Mas Andri, Saya kemarin ke Medan, meskipun hanya semalam saya sempatkan untuk ke jalan-jalan ke Sun Plaza dan ke toko-toko yang ada di jalan cirebon, semarang surabaya dll. Kesan sepintas saya, orang-orang Medan mungkin lebih banyak yang kaya daripada orang Surabaya, Jogja maupun Bandung. apa benar ini ? karena saya sedang malas melihat angka-angka BPS, karena kemungkinan tidak mudah mengidentifikasi jumlah orang kaya. Maka perkiraan itu saya peroleh dari pengunjung Mal Sun Plaza yang semewah Senayan City atau Mal Taman Anggrek dan banyak orang membawa belanjaan di banding di Surabaya atau Jogja. Mungkin saya salah tapi saya hanya ingin menggoda bung Andri bahwa selain di Jakarta, seluruh Jawa ternyata tidak banyak orang kaya, tetapi di Banjarmasin, Pekan Baru, Medan, Makasar, Balikpapan jumlahnya cukup banyakSalam Aunur Rofiq
________________________________ From: Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, October 25, 2008 4:51:23 AM Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (Mas Andri) Mas Andri yg juga sangat baik :) hmmm soal data memang sulit, walau saya tidak punya prejudice soal Asal Bapak Senang, mengingat BPS pernah mengkritisi data kemiskinan yg digunakan Bappenas.. Tapi lebih pada "siapa sih yg punya data kemiskinan di Jabodetabek yg cukup akurat?', mengingat sebagian besar masyarakat miskin tersebut tinggal di kws permukiman illegal atau semi illegal, yg tidak terdata secara baik... tapi jelas kasat mata...mungkin mas Andri ingat cerita seorang bapak yg mendorong gerobak berisi mayat anaknya karena tdk bisa mendapatkan tanah pemakaman...setidaknya kalau orang miskin Aceh meninggal masih banyak tanah kosong untuk pemakaman... Saya pernah 3 minggu di Simelue masa sebelum perjanjian damai dengan GAM di tandatangani... kalau ke Banda Aceh masa itu, sopir taxi pun tidak berani mengantarkan ke pinggiran kota....tapi di Simelue aman2 saja...kalau dari pembicaraan saya di kantor Pemda sampai di warung kopi, saya menangkap kesan mereka tidak tertarik dengan GAM... mereka berbeda etnik dengan orang2 GAM, dan kalau dibangun prasarana transportasi mungkin mereka lebih suka dihubungkan dgn Medan daripada dgn Banda Aceh...ini tangkapan saya yg bisa saja subyektif.... Tapi bicara Banda Aceh masa itu juga menarik, saya melihat kesenjangan yg sangat besar di sana... beberapa kelompok masyarakat termasuk pegawai Pemda berseliweran dengan mobil2 mewah yg dimasukan dari Spore melalui Sabang...yg jenis2nya bahkan tidak kita temui di Jakarta... tapi di sisi lain, begitu banyak anak2 yg mengemis... heran juga, sedemikian besar perhatian pusat masa itu (termasuk dana), tapi tampaknya begitu sedikit yg turun ke masyarakat miskin...memang menjadi korban korupsi itu tidak enak...mau jadi korban korupsi Jakarta, ataupun korban korupsi Banda Aceh, Pekan Baru, Bandung, dll sama2 tidak enak.... soal jenis kapitalisme yg kita anut, ya itukan pilihan kita semua, pilihan legislatif dan eksekutif... rasanya UUD 45 kental dgn nuansa sosialisme, UU turunannya jaman dulu seperti UU Agraria juga kental...saya tidak tahu yg sekrg, begitu banyak UU yg saya tidak baca...lagipula bukan berarti salah, saya hanya mengatakan bahwa kesenjangan yg ada memang konsekuensi dari tendensi kapital utk terpolarisasi dan termanifest dalam ruang...itu intepretasi lanjut dari Das Kapital nya Marx, dan saya sependapat... Tapi bukan berarti kalau di negara2 komunis lalu tidak ada kesenjangan wilayah, Moskow jelas berbeda bagai langit dan bumi dengan Siberia... bahkan anggota Politbiro bisa punya villa2 mewah, sementara rakyat pedesaan banyak yg miskin... Kan ada kurva U terbaliknya Williamson yg menjelaskan bahwa negara miskin yg dalam proses pembangunan itu akan mengalami kesenjangan wilayah yg meningkat, lalu menurun searah dengan peningkatan tingkat kesejahteraan.... saya lupa, kalau tidak salah Brian Berry dulu yg sampai mematok ukuran GDP/capita berapa sebuah negara akan mengalami penurunan tingkat kesenjangan (mungkin Pak Nuzul ingat apa betul Berry yg memprediksi sampai ke angka tsb?)... tapi ini juga tidak terbukti selalu benar, contohnya Perancis, walau sudah lama melampaui angka minimum GDP/capita tsb (saya lupa jumlahnya apakah 20.000 USD atau berapa dan malas mencari di internet), tapi tetap saja dominasi Paris begitu besar dibandingkan wilayah lain... Saya juga ragu bahwa ketika kita mencapai tingkat GDP/cap yg cukup makmur lalu kesenjangan akan menurun... Malaysia dgn 12.000 USD/cap saja Kuala Lumpur masih jauh mendominasi, sementara kalau ke Trengganu kelihatan masih miskin, apalagi ke Borneo...Korea dengan Seoul dan Jepang dengan Tokyo pun sama saja... Intinya bagi saya, bukan berarti semua perlu dibangun seperti Jabodetabek, tapi bagaimana pembangunan di beberapa tempat terpilih tsb (dgn alasan efisiensi) hasilnya mampu dinikmati segenap rakyat Indonesia....bagaimana dgn Tokyo yg tetap besar, penduduk Kyushu dan Hokkaido toh bisa juga berlibur ke Bali, Eropa, atau Hawaii... Bagaimana hasil dari pertumbuhan ekonomi Jakarta mampu menjadi sumber pajak pemerintah bagi peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur di Aceh, NTT, Maluku, Minahasa, dll... atau pertumbuhan bisnis di Jakarta memungkinkan perusahaan2nya membuka cabang2 di berbagai daerah lain di Indonesia... itu yg lebih penting... itu saja pendapat saya... salam, Eko. --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MR To: [email protected] Date: Friday, October 24, 2008, 4:08 PM Mas Eko yang baik juga, :-) Jabodetabek *memang* ada di Pulau Jawa -- lha wong dengan "sesama Jawa" sendiri daerah tersebut tidak mau "berbagi kue" mungkin konon lagi dengan Aceh, Maluku, dan Papua. :-) Saya tidak ingin terjebak dengan data [yang banyak di antaranya dikhawatirkan hanya untuk Asal Bapak Senang kepada "yang di atas", seperti data kemiskinan versi Biro Pemaksaan Statistik di Republik BBM]. Namun sebenarnya tidak perlu bersusah-payah untuk membandingkannya bila Mas Eko punya "kilometeran" untuk mengukur ruas jalan tol dalam kota di Jakarta -- dan saya cuma perlu "sentimeteran" untuk mengukur ruas jalan tol dalam kota kumulatif di Pulau Sumatera saja, karena jumlahnya adalah nol sentimeter. ;-) Cerita pribadi. Saya pernah "mendadak pengawal" sewaktu alm. Opa saya jadi dosen terbang mengajar di Unsyiah -- karena saya khawatir beliau "diapa-apakan" since his last name was "...broto" -- a "sound" Javanese name. Ayah saya, ketika berkunjung ke Aceh pernah nyaris kena "sweeping" karena juga bernama belakang "...o" -- untung beliau kenal dengan Kapolda waktu itu. Simply put, orang Jawa di Medan terpaksa jadi korban "regional inequalities" yang seharusnya lebih tepat tertuju kepada Jakarta. ;-) Tanpa mengurangi rasa hormat, saya masih sangat meragukan bahwa orang-orang Simeulue atau Aceh secara keseluruhan don't care terhadap Hasan Tiro atau GAM -- tercermin dengan emosionalnya Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf hampir setiap kali ia menyebut kata "Jakarta" dan "orang Jakarta". Beberapa pegawai saya yang orang Aceh juga bisa Mas Eko interogasi. Kalau ingin pendapat komunitas "Aceh Sepakat" di Medan, juga monggo. :-) Kemudian, mengenai "regional inequalities ini bukankah merupakan produk spasial dari sistem kapitalisme yg kita anut" -- ini kira-kira yang dianut siapa ya, Mas? Keluarga oknum penjabat dan kroninya yang kaya-raya di Jakarta mungkin? :-) Sudahlah, Jakarta *tidak* perlu dibangun lagi. Cukup. Mari kita fokus membangun daerah lain dan jangan biarkan 75% uang nasional tetap berada di Jakarta. Nanti semut-semut akan kembali sendiri ke daerah karena gula sudah ada di sana dan "rumah semut" daerah sudah banyak "kamarnya". Namun kalau tetap mau DJARUM lagi, siapa yang bisa melawan daerah yang penuh dengan orang-orang penting, seleb, dan manusia-manusia spesial lain yang tidak bakal mati-mati itu. ;-) Salam, Andri 2008/10/24 Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com> wah maaf kalau saya salah :) saya hanya melihat sekilas dlm diskusi2 di posting2 sebelumnya (ada di bawah), adanya kalimat2 Jawa centrisme, TransJawa, "menggugat kenapa Jawa lagi", perbandingan dengan Aceh, bukan dengan Sragen, Cepu, etc... dan seingat saya Jabodetabek masih di Pulau Jawa... apa mas Andri punya data berapa kemiskinan di Aceh dan berapa kemiskinan di Jabodetabek? Apakah dengan membesarkan Banda Aceh dengan serta merta Simelue ikut besar/kaya? Orang2 Simelue don't even care with Hassan Tiro...Lalu apakah daerahnya yg penting atau manusianya yg penting? migrasi adalah faktor penting dalam peningkatan kesejahteraan manusia.... apakah membangun Jakarta harus selalu bertentangan dengan membangun daerah lain? trade-off? ya memang ada keterbatasan karenanya perlu prioritas, tapi bisa dilakukan bersama2 kan? Lalu adanya regional inequalities ini bukankah merupakan produk spasial dari sistem kapitalisme yg kita anut? mau dirubah jadi non-kapitalisme? apa pilihan yg baik? komunisme? bahkan komunis China Deng Xiao Ping pun mengatakan: biarkan yg lain kaya lebih dahulu, maksudnya biarkan orang2 China yg dic coastal kaya lebih dahulu, nanti yg lain ikut kaya... dan seperti yg disampaikan pak Aunur, bahkan dengan berkembangnya coastal di China pun daratan mereka masih sulit dibangun even dengan pembangunan infrastruktur dan edukasi... kembali ke Marx, maka itu adalah produk ruang dari kapitalisme. ..memang karakteristiknya begitu, ada polarisasi.. .China secara politik memang komunis tapi secara ekonomi dia kapitalis... lalu menurut mas Andri yg baik yg seperti apa ya? saya kira semua sepakat bahwa kemakmuran manusia Indonesia dimanapun dia berada adalah prioritas utama pembangunan di Indonesia, tapi tidak semua kota/wilayah di Indonesia bisa menjadi seperti Jabodetabek, dan tidak perlu, yg penting terjamin hak2 mereka sebagai warga negara utk mendapatkan penghidupan dan pendidikan yg layak...di semua negara pun begitu, tidak semua kota/wilayah di US bisa jadi NY city...beberapa state terutama di selatan punya banyak wilayah terbelakang. .. salam...:) --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Friday, October 24, 2008, 2:22 PM Sepertinya kita tadi sedang membahas regional inequalities yang masih saja terjadi antara daerah-daerah lain dengan *Jabodetabek* -- *bukan* dengan, ehm Jawa. ;-) Salam, Andri 2008/10/24 Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com> bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA? salam Eko. --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT) To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Friday, October 24, 2008, 12:32 PM Mas Aby dan Milisters ysh., Kalau boleh memilih, mungkin saat ini saya akan condong menjadi liaison officer to GAM meski tidak digaji. :-) Ini saya pilih daripada menjadi Menteri Bangda dengan segala atribut, fasilitas, dan power namun memilih untuk pandir dan manut dengan kepentingan segelintir "masyarakat spesial" yang tamak infrastruktur, dan rakus kesejahteraan di sekitar Monas saja -- tanpa mau melihat "the bigger picture" yang berupa *regional inequalities* . :-) [Btw, emang ada gitu "Menteri Bangda"? Kalau yang bangda (bangga, maksudnya:-) jadi menteri sekalipun wanprestasi mungkin banyak ya.] :- ) Saya sependapat dengan tulisan Mas Aby, terutama dengan yang ini: | Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih | dipakai untuk mengembangkan countermagnet to primate city | the Jabodetabek… demi "azas keadilan keruangan nasional" … | walau itu alokasinya ditimur (Greater Makassar) sekalipun….. Sementara itu dulu, Milisters ysh., dan selamat berakhir pekan, tentunya sambil melupakan semua diskusi ini dan kembali "menghisap" DJARUM (Demi Jabodetabek, Aceh-and-all Rela Untuk Melarat). Salam, Andri --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote: > > > > Selamat pagi milisters ysh, > > Saya setuju advis dari menteri transportasi milis referensi yang muda dan cemerlang mas Koko…. maupun pertimbangan dari menteri urusan Keadilan Pembangunan Daerah merangkap liaison to GAM/ Tiro mas Cak Andri B…… namun juga menghargai pandangan menteri Urusan Peranan Wanita Dalam Planning bu Nita…… maupun semangat ahimsa dari menteri PU milis kita pak Rachmad M……. > > MRT Jkt sementara/ darurat—murah— meriah…. Busway…. jelas belum ideal….. tapi kalau kita lihat New York City Subway (1868 first elevated, 1904 first subway) 368 km (total track length 1355 km).. … atau Tokyo Subway (1927) 328km dengan 13 koridor….. London Underground (1863) 400km 11 koridor… Paris Metro (1900) 214km dengan 16 koridor …… tetap saja yang namanya macet pada peak hours juga masih ada….. walau jelas kalau tanpa MRT bisa dibayangkan bgmn ruwetnya transportasi para kota primat itu…… > > MRT yang kata menteri Koko biaya konstruksi per-KM nya hanya 1/20 dari Metro-underground… ... dan katanya lumayan.. hasil pengiritan duitnya bisa buat bangun sekolah dan puskesman di Aceh... yang dikira itu mungkin maksud dari menteri Cak Andri B menakuti-nakuti kita dan bu Nita……. menghubungkan ambisi Jkt sentrisme dan kumatnya sentimen periphery negligence oleh GAM/ Hasan Tiro ……. tapi saya kira jalan pikiran dari GAM atau liaisonnya Mr. Cak Andri bukannya lalu switch dana Jkt sentrisme harus sebagiannya di cipratkan ke Aceh…. Saya kira sih nggak gitu……. > Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih dipakai untuk mengembangkan countermagnet to primate city the Jabodetabek… demi "azas > keadilan keruangan nasional" ….walau itu alokasinya ditimur (Greater Makassar) sekalipun….. > Karena saya kira GAM …. juga tentu saja menteri Peduli BangDa kita Cak Andri masih cinta NKRI (ingat Seulawah…. Pesawat terbang pertama sumbangan masyarakat Aceh) … dan hanya benci sama Jawa sentrisme /Jkt sentrisme (6. 7%) yang pada saat sama tak peduli sama periferi (93.3%) saja…... > > Yok opo Cak Andri bener gitu nggak?...... . > > Salam, > aby > >

