Bung Eka, untuk rusun sederhana jangan dibayangkan seperti kita. Mereka itu 
umumnya anaknya banyak, lebih dari 3, sementara kamarnya cuma 1. Pernah saya 
survey, malam hari sekitar jam 8-9. Saya lihat banyak anak-anaknya yang masih 
pelajar berada di luar rumah. Saya tanya mengapa koq nggak belajar? Jam segini 
koq masih di luar?. Jawabnya :"Bapak dan emak lagi di rumah, kita disuruh 
tunggu di luar dulu".
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Sun, 6/7/09, ffekadj <[email protected]> wrote:


From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya
To: [email protected]
Date: Sunday, June 7, 2009, 2:47 PM









Dear Referensiers,
Pengembangan rusun bisa jadi tidak berguna,
bila tidak disertai program pembangunan keluarga sejahtera.
Satu rumah untuk satu keluarga.
Satu rumah dengan 2 kamar untuk pasutri dengan 1 anak,
satu rumah dengan 3 kamar untuk pasutri dengan 2 anak,
demikian seterusnya.
Untuk jomblo, tipe studio saja.
Jadi kita tidak menghitung tipe dan ukuran,
karena rusun dibangun dengan budaya urban.
Sehingga perlu program pengaturan dan penertiban.
Demikian sedikit saran.
 
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, isoedradjat@ ... wrote:
>
> Yaitulah pak Koes, yg dimukimkan bukan culture sbgmana dipesankan pak Suhadi, 
> semata - mata perhitungan ekonomi, tanpa secara cermat implikasi dr capasitas 
> masyarakat kumuhnya. Jd nanti yg terjadi adalah siapa yg mampu itu yg 
> menghuni. 
> Powered by Telkomsel BlackBerry® 
> 
> -----Original Message----- 
> From: muhammad koeswadi m_koesw...@. .. 
> 
> Date: Sun, 7 Jun 2009 03:13:29 
> To: refere...@yahoogrou ps.com 
> Subject: Re: [referensi] Rusun, ruang dan budaya 
> 
> 
> Pro Referenser 
>   
> Setuju kang Risfan. Sekarang mulai rame2 mendirikan rusun sederhana (wa/mi) 
> yang sebagian di antaranya ditempatkan pada lahan ex kumuh ataupun ex lahan 
> pemda. Targetnya penyediaan hunian dan kalo bisa mengurangi suasana 
> kumuh...Ada hal penting dan sulit (saat ini) teratasi: yaitu hal keadilan 
> hak, menjamin seluas2nya  bagi ex penghuni kumuh untuk memperoleh kesempatan 
> menghuni/memiliki rusun tersebut. Sering kali banyak yang tidak kebagian dari 
> awal. Penghuni dan atau pemiliknya bertukar sedari awal. Mereka ujungnya pada 
> pindah ke lokasi kumuh lainnya...  Jadilah rusun bertambah, kumuhnya pindah. 
> Adakah mekanisme "mengawasi hak penghunian ataupun pemilikan" yang 
> dikhususkan, diprioritaskan, didisain dan ditawarkan sesuai kemampuan mereka. 
> Barulah sisanya dilepas ke masyarakat umum. Di Forkim hal ini masih terus 
> didalami untuk mendapatkan cara praktis. Di Kuala Lumpur, misalnya di sekitar 
> Ong Tai Kim ataupun Idaman Komplek, program rusun sederhana 
> terus berlangsung, dan area kumuhnya menyusut secara nyata (hampir habis).  
> Penghuninya dari berbagai latar belakang budaya (mayoritas: Melayu, Cina, 
> India) dan sisanya budaya Timur Tengah. Mereka bisa saling menyesuaikan, 
> termasuk cara menjemur, ngasuh anak, menghargai hak publik dst. 
> Salam. MK 
> 
> --- On Sun, 7/6/09, Risfan M risf...@... wrote: 
> 
> 
> From: Risfan M risf...@... 
> Subject: [referensi] Rusun, ruang dan budaya 
> To: "refere...@yahoogro ups.com" refere...@yahoogrou ps.com 
> Date: Sunday, 7 June, 2009, 7:56 AM 
> 
> Dear referesiers ysh, 
> 
> Bicara budaya jadi ingan rumah susun (rusun). Dua puluhan tahun lalu saat 
> rusun dikenalkan, kampanye pola hidup di lingkungan baru itu banyak 
> didiskusikan. Sampai ada film &quot;Cintaku di Rumah Susun&quot; (Eva 
> Arnaz?). Sekarang saat banyak dibangun justru tak ada bahasan untuk itu. 
> Rusun apalagi dengan target 1000 tower, tentu kalau terbangun 1/3 nya saja 
> jadi fenomena besar di perkotaan. Masalah prasarana, terutama air, masalah 
> ruang terbuka, dan bangkitan lalu-lintas akibat konsentrasi penduduk 
> tersebut. 
> Dari segi kehidupan komunitas warganya, tentu timbul persoalan dan 
> romantikanya sendiri. 
> Rusuna dengan ukuran 21 m2 pada satu tower yang memuat lebih dari seratus 
> unit, merupakan perkampungan padat, yang membutuhkan pola hidup dan 
> kedisiplinan tertentu, dalam menjaga kebersihan, menjaga diri tak mengganggu 
> tetangga, saling tenggang rasa. Soal buangan sampah, jemuran, suara musik dan 
> teriakan anak-anak - adalah hiruk pikuk yang sudah terbayangkan dari rusuna 
> yang ada. Juga pengelolaan ruang bersama di lantai dasar. 
> 
> Memang diskusi tata ruang biasanya terbatas konsepsi rencana, standar dari 
> pemerintah dan peraturan perundangan, tapi fenomena kehidupan atau budaya 
> konemporer perkotaan seperti ini mungkin perlu dilirik pula. 
> 
> Salam, 
> Risfan Munir
>
















      

Kirim email ke