Pak Mod,

Yang menarik adalah kenapa pemilihan lokasi promosinya adalah di
Frankfurt? Terlepas ada yang bersedia memberikan lahan dan fasilitas.
Mungkin Pak Mod bisa menjelaskan pangsa pasar yang dituju.

Memang Jerman ada hubungan historis dengan Papua. Dulu Papua Selatan
terutama sekitar Merauke hingga ke PNG pernah dikoloni oleh Jerman,
sehingga sewaktu Belanda membuat garis batas perbatasan itu (1875),
selain berunding dengan Inggris juga berunding dengan Jerman.

Komoditi ekspor mancanegara yang paling terkenal saat ini di Papua
adalah patung Asmat dan sari buah merah. Penjualan patung di Agats hanya
dilakukan pada minggu ke-2 bulan Oktober setiap tahun, karena memang
hanya sebatas itu kemampuan produksinya. Untuk sari buah merah, sudah
ada pabrik yang mengolah lebih lanjut di Rusia.

Untuk even wisata, saat ini sudah ada 3 even populer: Festival Asmat itu
setiap Oktober, Festival Wamena (setiap November?), dan terakhir baru
diperkenalkan: Festival Sentani. Untuk dua festival pertama, kapasitas
wisatawan sudah lebih mencukupi, dengan kata lain prasarana dan
infrastruktur yang ada tidak mampu menampung lebih banyak wisatawan yang
hanya beberapa ratus orang itu. Dengan kata lain, promosi wisata sudah
mencukupi. Entah kalau ingin diperkenalkan wahana baru, seperti Raja
Ampat, Teluk Bintuni, Lorens, dll; dengan kata lain: sangat tematik,
sehingga sudah menseleksi tipikal wisatawan. Pak Kandipi dan Motte
mudah-mudahan mau menjelaskan lebih lanjut.

Yang luar biasa sebenarnya adalah Museum Asmat, saat ini tercatat
sekurang-kurangnya ada 4 museum khusus Asmat yang tersebar di seluruh
dunia. Selain di TMII, katanya juga ada di Jerman, Minnesota, malah
katanya ada secara khusus di dalam gedung Rockefeller NY. Dulu sekitar
tahun 1960an ada anak Rockefeller yang tewas di Asmat. Promosi lewat
museum juga menarik.

Dan kembali pertanyaan khususnya untuk para ahli pemasaran, kenapa
memilih lokasi di kota kecil dekat Frankfurt, kenapa tidak seoportunis
Malaysia di dekat Louvre? Salam.

-ekadj




--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Malaysia punya kantor promosi di dekat Museum Louvre di Paris...
mereka pintar, wisatawan asing yg ke Paris sekitar 60 juta orang per
tahun, sebagian besar mengunjungi Louvre, sebagian mungkin jadi tertarik
ke Malaysia setelah melihat brosur2 dan poster2 menarik di kantor tsb
dan diyakinkan petugasnya bahwa Malaysia aman...mungkin...
>
>
>
> --- On Thu, 3/12/09, Sugiono Ronodihardjo sugion...@... wrote:
> From: Sugiono Ronodihardjo sugion...@...
> Subject: RE: [referensi] Kantor Promosi Papua di Frankfurt Jerman
> To: "[email protected]" [email protected]
> Date: Thursday, March 12, 2009, 4:51 AM
>
> Maaf kok lampiran gambarnya tidak ada ? Omong-omong Kantor tersebut
bukan untuk Promosi OPM 'kan ??!!
>
> Wassalam.
> Â
>
>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> CC: pl...@yahoogroups. com
> From: bdwia...@gmail. com
> Date: Wed, 11 Mar 2009 14:56:21 +0700
> Subject: [referensi] Kantor Promosi Papua di Frankfurt Jerman
>
> kaLau ke jerman, jangan lupa mampir ke sini,…
>
> Kantor Promosi Papua di Frankfurt Jerman
>
> SELASA, 10 MARET 2009 | 18:17 WIB
> Â
>
> JAKARTA, SELASA â€" Papua memiliki Kantor Promosi di
Frankfurt, Jerman. Juru bicara Gubernur Papua, Mathias Rafra,
mengatakan, peresmian Kantor Papua Promotion House Europe (PPHE) di
Frankfurt, Jerman, dilakukan Gubernur Barnabas Suebu pada 8 Maret 2009.
PPHE akan menjadi pusat informasi sekaligus mempromosikan Papua bagi
masyarakat Uni Eropa.
>
> Pada saat meresmikan PPHE, Kaka Bas, sapaan akrab Gubernur Barnabas
Suebu, didampingi antara lain Gubernur Provinsi Hessen Mr Boddenberg,
Wali Kota Gelnhausen Mr Stolz, Kuasa Usaha ad interim (KUAI)
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, Wajid Fauzi, Acting
Consul Konsulat Jenderal RI di Frankfurt Diddy Hermawan, dan sejumlah
staf diplomatik dari KBRI di Den Haag Belanda, serta Dr Werner F
Weiglein, sosok yang amat berperan memfasilitasi kehadiran PPHE. Â
>
> Kegiatan ini untuk kepentingan kerja sama, terutama dalam rangka
meningkatkan kerja sama di bidang promosi pariwisata, sosial-budaya,
perdagangan, dan investasi. "Sama sekali bukan untuk tujuan politik,
apalagi Jerman dan Papua memiliki sejarah khusus. Dua orang Jerman,
yaitu Ottow dan Geissler, adalah orang yang membawa keluar Papua dari
zaman primitif ke peradaban baru. Saya adalah salah satu orang di
antaranya," demikian antara lain penegasan Gubernur Suebu dalam acara
tersebut.
>
> Â
>
> Kaka Bas juga mengingatkan, pekerjaan awal yang harus segera dilakukan
pascaperesmian PPHE adalah menyiapkan berbagai informasi mengenai Papua.
"Saya berharap Papua Promotion House menjadi pusat informasi mengenai
Papua bagi masyarakat Uni Eropa," ujar Gubernur Suebu.
>
> Sementara itu, kolega Kaka Bas, Mr Boddenberg, mengatakan letak PPHE
di Kota Gelnhausen, Frankfurt, sangat strategis bagi masyarakat 27
negara yang bergabung dalam Uni Eropa.
>
> Peresmian PPHE menjadi tonggak baru upaya memperkenalkan Papua ke
dunia internasional, khususnya masyarakat Uni Eropa, yang telah dengan
cukup gencar dilakukan Dr Werner F Weiglein selama 12 tahun terakhir.
Werner, pemilik The Baliem Valley Resort di Wamena, adalah seorang warga
Jerman yang setiap tahunnya mendatangkan rata-rata 600 turis dari Jerman
dan negara-negara Eropa lainnya ke Wamena.
>
> Werner juga menyediakan salah satu ruang di rumahnya, Palais Meerhols,
sebagai kantor PPHE. Gedung seluas 270 meter persegi itu dilengkapi
berbagai fasilitas yang disiapkan secara cuma-cuma oleh Werner. Untuk
operasional harian kantor, Pemda Provinsi Papua menanggung biaya
telepon, listrik, air, dan honor staf. Â
>
> Â
>
> Di rumahnya, Werner mengoleksi lebih kurang 700 patung asal Papua yang
biasanya dipakai sebagai obyek pameran oleh berbagai pihak di Jerman,
seperti Siemens dan Deutsche Bank.
>
>
> ICHÂ
> Â
> Â
> Best Regards,
> Â
> Benedictus Dwiagus S.
> http://bdwiagus. blogspot. com
> http://bdwiagus. multiply. com



Kirim email ke