Eyaaang Aby jangan sewotlah....wong nyatanya aku tahu ada dua wartawan yang 
jebolan planologi (satu yang barusan nulis dan satunya hebat tapi sudah 
meninggal dunia)....malah mungkin baik jika para wartawan(ti) yang jebolan 
planologi pada rame-rame berwacana....biar heboh dan tahu (ngakunya) bahwa 
pengetahuan dirinya tentang kota penyangga sudah kuno....ya sabaaar Yang, 
dikasih tau jangan malah dilirik sebelah mata....wah wah wah ada fenomena bagus 
nih...lulusan planologi bergabung menjadi jurnalis....pantes soal planologi 
diangkat....nggak diobok-obok lho Yang !
 
Begini nih Yan, menurut catatanku dibawah ini kok cukup jelas apa yang ditulis 
jurnalis kompas, bagi aku yang awam planning kok nggak banyak salahnya...meski 
mungkin ada jika yang melihat para Begawan seperti Eyang Aby dan lainnya....nih 
Yang catatanku...mohon dipriksani ya...
 
Catatanku: 
 
Emil dan Budhy sedang ber-reaksi terhadap fenomena urbanisasi kota-kota di Jawa 
(khususnya Jakarta) yang konon dianggap merupakan hasil kebijakan yang keliru 
tentang pembangunan perkotaan di Jawa. Keduanya menanggapi kebijakan 
pembangunan kota yang menggunakan konsep kota penyangga dan konsep tol trans 
Jawa.
Emil dan Budhy sama-sama berpendapat bahwa pengembangan perkotaan di Jawa 
dengan “konsep kota penyangga” mengandung kekeliruan, namun dengan argumentasi 
berbeda: 
(1)   Emil: konsep kota penyangga bak lingkaran setan, kota yang lebih besar 
akan menghisap kota yang lebih kecil, maka semestinya pembangunan perkotaan 
hendaknya hemat tanah dan intensifkan sarana transportasi (kereta api) yang 
sudah ada.
(2)   Budhy: konsep kota penyangga dianggapnya tidak terkait dengan 
pengembangan pedesaan; kota-kota semestinya terikat dalam relasi saling 
mendukung dengan desa.
Emil dan Budhy sama-sama melihat konsep pertumbuhan perkotaan di Jawa dengan 
basis Jalan Tol Trans Jawa mengandung banyak kekeliruan dan masalah, namun 
dengan argumentasi berbeda:
 
(1)   Emil: pembangunan Tol Trans Jawa rakus tanah dan mendorong munculnya 
krisis pangan, enerji listrik, bbm, air bersih, sebaiknya dilakukan 
intensifikasi Jalur Kereta Api yang sudah ada.
(2)   Budhy: pembangunan Tol Trans Jawa memicu pertumbuhan kota-kota menjadi 
permukiman dan industri baru yang akan mendorong krisis kehidupan masyarakat, 
sebaiknya kota ber-relasi erat dengan desa sekitarnya.
 
Emil dan Budhy sama-sama tidak bereaksi langsung terhadap fenomena urbanisasi 
di kota-kota di Jawa melainkan melihatnya dari aspek pertumbuhan perkotaan, 
khususnya pada kebijakan pertumbuhan kota-kota di Jawa. 
 
Tesisnya, urbanisasi dapat diatasi dengan kebijakan pembangunan perkotaan yang 
benar atau urbanisasi akan terus terjadi karena kebijakan pembangunan perkotaan 
selama ini keliru dan kekeliruan tersebut terus terjadi.
 
Keduanya mengusulkan konsep pembangunan perkotaan yang berbeda. Emil dengan 
konsep hemat tanah dan intensifikasi hal-hal yang sudah ada, sedangkan Budhy 
dengan konsep mendorong relasi yang saling mendukung antara kota dengan desa 
sekitarnya. 
 
Dari paparan argumentasinya, Emil dan Budhy menolak pembangunan perkotaan di 
Jawa menggunakan konsep Tol Trans Jawa dengan argumentasi yang berbeda: (1) 
Emil: pembangunan tol trans-Jawa rakus tanah dan mendorong munculnya berbagai 
krisis, (2) Budhy: pembangunan tol trans-Jawa membelokkan / membalikkan arah 
pembangunan dan menimbulkan krisis kehidupan masyarakat dalam bentuk yang lain 
(tidak dijelaskan detilnya).

Gimana Eyang....apakah nilaiku bagus ?
 
Salam,
Cucunda Djarot
 

--- On Thu, 8/21/08, arinynta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: arinynta <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: [kebudayaan] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1)
To: [email protected]
Date: Thursday, August 21, 2008, 2:47 PM








permisi, ikut sedikit....
please jangan salahkan jurnalis. bukan sekadar krn saya jurnalis, jadi mau 
membela diri. 
jurnalis juga bisa salah krn tidak tahu. nah, supaya si jurnalis juga tahu, yg 
merasa lebih tahu harus memberi tahu. 

saya kalau tidak belajar di planologi dulu juga tidak mengerti apa itu kota 
penyangga. tapi, sekarang saya merasa, pemahaman yg dulu mungkin sudah tidak 
betul atau berubah. so, ada yg mau kasih tahu pengertian paling mukhtahir apa 
itu kota penyangga? 

salam,

nita






----- Original Message ----
From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com; forum-pembaca- kompas <Forum-Pembaca- [EMAIL 
PROTECTED] ps.com>
Cc: [EMAIL PROTECTED] ups.com; [EMAIL PROTECTED] ps.com; [EMAIL PROTECTED] 
ups.com; laut-dan-pesisir@ yahoogroups. com
Sent: Thursday, August 21, 2008 12:47:42
Subject: [referensi] Re: [kebudayaan] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1)





Sorry cross posting.

It's a good debate nonetheless.

Planning pun suatu yg dinamis, jadi wacana-2 semacam ini sih sehat-2 saja, dan 
tidak perlu paranoid terhadap kebebasan jurnalisme.
Juga kita tidak perlu merasa lebih pintar dari masyarakat, dan meragukan bahwa 
lemparan wacana akan mencerdaskan masyarakat.

Sy sih setuju dengan pendapat yg dikutip dalam artikel tsb, bukan artinya 
pendapat lain pasti salah lo ya...
Btw, Kompas memang sedang mengupas soal Jalan Pantura (Anyer-Panarukan) ... 
makanya tulisannya fokus ke Jawa.
Proyek liputan khusus yg sama juga pernah dilakukan Kompas utk Pulau-2 lain dan 
topik-2 lain juga.

kembali ke substansi artikel; memang rel adalah infrastruktur regional yg lebih 
'efisien' dibanding jalan raya.
kalau diukur dari penumpang-km atau Kg barang-km per satuan biaya atau energi 
(termasuk carbon footprint).

Memang jawa sentrisme selama ini menyebabkan Jawa jadi overloaded.. . 
meaning, kondisi ekologi jawa saat ini akan sangat berbeda apabila kebijakan 
pembangunan dari dulu berbeda.


salam hangat,
-K-




2008/8/20 hengky abiyoso <>











 
  
Ada yang ingin wacana planologi / perencanaan kota masuk dimedia…… 
Tapi apa jadinya kalau media memilih menulis  sendiri dengan selera sendiri dan 
seperti assaal?..... ... 
Sepotong-sepotong dan serba tak jelas konteksnya…. 
Mencerdaskan masyarakat?. ...Atau bukankah malah membingungkan masyarakat?. 
.......Atau jangan2 Kompas malah seperti mengobok2 planologi?.. ...... 
  
Pada dasarnya 'kota penyangga' bukanlah  konsep ruang  yang  "akan selalu 
pasti  salah"….. 
Ketika pertamakali Indonesia menggeliat dari 'negara agraris' ingin menjadi 
'negara industri'….. atau itu artinya dari mayoritas masyarakat agraris  
sebagian dari masyarakat Indonesia ingin bergeser menjadi 'masyarakat 
industri'…… 
Jelas bahwa untuk itu  sebagai "langkah  awal" diperlukan "kebutuhan ruang" 
berupa "konsentrasi  perkotaan" (untuk  langkah awal strategi pengembangan 
potensi pasar serta efisiensi industri) … dimana untuk itu diperlukan city size 
tak hanya 'metropolitan' namun juga  nyatanya bahkan juga 'megapolitan' ..……..  
Benar bahwa ketika (megapolitan)  Jakarta  telah berkembang pesat namun tak  
kunjung dikembangkan pusat pertumbuhan baru lain "yang setara"…… utamanya 
diluar Jawa….. maka sejak itu "sistem kota kita secara nasional" menjadi tidak 
sehat… dan saya sepakat kalau Kompas mengatakan itu sebagai "ketidakmampuan 
pengambil kebijakan mendistribusikan pusat pertumbuhan"……. 
Tetapi selanjutnya ketika "para pendapat" mulai  dan  masih tetap  saja  bicara 
"jawa sentrisme" terus….. maka itu menjadi tak tepat lagi kalau dikaitkan 
dengan "sistem kota secara nasional"….. karena Jawa hanya 6.7% saja luas 
wilayah nasional kita…… 
Bicara "sistem kota secara nasional"  logikanya harus lebih  bicara tentang 
ruang nasional yang  93.3% itu........ Kalau tidak ini juga lalu seperti tak 
bedanya pola pikir jawasentrisme "mengobok2 sistem kota secara nasional"... 
......  
Berikut  dibawah adalah satu kutipannya dari Kompas……. 
  
aby 
  
.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  . 
  
PEMBANGUNAN 
Kota Penyangga Kekeliruan Berkota 
Rabu, 20 Agustus 2008 | 03:00 WIB 
  
Bogor, Kompas - Perpindahan penduduk dari desa ke kota, khususnya ke ibu kota 
Jakarta, yang terus-menerus menunjukkan ketidakmampuan pengambil kebijakan 
mendistribusikan pusat pertumbuhan. 
Penciptaan kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang 
untuk metropolitan Jakarta juga menunjukkan kekeliruan cara berkota. Demikian 
dikemukakan pengamat masalah ekologi Emil Salim yang juga mantan Menteri Negara 
Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Jakarta saat dihubungi Kompas, Senin 
(18/8). 
"Urbanisasi tidak terbendung mengakibatkan daya dukung ekologi kota penyangga 
juga makin terbatas. Kalau pengembangan kota seperti itu diteruskan, akhirnya 
nanti kota-kota penyangga itu juga membutuhkan kota penyangga lainnya," kata 
Emil. 
Emil mencontohkan, ketika daya dukung ekologinya melemah, Bekasi akan butuh 
Cirebon sebagai kota penyangga. Demikian halnya, Bogor juga butuh kota 
penyangga Sukabumi dan Tangerang membutuhkan kota penyangga Rangkasbitung. 
"Apakah akan seperti itu?" kata Emil. 
  
Planolog perkotaan Budhy Tjahjati S Soegijoko dari Institut Teknologi Bandung 
(ITB) secara terpisah mengungkapkan kekeliruan para pengambil kebijakan masalah 
pertumbuhan perkotaan, khususnya di Pulau Jawa. 
Rencana pengembangan jalan tol trans-Jawa dari Merak hingga Banyuwangi memicu 
pertumbuhan sejumlah wilayah yang dilaluinya menjadi daerah permukiman dan 
industri baru. 
"Pada akhirnya terbentuk island city atau kota-pulau Jawa dengan lahan 
produktif pertanian di Jawa menyempit. Dari keinginan untuk meningkatkan 
produktivitas sejumlah daerah melalui rencana tol trans-Jawa, yang terjadi 
kondisinya bisa berbalik. Berbagai krisis masyarakat akan terjadi," kata Budhy 
Tjahjati. 
  
Kesuburan tanah 
Emil Salim mengungkapkan hal senada. Tingkat kesuburan tanah di Jawa sangat 
tinggi. Kesuburan tanah di Jawa delapan kali lipat tanah di Kalimantan dan enam 
kali lipat jika dibandingkan dengan kesuburan tanah di Sumatera. 
"Kalau lahan pertanian di Jawa hilang 1.000 hektar untuk konstruksi jalan tol 
trans-Jawa, dibutuhkan pengganti 8.000 hektar di Kalimantan atau 6.000 hektar 
di Sumatera," kata Emil. 
Emil mengatakan, jangan meniru proyek Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman 
Willem Daendels (1762-1818) yang pernah membuat Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. 
Jalan raya itu dibuat sebelum kereta api ada. 
"Setelah pembuatan Jalan Raya Pos itu, pertumbuhan kota di Jawa diarahkan 
Hindia Belanda dengan kereta api," katanya. 
Pengembangan, kata Emil, sudah benar. "Semestinya sekarang yang dilakukan itu 
meningkatkan fungsi kereta api yang lebih hemat tanah," kata Emil. 
Menurut Emil, kita hanya perlu meneruskan atau menambah intensitas jalur-jalur 
yang pernah ada jika mau mengembangkan perkeretaapian di Jawa. 
Pilihan pengembangan jalan tol hanya akan memakan tanah dan menyiapkan 
masyarakat di Jawa menghadapi krisis pangan, air bersih, dan krisis energi 
listrik maupun bahan bakar minyak. 
Budhy Tjahjati menambahkan, wujud sistem kota harus menunjukkan keterkaitan 
yang bermanfaat bagi semua pihak. Berbeda dengan pengembangan kota penyangga, 
pengembangan kota semestinya menjalin keterikatan dengan pedesaan untuk 
mendukung kota. (naw) 
.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  . .  .  .  .  .  .  . 
  
  
  
  
  




 

Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Database | Calendar 

 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 


V

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com  














      

Kirim email ke