit dilakukan, karena beberapa faktor utama yang > tidak bisa diramal (hasil pemilu, keputusan pemimpin, konflik, dst). > > Setidaknya ada beberapa plot skenario yang bisa dipertimbangkan: > Pertama, yang normal ekstrapolatif. Kedua, cyclical. Sejarah yang > berulang dalam kurun waktu tertentu. Misalnya pra-Orba rakyat 'ngantri > minyak', setelah lima dekade rakyat 'ngantri minyak' lagi. > > Ketiga, challenge and response. Ada tantangan, kendala tapi bisa > diresponse. Ada masalah volume lalu-lintas yang tinggi, kebutuhan lahan > yang melonjak. Lalu direspons dengan pembangunan prasarana jalan, > distribusi pusat-pusat. Maka kota meluas, lalu muncul masalah > metropolitan (sprawl), lalu direspons dengan pembangunan ring-road, > outer-ring-road. Direspons terus dengan pertumbuhan intensif ala rumah > susun, ....dst, .....dst. Ini secara jangka panjang tampak sebagai > sesuatu yang linier juga. Tapi sampai kapan? Tentu ada batasnya. > > Keempat, skenarionya Lone Ranger atau Rambo. Alias ndableg. Ada > kemungkinan pemimpin dan sistem tidak peduli dengan > 'perubahan-perubahan' atau "tanda-tanda zaman". Yakin saja dengan > keputusan dan nikmat dengan tren yang ada, nyaman, tak mau berubah. > Pada pertengahan 70an wacana 'minyak akan habis' sudah dikembangkan, > teknologi tepat-guna, solar energy sudah diperkenalkan. Tapi tidak > mendapat sambutan. Maka sejarah harus menghadapi realita keras. Bukannya > kampanye industrialisasi, malahan menteri perindustrian dan 4 menteri > lainnya sibuk melarang industri bekerja penuh, dengan ancaman lagi (Lho, > katanya mau bersing?). > > Kelima, skenario evolutif. Perubahan yang lambat tidak terasa, > seringkali memang menghanyutkan. Contohnya mungkin "global warming". > Atau ini tidak lambat ya, karena setelah beribu tahun 'bumi aman', kok > tiba-tiba satu abad ini saja jadi memanas. Mungkin yang evolutif itu > perkembangan wilayah seperti Tomohon, sampai datangnya the flower > festival? > > So, apakah memang kita bisa meramal sampai lebih dari 10 tahun? > > Salam, > Risfan Munir > http://urbanis.wordpress.com <http://urbanis.wordpress.com>

