Pak Risfano dan semua sahabatas, memang salah satu implementasi CSR adalah bisa 
digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena, khususnya untuk memahami fenomena 
dan hal-hal di baliknya dalam proses belajar-mengajar. Bahkan, teman saya dari 
FE-UAJY yang getol sekali mengajar dengan kasus-kasus mengatakan, menulis kasus 
untuk mengajar memang sangat sulit, misalnya kasus tertentu di sebuah 
perusahaan multi nasional yang harus dikupas bersama di dalam kelas. Dia juga 
mengatakan, di luar negeri kasus-kasus untuk mengajar dengan data otentik sudah 
menjadi "barang dagangan" yang lumrah, dan ketika dia mengajak teman-teman 
untuk menulis kasus-kasus perusahaan lokal dengan data akurat (bukan 
fiktif)....sampai sekarang nggak pernah ada sambutan ! Kasus untuk mengajar 
banyak di temukan di literatur fakultas ekonomi, misalnya kasus-kasus yang 
bermuara untuk menjelaskan tema rencana stratejik...tetapi kebanyakan kasusnya 
dari luar negeri...jadi teorinya ya bounded
 dengan situasi - kondisi luar negeri itu !
 
Nah CSR yang akan didiskusikan di Arsiugm memang akan didorong ke arah menjadi 
metode penelitian yang sangat serius seperti yang lain....dari uraian Pak Hadi 
saya menyimpulkan bahwa salah satu kata-kata dahsyatnya adalah BOUNDED SYSTEM 
yang melekat pada kasus tersebut. Barangkali dalam istilah sederhananya, orang 
harus menggali data pada lokus kasusnya (misal Indosat) dengan bekal fokus 
tertentu yang akan dikaji (misal system ICT) sampai ke akar-akarnya sampai 
keseluruh unsur - sistem yang terkait dengan fokus tersebut, tanpa dibatasi 
oleh frame berpikir tertentu...dalam istilah kami CSR adalah strategi 
penelitian yang ini bisa itu bisa....maksudnya mengambil unsur-unsur dari 
paradigma positivisme - rasionalisme - fenomenologi.....yang penting kasusnya 
tertangkap dengan utuh lengkarp dengan konteks sistemiknya.....katanya Pak 
Hadi: CSR adalah multi-paradigmatik !
 
Salam,
Djarot

--- On Sun, 8/17/08, risfano <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: risfano <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: CASE STUDY RESEARCH
To: [email protected]
Date: Sunday, August 17, 2008, 2:49 PM







Bung Djarot, Bung Hadi dan rekan lain ysh,
Terima kasih Bung Djarot. Membaca uraian Bung Hadi,  petanyaan saya terjawab.  
Saya jadi teringat suatu saat pernah minta bantuan teman untuk menulis "kasus" 
untuk pelatihan yang saya tangani.
Si teman menulis tentang kasus pembangunan kawasan Bintaro tempat dia tinggal. 
Dia menulis kasus tersebut dari pengalamannya sendiri sebagai penghuni kawasan 
perumahan itu. Dikisahkannya bagaimana setelah tinggal lebih dari sepuluh tahun 
(dia termasuk penghuni pertama) tidak ada sekolah yang "layak dan terjangkau" 
untuk anaknya dan anak tetangganya (tentu). Tak ada sarana kesehatan dan 
lainnya.  
Sedangkan jalan lingkungan tiba-tiba menjadi jalan utama antar bagian kota 
dengan angkutan kota ukuran besar. Sementara itu sang developer alih-alih 
membangun sekolah untuk warganya justru membangun sekolah mewah skala global. 
Alih-alih membangun fasilitas sosial kebtuhan warganya, justru membangun mal 
skala metropolitan, dst.
Intinya, si kawan tersebut mengupas kasus itu bukan dari standar perencanaan 
dan penyimpangannya. Tetapi dari pengalaman langsung yang dialami oleh warga, 
yang juga konsumen pembeli rumah. Secara implisit bermaksud mengungkapkan bahwa 
"membangun kota" tidak sama dengan "membangun perumahan (real-estate) berskala 
kota". Ada hak-hak publik /lingkungan yang harus dipenuhi, bukan sekedar 
transaksi rumah satu per satu. Merencana kota juga bukan sekedar menerapkan 
standar perencanaan, tetapi perlu membayangkan apa yang akan terjadi, dialami 
oleh penghuni dan lingkungannya setelah berkembang.
Penggunaan studi kasus tersebut sangat menarik bagi peserta pelatihan, karena 
mudah dibawa ke suasana yang partisipatif. Tidak kaku prosedural dan membahas 
standar dan penyimpangannya. Apalagi karena dalam penyajiannya juga dibuat 
'role play', dimana peserta dikelompokkan dalam peran sebagai warga, developer, 
pemda, planner, dst.
Saya tidak tahu apakah yang seperti itu termasuk CSR, setidaknya serupa lah. 
Seperti kata Bung Hadi, pendekatan tsb bermanfaat untuk evaluasi, mengambil 
hikmah, dan sebagai proses pembelajaran (planner dan publik). Saya kira 
pendekatan kualitatif seperti CSR, etnografi, grounded theory, 
phenomenology dan lainnya bermanfaat terutama untuk mengimbangi pola berfikir 
planolog yang terbiasa kuantitatif dan normatif  (mengandalkan standar, asumsi 
dan idealisasi). 
Dengan kombinasi paradigma kuantitaif & kualitatif (Gogolin & Swartz, 1992) , 
diharapkan bisa lebih realistis dalam memahami permasalahan dan mencari solusi 
atas berbagai permasalahan perkotaan/wilayah yang tidak selalu terstruktur dan 
kuantitatif.  Ada soal-soal yang berkaitan dengan kultur atau kelembagaan- 
kelembagaan yang terjadi dalam proses urbanisasi yang katakanlah "kontemporer" 
itu.
Salam,
Risfan Munir
 
--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Eko dan Semua Rekans, karena panjenengan semua memang "diatas angin" 
> dalam CSR maka saya minta bantuan teman yang sudah mempelajarinya relatif 
> agak mendalam...beliau ini yang suatu hari nanti akan tampil dalam diskusi 
> CSR tsb....semoga dapat menambah jelas....jika belum jelas ya menarik untuk 
> disambung diskusinya.. ..berikut ini saya kutipkan langsung penjelasan Mas HW:
>  
> Salam pak Djarot. 
>   
> Hehehe… ternyata diskusi kita tentang keinginan untuk mengembangkan CSR di 
> arsitektus dan perencanaan UGM dibawa ke luar arena, sehingga mendapatkan 
> tanggapan yang ramai ya pak… 
>   
>  














      

Kirim email ke