Dear Bung Wisnu dan milister lainnya. 

Pertumbuhan
penduduk Jakarta itu tak pernah mencapai 4%. Pada periode 1990-2000
pertumbuhannya hanya 0,16% dan sekarang pertumbuhannya sudah negatif,
alias jumlah penduduk Jakarta semakin berkurang kira-kira sekitar 250000
jiwa pertahun meninggalkan Jakarta. Mungkin yang dimaksud dengan
pertumbuhan 4% itu bukan Jakarta, tetapi "The Greater of
Jakarta", yaitu Jakarta plus daerah pinggiran (periphery) yang
notabene masuk wilayah administrasi Tangerang, Bogor, dan Bekasi. 

Kata Pak Danisworo ada 3,5 juta diantisipasi tinggal di kota-kota
Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Jumlah penduduk 3,5 juta itu memang asli
penduduk ketiga kota tersebut dan pertumbuhannya, bukan berasal atau
limpahan atau "spill over" dari Jakarta. Limpahan penduduk
Jakarta itu berada di Kabupaten Tangerang, Bogor, dan Bekasi, ... bukan
kota-kotanya. Berdasarkan gambaran ini, apa relevan membicarakan Kota
penyangga? La wong kota-kota Botabek itu tak pernah berfungsi sebagai Kota
penyangga koq. Sementara kabupaten-kabupaten yang mendapat limpahan
penduduk itu juga bukan penyangga, tapi penampung. Lain lho arti Penyangga
dan Penampung. Kalau Penyangga itu aktif menyangga (countering), sementara
Penampung itu pasif (receiving). Jadi selama ini Blue-print konsep
Jabotabek itu hanya rencana, apakah perkembangan sesuai dengan rencana?
Walahualam.... koq sepertinya yang membangun Jabotabek selama ini bukan
para perencana, tetapi Sudwikatmono dengan Jababeka-nya, Ryadi dengan
LIPPO (Lama-lama Indonesia Pan Punya Oe), ASTRA, dan PMA-PMA itu. 

Dalam perbincangan soal pengembangan tata ruang, khususnya dalam
Regional Planning, sering kita menemukan berbagai permasalahan yang
sebenarnya kita tahu jawabannya. Misalnya yang tidak setuju dengan
pembangunan jalan tol, toh mereka suka juga menggunakan jasa jalan tol,
jadi tahu jawabannya mengapa jalan tol itu dibangun. Yang anti urbanisasi
padahal dirinya salah satu pemigran (bukan penduduk asli) dan penghuni
kota besar. Jadi mereka tahu mengapa urbanisasi itu di kota-kota besar itu
tinggi dan tidak bisa mengarusbalik ke desa-desa atau ke kota-kota kecil.
Yang tidak setuju pengkotaan di Jawa tidak mau pindah ke Luar Jawa dan
maunya berdesak-desakan di Jawa saja. Mereka ini juga tahu jawabannya
bahwa tinggal di kota-kota besar di Jawa sebagai keputusan terbaik. Yang
merekomendasikan pembangunan pedesaan juga nggak mau tinggal di desa karna
hidup di desa itu tidak mudah dan kesepian. Yang menganjurkan angkutan
massal juga belum tentu suka naik bus umum yang pengap ini. Jadi tahu
jawabannya mengapa banyak orang lebih suka naik mobil. 

Thanks.
CU. BTS dari JPL (Jaringan Planner Liberal). 






----- Original Message ----- 
From: Wisnu Wijaya 
To: [email protected] 
Sent: Monday, August 25, 2008 11:44
PM 
Subject: [referensi] Kompas Obok2 Planolog(i) 



Kirim email ke