Diskusi (3) 

+++: Terakhir, sorry kalau ini pribadi, walau di depan pesannya jangan pribadi. 
>>>: He3x….. maaf bercanda… namanya juga lidah ibarat tak bertulang…. Jadi ya 
>>>kita memang boleh-boleh saja bicara apa saja…. Seperti disatu sisi didepan 
>>>menyarankan jangan… tapi disisi lain utk kita sendiri bilang boleh… he 
>>>5x…nggak apa2, namanya juga diskusi sama teman…..
 
+++: Kalau mau perubahan mindset sebetulnya mindset Pak Aby yang selalu 
mendambakan "national development planning" yang mengatur daerah, dan mindset 
Cak Andri yang sangat menghina inovasi-inovasi daerah (Parodi 10 Tokoh Tempo) 
itulah yang perlu dirubah. Jelas-jelas itu mengunggulkan pusat (Jakarta), dan 
meremehkan kemampuan daerah. Pola pikir macam itulah yang membuat orientasi 
terus ke Jakarta.
>>>: Ttg mas Andri itu bukan urusan saya…. Tapi saya tidak sepakat dengan 
>>>simplifikasi perumusan oleh pak Risfan tentang pola pikir saya “national 
>>>development planning” yg disebutnya sbg “mengatur daerah”….. yg menurutnya 
>>>perlu dirubah….
Saya khawatir justru kekhawatiran pak Risfan ttg persepsinya atau deskripsinya 
yg salah atas visi saya itulah yg patut dirubah…….. 
Memangnya yg disebut sebagai “berpikir nasional” itu apa samasekali tidak boleh 
menyinggung sedikitpun  "aspek strategis" tentang “sistem redistribusi atau 
penataan ulang sesuatu apapun seperti ttg besaran/ fungsi layan kota menyangkut 
daerah-daerah”…. yg nyatanya sejak pra-kemerdekaan berganti kemasa merdekapun 
memang belum pernah ditata ulang agar menurut  pandangan “kepentingan nasional” 
alias utk demi “kepentingan bersama warga dari sabang- smp-merauke” ia menjadi  
lebih baik?..... 
Seperti tentang ketimpangan KBI-KTI misalnya…..bgmn mungkin “kecondongan 
keberpihakan” atau “penekanan sedikit lebih” kepada KTI misalnya itu dilarang…. 
Lalu KTI misalnya entah bgmn caranya hrs bisa berlomba “melawan KBI” atau 
“mengejar ketertinggalan dari KBI”… yg padahal di KBI sana ada Jkt, ada  Sby, 
ada Singapore dan KL…. Biar KTI bisa sejajar?..........
Kemudian kalau dikaitkan dengan kalimat pak Risfan diatas (menyangkut otda)… 
“Yang masih menjadi masalah adalah dari segi ekonomi, peran sektor sektor 
manufaktur dan jasa itu masih kurang….”. 
Ini menunjukkan bahwa terdapat ketimpangan kronis peran manufaktur di ‘pusat’ 
dan ‘didaerah’… tepatnya antara Jawa dan KTI yg bgmn mungkin tanpa ‘campur 
tangan khusus’ pada tingkat nasional lalu daerah diharapkan dpt mampu  
menangani sendiri masalahnya?......
Padahal banyak masalah pembangunan sektoral pasca otda yg banyak daerah tak 
mampu atau tak peduli mengembangkannya… seperti ttg masalah kesehatan, KB, 
pendidikan dsb….selain masalah industri manufaktur yg jelas telah disebut 
sendiri oleh pak Risfan…. Dan masih ada bbrp masalah lain yg pemerintah pusat 
masih harus menanganinya (atau daerah tak boleh tangani sendiri) …. Seperti 
masalah agama, keamanan..dsb…. 
Entah kalau mas Andri dgn gayanya yg khas dianggap amat meremehkan daerah dsb… 
itu bukan urusan saya….. tetapi diseluruh dunia, khususnya dibanyak negara 
sedang berkembang memang begitulah adanya…… pusatnya melesat maju…. Periferinya 
tertinggal….. 
Dengan indeks primacy oleh PBBpun jelas ditunjukkan angkanya…. Primacy kota 
dinegara maju seperti AS (NY, LA) dan Perancis (Paris) kurang dari 10 % 
(pokoknya jadi rendah tidak sampai 2 digit khan mas EkoBK?)... sementara di 
Bangkok, Seoul , Mexico City, Jkt plus Jawa, Manila, Rio dll lebih dari 35% 
bahkan ada yg lbh dari 50%.......
Tokyo kalaupun kata mas EkoBK tak bisa dihambat primacynya… setidaknya segitiga 
Kinki Region (Kyoto-Osaka Kobe) juga sudah membentuk megapolitan…… dan total 
penduduk Jepang pada 2100 nanti diproyeksikan menyusut menjadi separuhnya hari 
ini (120 juta menjadi 65 juta) dan GNP Jepang hari ini khan juga sudah tinggi. 
(38.000 dolar)..… alias tidak ada cerita busung lapar,  pengangguran, putus 
sekolah krn kemiskinan dsb… tidak spt Indonesia yg GNPnya sptnya masih dibawah 
2000 dolar…..
Banyak negara lain dengan jumlah penduduk kurang dari 200 juta atau bahkan 
jurang dari 100 juta mungkin tak terlampau bermasalah dengan  ketimpangan pusat 
–daerahnya atau primacy kotanya… tetapi Indonesia dgn 235 juta penduduk dgn  
pertambahan 4 juta jiwa pertahunnya dengan geografik 2/3 lautan yg bentangnya 
dlm negeri mencapai lebih 750km x 3000km dimana negeri spt Inggris, Jerman atau 
Perancis ‘muat’ utk dicemplungkan dilaut Jawa, laut Banda atau Arafura…. dan 
1/3 daratannya berupa lebih 16000 pulau….yg itu semua menjadi "masalah jarak" 
(distance problem) yg sangat menghambat mobilitas penduduk.... jelas itu semua 
amat menjadi masalah  sumber ketimpangan………

+++: Kata psikolog, kalau kita bilang "anti Jakarta" itu membuat pikiran bawah 
sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah sadar tidak mengenal negasi 
(tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita 
bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran bawah sadar akan mengarahkan kita untuk 
berfikir "pembangunan daerah." 
>>>: Masalah kita bukan sekedar masalah psikologis semata…… tetapi juga 
>>>pendekatan enjinering keruangan yg jelas lebih bersifat fisik, teknikal dan 
>>>konkrit …..dan menjawab masalah ketimpangan “Jkt dan daerah”  juga 
>>>memerlukan jawaban ‘mobilitas/ migrasi manusia,  migrasi dan relokasi  
>>>sebagian aktivitas, dan tentu saja transfer aset investasi” keluar Jawa…… 
>>>justru karena terus mengingat bahwa primacy Jakarta harus dilawan, dilawan 
>>>dan dilawan……. dimana ‘dilawan’ itu artinya tidak harus ‘ditundukkan’…. tapi 
>>>yg jelas perlu  ada langkah konkrit yg berupa bukan “pembiaran”……..(selesai).
 
Salam,
aby 
 


      

Kirim email ke