Operet
Keroncong di Bekas Kampung Gali
Lawasan, Kricak
Putaran Babad Kampung VII, FKY XX 2008, Sabtu 26 Juli
– Minggu 27 Juli 2008
Sebelum
terbesit ide untuk mengkolaborasikan operet dan musik keroncong,
masyarakat Kricak memang sudah erat dengan dua kesenian tersebut.
Sudah sejak lama dua kesenian tersebut lahir dan menemani warga
Kricak dalam berbagai pertunjukan-pertunjukannya. Nah, kecintaan
warga Kricak akan kedua kesenian tersebut akhirnya mampu memunculkan
sebuah kesenian baru yang mungkin belum pernah ditemui di
kampung-kampung yang ada di Yogyakarta ini. Operet Keroncong di
Kricak baru muncul tahun 2008 ini.
Operet
Keroncong yang akan ditampilkan warga Kricak dalam Babad Kampung FKY
2008 ini berjudul “Tembang Kricak”. Operet Keroncong tersebut
akan menceritakan mengenai pernik-pernik perjalanan kehidupan
masyarakat Kampung Kricak mulai dari tahun 70-an hingga sekarang.
Kricak dulunya memang terkenal sebagai kampung yang “hitam”,
tempat para preman
dan gali
bercokol. Maka mereka pun susah “diatur”. Tembang Kricak akan
menceritakan pengalaman warga Kricak yang susah “diatur”
sekaligus mementaskannya. Melalui pementasan ini, semua kesan jelek
dan buruk mengenai Kricak akan dibersihkan di dalam cerita. Maka,
bolehlah pementasan ini disebut sebagai sebentuk upacara warga Kricak
untuk melihat perjalanan masa lalunya dalam menatap masa depan
bersama.
Pemain
dari operet keroncong berjumlah sekitar 30 orang
lebih. Pemainnya adalah warga Kricak semua, tua muda, laki-laki
perempuan. Dalam Operet Keroncong nanti, alat musik keroncong yang
digunakan adalah bass besar, cuk lele, cak, biola, gitar, jimbe, dan
simbal dram. Pertunjukan yang berdurasi sekitar satu setengah jam ini
diawali dengan iringan keroncong tulen atau tanpa jimbe.
Proses
Operet
Keroncong ini ternyata memunculkan pengalaman-pengalaman baru bagi
warga Kricak. Menggubah 10 syair lagu tanpa bantuan seorang komponis
menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka. Selama
berhari-hari, mereka bekerja keras untuk menciptakan syair lagu baru
yang pas dan sesuai dengan pertunjukan operet. Namun berkat
kebersamaan dan kekompakan, akhirnya 10 syair lagu baru hasil gubahan
mereka mampu mengiringi Operet Keroncong “Tembang Kricak”.
Operet
Keroncong ini akan terus dibudidayakan di Kricak, dan rencananya
nanti akan ditampilkan lagi
pada pentas-pentas kampung berikut dengan
perkembangan-perkembangannya. Melalui Babad Kampung ini, Kricak
menjadi pelopor lahirnya sebuah operet keroncong yang mungkin belum
pernah ditemukan di Yogyakarta ini. Operet keroncong ini dirasa
memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri. Dialog lebih bisa
di-improve
dan lebih menarik dirasakan mereka karena sebelumnya setiap mereka
melakukan pertunjukan operet selalu harus di-dubbing
terlebih dahulu.
Namun
demikian Operet Keroncong Kricak ini hanyalah salah satu dari
rangkaian perhelatan Babad Kampung yang akan digelar selama 2 hari
penuh (Sabtu, 26 Juli – Minggu, 27 Juli 2008). Berikut ini acara
selengkapnya:
Tema Kampung Kricak
Hari/tanggal
Waktu/Jam
Acara
Tempat
KRICAK
LOR NEGARA
Sabtu,
26 juli 2008
15.30
- 23.00
-
Tok-tok Galeri
-
Basar kampung, menu: makanan
tradisional
Lapangan
Olah Raga RT 37 Kampung Kricak Kidul
15.30
- 17.30
-
Tari
Anak
19.00
- 23.00
-
Jathilan
Anak
-
Pentas Teater Kampung
Sidomulyo: “Keringet
Pinggir
Kali”
Minggu,
27 juli 2008
10.00
- 23.00
-
Tok-tok Galeri
-
Basar kampung, menu: makanan
tradisional
15.30
- 19.00
-
Konser Band syair-syair Kricak
19.00
- 23.00
-
PENTAS
UTAMA
Pentas Operet Keroncong: “Tembang Kricak”
Sinopsis
Teater Kampung
Sidomulyo: “Kringet
Pinggir Kali”
Perempuan
itu namanya Aisyah, gadis remaja kelas satu es em a; rambutnya selalu
di kepang dua ekor kuda. Ia dilahirkan di perkampungan di bantaran
sungai pinggiran kota. Di sekolah dan di kampungnya, ia dikenal
sebagai anak yang rajin, cerdas, sekaligus bengal. Aisyah
memang bukan tipe
anak yang penurut pada orang tuanya. Meski perempuan ia suka keluar
malam, bahkan sering ribut dengan anak lelaki sebayanya. Ia keluar
malam karena selalu ingin mendengar dongengan dari Bu Siti, Pak
Karman, Mas Wawan dan tetangga yang lainnya, yang sempat ia temani
duduk-duduk sambil melihat bintang gemintang. Dongeng yang melepas
lelahnya setelah belajar, dongeng yang membuatnya selalu ingin tahu
tentang tingkah tokoh-tokohnya.
Dari
tetangganya itulah ia mendapat banyak peristiwa yang tak sempat
terlihat jelas atau hanya dilewatkan begitu saja.
Aisyah
bercerita tentang peristiwa sehari-hari yang ia lihat dan dialaminya
di kampungnya. Ia menceritakan permainan masa kecilnya, suasana pagi,
siang, sore, dan malam di kampungnya. Tak ketinggalan juga pengalaman
hidup tetangganya yang plural,
cinta pertamanya, aktifitas di jalanan, percakapan di kamar mandi
umum, dan hantu-hantu di kampung.
Kemudian
Fragmen-fragmen peristiwa itu menjadi alur adegan yang menggambarkan
geliat orang-orang kampung (para tetangganya) dalam bertahan hidup.
Gambaran lika-liku perjalanan tokoh-tokoh yang tak dikenal. Dan
sepotong sejarah datangnya Waria di kampungnya, yang mebuatnya
bertanya-tanya. Juga
permasalahan (sepele) orang-orang kampung, yang kadang layak untuk
direnungkan. Seperti pertengkaan antar tetangga, datangnya penagih
hutang, adanya jam malam, dan gaya hidup generasi muda di kampung.
Sebuah cerita yang
lugu dari seorang remaja kampung, dalam melihat situasi yang sedang
berlangsung, yang sebenarnya berkaitan erat dengan dirinya sendiri.
Sangat mempengaruhi cara menghadapi dan menjawab permasalahan
hidupnya kelak kemudian hari. ***