Referensi Netters,
Menyimak diskusi ttg ibukota negara dan terakhir pertanyaan BTS ttg batasan ibukota, seingat saya ibukota negara adalah kota yg difungsikan sebagai lokasi fungsi pemerintah negara beserta perwakilan negara sahabat. Ini merupakan pembatasan yang menarik untuk didiskusikan seluas apa wilayah tersebut, kayaknya sih DKI Jakarta saja, atau mungkin jakpus? Jadi kita dapat mengerti fenomena dari Putra Jaya, Malaysia; Canberra australia; Washington di Amerika; dll. Satu hal lagi, pertimbangan suatu kota menjadi ibukota negara bukan hanya didasarkan pertimbangan teknis ilmiah (teknis atau/dan keuangan) tetapi paling kental adalah pertimbangan politik. Saya setuju kita berdiskusi secara teknokrasi sebagai bagian dari penajaman2 yang diperlukan sebelum diputuskan dalam forum politik. Salam, Budi Situmorang --- Pada Sel, 23/12/08, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> menulis: > Dari: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> > Topik: Re: [referensi] Re: Cara Migran dan Investor Memandang Jkt > Kepada: [email protected] > Tanggal: Selasa, 23 Desember, 2008, 6:03 PM > Ysh Pak Aby dan milister lainnya. > > Diskusi tentang aglomerasi "Jakarta" haruslah > jelas batasannya (definisinya). Jakarta yang mana? Kalau > Jakarta yang dimaksud adalah DKI Jakarta yang berbatas > administrasi, maka urbanisasi sudah sangat rendah dan bahkan > antara in-migrasi dan out-migrasi diduga sudah negatif. > Jakarta administratif juga sudah sangat sedikit dan sudah > tak menarik bagi industri manufaktur. > > "....Jkt adalah pusat investasi, pusat perdagangan, > jasa dan industri’……. Betulkah? Kalau investasi jangka > pendek yang di BEJ itu betul, tapi real investment itu > adanya di Bobotatabekbek. Pusat Perdagangan? Nanti dulu, > berapa nilai transaksi di Jakarta dan Bobotatabekbek? Bisa > jadi transaksi di Jakarta itself itu lebih kecil lho. Saya > belum punya data. Pusat jasa? Itu betul. Tapi kalau Pusat > Industri...rasanya salah ya. Pusatnya ada di Bobotatabekbek. > > Polemik pemindahan Ibukota untuk mengurangi intensitas > Jakarta dengan meng-counter di lokasi lain, sampai kapanpun > nggak akan ketemu. Soalnya ada perbedaan pandangan yang > bertolak belakang sih. Yang setuju pindah punya anggapan > bahwa fungsi pemerintahan keibukotaan itu dianggap manjur > untuk menarik aktivitas ekonomi (begitu menurut kronologis > sejarah), sementara yang kontra itu menganggap sebaliknya > dengan bukti-bukti empirik pemindahan ibukota di Indonesia > maupun negara-negara lain. > > Kembali soal Jakarta...Jakarta yang mana? Apakah DKI > Jakarta? Apakah "Greater Jakarta" (termasuk > periphery DKI Jakarta)? Apakah Metropolitan Jakarta > (Jabodetabek, kota-kotanya saja tidak termasuk > kabupatennya)? Ataukah Megapolitan Jakarta (The giant of > Jakarta, yang mencakup Jabobotatadebekbek-jur). Jadi perlu > jelas karena umplikasi analisisnya juga akan berbeda. > > Thanks. CU. BTS. > > > > --- On Tue, 12/23/08, hengky abiyoso > <[email protected]> wrote: > > From: hengky abiyoso <[email protected]> > Subject: [referensi] Re: Cara Migran dan Investor Memandang > Jkt > To: [email protected] > Cc: [email protected] > Date: Tuesday, December 23, 2008, 10:09 AM > > > > > > > > > > > > > > Belum lama muncul lagi dan muncul lagi diskusi pemindahan > ibukota RI….. > Cara memandang dominansi dan problema Jkt ada bermacam2…. > banyak yg melihatnya krn Jkt adalah ibukota RI atau pusat > pemerintahan… .. Itu tak sepenuhnya salah tapi juga tak > sepenuhnya benar…… > > Pada awal2 kemerdekaan RI ketika Indonesia masih sangat > agraris…..dan ketika Jkt masih berpenduduk krg dari 1 > juta jiwa… yg itu artinya industrialisasi di Jkt dpt > dikatakan sbg belum lahir dan trade di Jkt masih gitu2 > aja…. Jelas bahwa motivasi migran utk mendekati Jkt adalah > lebih karena pertimbangan “Jkt adalah ibukota/ pusat > pemerintahan” ….. > Walau tanpa bukti penelitian .. tapi diperkirakan status > mayoritas migran kala itu lebih ‘terpelajar’… > artinya belum muncul motivasi mayoritas migrasi ke Jkt utk > tujuan sektor informal…… > Tujuan bersekolah dan bercita2 sebagai pegawe kantoran > departemen di Jkt spt lebih dominan….. pindah berdagang ke > Jkt belum banyak menjadi tujuan… kerja dipabrik belum > masuk kepikiran…… kerja bangunan belum terpatri > diingatan……. > Itu sebabnya angka migrasi masih sangat amat rendah (sampai > 1980 proporsi penduduk urban masih sekitar 17.7%)...... .. > > Kini proporsi penduduk urban kita sudah 50%..... yg itu > artinya dari sekitar 235 juta jiwa penduduk nasional > kita….. sebanyak 115-an juta jiwa telah meninggalkan > pekerjaan diladang, kolam atau perahu nelayan (spt kisah > Rokhmin Dahuri) dan mengalir menuju perkotaan… baik kota > kecamatan, kota kabupaten kota madya atau metropolitan…… > > Itu artinya…. Profesi/ sumber penghidupan masyarakat kita > telah sebanyak 50% tidak lagi dikais diatas tanah ladang/ > kolam ikan/ perahu nelayan tradisional…. . tetapi adalah > bersumber dari perekonomian perkotaan… seperti industri, > jasa, trade, konstruksi, sektor informal…dsb… dimana > seiring ‘kemajuan zaman’ variasi kesempatan kerjapun > semakin meluas pula…...… > Ketika sampai 1960 nyaris tak ada motivasi migrasi menjadi > artis penyanyi, pemain film atau sinetron, sales > representatif atau pekerja bangunan ‘diproyek’ > misalnya…. Semenjak diatas tahun 2000…. Bahkan profesi > menjadi disc jokey, joki three in one maupun penjual > pulsapun telah muncul pula………… > Pertimbangan migrasi manusia menuju Jkt setelah tahun > 2000 jelas amat berbeda dengan masa pra 1970 dan 1960….. > > Sementara itu pertimbangan pemilihan lokasi investasi > utamanya PMA (sebagai leading industries) utk industri > manufaktur…… utk bbrp aspek hampir sama seperti motivasi > migran pra 1960….. ialah bahwa Jkt adalah ibukota RI… yg > adalah juga kota primat…… Pertimbangan lain adalah bahwa > Jkt adalah yg paling siap infrastrukturnya seperti > infrastruktur kota sebagai tempat tinggal kaum > ekspatriat…. Korps diplomatik yg jelas akan membantu > kelancaran urusan bisnis PMA…. pelabuhan laut dan > pelabuhan udara sebagai infrastruktur angkutan impor ekspor > dan mobilitas……… ‘konsumen perkotaan’ sbg > sasaran pasaran produk manufaktur maupun jasa perkotaan > tingkat tinggipun paling tersedia diJkt…….. > Selanjutnya terjadi proses aglomerasi (kecenderungan > memusat) yang semakin dahsyat dari berbagai investasi, > juga kecenderungan memusat dari SDM karena keuntungan skala > dan jarak…… yang semuanya itu sebenarnya semakin jauh > dari pertimbangan bahwa ‘Jkt adalah ibukota RI’…. > Tetapi lebih karena > ‘Jkt adalah pusat investasi, pusat perdagangan, jasa dan > industri’……. > Disinilah sekitar asumsi pandangan awam bahkan banyak > masyarakat planologi juga masih keder ….. bahwa mereka > percaya…. mengurai masalah Jkt adalah dengan > “memindahkan ibukota/ pusat pemerintahan” sbg sebuah > jalan keluarnya….. dan bukan mengintervensi > overkonsentrasi industri manufakturnya. ..... Maklumlah .... > mitos bahwa planning adalah 'fisik' masih tumbuh > subur..... > > Salam, > aby > > > ___________________________________________________________________________ Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

