Pak Risfan, Mbak Mila dan rekan2 milisters ysh,
 
Bisa jadi karena memang belum banyak di antara kita yag bisa/mau memperjuangkan 
pengarus-utamaan gender dari pendekatan keruangan Pak. Sama seperti banyak di 
antara kita yang belum banyak yang mau memperjuangkan hak-hak anak dari 
pendekatan keruangan. 
 
Mungkin hal ini disebabkan karena banyak di antara kita yang belum menyadari 
bahwa "setiap manusia adalah unik (unique), sama uniknya seperti setiap manusia 
lainnya". Akibatnya, kita kemudian cenderung mengeneralisasi dan melupakan 
keunikan dari setiap jenis, baik dari sisi gender, usia, atau kelengkapan 
anggota tubuh dan/atau indera.
 
Padahal, kalau pengeneralisasian tersebut tetap dilakukan dengan memperhatikan 
perbedaan kategori-kategori yang ada minimal dari ketiga variabel di atas, saya 
yakin akan terdapat perbedaan kebutuhan di antaranya. Sehingga dari sisi 
pendekatan keruangan, apabila kita memiliki suatu ruang (kota atau bagian 
wilyah kota), yang pemanfaatannya didominasi oleh suatu kategori tertentu maka 
kebutuhan terhadap fasilitas2 yg spesifik terhadap kebutuhan dari kategori 
tadi, akan berbeda dengan kebutuhan ruang lain yang didominasi oleh kategori 
lainnya.
 
Apalagi kalau upaya pengarus-utamaan tadi dilakukan juga dengan didorong oleh 
suatu tindakan-tindakan yang bersifat afirmatif, hal itu bisa lebih memperbesar 
peluang-peluang terjadinya suatu upaya pengarus-utamaan suatu kategori tertentu 
di dalam pendekatan perencanaan ruang.
 
Mungkin karena hal seperti ini, maka di banyak negara maju muncul pendekatan 
"social town planning" yang banyak membahas isu-isu gender, anak, orang tua, 
dan orang-orang yang cacat di dalam perencanaan kota, terutama di dalam 
penyediaan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkannya, karena memang 
golongan-golongan ini memiliki kebutuhan fasilitas yang berbeda dengan golongan 
"laki-laki dewasa dan normal (tidak memiliki kecacatan)".
 
Tapi mohon maaf saya tidak memiliki banyak pengetahuan di dalam hal ini, 
sehingga tidak bisa banyak memberikan contoh kebutuhan-kebutuhannya. Tapi saya 
yakin kita bisa pikirkan hal itu dari suatu hal yang sifatnya sederhana. Untuk 
perempuan, misalnya tadi ketika kita memiliki perencanaan ruang suatu kawasan 
industri (terutama apabila kawasan industri tersebut direncanakan untuk 
aktivitas industri manufaktur/aneka industri yang biasanya lebih menyukai 
pekerja perempuan daripada pekerja laki-laki), sudahkan kita memikirkan 
fasilitas-fasilitas apa yang dibutuhkan oleh para pekerjanya (yang aka 
didominasi oleh perempuan) baik untuk beraktivitas di dalamnya ataupun untuk 
bertransportasi datang dan pergi ke tempat tinggalnya. Apalagi kalau diingat 
bahwa biasanya aktivitas industri memiliki dua sampai tiga shift pekerja. Jadi 
kalau pulang malam, apakah sudah ada dilakukan sediaan fasilitas yang mampu 
mereduksi terjadinya gangguan keamanan atau gangguan
 kesehatan terhadap mereka para pengguna kawasan tsb.
 
Untuk kawasan-kawasan permukiman baru yang biasanya banyak memiliki penduduk 
(baca: pengguna kawasan) yang berusia anak. Sudahkan kita melakukan perencanaan 
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dari altivitas anak-anak tsb. Atau 
sederhananya, apakah memang kita akan terus membiarkan anak-anak kita bermain 
dan beraktivitas sehari-hari di jalan, walaupun jalan tersebut merupakan jalan 
lingkungan? Apalagi di lingkungan-lingakungan padat penduduk seperti kawasan 
Kampung Melayu atau Jelambar di Jalarta, saya bisa memahami kalau anak-anak 
kecil berusia 5 atau 6 tahun dengan mudah mengumpat dengan kata-kata "sompret 
lo...", atau bahkan "nge***t lo...." (mohon maaf), karena mereka biasa 
mendengar orang-orang tua/remaja di sekitar tempatnya bermain mengumpat dengan 
kata-kata tersebut.. Kenapa? karena tempat mereka bermain dan beraktivitas ya 
di jalan raya, tempat yang sama di mana orang-orang dewasa juga beraktivitas...
 
Sekali lagi, mohon maaf ,saya bukan orang yang mendalami hal ini secara 
spesifik. Tetapi, saya yakin bidang ini perlu penggalian dan elaborasi lebih 
dalam untuk bisa menemukan cara terbaik dalam melakukan antisipasi bagi 
permasalahan-permasalahannya.
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 
Salam,
 
Fadjar
 


--- On Wed, 5/20/09, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. 
he.. he..)
To: [email protected]
Date: Wednesday, May 20, 2009, 3:27 AM








Kalau gender diartikan sebagai "laki-perempuan" , apa sih kebutuhan atau ciri 
khas ruang bagi perempuan, dalam skala planning (site, urban, region)?
Di program yang saya bekerja ada ahli gender, tampaknya yang nonjol masih 
perjuangan representasi perempuan dalam proses perencanaan. Ada yang ke 
substansi, tapi soal ekononomi, kesehatan, pendidikan. Tapi ke substansi 
"ruang" kok belum dia perjuangkan, atau memang belum jadi agenda aktivis gender 
memang?

Salam,
R Munir






From: mila karmila <alim_...@yahoo. com>
Sent: Tuesday, May 19, 2009 10:04 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. 
he.. he..)











Nimbrung yaa... Pak Fajar, nama saya Mila..., saya tertarik dengan tema yang 
disampaikan oleh Pak Fajar tentang kebutuhan perempuan di kawasan industri atau 
dimanapun yang selama ini tidak memperhatikan kebutuhan yang berbeda antara 
laki-laki dan perempuan alias netral gender, malah mungkin mengarah pada bias 
gender. Selama ini saya berharap ada temen-temen yang mendiskusikan Gender in 
Planning dan baru sekarang ada yang membicarakannya. Perencanaan yang selama 
ini dilakukan mungkin skali netral gender, kiranya siapa yang bisa memastikan 
bahwa kebutuhan dan aspirasi kaum perempuan juga terakomodasi di dalam 
perencanaan yang slama ini dibuat....?? ?

Salam
Mila

--- On Tue, 5/19/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> 
wrote:


From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. 
he.. he..)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, May 19, 2009, 9:52 AM









Wah Nit....
Mungkin Nita perlu bikin rubrik Gender in Planning dalam majalahnya nih...
Kita banyak punya "kawasan perempuan" lho di kota-kota kita...
Setidaknya banyak kawasan yg berperan jadi kawasan industri memiliki proporsi 
perempuannya yang lebih besar di dalam struktur "pengguna kawasan"-nya. ..
Ya karena banyak industri kita yg lebih suka mempekerjakan perempuan aja, 
sebabnya..
 
Kawasan lain adalah kawasan perdagangan besar, biasanya juga para pekerja 
pelayanannya lebih banyak yang bergender perempuan...
 
Tapi pertanyaannya, apakah perencanaan kawasan tersebut sudah mempertimbangkan 
kebutuhan-kebutuhan khusus dari para pengguna kawasan tsb yg kebanyakan 
perempuan itu.. Apalagi aktivitas mereka seringkali berlangsung hingga larut 
malam sehingga terpaksa para penggunanya baru bisa keluar dari aktivitasnya di 
malam kelam, he... he... he...
 
Sederhananya, bisa kita gunakan pertanyaan "apakah sudah tersedia tempat 
menunggu angkutan umum yang terang dan cukup nyaman di kawasan spt itu... 
Apakah sudah tersedia fasilitas pengamanan (pos polisi atau sekedar tombol 
pemanggil bantuan keamanan bagi mereka/perempuan yg mendapat gangguan keamanan 
waktu berjalan atau menunggu kendaraan umum), apakah tersedia fasilitas 
pelayanan kesehatan reproduksi atau kesehatan ibu dan anak di kawasan tsb",
 
Bisa juga pertanyaan-pertanya an yg lain dilontarkan untuk mengantisipasi 
kebutuhan-kebutuhan perempuan yang lebih spesifik daripada laki-laki...
 
Kadang hal ini menjadi pemikiran saya ketika melihat banyak praktek-praktek 
perencanaan yang tanpa sadar menggunakan asumsi bahwa objek pengguna kawasan yg 
direncanakannya adalah "laki-laki dewasa normal"... Jadi, perempuan, anak-anak, 
orang tua, danmereka yang kurang beruntung dengan adanya ketunaan 
(handicap)-nya sering kali tidak terwakili aspirasi dan kebutuhannya. .
 
He... he... he... jadi serius nih Nit... Seperti biasanya aku yg terlampau 
serius ha... ha...ha...
 
Tapi aku yakin hal ini sangat menarik untuk didiskusikan untuk lebih 
meningkatkan pemahaman dan pengamalan kita dalam "Berperspektif Gender dalam 
Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota", he... he... he...
 
Kali-kali aja Nita mau jadi salah satu pionir di situ dengan membuat sebuah 
kolom/rubrik di majalahnya.. .
 
Piss ya Nit...
 
Salam untuk Nita dan juga untuk semua rekans,
 
Fadjar Undip
 
 


--- On Tue, 5/19/09, ariny...@yahoo. com <ariny...@yahoo. com> wrote:


From: ariny...@yahoo. com <ariny...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. 
he.. he..)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, May 19, 2009, 9:13 PM




eFHa, ya maap... Tidak brmaksud bgitu. Hehehe... Kebetulan yg tadi nyapa baru 
para bapak.... 
Ada info tambahan???

BTW prespektif gender dalam prenc wil&kot, bagaimana ya hubungannya? Kok saya 
lbh setuju melihat dalam prespektif umur. Karena, misalnya dr segi keamanan, 
kebutuhan anak2 manula berbeda. Sementara kalau laki perempuan, semua sama2 
perlu.


Thx
nita


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From:
Date: Tue, 19 May 2009 04:15:02 -0700 (PDT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. 
he.. he..)








Lho kok yang disapa cuma yang Bapak-bapak aja nih Nit...
Yang Ibu-ibu kok nggak Nita sapa... Wah... ini bisa digolongkan nggak 
berspektif gender nih Nit, he... he... he... Bisa "nesu-nesu" nanti tuh para 
Ibu-ibu di milist ini... Konon katanya kita sudah harus berperspektif gender, 
termasuk dalam pembangunan wilayah dan kota, he... he.. he...
 
Piss ya Nit....
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 


--- On Tue, 5/19/09, ariny...@yahoo. com <ariny...@yahoo. com> wrote:


From: ariny...@yahoo. com <ariny...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] information request
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, May 19, 2009, 1:55 PM




Bapak2 skalian, oknum ini aslinya bnama arini yunita, pl 87.. Thx ben dikenalin.

Plis, ada yg tahu soal renc. Waterfront jakarta?

Thx for your attention.

Salam,
Nita alias arini yunita

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: beherma...@yahoo. com
Date: Tue, 19 May 2009 06:34:16 +0000
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] information request



Oknum nita dimaksud memang arini yunita pl 87,teman angkatan sy yg paling 
terkenal.beliau redaktur majalah properti,kalo ndak salah he2 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: "Andi Oetomo"
Date: Tue, 19 May 2009 13:17:35 +0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: RE: [referensi] information request





I don’t think so pak Denni, yang 77 kan Anita Sitawati….
Saya tidak familiar dng Arinyta, mungkin angkatan 87-an… (tapi itu namanya 
Arinita kalau gak salah he..he..)
 
Salam,
AO
 


From: refere...@yahoogrou pscom [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of redi...@cbn. net.id
Sent: Tuesday, May 19, 2009 12:35 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] information request
 


Kl boleh tau Nita mana ya ... Apkh Nita 77 ...
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT



From: arinynta
Date: Tue, 19 May 2009 10:19:07 +0800 (SGT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: [referensi] information request

Dear bapak & ibu referensier,
ada yang (pernah & sedang) terlibat dengan rencana jakarta waterfront 
(reklamasi pantura Jakarta)?
saya sangat perlu bahan2 tntang itu.

thx u

salam,
nita
 



Get your new Email address! 
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!






No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.329 / Virus Database: 270.12.34/2121 - Release Date: 05/18/09 
17:55:00



















      

Kirim email ke