Pak Aby dan rekans ysh,

Terus terang saya agak kesulitan kalau menjawab komentar yang 
memotong-motong artikel per alinea. Karena tulisan itu sesuatu yang 
utuh, tapi per alinea adalah sesuatu yang tak lengkap. Ada risiko 
menyimpang dari fokus utama.

Karena kesulitan itu saya bisa menjawab agregat saja. Intinya saat 
ini kita perlu memandang dalam konteks "sistem ruang/ 
ekonomi/pemerintahan yang TERDESENTRALISASI". Karena alokasi dana 
dan kewenangan pengelolaan SDA, merencana dan memutuskan sudah 
banyak yang ke daerah. 

Bukan beranti perencanaan skala nasional tidak perlu, tetap perlu. 
Tetapi titik tolak berfikirnya justru dari relita desentralisasi 
itu, dan bukan sebaliknya. 

Salam,
Risfan Munir


--- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> 
wrote:
>
> 
>  
> Diskusi (3) 
> 
> +++: Terakhir, sorry kalau ini pribadi, walau di depan pesannya 
jangan pribadi. 
> >>>: He3x….. maaf bercanda… namanya juga lidah ibarat tak 
bertulang…. Jadi ya kita memang boleh-boleh saja bicara apa saja…. 
Seperti disatu sisi didepan menyarankan jangan… tapi disisi lain utk 
kita sendiri bilang boleh… he 5x…nggak apa2, namanya juga diskusi 
sama teman…..
>  
> +++: Kalau mau perubahan mindset sebetulnya mindset Pak Aby yang 
selalu mendambakan "national development planning" yang mengatur 
daerah, dan mindset Cak Andri yang sangat menghina inovasi-inovasi 
daerah (Parodi 10 Tokoh Tempo) itulah yang perlu dirubah. Jelas-
jelas itu mengunggulkan pusat (Jakarta), dan meremehkan kemampuan 
daerah. Pola pikir macam itulah yang membuat orientasi terus ke 
Jakarta.
> >>>: Ttg mas Andri itu bukan urusan saya…. Tapi saya tidak sepakat 
dengan simplifikasi perumusan oleh pak Risfan tentang pola pikir 
saya "national development planning" yg disebutnya sbg "mengatur 
daerah"….. yg menurutnya perlu dirubah….
> Saya khawatir justru kekhawatiran pak Risfan ttg persepsinya atau 
deskripsinya yg salah atas visi saya itulah yg patut dirubah…….. 
> Memangnya yg disebut sebagai "berpikir nasional" itu apa 
samasekali tidak boleh menyinggung sedikitpun  "aspek strategis" 
tentang "sistem redistribusi atau penataan ulang sesuatu apapun 
seperti ttg besaran/ fungsi layan kota menyangkut daerah-daerah"…. 
yg nyatanya sejak pra-kemerdekaan berganti kemasa merdekapun memang 
belum pernah ditata ulang agar menurut  pandangan "kepentingan 
nasional" alias utk demi "kepentingan bersama warga dari sabang- smp-
merauke" ia menjadi  lebih baik?..... 
> Seperti tentang ketimpangan KBI-KTI misalnya…..bgmn 
mungkin "kecondongan keberpihakan" atau "penekanan sedikit lebih" 
kepada KTI misalnya itu dilarang…. Lalu KTI misalnya entah bgmn 
caranya hrs bisa berlomba "melawan KBI" atau "mengejar 
ketertinggalan dari KBI"… yg padahal di KBI sana ada Jkt, ada  Sby, 
ada Singapore dan KL…. Biar KTI bisa sejajar?..........
> Kemudian kalau dikaitkan dengan kalimat pak Risfan diatas 
(menyangkut otda)… "Yang masih menjadi masalah adalah dari segi 
ekonomi, peran sektor sektor manufaktur dan jasa itu masih 
kurang….". 
> Ini menunjukkan bahwa terdapat ketimpangan kronis peran manufaktur 
di `pusat' dan `didaerah'… tepatnya antara Jawa dan KTI yg bgmn 
mungkin tanpa `campur tangan khusus' pada tingkat nasional lalu 
daerah diharapkan dpt mampu  menangani sendiri masalahnya?......
> Padahal banyak masalah pembangunan sektoral pasca otda yg banyak 
daerah tak mampu atau tak peduli mengembangkannya… seperti ttg 
masalah kesehatan, KB, pendidikan dsb….selain masalah industri 
manufaktur yg jelas telah disebut sendiri oleh pak Risfan…. Dan 
masih ada bbrp masalah lain yg pemerintah pusat masih harus 
menanganinya (atau daerah tak boleh tangani sendiri) …. Seperti 
masalah agama, keamanan..dsb…. 
> Entah kalau mas Andri dgn gayanya yg khas dianggap amat meremehkan 
daerah dsb… itu bukan urusan saya….. tetapi diseluruh dunia, 
khususnya dibanyak negara sedang berkembang memang begitulah 
adanya…… pusatnya melesat maju…. Periferinya tertinggal….. 
> Dengan indeks primacy oleh PBBpun jelas ditunjukkan angkanya…. 
Primacy kota dinegara maju seperti AS (NY, LA) dan Perancis (Paris) 
kurang dari 10 % (pokoknya jadi rendah tidak sampai 2 digit khan mas 
EkoBK?)... sementara di Bangkok, Seoul , Mexico City, Jkt plus Jawa, 
Manila, Rio dll lebih dari 35% bahkan ada yg lbh dari 50%.......
> Tokyo kalaupun kata mas EkoBK tak bisa dihambat primacynya… 
setidaknya segitiga Kinki Region (Kyoto-Osaka Kobe) juga sudah 
membentuk megapolitan…… dan total penduduk Jepang pada 2100 nanti 
diproyeksikan menyusut menjadi separuhnya hari ini (120 juta menjadi 
65 juta) dan GNP Jepang hari ini khan juga sudah tinggi. (38.000 
dolar)..… alias tidak ada cerita busung lapar,  pengangguran, putus 
sekolah krn kemiskinan dsb… tidak spt Indonesia yg GNPnya sptnya 
masih dibawah 2000 dolar…..
> Banyak negara lain dengan jumlah penduduk kurang dari 200 juta 
atau bahkan jurang dari 100 juta mungkin tak terlampau bermasalah 
dengan  ketimpangan pusat –daerahnya atau primacy kotanya… tetapi 
Indonesia dgn 235 juta penduduk dgn  pertambahan 4 juta jiwa 
pertahunnya dengan geografik 2/3 lautan yg bentangnya dlm negeri 
mencapai lebih 750km x 3000km dimana negeri spt Inggris, Jerman atau 
Perancis `muat' utk dicemplungkan dilaut Jawa, laut Banda atau 
Arafura…. dan 1/3 daratannya berupa lebih 16000 pulau….yg itu semua 
menjadi "masalah jarak" (distance problem) yg sangat menghambat 
mobilitas penduduk.... jelas itu semua amat menjadi masalah  sumber 
ketimpangan………
> 
> +++: Kata psikolog, kalau kita bilang "anti Jakarta" itu membuat 
pikiran bawah sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah sadar 
tidak mengenal negasi (tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita 
> bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran bawah sadar akan 
mengarahkan kita untuk berfikir "pembangunan daerah." 
> >>>: Masalah kita bukan sekedar masalah psikologis semata…… tetapi 
juga pendekatan enjinering keruangan yg jelas lebih bersifat fisik, 
teknikal dan konkrit …..dan menjawab masalah ketimpangan "Jkt dan 
daerah"  juga memerlukan jawaban `mobilitas/ migrasi manusia,  
migrasi dan relokasi  sebagian aktivitas, dan tentu saja transfer 
aset investasi" keluar Jawa…… justru karena terus mengingat bahwa 
primacy Jakarta harus dilawan, dilawan dan dilawan……. 
dimana `dilawan' itu artinya tidak harus `ditundukkan'…. tapi yg 
jelas perlu  ada langkah konkrit yg berupa bukan "pembiaran"……..
(selesai).
>  
> Salam,
> aby 
>  
>


Kirim email ke