permisi, ikut sedikit....
please jangan salahkan jurnalis. bukan sekadar krn saya jurnalis, jadi mau 
membela diri. 
jurnalis juga bisa salah krn tidak tahu. nah, supaya si jurnalis juga tahu, yg 
merasa lebih tahu harus memberi tahu. 

saya kalau tidak belajar di planologi dulu juga tidak mengerti apa itu kota 
penyangga. tapi, sekarang saya merasa, pemahaman yg dulu mungkin sudah tidak 
betul atau berubah. so, ada yg mau kasih tahu pengertian paling mukhtahir apa 
itu kota penyangga? 

salam,

nita






----- Original Message ----
From: Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; forum-pembaca-kompas <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, August 21, 2008 12:47:42
Subject: [referensi] Re: [kebudayaan] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1)



Sorry cross posting.

It's a good debate nonetheless.

Planning pun suatu yg dinamis, jadi wacana-2 semacam ini sih sehat-2 saja, dan 
tidak perlu paranoid terhadap kebebasan jurnalisme.
Juga kita tidak perlu merasa lebih pintar dari masyarakat, dan meragukan bahwa 
lemparan wacana akan mencerdaskan masyarakat.

Sy sih setuju dengan pendapat yg dikutip dalam artikel tsb, bukan artinya 
pendapat lain pasti salah lo ya...
Btw, Kompas memang sedang mengupas soal Jalan Pantura (Anyer-Panarukan) ... 
makanya tulisannya fokus ke Jawa.
Proyek liputan khusus yg sama juga pernah dilakukan Kompas utk Pulau-2 lain dan 
topik-2 lain juga.

kembali ke substansi artikel; memang rel adalah infrastruktur regional yg lebih 
'efisien' dibanding jalan raya.
kalau diukur dari penumpang-km atau Kg barang-km per satuan biaya atau energi 
(termasuk carbon footprint).

Memang jawa sentrisme selama ini menyebabkan Jawa jadi overloaded.. . 
meaning, kondisi ekologi jawa saat ini akan sangat berbeda apabila kebijakan 
pembangunan dari dulu berbeda.


salam hangat,
-K-




2008/8/20 hengky abiyoso <>

 
  
Ada yang ingin wacana planologi / perencanaan kota masuk dimedia…… 
Tapi apa jadinya kalau media memilih menulis  sendiri dengan selera sendiri dan 
seperti assaal?..... ... 
Sepotong-sepotong dan serba tak jelas konteksnya…. 
Mencerdaskan masyarakat?. ...Atau bukankah malah membingungkan masyarakat?. 
.......Atau jangan2 Kompas malah seperti mengobok2 planologi?.. ...... 
  
Pada dasarnya 'kota penyangga' bukanlah  konsep ruang  yang  "akan selalu pasti 
 salah"….. 
Ketika pertamakali Indonesia menggeliat dari 'negara agraris' ingin menjadi 
'negara industri'….. atau itu artinya dari mayoritas masyarakat agraris  
sebagian dari masyarakat Indonesia ingin bergeser menjadi 'masyarakat 
industri'……  
Jelas bahwa untuk itu  sebagai "langkah  awal" diperlukan "kebutuhan ruang" 
berupa "konsentrasi  perkotaan" (untuk  langkah awal strategi pengembangan 
potensi pasar serta efisiensi industri) … dimana untuk itu diperlukan city size 
tak hanya 'metropolitan' namun juga  nyatanya bahkan juga 'megapolitan' ..……..  
 
Benar bahwa ketika (megapolitan)  Jakarta  telah berkembang pesat namun tak  
kunjung dikembangkan pusat pertumbuhan baru lain "yang setara"…… utamanya 
diluar Jawa….. maka sejak itu "sistem kota kita secara nasional" menjadi tidak 
sehat… dan saya sepakat kalau Kompas mengatakan itu sebagai "ketidakmampuan 
pengambil kebijakan mendistribusikan pusat pertumbuhan"……. 
Tetapi selanjutnya ketika "para pendapat" mulai  dan  masih tetap  saja  bicara 
"jawa sentrisme" terus….. maka itu menjadi tak tepat lagi kalau dikaitkan 
dengan "sistem kota secara nasional"….. karena Jawa hanya 6.7% saja luas 
wilayah nasional kita…… 
Bicara "sistem kota secara nasional"  logikanya harus lebih  bicara tentang 
ruang nasional yang  93.3% itu........ Kalau tidak ini juga lalu seperti tak 
bedanya pola pikir jawasentrisme "mengobok2 sistem kota secara 
nasional".........  
Berikut  dibawah adalah satu kutipannya dari Kompas……. 
  
aby 
  
.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  . 
  
PEMBANGUNAN 
Kota Penyangga Kekeliruan Berkota 
Rabu, 20 Agustus 2008 | 03:00 WIB  
  
Bogor, Kompas - Perpindahan penduduk dari desa ke kota, khususnya ke ibu kota 
Jakarta, yang terus-menerus menunjukkan ketidakmampuan pengambil kebijakan 
mendistribusikan pusat pertumbuhan. 
Penciptaan kota-kota penyanggaseperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang untuk 
metropolitan Jakarta juga menunjukkan kekeliruan cara berkota. Demikian 
dikemukakan pengamat masalah ekologi Emil Salim yang juga mantan Menteri Negara 
Kependudukan danLingkungan Hidup di Jakarta saat dihubungi Kompas, Senin 
(18/8). 
"Urbanisasi tidak terbendung mengakibatkan daya dukung ekologi kota penyangga 
juga makin terbatas. Kalau pengembangan kota seperti itu diteruskan, akhirnya 
nanti kota-kota penyangga itu juga membutuhkan kota penyangga lainnya," kata 
Emil. 
Emil mencontohkan, ketika daya dukung ekologinya melemah, Bekasi akan butuh 
Cirebon sebagai kota penyangga. Demikian halnya, Bogor juga butuh kota 
penyangga Sukabumi dan Tangerang membutuhkan kota penyangga Rangkasbitung. 
"Apakah akan seperti itu?" kata Emil. 
  
Planolog perkotaan Budhy Tjahjati S Soegijoko dari Institut Teknologi Bandung 
(ITB) secara terpisah mengungkapkan kekeliruan para pengambil kebijakan masalah 
pertumbuhan perkotaan, khususnya di Pulau Jawa. 
Rencana pengembangan jalan tol trans-Jawa dari Merak hingga Banyuwangi memicu 
pertumbuhan sejumlah wilayah yang dilaluinya menjadi daerah permukiman dan 
industri baru. 
"Pada akhirnya terbentuk island city atau kota-pulau Jawa dengan lahan 
produktif pertanian di Jawa menyempit. Dari keinginan untuk meningkatkan 
produktivitas sejumlah daerah melalui rencana tol trans-Jawa, yang terjadi 
kondisinya bisa berbalik. Berbagai krisis masyarakat akan terjadi," kata Budhy 
Tjahjati. 
  
Kesuburan tanah 
Emil Salim mengungkapkan hal senada. Tingkat kesuburan tanah di Jawa sangat 
tinggi. Kesuburan tanah di Jawa delapan kali lipat tanah di Kalimantan dan enam 
kali lipat jika dibandingkan dengan kesuburan tanah di Sumatera. 
"Kalau lahan pertanian di Jawa hilang 1.000 hektar untuk konstruksi jalan tol 
trans-Jawa, dibutuhkan pengganti 8.000 hektar di Kalimantan atau 6.000 hektar 
di Sumatera," kata Emil. 
Emil mengatakan, jangan meniru proyek Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman 
Willem Daendels (1762-1818) yang pernah membuat Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. 
Jalan raya itu dibuat sebelum kereta api ada. 
"Setelah pembuatan Jalan Raya Pos itu, pertumbuhan kota di Jawa diarahkan 
Hindia Belanda dengan kereta api," katanya. 
Pengembangan, kata Emil, sudah benar. "Semestinya sekarang yang dilakukan itu 
meningkatkan fungsi kereta api yang lebih hemat tanah," kata Emil. 
Menurut Emil, kita hanya perlu meneruskan atau menambah intensitas jalur-jalur 
yang pernah ada jika mau mengembangkan perkeretaapian di Jawa. 
Pilihan pengembangan jalan tol hanya akan memakan tanah dan menyiapkan 
masyarakat di Jawa menghadapi krisis pangan, air bersih, dan krisis energi 
listrik maupun bahan bakar minyak. 
Budhy Tjahjati menambahkan, wujud sistem kota harus menunjukkan keterkaitan 
yang bermanfaat bagi semua pihak. Berbeda dengan pengembangan kota penyangga, 
pengembangan kota semestinya menjalin keterikatan dengan pedesaan untuk 
mendukung kota. (naw) 
.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  . .  .  .  .  .  .  . 
  
  
  
  
  




  
 
Messages in this topic  (1)  Reply  (via web post)  | Start a new topic  
Messages | Database | Calendar 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group  | Yahoo! Groups Terms of Use  | Unsubscribe  
V
    

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke