Milisters ysh Mengenai kesenjangan yang memicu diskusi saya rasa tidak hanya di Indonesia banyak negara mempunyai persoalan yang sama, nah inilah sebenarnya ranah dari politik atau ideologi. Sayangnya di Indonesia partai-partai politik masih malu-malu untuk menempatkan dirinya berada di posisi mana, yang ada hanya menyatakan diri sebagai nasionalis atau agama, tapi kalau dikejar lagi, mereka berdalih bahwa yang nasionalis juga beragama sedangkan yang beragama juga nasionalis. Bagaimana dengan pertarungan antara liberal vs konservatif, kapitalis vs sosialis, negara kesatuan vs negara federal, sentralisasi vs desentralisasidi Indonesia? Wacana ketimpangan wilayah sebenarnya tidak terlepas dari ideologi, sayangnya kita tidak bisa memetakan posisi partai-partai yang ada terhadap issue ini. Tidak ada satu parataipun yang berani secara tegas menyatakan ketimpangan wilayah sebagai issue yang penting. Nah mungkin ini agak mengecewakan teman-teman yang ada di milist ini terutama Mas Andri dan Pak Aby (termasuk saya..he.he) Sama dengan yang terjadi di AS, bahwa tidak ada satupun partai (meskipun hanya 2) yang menentang kapitalisme dan pasar bebas, meskipun kenyataannya Presiden Bush melakukan usaha bailout yang sebenarnya diharamkan pada ideologi pasar bebas. Kegagalan pada kredit perumahan merupakan tamparan keras bagi ideologi kapitalis (yang sekarang dianut oleh para ekonom dan pemerintahan kita). Yang menarik adalah kejadian Obama vs Joe the Plumber, karena Obama akan menaikkan pajak pada para pengusaha, dia dituduh oleh Joe sebagai seorang sosialist yang menentang capitalism. Meskipun Obama berdalih untuk "spread the wealth" yakni dengan memberikan ke sejahteraan pada mereka yang mempunyai pendapatan rendah, tetap saja issue ini menjadi sangat mnakutkan bagi penganut pasar bebas. Kembali ke persoalan kesenjangan wilayah di Indonesia, meskipun sangat naif jika dikatakan bahwa "planners"pasti mampu membuat perubahan dalam arah pembangunan kita jika mereka mempunyai ideologi untuk "spread the wealth", namun hal ini akan membuat banyak pihak ketakutan. Ada yang mengatakan bahwa jika daerah menjadi terlalu kuat, mereka akan susah diatur dan negara kita akan berubah menjadi federal. So what?
Salam Aunur Rofiq ----- Original Message ---- From: Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, October 24, 2008 7:30:58 PM Subject: [referensi] Re: Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT) Saya pikir Cak Andri harus lebih banyak jalan dan berbicara dengan masyarakat daerah. Pengalaman saya ke Sinabang, nginep di losmen Barokah yang beberapa tahun lalu ludes terbakar dan sekarang konon sudah lunah menurut pak Tanjung pemilik losmen tersebut. Saya saya nginep di losmen ini salah satu anaknya sedang berobat jlan ke Malaysia karena kangker otak, dan biayanya sekitar 450 juta. Ada 4 kali penerbangan ke Sinabang Susi Air, Riau Air, SMAC dan Merpati. Beberapa penerbangan mengangkuti lobster buat di bawa ke Medan dan terus Singapore. Jadi bukan sekedar dana bantuan bencana lho. Tentu ini angka yang fantastis untuk insinyur pengalaman berpuluh tahun ditanah jawa kecuali korupsi :-( Sementara coba lihat album minyak ikan hiu di blog saya. Yang tampak disitu adalah foto pak Bustami orang meulaboh yang saya pikir sangat cerdas dalam banyak diskusi yang saya lakukan. Sekalipun pendidikan mungkin nngggak setinggi orang kebanyakan di Jakarta. Namun kalau cuma sekedar motor mah punya, rumah juga punya. Ini hal yang sulit didapat untuk mereka yang berpendidikan di Jakarta ini. Apa lagi untuk makan ikan segar atau lobster :-) Mimpi kale Salam RM --- In [email protected], Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA? > > salam > > Eko. > > > --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT) > To: [email protected] > Date: Friday, October 24, 2008, 12:32 PM > > > > > > > Mas Aby dan Milisters ysh., > > Kalau boleh memilih, mungkin saat ini saya akan condong menjadi > liaison officer to GAM meski tidak digaji. :-) > > Ini saya pilih daripada menjadi Menteri Bangda dengan segala atribut, > fasilitas, dan power namun memilih untuk pandir dan manut dengan > kepentingan segelintir "masyarakat spesial" yang tamak infrastruktur, > dan rakus kesejahteraan di sekitar Monas saja -- tanpa mau melihat > "the bigger picture" yang berupa *regional inequalities* . :-) > > [Btw, emang ada gitu "Menteri Bangda"? Kalau yang bangda (bangga, > maksudnya:-) jadi menteri sekalipun wanprestasi mungkin banyak ya.] :- > ) > > Saya sependapat dengan tulisan Mas Aby, terutama dengan yang ini: > > | Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih > | dipakai untuk mengembangkan countermagnet to primate city > | the Jabodetabek… demi "azas keadilan keruangan nasional" … > | walau itu alokasinya ditimur (Greater Makassar) sekalipun….. > > Sementara itu dulu, Milisters ysh., dan selamat berakhir pekan, > tentunya sambil melupakan semua diskusi ini dan kembali "menghisap" DJARUM (Demi Jabodetabek, Aceh-and-all Rela Untuk Melarat). > > Salam, > Andri > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> > wrote: > > > > > > > > Selamat pagi milisters ysh, > > > > Saya setuju advis dari menteri transportasi milis referensi yang > muda dan cemerlang mas Koko…. maupun pertimbangan dari menteri urusan > Keadilan Pembangunan Daerah merangkap liaison to GAM/ Tiro mas Cak > Andri B…… namun juga menghargai pandangan menteri Urusan Peranan > Wanita Dalam Planning bu Nita…… maupun semangat ahimsa dari menteri > PU milis kita pak Rachmad M……. > > > > MRT Jkt sementara/ darurat—murah— meriah…. Busway…. jelas belum > ideal….. tapi kalau kita lihat New York City Subway (1868 first > elevated, 1904 first subway) 368 km (total track length 1355 km).. … > atau Tokyo Subway (1927) 328km dengan 13 koridor….. London Underground > (1863) 400km 11 koridor… Paris Metro (1900) 214km dengan 16 koridor …… > tetap saja yang namanya macet pada peak hours juga masih ada….. walau > jelas kalau tanpa MRT bisa dibayangkan bgmn ruwetnya transportasi para > kota primat itu…… > > > > MRT yang kata menteri Koko biaya konstruksi per-KM nya hanya 1/20 > dari Metro-underground… ... dan katanya lumayan.. hasil pengiritan > duitnya bisa buat bangun sekolah dan puskesman di Aceh... yang dikira > itu mungkin maksud dari menteri Cak Andri B menakuti-nakuti kita dan > bu Nita……. menghubungkan ambisi Jkt sentrisme dan kumatnya sentimen > periphery negligence oleh GAM/ Hasan Tiro ……. tapi saya kira jalan > pikiran dari GAM atau liaisonnya Mr. Cak Andri bukannya lalu switch > dana Jkt sentrisme harus sebagiannya di cipratkan ke Aceh…. Saya > kira sih nggak gitu……. > > Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih dipakai > untuk mengembangkan countermagnet to primate city the Jabodetabek… > demi "azas > > keadilan keruangan nasional" ….walau itu alokasinya ditimur (Greater > Makassar) sekalipun….. > > Karena saya kira GAM …. juga tentu saja menteri Peduli BangDa kita > Cak Andri masih cinta NKRI (ingat Seulawah…. Pesawat terbang pertama > sumbangan masyarakat Aceh) … dan hanya benci sama Jawa sentrisme /Jkt > sentrisme (6. 7%) yang pada saat sama tak peduli sama periferi (93.3%) > saja…... > > > > Yok opo Cak Andri bener gitu nggak?...... . > > > > Salam, > > aby > > > > > > --- On Thu, 10/23/08, Mohammad Andri Budiman <mandrib@ > wrote: > > > > From: Mohammad Andri Budiman <mandrib@ > > > Subject: [referensi] Kita Mungkin Perlu GAM: MRT Kenapa Harus Jepang > ? > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > Date: Thursday, October 23, 2008, 11:14 AM > > > > > > > > > > > > > > Sebenarnya kita tidak perlu panik (atau kelihatan panik:-) melihat > ada > > yang menyebut "GAM" atau "OPM" kalau memang pembangunan nasional > sudah > > adil dan seimbang untuk semua anak bangsa dimanapun ia berada di > > republik ini. Namun, apa benar sudah begitu? > > > > Tapi ya monggo saja, bila masih mau terus-menerus menambah fasilitas > > dan infrastruktur bagi segelintir masyarakat urban dan penting di > > Jakarta -- daerah yang semakin terlihat 3G (Genit, Greedy, dan > Ganas) > > -- tanpa pernah mau memikirkan apa sebabnya orang-orang dari daerah > > terus berdatangan ke sana, dan kemudian semakin lama semakin macet, > > dan tentu semakin banyak fasilitas lagi yang dibutuhkan, and this > > satanic loop continues forever ... without "the help" from GAM atau > > Gempa mendadak barangkali.. ;-) > > > > Anyhow, for your reference: > > > > "Seorang bankir terkemuka pernah mengatakan, 75 persen dari seluruh > > uang yang beredar di Indonesia terpusat di dalam suatu lingkaran > > kecil, beradius 100 km dan berpusat di Monas, yang kita semua kenal > > sebagai Jakarta." > > > > (James Castle, http://www.pu. go.id/itjen/ ggi/otdadagang. htm) > > > > Salam, > > Andri > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, arinynta <arinynta@ .> wrote: > > > > > > ANdri, kok mentang2 MRT Jakarta mau dibenahi, jadi GAM > bertindak... > > jgn menyederhanakan begitu dong... > > > Jakarta memang sudah harus punya MRT... meskipun ini rencana sudah > > kadaluwarsa. karena itulah sekarang kita memulainya lagi dari O.... > > (suck...!!). . > > > > > > kalau mau "menggugat" kenapa Jawa lagi, itu loh, pembangunan > > TransJawa (jalan tol). Kalau ini selesai, siapakah yang paling > > berbahagia,. .. ya para pemudik itu. Tapi ini juga terbatas, mereka > > yang pakai mobil atau bis. Yang pakai kereta apalagi motor, sami > > mawon... wong jalannya masih itu-itu juga. Apalagi kereta, jangankan > > penambahan, perbaikan kualitas saja tak pernah terlihat. > > > > > > Milisters, jika ada yg lebih paham, boleh sharing, latar belakang > & > > rencana pembangunan transJawa? Thx u. > > > > > > Nita > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ __ > > > From: Mohammad Andri Budiman <mandrib@ > > > > Sent: Thursday, October 23, 2008 11:21:20 > > > Subject: Re: [referensi] Re: MRT Kenapa Harus Jepang ? > > > > > > > > > Bapak-Bapak, > > > > > > Jakarta lagi nih yang dibenahi sampai MRT. ;-) > > > Ini bisa jadi alasan yang bagus sekali bagi GAM dan Hasan Tiro. :- > ) > > > > > > Salam, > > > Andri > > > > > > On 10/23/08, Rachmad M <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > > > Solusi sederhana, yang namanya MRT tidak harus berada di dalam > > tanah. > > > > Di singapore yang ada didalam tanah cuma yang di kota, sedikit > > keluar > > > > kota suda elevated MRT nya :-) > > > > > > > > Di Jakarta ada banyak jalur kereta yang nggak dipelihara bahkan > > > > ditinggali gubuk liar. Dan mungkin juga bisa kita pikirkan kalau > > di > > > > atas jalur busway kita gelar rel kemudian dipikirkan di > > > > persimpangannya saja sudah jadi MRT :-) > > > > > > > > > > > > Salam > > > > > > > > RM > > > > > > > > > > > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, w_bintarto@ .. wrote: > > > >> > > > >> Sebagai bahan perbandingan buat pemikiran kita, Saya 3 tahun > lalu > > > > pernah ikut seminar transportasi, dan pembicaranya pada waktu > itu > > > > sangat kompeten di bidangnya (jabatannya Eselon I ). Beliau > > > > menyampaikan bahwa kita tahun 1980 an pernah menyiapkan rencana > > > > pembangunan kereta bawah tanah di Jakarta, dan sudah menyusun > FS, > > dan > > > > lain2 nya, rencananya dibiayai Loan sangat lunak dari Jepang. > > > > Sebetulnya ini sinergi, kita tdk punya kemampuan teknologi > > > > pembangunan terowongan dan duit, Jepang punya teknologi > > pembangunan > > > > terowongan dan duit, kita memang terpaksa tergantung > pengadaannya > > > > oleh pihak Jepang dan harganya barangkali 2-3 kali lebih mahal, > > tapi > > > > kan dikompensasi dengan pinjaman yang sangat lunak, dan yang > > penting > > > > efektif. Pada saat terakhir, dengan kurang mempertimbangkan > > persiapan > > > > dan efort yg telah dilakukan, secara tiba2 keputusan politik > kita > > > > menyatakan kegiatan dibatalkan dan pembangunan subway tsb akan > > > > ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri, keputusan > > > >> yg mencengangkan pihak Jepang. Selanjutnya anda ketahui, Subway > > > > tdk pernah terbangun, dan sekarang kalaupun ingin dibangun > > harganya > > > > sdh tdk terjangkau masyarakat dan tidak cost recovery lagi. > > > > Seharusnya beberapa tahun ini kita sudah menikmati punya subway, > > bila > > > > kita pada waktu itu bisa mengukur diri kita sendiri. Bukan > > bermaksud > > > > mengatakan bangsa kita tidak punya kemampuan, tapi kita ukurlah > > > > kemampuan kita dan kita optimalisasikan mana yang terbaik bagi > > bangsa > > > > kita. Semangat nasionalis yang tinggi tanpa dibarengi dengan > > > > pertimbangan yang matang tentang apa yang terbaik bagi bangsa > > > > Indonesia, hasil akhirnya kita akan gigit jari. Ini bukan kontra > > thd > > > > penulis terdahulu, ini sekedar sisi lain yang mungkin perlu juga > > > > dipikirkan. > ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

