Dear Referensiers, Pengembangan rusun bisa jadi tidak berguna,
bila tidak disertai program pembangunan keluarga sejahtera. Satu rumah untuk satu keluarga <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/92> . Satu rumah dengan 2 kamar untuk pasutri dengan 1 anak, satu rumah dengan 3 kamar untuk pasutri dengan 2 anak, demikian seterusnya. Untuk jomblo, tipe studio saja. Jadi kita tidak menghitung tipe dan ukuran, karena rusun dibangun dengan budaya urban. Sehingga perlu program pengaturan dan penertiban. Demikian sedikit saran. -ekadj --- In [email protected], isoedrad...@... wrote: > > Yaitulah pak Koes, yg dimukimkan bukan culture sbgmana dipesankan pak Suhadi, semata - mata perhitungan ekonomi, tanpa secara cermat implikasi dr capasitas masyarakat kumuhnya. Jd nanti yg terjadi adalah siapa yg mampu itu yg menghuni. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: muhammad koeswadi m_koesw...@... > > Date: Sun, 7 Jun 2009 03:13:29 > To: [email protected] > Subject: Re: [referensi] Rusun, ruang dan budaya > > > Pro Referenser > > Setuju kang Risfan. Sekarang mulai rame2 mendirikan rusun sederhana (wa/mi) yang sebagian di antaranya ditempatkan pada lahan ex kumuh ataupun ex lahan pemda. Targetnya penyediaan hunian dan kalo bisa mengurangi suasana kumuh...Ada hal penting dan sulit (saat ini) teratasi: yaitu hal keadilan hak, menjamin seluas2nya bagi ex penghuni kumuh untuk memperoleh kesempatan menghuni/memiliki rusun tersebut. Sering kali banyak yang tidak kebagian dari awal. Penghuni dan atau pemiliknya bertukar sedari awal. Mereka ujungnya pada pindah ke lokasi kumuh lainnya... Jadilah rusun bertambah, kumuhnya pindah. Adakah mekanisme "mengawasi hak penghunian ataupun pemilikan" yang dikhususkan, diprioritaskan, didisain dan ditawarkan sesuai kemampuan mereka. Barulah sisanya dilepas ke masyarakat umum. Di Forkim hal ini masih terus didalami untuk mendapatkan cara praktis. Di Kuala Lumpur, misalnya di sekitar Ong Tai Kim ataupun Idaman Komplek, program rusun sederhana > terus berlangsung, dan area kumuhnya menyusut secara nyata (hampir habis). Penghuninya dari berbagai latar belakang budaya (mayoritas: Melayu, Cina, India) dan sisanya budaya Timur Tengah. Mereka bisa saling menyesuaikan, termasuk cara menjemur, ngasuh anak, menghargai hak publik dst. > Salam. MK > > --- On Sun, 7/6/09, Risfan M risf...@... wrote: > > > From: Risfan M risf...@... > Subject: [referensi] Rusun, ruang dan budaya > To: "[email protected]" [email protected] > Date: Sunday, 7 June, 2009, 7:56 AM > > Dear referesiers ysh, > > Bicara budaya jadi ingan rumah susun (rusun). Dua puluhan tahun lalu saat rusun dikenalkan, kampanye pola hidup di lingkungan baru itu banyak didiskusikan. Sampai ada film "Cintaku di Rumah Susun" (Eva Arnaz?). Sekarang saat banyak dibangun justru tak ada bahasan untuk itu. > Rusun apalagi dengan target 1000 tower, tentu kalau terbangun 1/3 nya saja jadi fenomena besar di perkotaan. Masalah prasarana, terutama air, masalah ruang terbuka, dan bangkitan lalu-lintas akibat konsentrasi penduduk tersebut. > Dari segi kehidupan komunitas warganya, tentu timbul persoalan dan romantikanya sendiri. > Rusuna dengan ukuran 21 m2 pada satu tower yang memuat lebih dari seratus unit, merupakan perkampungan padat, yang membutuhkan pola hidup dan kedisiplinan tertentu, dalam menjaga kebersihan, menjaga diri tak mengganggu tetangga, saling tenggang rasa. Soal buangan sampah, jemuran, suara musik dan teriakan anak-anak - adalah hiruk pikuk yang sudah terbayangkan dari rusuna yang ada. Juga pengelolaan ruang bersama di lantai dasar. > > Memang diskusi tata ruang biasanya terbatas konsepsi rencana, standar dari pemerintah dan peraturan perundangan, tapi fenomena kehidupan atau budaya konemporer perkotaan seperti ini mungkin perlu dilirik pula. > > Salam, > Risfan Munir >

