Pak Didit, menarik sekali contoh panjenengan tentang larangan melukis di atas 
lukisan masterpice Affandi atau yang lain. Saya kira itu adalah salah satu 
contoh konkrit bagaimana menghormati masa lalu dengan konteksnya, termasuk 
menjaga maknanya pada masa selanjutnya. Artinya, ada tindakan jelas dari sikap 
yang tegas bahwa makna karya Affandi memang ada kaitan dengan konteks masa 
lalu, tetapi pada masa kini juga masih dihormati karena memang maknanya juga 
masih relevan dalam kaitan dengan lingkaran konteks yang lebih abadi.

Tindakan kedua memang bagaimana kita bisa belajar dari masa lalu dan memetik 
mutiara warisan nenek-moyang dari masa lalu untuk kehidupan kini. Minimal 
maksudnya adalah bahwa ada referensi dari masa lalu yang lahir dari bumi 
Pertiwi dan layak serta patut dimanfaatkan....sebelum kita menengok dari 
khasanah lain. Ini bukan sekedar persoalan "fanatisme" melainkan sebuah proses 
mendudukkan sudut pandang yang sempga bisa lebih bermanfaat. Minimal kita 
berusaha menghormati masa lalu sebagai hal yang punya makna bagi kehidupan kita 
dan anak cucu di masa kini dan selanjutnya....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 5/31/09, suhadi hadiwinoto <[email protected]> wrote:

From: suhadi hadiwinoto <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] warna budaya kita
To: [email protected]
Cc: [email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], "Budhy Tjahyati" 
<[email protected]>
Date: Sunday, May 31, 2009, 1:59 PM











    
            
            


      
      yth Bapak-Ibu para pakar di milis Referensi.
Perkenalkan, sebetulnya saya sudah lama mengikuti/membaca berbagai bahasan di 
milis ini tetapi sebagai pemerhati saja. Kali ini saya agak tergelitik untuk 
urun rembug sebagai pendatang baru yang awam. Mohon maaf kalau mengganggu 
perbincangan disini.Saya kira kalau kita ingin melestarikan budaya dan 
melestarikan arsitektur kita, tidak berarti bahwa kita semua harus kembali 
memakai bentuk borobudur, prambanan, rumah joglo, rumah bagonjong, atau gaya 
arsitektur pada abad "keemasan" suatu daerah. Hidup dan budaya kita selalu 
berkembang, sehingga tidak mungkin dan tidak boleh ekspresi arsitektur di suatu 
daerah itu dibekukan pada masa tertentu.

Yang penting adalah bahwa kita harus meneliti dan memperlajari apa yang kita 
dapat dari masa lalu. Kita harus memahami mengapa
 suatu bentuk terjadi/apa latar belakangnya/ mengapa itu menjadi pilihan/apa 
maknanya dalam kehidupan masyaraka/pelajaran apa yang dapat kita serap dari 
situ. Kita harus menghayati pengaruh lingkungan dan budayanya, kita harus 
menghormati nilai-nilai luhur yang dikandungnya, serta melestarikan dan 
memeliharanya agar generasi mendatang juga dapat melihat, merasakan 
kehadirannya, dan mempelajarinya untuk menyerap bagian yang relevan dengan 
kehidupan pada masa mendatang. Pusaka atau aset sejarah dari masa lalu bukan 
hanya milik kita tetapi juga milik dari berbagai generasi mendatang. Kita tidak 
boleh menggunakan sesuka hati sehingga merusak aset yang seharusnya dapat 
diteruskan kepada generasi mendatang.
Karena itu kita harus melindungi dan mengamankan berbagai aset yang sangat 
bernilai. Kita harus mencegah seorang pelukis baru melukis diatas kanvas yang 
berisi lukisan masterpiece dari Affandi atau Sudjojono. Kita tidak boleh
 membiarkan ruko dibangun diatas lahan yang telah berisi karya besar dari masa 
lalu. Kita tidak boleh maju selangkah dan menghancurkan jalan satu langkah di 
belakang kita. Disini para ahli penataan ruang harus berperan dalam mencegah 
perusakan aset sejarah dan budaya kita. Pembangunan kota tidak hanya mencakup 
besaran luas, tinggi, kepadatan dan perletakannya. Ia sangat terkait langsung 
dengan nilai kehidupan yang tak terukur (intangible) , bagaimana masyarakat 
menggunakan dan menghidupinya. Kita juga harus berusaha membawa berbagai aset 
sejarah itu untuk tampil dan berperan dalam kehidupan masa kini agar mereka 
tetap mempunyai arti dalam kehidupan nyata masyarakatnya
Kita tidak bisa memaksa semua warga Nias di Gunung Sitoli untuk membangun rumah 
dengan arsitektur tradisional seperti di Bawomataluo, hanya karena mereka 
merepresentasikan puncak arsitektur Nias pada masanya. Bahwa ada beberapa warga 
yang punya nostalgia ke masa lalu
 dan ingin membuat rumah tradisional di Gunung Sitoli itu adalah merupakan 
hak.pribadinya, tetapi memaksakan semua warga berbuat serupa juga bukan 
merupakan kebijakan yang positif. Kita dapat saja menggunakan pola, warna, dan 
ragam hias yang paling disukai. Sebaliknya, kalau kita membangun di tengah 
suatu desa tradisional dimana terdapat jajaran rumah tradisional kayu yang 
sangat serasi, tentunya kita tidak boleh tiba-tiba membangun rumah beton 
beratap datar yang merusak keserasian desa tradisional itu. Kita harus 
mengembangkan kearifan menempatkan diri, meyerasikan dengan lingkungan 
disekitar kita, membangun harmoni yang lebih luas..
Banyak sekali aset sejarah dan budaya kita yang rusak dan hilang karena langkah 
pembangunan yang sembrono, tanpa pemahaman dan pengkajian sosial budaya, hanya 
mau cepat dan gampang mengikuti standar kaku yang ditetapkan dari pusat. Banyak 
dana bantuan yang disalurkan dengan maksud baik untuk
 membantu, tetapi justru merusak aset budaya yang tak ternilai. Penataan ruang, 
peraturan lingkugan, peraturan bangunan, dan panduan penyaluran bantuan di 
kawasan bencana harus lebih cermat memperhatikan hal ini. Bagaimana menyerap 
nilai-nilai dan inti sari dari berbagai kearifan masa lalu untuk dibawa ke masa 
kini dan masa depan, itu merupakan tantangan yang perlu kita tanggapi dengan 
bijak. Pada dasarnya itu akan terkait pada bagaimana masyarakat memahami dan 
menghormati budayanya.
Demikian pula berbagai proyek revitalisasi kawasan bersejarah diharapkan lebih 
memperhatikan pengembangan kehidupan sosial budaya dan ekonomi secara nyata, 
disamping berusaha melakukan perbaikan fisik lingkungannya. Berbagai penguatan 
riil di bidang sosial budaya dan kegiatan ekonomi sering tidak tercapai (atau 
memang tidak ingin dicapai) karena alasan administrasi keproyekan yang 
sederhana. Banyak yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil guna
 dan daya guna proyek-proyek pembangunan tetapi tampaknya hal ini belum 
merupakan prioritas. Kita tidak memerlukan revolusi yang menjungkirbalikkan 
tatanan yang ada. Kita dapat meluncurkannya dengan teratur, dengan memperbaiki 
step by step program dan mekanisme yang ada.
Demikian sedikit catatan secara awam.Mohon maaf kalau menggangu perbincangan 
para pakar.Wasalam
Suhadi


--- On Sun, 5/31/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:

From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] warna budaya kita
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, May 31, 2009, 11:43 AM











 



    
      
      Pak Risfan ysh,
Mencari yang `asli' tentunya sulit, karena disebutkan telah ada akulturasi dan 
asimilasi dengan berbagai peradaban dsb. Sehingga sebenarnya pencarian 
dilakukan pada titik di saat perubahan itu mulai terjadi. Yaitu suatu titik 
puncak kejayaan pada masa itu dan telah mulai terjadi pergeseran karena 
akulturasi dan asimilasi. Saya melihat proses ini tidak seragam berlangsung di 
seluruh Indonesia. Catatan saya titik ini untuk Aceh 1917, Batak 1886, Minang 
1821, Jawa 1602, Bugis dan NTB 1904, Maluku 1512, Papua 1953. Sehingga perlu 
dinilai pembiasan dari titik itu sampai 1945 misalnya. Termasuk juga kemampuan 
resilience masing-masing adat budaya.
Pilihan mengangkat arsitektur tradisional sebagai jatidiri setempat perlu 
menimbang kondisi pada titik tersebut. Saya kurang tahu pilihan Gubernur Ismail 
mengangkat tema atap Joglo, atau Joglosemar kalau mau mengakomodasi juga 
Pajang. Atau Jatim dengan gapuranya. Kalau di Pekanbaru Riau kelihatannya sudah 
ketemu, hampir mirip dengan Bugis, namun anehnya berbeda dengan Melayu Deli. 
Yang kontradiksi misalnya Maluku, apakah mau mengangkat tema ulisiwa atau 
ulilima, walau ada siwalima yang belum kelihatan formatnya. Kalau masalah 
warna, di Papua saya selalu terbayang warna biru muda dan coklat muda; 
warna-warna orient. Di Minang hitam dan merah. Di Riau hijau dan kuning. Di 
Jawa sepertinya coklat dan … Kurang tahu untuk Kepri, sudah lama juga tak 
singgah ke sana, Pak Nuzul, tapi sepertinya warna-warna orient.
Sementara demikian dulu. Salam.
-ekadj
--- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> 
> Pak Aby, Pak Djarot & Rekan referensiers ysh,
> 
> Sambil mengingat tulisan Koentjaraningrat yang menggambarkan diagram 
> faktor-faktor yang saling pengaruh antara: MANUSIA, ALAM, TEKNOLOGI, 
> KELEMBAGAAN, NORMA kesemuanya saling mempengaruhi terciptanya BENTUK FISIK 
> (arsitektur, lingkungan binaan, seni, tradisi).
> 
> Interaksi manusia dengan alam pesisir, beda dengan alam pegunungan, karena 
> naluri mereka kan berteduh dari angin, longsong, jarak ke sumber air, dst. 
> Tentu teknologi yang mereka kuasasi juga mem/dipengaruhi oleh dirinya dan 
> alam. Ada ungkapan &quot;North sea forms Vikings&quot;.
> 
> Interaksi yang berlangsung lama membentuk kelembagaan yang disebut tradisi, 
> aturan, norma. Yang terakhir ini di/mempengaruhi religi. Sebelum datang 
> monotheisme, mereka menyembah
 gunung, batu, binatang, dan &quot;makhluk&quot; yang dianggap menentukan musim 
dan nasib hidup/matinya. Singkatnya institusi/ kelembagaan dan religi 
mempengaruhi bentuk (arsitektur, tata ruang, seni, dst).
> 
> Lha kalau BENTUK yang punya latar belakang interaksi &quot;man - alam - 
> bentuk pertanian - institusi - religi&quot; Sabu misalnya, kita hadapkan pada 
> kita yang hidup masa kini di kota ini - Bagaimana hasilnya? Apa unsur asli 
> tradisi yang bisa diambil? Atau mereka ambil. Sedang kita jarang dapat 
> informasi tentang mereka, sementara mereka tiap saat bisa nonton TV melihat 
> arsitektur rumah di perkotaan. Ini realita interaksi yang jadi pertanyaan 
> pada diri saya sendiri.
> 
> Sementara bangsa kita pernah mengalami interaksi (akulturasi, asimilasi) 
> antar suku, antar pulau, dengan Belanda tiga abad, masuknya agama-agama 
> (Hindu, Budha, Islam, Kristen, Protestan). Maka hasilnya adalah berbagai 
> corak bentuk. Lalu yang mana pula
 yang kita anggap &quot;asli&quot; tanpa membuang kearifan perjalanan bangsa 
yang telah berupaya mencari solusi atas relasi antar faktor di atas pada 
masanya masing-masing. Identitas, mungkin soal hari ini yang coba diatasi 
dengan bekal dari perjalanan panjang, bukan seperti pakai &quot;time 
machine&quot; kembali ke empat abad yang lalu. 
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> 
> 
> ----- Original Message -----
> Subject: [referensi] Re: Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
> Damaledo)
> Date: Sat, 30 May 2009 11:12:21
> From: hengky abiyoso watashi...@. ..
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> CC: pl...@yahoogroups. com
> 
> Milisters ysh, 
> Ini hanyalah pendapat saya yg awam saja ….. 
> Kegelisahan ttg redupnya arsitektur2 Â  lokal tradisional historik sangatlah 
> bisa dimengerti……   tapi sementara itu kalau kita perhatikan seperti di 
> Jepang atau dibeberapa negara Eropa
 misalnya……. Arsitektur lokal   disana masih banyak dapat kita jumpai 
sebagai heritage…. Spt kalau di jepang misalnya   adalah kuil2 dan kastil 
para shogunat….. dan di Eropa adalah gereja2, universitas dan kastil para 
raja dan pangeran…… Semua dpt terjadi selain krn kesadaran   pelestarian 
budaya yg tinggi….   bahan2
> bangunanpun   banyak yg bermutu permanen…... 
> Tetapi ttg bangunan2 baru   dinegara2 tsb…… spt menyangkut gedung2 
> perkantoran,     pusat perbelanjaan serta bangunan2 fasilitas   umum…… 
> nampaknya rata2 tetap saja terbanyak memakai arsitektur modern   futuristik 
> seperti umumnya bentuk2 Â  kubus itu serta material2 modern seperti kaca, 
> aluminium dsb…..…. 
> Bangunan dgn arsitektur kuno yg kita miliki (dan masih utuh) Â  dapat dikata 
>   tak banyak lagi   jumlahnya…. Dan kalau kita perhatikan…. yg
 masih utuh utamanya krn bahan2nya   yg bersifat permanen seperti candi2 yg 
terbuat dari batu (borobudur, Prambanan, abad VIII;   pura,   dsb) …. 
Istana2 (Yogya, Solo, Cirebon, Ternate… tempat2 ibadah (gereja, masjid, pura, 
kelenteng)…. Selain bahan yg permanen.. ada jg karena   perawatannya   yg 
intensip…… bangunan2 yg kini musnah dan atau terpendam boleh jadi krn 
sebab2 spt. bencana alam, peperangan atau pelapukan (Trowulan, Banten. 
Muarojambi dsb)…... 
> Kalau kita perhatikan……. Bangunan2 arsitektur tradisional   kita yg 
> bernilai eksotik banyak memakai atap alang2 atau ijuk (Bali, NTT, Papua dsb.) 
> ….. dan beserta bagian2 atap lainnya spt   blandar, kaso dan reng……   
> jenis material2   tsb sangatlah   mudah terbakar…… atau atap   dari 
> ilalang setiap setengah tahun atau setahun sudah mulai lapuk dan perlu 
> diganti…… ini tentu
 merepotkan management perawatan bangunan….…   
> Upaya melestarikan arsitektur lokal saya kira   perlu disertai visi ttg 
> modernisasi   bahan bangunan… katakan misalnya ttg perlunya dibuat desain 
>   atap   genteng bertekstur serta berwarna mirip seperti alang2 
> misalnya…… tetapi mutu keawetannya agar   dibuat permanen……   jadi 
> arsitek masih dpt   memunculkan aspek tradisional pada gaya bangunan spt 
> dengan memunculkan   gaya atap alang2 misalnya…….dgn begitu keinginan utk
> melestarikan arsitektur etnik lokal dapat   sangat terbantu…… setidaknya 
> itu dapat dipergunakan pada arsitektur tempat2 ibadah, museum, universitas, 
> kantor pemda atau tempat 2 umum seperti terminal, bandara dsb….…..   
> selain juga arsitektur kontemporerpun dapat memanfaatkannya juga (Pizza Hut 
> dsb.)……... perkara bangunan2 kantor dan bisnis lainnya memakai
 arsitektur modern. universal.. biarlah saja... toh diseluruh dunia 
kecenderungannya juga demikian.... ... yg penting janganlah otoritas perizinan 
kota hari gene meluluskan arsitektur2 barat kuno seperti gaya romawi utk 
didirikan disini...... ... ini bisa membikin perut mual....... 
> 
> Kita mungkin   tak banyak dapat   ‘melestarikan’   heritage kita….. 
> tapi   akan sgt baik   kalau kita dpt banyak melakukan ‘rekonstruksi’ 
> arsitektur lokal yg gawat keberadaannya utk selanjutnya melestarikan 
> katakanlah melalui arsitektur neo tradisional misalnya………. 
> Biarlah kita tidak harus   sama dgn negara2 lain yg kaya dgn heritage   itu 
> dimana mereka dpt   terus melestarikannya…… yg penting biarpun terlambat 
> pokoknya kita asalkan msh mampu memunculkan juga gaya arsitektur tradisional 
> kita…… dgn strategi memodernisasikan bahan2 bangunan yg mudah lapuk/ mudah
   terbakar   misalnya………. 
> Sebuah kelenteng kuno dipojok pasar Tn. Abang Jkt pernah terbakar... lalu 
> direkonstruksi, rangka atapnya memakai bahan besi dan gentengnya permanen 
> pula..... bentuk visualnya yg kuno bisa nampak persis seperti keadaan 
> sebelumnya.. ...... 
> Â  
> Salam,


 

      


         
        
        




      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke