Pak Eka ysh., Karena saya bukan gubernur Papua maka saya tidak tahu mengapa pak gubernur memilih lokasi di Frankfurt... kalau dari berita yg diattach sih jelas tujuannya utk mempromosikan Papua ke masyarakat Uni-Eropa...saya tidak tahu mengapa lokasinya di Frankfurt, tempat bank sentral EU, kenapa tidak di Brussels (kantor komisi EU) atau di Strasbourg (kantor parlemen EU) yg seharusnya lebih representatif...mungkin juga simply karena disediakan tanah dan bangunan oleh pemerintah Frankfurt/Jerman (apakah betul disediakan?)...
salam.. --- On Thu, 3/12/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Kantor Promosi Papua di Frankfurt Jerman To: [email protected] Date: Thursday, March 12, 2009, 4:28 PM Pak Mod, Yang menarik adalah kenapa pemilihan lokasi promosinya adalah di Frankfurt? Terlepas ada yang bersedia memberikan lahan dan fasilitas. Mungkin Pak Mod bisa menjelaskan pangsa pasar yang dituju. Memang Jerman ada hubungan historis dengan Papua. Dulu Papua Selatan terutama sekitar Merauke hingga ke PNG pernah dikoloni oleh Jerman, sehingga sewaktu Belanda membuat garis batas perbatasan itu (1875), selain berunding dengan Inggris juga berunding dengan Jerman. Komoditi ekspor mancanegara yang paling terkenal saat ini di Papua adalah patung Asmat dan sari buah merah. Penjualan patung di Agats hanya dilakukan pada minggu ke-2 bulan Oktober setiap tahun, karena memang hanya sebatas itu kemampuan produksinya. Untuk sari buah merah, sudah ada pabrik yang mengolah lebih lanjut di Rusia. Untuk even wisata, saat ini sudah ada 3 even populer: Festival Asmat itu setiap Oktober, Festival Wamena (setiap November?), dan terakhir baru diperkenalkan: Festival Sentani. Untuk dua festival pertama, kapasitas wisatawan sudah lebih mencukupi, dengan kata lain prasarana dan infrastruktur yang ada tidak mampu menampung lebih banyak wisatawan yang hanya beberapa ratus orang itu. Dengan kata lain, promosi wisata sudah mencukupi. Entah kalau ingin diperkenalkan wahana baru, seperti Raja Ampat, Teluk Bintuni, Lorens, dll; dengan kata lain: sangat tematik, sehingga sudah menseleksi tipikal wisatawan. Pak Kandipi dan Motte mudah-mudahan mau menjelaskan lebih lanjut. Yang luar biasa sebenarnya adalah Museum Asmat, saat ini tercatat sekurang-kurangnya ada 4 museum khusus Asmat yang tersebar di seluruh dunia. Selain di TMII, katanya juga ada di Jerman, Minnesota, malah katanya ada secara khusus di dalam gedung Rockefeller NY. Dulu sekitar tahun 1960an ada anak Rockefeller yang tewas di Asmat. Promosi lewat museum juga menarik. Dan kembali pertanyaan khususnya untuk para ahli pemasaran, kenapa memilih lokasi di kota kecil dekat Frankfurt, kenapa tidak seoportunis Malaysia di dekat Louvre? Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@.. .> wrote: > > Malaysia punya kantor promosi di dekat Museum Louvre di Paris... mereka pintar, wisatawan asing yg ke Paris sekitar 60 juta orang per tahun, sebagian besar mengunjungi Louvre, sebagian mungkin jadi tertarik ke Malaysia setelah melihat brosur2 dan poster2 menarik di kantor tsb dan diyakinkan petugasnya bahwa Malaysia aman...mungkin. .. > > > > --- On Thu, 3/12/09, Sugiono Ronodihardjo sugion...@.. . wrote: > From: Sugiono Ronodihardjo sugion...@.. . > Subject: RE: [referensi] Kantor Promosi Papua di Frankfurt Jerman > To: "refere...@yahoogrou ps.com" refere...@yahoogrou ps.com > Date: Thursday, March 12, 2009, 4:51 AM > > Maaf kok lampiran gambarnya tidak ada ? Omong-omong Kantor tersebut bukan untuk Promosi OPM 'kan ??!! > > Wassalam. >  > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > CC: pl...@yahoogroups. com > From: bdwia...@gmail. com > Date: Wed, 11 Mar 2009 14:56:21 +0700 > Subject: [referensi] Kantor Promosi Papua di Frankfurt Jerman > > kaLau ke jerman, jangan lupa mampir ke sini,… > > Kantor Promosi Papua di Frankfurt Jerman > > SELASA, 10 MARET 2009 | 18:17 WIB >  > > JAKARTA, SELASA â€" Papua memiliki Kantor Promosi di Frankfurt, Jerman. Juru bicara Gubernur Papua, Mathias Rafra, mengatakan, peresmian Kantor Papua Promotion House Europe (PPHE) di Frankfurt, Jerman, dilakukan Gubernur Barnabas Suebu pada 8 Maret 2009. PPHE akan menjadi pusat informasi sekaligus mempromosikan Papua bagi masyarakat Uni Eropa. > > Pada saat meresmikan PPHE, Kaka Bas, sapaan akrab Gubernur Barnabas Suebu, didampingi antara lain Gubernur Provinsi Hessen Mr Boddenberg, Wali Kota Gelnhausen Mr Stolz, Kuasa Usaha ad interim (KUAI) Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, Wajid Fauzi, Acting Consul Konsulat Jenderal RI di Frankfurt Diddy Hermawan, dan sejumlah staf diplomatik dari KBRI di Den Haag Belanda, serta Dr Werner F Weiglein, sosok yang amat berperan memfasilitasi kehadiran PPHE.  > > Kegiatan ini untuk kepentingan kerja sama, terutama dalam rangka meningkatkan kerja sama di bidang promosi pariwisata, sosial-budaya, perdagangan, dan investasi. "Sama sekali bukan untuk tujuan politik, apalagi Jerman dan Papua memiliki sejarah khusus. Dua orang Jerman, yaitu Ottow dan Geissler, adalah orang yang membawa keluar Papua dari zaman primitif ke peradaban baru. Saya adalah salah satu orang di antaranya," demikian antara lain penegasan Gubernur Suebu dalam acara tersebut. > >  > > Kaka Bas juga mengingatkan, pekerjaan awal yang harus segera dilakukan pascaperesmian PPHE adalah menyiapkan berbagai informasi mengenai Papua. "Saya berharap Papua Promotion House menjadi pusat informasi mengenai Papua bagi masyarakat Uni Eropa," ujar Gubernur Suebu. > > Sementara itu, kolega Kaka Bas, Mr Boddenberg, mengatakan letak PPHE di Kota Gelnhausen, Frankfurt, sangat strategis bagi masyarakat 27 negara yang bergabung dalam Uni Eropa. > > Peresmian PPHE menjadi tonggak baru upaya memperkenalkan Papua ke dunia internasional, khususnya masyarakat Uni Eropa, yang telah dengan cukup gencar dilakukan Dr Werner F Weiglein selama 12 tahun terakhir. Werner, pemilik The Baliem Valley Resort di Wamena, adalah seorang warga Jerman yang setiap tahunnya mendatangkan rata-rata 600 turis dari Jerman dan negara-negara Eropa lainnya ke Wamena. > > Werner juga menyediakan salah satu ruang di rumahnya, Palais Meerhols, sebagai kantor PPHE. Gedung seluas 270 meter persegi itu dilengkapi berbagai fasilitas yang disiapkan secara cuma-cuma oleh Werner. Untuk operasional harian kantor, Pemda Provinsi Papua menanggung biaya telepon, listrik, air, dan honor staf.  > >  > > Di rumahnya, Werner mengoleksi lebih kurang 700 patung asal Papua yang biasanya dipakai sebagai obyek pameran oleh berbagai pihak di Jerman, seperti Siemens dan Deutsche Bank. > > > ICH >  >  > Best Regards, >  > Benedictus Dwiagus S. > http://bdwiagus. blogspot. com > http://bdwiagus. multiply. com

