Terima kasih Mas Efha ysh, Kalau begitu saya juga nitip untuk warga miskin (tuna lahan), juga pelaku sektor informal yang tak mampu sewa ruko dan terpaksa buka usaha rumahan. Karena bidang permukiman membina, bidang KUKM membina, tapi bidang Taru cenderung melarang/ mengusir.
Salam, R Munir -----Original Message----- From: [email protected] Sent: Wednesday, May 20, 2009 4:54 AM To: [email protected] Subject: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang Pak Risfan, Mbak Mila dan rekan2 milisters ysh, Bisa jadi karena memang belum banyak di antara kita yag bisa/mau memperjuangkan pengarus-utamaan gender dari pendekatan keruangan Pak. Sama seperti banyak di antara kita yang belum banyak yang mau memperjuangkan hak-hak anak dari pendekatan keruangan. Mungkin hal ini disebabkan karena banyak di antara kita yang belum menyadari bahwa "setiap manusia adalah unik (unique), sama uniknya seperti setiap manusia lainnya". Akibatnya, kita kemudian cenderung mengeneralisasi dan melupakan keunikan dari setiap jenis, baik dari sisi gender, usia, atau kelengkapan anggota tubuh dan/atau indera. Padahal, kalau pengeneralisasian tersebut tetap dilakukan dengan memperhatikan perbedaan kategori-kategori yang ada minimal dari ketiga variabel di atas, saya yakin akan terdapat perbedaan kebutuhan di antaranya. Sehingga dari sisi pendekatan keruangan, apabila kita memiliki suatu ruang (kota atau bagian wilyah kota), yang pemanfaatannya didominasi oleh suatu kategori tertentu maka kebutuhan terhadap fasilitas2 yg spesifik terhadap kebutuhan dari kategori tadi, akan berbeda dengan kebutuhan ruang lain yang didominasi oleh kategori lainnya. Apalagi kalau upaya pengarus-utamaan tadi dilakukan juga dengan didorong oleh suatu tindakan-tindakan yang bersifat afirmatif, hal itu bisa lebih memperbesar peluang-peluang terjadinya suatu upaya pengarus-utamaan suatu kategori tertentu di dalam pendekatan perencanaan ruang. Mungkin karena hal seperti ini, maka di banyak negara maju muncul pendekatan "social town planning" yang banyak membahas isu-isu gender, anak, orang tua, dan orang-orang yang cacat di dalam perencanaan kota, terutama di dalam penyediaan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkannya, karena memang golongan-golongan ini memiliki kebutuhan fasilitas yang berbeda dengan golongan "laki-laki dewasa dan normal (tidak memiliki kecacatan)". Tapi mohon maaf saya tidak memiliki banyak pengetahuan di dalam hal ini, sehingga tidak bisa banyak memberikan contoh kebutuhan-kebutuhannya. Tapi saya yakin kita bisa pikirkan hal itu dari suatu hal yang sifatnya sederhana. Untuk perempuan, misalnya tadi ketika kita memiliki perencanaan ruang suatu kawasan industri (terutama apabila kawasan industri tersebut direncanakan untuk aktivitas industri manufaktur/aneka industri yang biasanya lebih menyukai pekerja perempuan daripada pekerja laki-laki), sudahkan kita memikirkan fasilitas-fasilitas apa yang dibutuhkan oleh para pekerjanya (yang aka didominasi oleh perempuan) baik untuk beraktivitas di dalamnya ataupun untuk bertransportasi datang dan pergi ke tempat tinggalnya. Apalagi kalau diingat bahwa biasanya aktivitas industri memiliki dua sampai tiga shift pekerja. Jadi kalau pulang malam, apakah sudah ada dilakukan sediaan fasilitas yang mampu mereduksi terjadinya gangguan keamanan atau gangguan kesehatan terhadap mereka para pengguna kawasan tsb. Untuk kawasan-kawasan permukiman baru yang biasanya banyak memiliki penduduk (baca: pengguna kawasan) yang berusia anak. Sudahkan kita melakukan perencanaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dari altivitas anak-anak tsb. Atau sederhananya, apakah memang kita akan terus membiarkan anak-anak kita bermain dan beraktivitas sehari-hari di jalan, walaupun jalan tersebut merupakan jalan lingkungan? Apalagi di lingkungan-lingakungan padat penduduk seperti kawasan Kampung Melayu atau Jelambar di Jalarta, saya bisa memahami kalau anak-anak kecil berusia 5 atau 6 tahun dengan mudah mengumpat dengan kata-kata "sompret lo...", atau bahkan "nge***t lo...." (mohon maaf), karena mereka biasa mendengar orang-orang tua/remaja di sekitar tempatnya bermain mengumpat dengan kata-kata tersebut.. Kenapa? karena tempat mereka bermain dan beraktivitas ya di jalan raya, tempat yang sama di mana orang-orang dewasa juga beraktivitas... Sekali lagi, mohon maaf ,saya bukan orang yang mendalami hal ini secara spesifik. Tetapi, saya yakin bidang ini perlu penggalian dan elaborasi lebih dalam untuk bisa menemukan cara terbaik dalam melakukan antisipasi bagi permasalahan-permasalahannya. Salam, Fadjar Undip Salam, Fadjar --- On Wed, 5/20/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: RE: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. he.. he..) To: [email protected] Date: Wednesday, May 20, 2009, 3:27 AM Kalau gender diartikan sebagai "laki-perempuan" , apa sih kebutuhan atau ciri khas ruang bagi perempuan, dalam skala planning (site, urban, region)? Di program yang saya bekerja ada ahli gender, tampaknya yang nonjol masih perjuangan representasi perempuan dalam proses perencanaan. Ada yang ke substansi, tapi soal ekononomi, kesehatan, pendidikan. Tapi ke substansi "ruang" kok belum dia perjuangkan, atau memang belum jadi agenda aktivis gender memang? Salam, R Munir From: mila karmila <alim_...@yahoo. com> Sent: Tuesday, May 19, 2009 10:04 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. he.. he..) Nimbrung yaa... Pak Fajar, nama saya Mila..., saya tertarik dengan tema yang disampaikan oleh Pak Fajar tentang kebutuhan perempuan di kawasan industri atau dimanapun yang selama ini tidak memperhatikan kebutuhan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan alias netral gender, malah mungkin mengarah pada bias gender. Selama ini saya berharap ada temen-temen yang mendiskusikan Gender in Planning dan baru sekarang ada yang membicarakannya. Perencanaan yang selama ini dilakukan mungkin skali netral gender, kiranya siapa yang bisa memastikan bahwa kebutuhan dan aspirasi kaum perempuan juga terakomodasi di dalam perencanaan yang slama ini dibuat....?? ? Salam Mila --- On Tue, 5/19/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> wrote: From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. he.. he..) To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, May 19, 2009, 9:52 AM Wah Nit.... Mungkin Nita perlu bikin rubrik Gender in Planning dalam majalahnya nih... Kita banyak punya "kawasan perempuan" lho di kota-kota kita... Setidaknya banyak kawasan yg berperan jadi kawasan industri memiliki proporsi perempuannya yang lebih besar di dalam struktur "pengguna kawasan"-nya. .. Ya karena banyak industri kita yg lebih suka mempekerjakan perempuan aja, sebabnya.. Kawasan lain adalah kawasan perdagangan besar, biasanya juga para pekerja pelayanannya lebih banyak yang bergender perempuan... Tapi pertanyaannya, apakah perencanaan kawasan tersebut sudah mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan khusus dari para pengguna kawasan tsb yg kebanyakan perempuan itu.. Apalagi aktivitas mereka seringkali berlangsung hingga larut malam sehingga terpaksa para penggunanya baru bisa keluar dari aktivitasnya di malam kelam, he... he... he... Sederhananya, bisa kita gunakan pertanyaan "apakah sudah tersedia tempat menunggu angkutan umum yang terang dan cukup nyaman di kawasan spt itu... Apakah sudah tersedia fasilitas pengamanan (pos polisi atau sekedar tombol pemanggil bantuan keamanan bagi mereka/perempuan yg mendapat gangguan keamanan waktu berjalan atau menunggu kendaraan umum), apakah tersedia fasilitas pelayanan kesehatan reproduksi atau kesehatan ibu dan anak di kawasan tsb", Bisa juga pertanyaan-pertanya an yg lain dilontarkan untuk mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan perempuan yang lebih spesifik daripada laki-laki... Kadang hal ini menjadi pemikiran saya ketika melihat banyak praktek-praktek perencanaan yang tanpa sadar menggunakan asumsi bahwa objek pengguna kawasan yg direncanakannya adalah "laki-laki dewasa normal"... Jadi, perempuan, anak-anak, orang tua, danmereka yang kurang beruntung dengan adanya ketunaan (handicap)-nya sering kali tidak terwakili aspirasi dan kebutuhannya. . He... he... he... jadi serius nih Nit... Seperti biasanya aku yg terlampau serius ha... ha...ha... Tapi aku yakin hal ini sangat menarik untuk didiskusikan untuk lebih meningkatkan pemahaman dan pengamalan kita dalam "Berperspektif Gender dalam Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota", he... he... he... Kali-kali aja Nita mau jadi salah satu pionir di situ dengan membuat sebuah kolom/rubrik di majalahnya.. . Piss ya Nit... Salam untuk Nita dan juga untuk semua rekans, Fadjar Undip --- On Tue, 5/19/09, ariny...@yahoo. com <ariny...@yahoo. com> wrote: From: ariny...@yahoo. com <ariny...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. he.. he..) To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, May 19, 2009, 9:13 PM eFHa, ya maap... Tidak brmaksud bgitu. Hehehe... Kebetulan yg tadi nyapa baru para bapak.... Ada info tambahan??? BTW prespektif gender dalam prenc wil&kot, bagaimana ya hubungannya? Kok saya lbh setuju melihat dalam prespektif umur. Karena, misalnya dr segi keamanan, kebutuhan anak2 manula berbeda. Sementara kalau laki perempuan, semua sama2 perlu. Thx nita Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: Date: Tue, 19 May 2009 04:15:02 -0700 (PDT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] information request (Nggak berperspektif gender, he.. he.. he..) Lho kok yang disapa cuma yang Bapak-bapak aja nih Nit... Yang Ibu-ibu kok nggak Nita sapa... Wah... ini bisa digolongkan nggak berspektif gender nih Nit, he... he... he... Bisa "nesu-nesu" nanti tuh para Ibu-ibu di milist ini... Konon katanya kita sudah harus berperspektif gender, termasuk dalam pembangunan wilayah dan kota, he... he.. he... Piss ya Nit.... Salam, Fadjar Undip --- On Tue, 5/19/09, ariny...@yahoo. com <ariny...@yahoo. com> wrote: From: ariny...@yahoo. com <ariny...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] information request To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, May 19, 2009, 1:55 PM Bapak2 skalian, oknum ini aslinya bnama arini yunita, pl 87.. Thx ben dikenalin. Plis, ada yg tahu soal renc. Waterfront jakarta? Thx for your attention. Salam, Nita alias arini yunita Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: beherma...@yahoo. com Date: Tue, 19 May 2009 06:34:16 +0000 To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] information request Oknum nita dimaksud memang arini yunita pl 87,teman angkatan sy yg paling terkenal.beliau redaktur majalah properti,kalo ndak salah he2 Powered by Telkomsel BlackBerry® From: "Andi Oetomo" Date: Tue, 19 May 2009 13:17:35 +0700 To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: RE: [referensi] information request I don’t think so pak Denni, yang 77 kan Anita Sitawati…. Saya tidak familiar dng Arinyta, mungkin angkatan 87-an… (tapi itu namanya Arinita kalau gak salah he..he..) Salam, AO From: refere...@yahoogrou pscom [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of redi...@cbn. net.id Sent: Tuesday, May 19, 2009 12:35 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] information request Kl boleh tau Nita mana ya ... Apkh Nita 77 ... Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: arinynta Date: Tue, 19 May 2009 10:19:07 +0800 (SGT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: [referensi] information request Dear bapak & ibu referensier, ada yang (pernah & sedang) terlibat dengan rencana jakarta waterfront (reklamasi pantura Jakarta)? saya sangat perlu bahan2 tntang itu. thx u salam, nita Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! No virus found in this incoming message. Checked by AVG - www.avg.com Version: 8.5.329 / Virus Database: 270.12.34/2121 - Release Date: 05/18/09 17:55:00

