Bung Djarot, Bung Hadi dan rekan lain ysh,

Terima kasih Bung Djarot. Membaca uraian Bung Hadi,  petanyaan saya
terjawab.  Saya jadi teringat suatu saat pernah minta bantuan teman
untuk menulis "kasus" untuk pelatihan yang saya tangani.

Si teman menulis tentang kasus pembangunan kawasan Bintaro tempat dia
tinggal. Dia menulis kasus tersebut dari pengalamannya sendiri sebagai
penghuni kawasan perumahan itu. Dikisahkannya bagaimana setelah tinggal
lebih dari sepuluh tahun (dia termasuk penghuni pertama) tidak ada
sekolah yang "layak dan terjangkau" untuk anaknya dan anak tetangganya
(tentu). Tak ada sarana kesehatan dan lainnya.
Sedangkan jalan lingkungan tiba-tiba menjadi jalan utama antar bagian
kota dengan angkutan kota ukuran besar. Sementara itu sang developer
alih-alih membangun sekolah untuk warganya justru membangun sekolah
mewah skala global. Alih-alih membangun fasilitas sosial kebtuhan
warganya, justru membangun mal skala metropolitan, dst.

Intinya, si kawan tersebut mengupas kasus itu bukan dari standar
perencanaan dan penyimpangannya. Tetapi dari pengalaman langsung yang
dialami oleh warga, yang juga konsumen pembeli rumah. Secara implisit
bermaksud mengungkapkan bahwa "membangun kota" tidak sama dengan
"membangun perumahan (real-estate) berskala kota". Ada hak-hak publik
/lingkungan yang harus dipenuhi, bukan sekedar transaksi rumah satu per
satu. Merencana kota juga bukan sekedar menerapkan standar perencanaan,
tetapi perlu membayangkan apa yang akan terjadi, dialami oleh penghuni
dan lingkungannya setelah berkembang.

Penggunaan studi kasus tersebut sangat menarik bagi peserta pelatihan,
karena mudah dibawa ke suasana yang partisipatif. Tidak kaku prosedural
dan membahas standar dan penyimpangannya. Apalagi karena dalam
penyajiannya juga dibuat 'role play', dimana peserta dikelompokkan dalam
peran sebagai warga, developer, pemda, planner, dst.

Saya tidak tahu apakah yang seperti itu termasuk CSR, setidaknya serupa
lah. Seperti kata Bung Hadi, pendekatan tsb bermanfaat untuk evaluasi,
mengambil hikmah, dan sebagai proses pembelajaran (planner dan publik).
Saya kira pendekatan kualitatif seperti CSR, etnografi, grounded theory,
phenomenology dan lainnya bermanfaat terutama untuk mengimbangi pola
berfikir planolog yang terbiasa kuantitatif dan normatif  (mengandalkan
standar, asumsi dan idealisasi).

Dengan kombinasi paradigma kuantitaif & kualitatif (Gogolin & Swartz,
1992) , diharapkan bisa lebih realistis dalam memahami permasalahan dan
mencari solusi atas berbagai permasalahan perkotaan/wilayah yang tidak
selalu terstruktur dan kuantitatif.  Ada soal-soal yang berkaitan dengan
kultur atau kelembagaan-kelembagaan yang terjadi dalam proses urbanisasi
yang katakanlah "kontemporer" itu.

Salam,
Risfan Munir



--- In [email protected], Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Eko dan Semua Rekans, karena panjenengan semua memang "diatas
angin" dalam CSR maka saya minta bantuan teman yang sudah mempelajarinya
relatif agak mendalam...beliau ini yang suatu hari nanti akan tampil
dalam diskusi CSR tsb....semoga dapat menambah jelas....jika belum jelas
ya menarik untuk disambung diskusinya....berikut ini saya kutipkan
langsung penjelasan Mas HW:
>
> Salam pak Djarot.
>
> Hehehe… ternyata diskusi kita tentang keinginan untuk
mengembangkan CSR di arsitektus dan perencanaan UGM dibawa ke luar
arena, sehingga mendapatkan tanggapan yang ramai ya pak…
>
>

Kirim email ke