Pak Risfan dan Rekan-rekan ysh.,
Ada satu kalimat dari komik Trigan (yang populer di Medan era '80-an) yang
selalu saya ingat, "Kami tidak benci (Kaisar) Trigo. (Yang) kami benci
kelalimannya."

Dan saya kira ada benarnya pula pandangan bahwa, "Di balik seribu kebencian,
ada sejuta cinta."

Saya sendiri tidak benci Jakarta.
Saya cuma jijay ... terhadap aglomerasinya.

Salam,
Andri


2009/1/7 Risfan M <[email protected]>

  Pak Aby, Cak Andri, Pak Dwiagus dan rekans ysh,
>
>
>
> Oke, kalau nulisnya dengan huruf kecil. Yang saya komentari kan sudut
> pandang, untuk ide yang bisa saja sama. Ambil contoh kalimat yang netral.
>
>
>
> "Aku benci pantai, karena itu aku tidak melihat pasir putih, tak ada debur
> ombak, tak ada nyiur melambai. Aku tidak suka bau ikan."
>
>
>
> Apa yang masuk di pikiran kita? Tentu pantai, pasir putih, ombak, nyiur
> melambai. Walau tertulis kata "benci, tidak, tak."
>
> Dan adakah ide tentang "gunung, air terjun" di situ.
>
>
>
> Karena itu kalau cinta gunung sebaiknya fokus mikir gunung. Jangan
> terus-terusan membenci pantai, nyari refrensi pantai. Pikirkan saja gunung,
> diskusi dan kumpul referensi tentang gunung.
>
>
>
> Dalam analisis wacana (discourse) ataupun analisis content pemikiran yang
> berkembang dievaluasi berdasarkan dominasi kata yang disebut.
>
>
>
> Salam,
>
> Risfan Munir
>
>
>  
>

Kirim email ke