Pak Aunur, Pak BTS, dan teman-teman Referenciers, Jelas sekali pak Aunur, pendekatan Bank Dunia adalah tipikal pendekatan neoklasik. Selalu asumsinya adalah bahwa jika mobilitas modal dan tenaga kerja antar daerah (khususnya daerah miskin dan kaya atau daerah urban yang lebih makmur dan rural yang miskin) tidak terhambat maka dalam jangka panjang akan terjadi konvergensi pendapatan per kapita. Secara akademik inilah yang disebut sebagai fenomena "absolut convergence" (konvergensi absolut). Apalagi jika misalnya pendidikan, infrastruktur di daerah yang tertinggal bisa dipacu, konvergensi menjadi lebih cepat. Yang terakhir ini disebut sebagai konvergensi bersyarat (conditional convergence).
Logika penganut neoklasik sebenarnya sederhana. Jika mobilitas faktor produksi bisa bergerak bebas, maka tenaga kerja di (dalam konteks ini adalah rural) akan bergerak ke daerah urban untuk mencari upah yang lebih tinggi, sementara modal akan bergerak dari urban ke rural (asumsinya rural masih kekurangan modal). Lama kelamaan, tenaga kerja di urban kelebihan dan upah akan cenderung menurun, sementara modal dirasakan kurang karena mengalir ke daerah pedesaan. Sebaliknya, rural akan kekurangan tenaga kerja dan upah akan semakin naik dan pendapatan dari modal (marginal productivity of capital) akan turun. Dalam jangka panjang akan terjadi konvergensi pendapatan per kapita antara daerah rural dan urban. Tidak usah heran pak Aurnur, salah satu advisor laporan Bank Dunia itu adalah pentolan neoclassical economist dari London School of Economics and Political Science yang memperkenal konsep Beta dan Sigma Convergence. Rekan Eko van Parijs saya rasa mungkin senyum-senyum saja dengar cerita ini... rekan-rekan Prancis tampaknya punya cara pandag lain...mungkin lo... Pandangan neoklasik di atas bertentangan dengan pandangan Myrdal bahwa ketika daerah urban sedang tumbuh, ia akan menjaga momentum untuk tumbuh, sementara daerah rural yang tertinggal akan tetap tertinggal. Yang terjadi adalah divergensi. Wassalam, Nuzul Achjar

