Datuk, Mamak, Uda Eka: "Persoalan ini sebenarnya masalah ekonomi nasional,
yang hingga saat ini belum tersedia teorinya dan juga kebijakannya"...

NA: Fenomena tentang tingginya harga serta implikasi kebijakan yang datuk
sebutkan itu mungkin dapat dijelaskan melalui ilustrasi sederhana. Point
utama ilustrasi ini: solusi yang ditawarkan tergantung "paham", "ideologi
ekonomi" dan atau "ideologi politik" yang dianut. Tentu banyak teori dan
argumentasi dibalik paham-paham ataupun ideologi.

Mengenai soal harga makanan yang begitu tinggi seperti contoh yang diberikan
pak Eka, penganut paham neoliberal akan mengatakan bahwa tidak perlulah
campur tangan  pemerintah terlalu besar. Harga makanan di Tobelo pasti akan
turun melalui mekanisme yang diatur oleh "invisible hand" nya Adam Smith.

Kalau harga makanan di warung Tobelo masih tetap tinggi juga, ya prasyarat
agar  "invisible hand" dapat bekerja belum dipenuhi, antara lain masih
terhambatnya mobilitas faktor-faktor produksi. Bagaimana mau murah, lha
nggak ada akses pelabuhan yang memadai, jalannya rusak berat, nggak ada
warung lain yang buka agar dapat bersaing dengan warung sebelumnya.  Mungkin
sederhanyanya kira-kira gitu barangkali
.

Penganut paham "institusional" akan berpendapat lain, wah tingginya harga
itu kan karena masyarakatnya sudah "nggak bener", tukang tipu, camatnya
korup, banyak pungli, sehingga "transaction cost" nya tinggi. Walaupun
sumber alamnya melimpah, tetap saja daerahnya terkebelakang. Biar Kata
jalannya udah bagus, tetap saja harga di warung mahal.

Pendekatan welfare state mungkin akan memberikan arah: karena kegagalan
pasar, pemerintah harus disediakan infrastruktur agar makin banyak warung
yang buka. Pajak perlu dinaikkan, siapkan kebijakan public service
obligation (PSO). Pemerintah memberi  subsidi  untuk kompensasi biaya, tidak
secara universal sama (seperti USO),  tetapi tergantung dari kemampuan
masyarakatnya (willingness to pay).
Penganut paham sosialis yang sangat sentralistik mungkin lain lagi
ceritanya. Harga di Warung di Tobelo itu adalah akibat dari penguasaan oleh
private sector, oleh karena itu warung itu harus dikuasai oleh negara,
minimal harganya harus diatur oleh negara.
Wassalam,

Nuzul Achjar

Kirim email ke