Mas Aunur,

Saya juga senang digoda -- dan menggoda, terutama saat weekend setelah
lelah mengajar. :-)  Kebetulan saya tinggal hanya "seperminuman kopi"
dari Sun Plaza. Sayang sekali, Mas Aunur, kita tidak sempat bertemu
untuk berlebaran. Saya memilih hari Selasa atau Rabu malam kalau ingin
ke sana karena sangat lengang. Sabtu-Minggu, selain parkirnya lebih
mahal, bisa dua puluh menitan untuk mencari parkiran . Bagi orang
Medan, waktu dua puluh menit itu sangat lama kalau hanya untuk
mencari parkir, sehingga weekend sering ada yang parkir di
"sebelahnya", yaitu Masjid Agung Medan -- walaupun mereka belum tentu
pernah "ruku'" dan "sujud" dalam hidupnya. ;-)

Bila ingin membandingkan apakah benar Sun Plaza sama mewahnya dengan
Senayan City seperti thesis Mas Aunur (2008), mungkin bisa di-Google
saja gambar-gambar, luas gedung, dan statistiknya, dengan tanpa
mengabaikan kaidah "De gustibus non est disputandum" alias "Selera
tidak untuk diperdebatkan". :-)

Namun kalau kita bicara kuantitatif, dan menghitung berapa banyaknya
Mall di Medan/Surabaya/Aceh (atau jalan tol, bangunan tinggi, dlsb.)
dibanding Jakarta, rasanya Pareto dengan "law of the vital few" alias
" 20% of the population controls 80% of the wealth" tidak begitu salah
-- tentunya dengan, ehm, Jakarta sebagai "the selected vital few"-nya.
;-)

Saya sering jalan-jalan dengan istri ke Sun Plaza pada hari-hari yang
saya sebutkan tadi. Biasanya, hanya "nyamper" sebentar di Gramedia
Sun, kemudian istri saya [yang membuka butik di rumah] mencari
inspirasi di butik-butik Sun Plaza. Lihat-lihat, nanya-nanya, tapi
belum tentu beli -- seperti juga kebanyakan masyarakat Medan yang suka
"raon-raon" hanya untuk cuci mata. ;-P

Mengapa tidak beli? "Hepeng mangatur nagaraon" kata Uda Eka, alias,
"Uang yang mengatur negara" -- lha uangnya 75% berputar-putar hanya di
radius 100 km di Monas? ;-P Sebagai planolog, Mas Aunur bisa menilai
sendiri apakah ini adil atau tidak.

Salam,
Andri


On 10/25/08, Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mas Andri,
> Saya kemarin ke Medan, meskipun hanya semalam saya sempatkan untuk
> ke jalan-jalan ke Sun Plaza dan ke toko-toko yang ada di jalan cirebon,
> semarang surabaya dll. Kesan sepintas saya, orang-orang Medan mungkin lebih
> banyak yang kaya daripada orang Surabaya, Jogja maupun Bandung.  apa benar
> ini ? karena saya sedang malas melihat angka-angka BPS, karena kemungkinan
> tidak mudah mengidentifikasi jumlah orang kaya. Maka perkiraan itu saya
> peroleh dari pengunjung Mal Sun Plaza yang semewah Senayan City atau Mal
> Taman Anggrek dan banyak orang membawa belanjaan di banding di Surabaya atau
> Jogja.
>  Mungkin saya salah tapi saya hanya ingin menggoda bung Andri bahwa selain
> di Jakarta, seluruh Jawa ternyata tidak banyak orang kaya, tetapi di
> Banjarmasin, Pekan Baru, Medan, Makasar, Balikpapan jumlahnya cukup
> banyak
> Salam
> Aunur Rofiq

Kirim email ke