Tulisan saya mengenai Indonesia lebih Kapitalis Dari Amerika mendapat banyak perhatian di berbagai milis. Mulai dari yang memperbandingkan biaya sekolah anak di Indonesia dengan sekolah di Amerika (Public School) yang dilengkapi juga dengan bus Sekolah.
Sebenarnya, bagaimanapun globalisasi ini terjadi, sepanjang suatu negara mempunayai bank sentral yang berdaulat serta menerbitkan mata uangnya sendiri, boleh dikata bahwa bahwa seluruh resiko naik turunnya nilai mata uang ditanggung sesama anak bangsa pengguna mata uang tersebut. Dengan kata lain penggunaan uang rupiah merupakan sistem tertutup yang harus selalu dijaga terhadap inflasi dan devaluasi. Kedua hal ini merupakan indikator kemampuan suatu negara menjaga stabilitas mata uangnya sehingga rakyat mampu saling bertukar barang dan jasa dalam keadilan. Kelemahan dalam pengelolaan ini berakibat ketidak adilan dalam hal tukar menukar barang dan jasa. Berakibat kecendrungan untuk korupsi juga semakin besar akibat hilangnya ekspektasi bahwa meningkatnya pendidikan, jabatan, pengalaman akan dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan. Sementara meningkatnya pendapatan bulanan (tetap) berupa gaji kenaikannya dimakan inflasi dan devaluasi. Hal inilah yang sangat disayangkan, karena Indonesia sendiri yang sejak jaman purba dulu lebih banyak mengandalkan `trust' (saling percayaan) dalam membangun kebersamaan yang terekspresikan dalam bentuk `gotong royong' , justru dengan cara kuantitatif menggunakan uang untuk membangun rasa saling percaya itu malah rusak dan yang muncul malah uang digunakan sebagai alat intimidasi dan peng'kelabuhan' masal dalam bentuk slogan-slogan kosong yang bernama kampanye. Kembali kita tengaok anak bangsa kita, kurang apa kita menjuarai berbagai olimpiade ilmu pengetahuan ? Kurang apa nenek moyang kita dengan trust mampu membuat Borobudur, mampu membuat kapal Pinisi. mampu menghadirkan ukiran-ukiran dan berbagai bentuk rumah adat yang indah-indah. Semua bahan dan materialnya tersedia di negeri ini, maka menjadi sangat aneh jika kita saat ini tidak memiliki kemampuan untuk membangun negeri kita sendiri dengan kayu, pasir, tanah sebagai bahan batu bata dan genting, pasir mengandung kaca, pasir mengandung besi terhampar dihadapan kita. Sumber daya manusia berlimpah, sumber pangan berlimpah hanya karena hilangnya trust tersebut kita tak mampu meninggalkan apa-apa buat anak cucu kita kecuali berbagai beban pembayaran hutang dipundaknya. Kita lebih suka menegadahkan tangan meminta di jalan raya yang dilanjutkan di jalan-jalan global yang bernama hibah, pinjaman baik lunak maupun keras. Ayo bangkitlan negeriku salam RM http://rachmad.kuyasipil.net/?p=284

