Bung BST and Eka ysh.
Kalau ayam/kambing  ditaruh dlm kadang kecil dikasih pakan yg cukup dan bergizi 
akan gemuk dan sehat, tapi orang pastinya berbeda. Dulu terkenal ada namanya 
anak kolong atau anak tangsi, pada umumnya mereka nakal nakal, kenapa? Ya 
karena mereka tinggal di rumah kecil kecil. Demikian kantung kantung 
kriminalitas pd umumnya berasal dr pemukiman pemukiman kumuh. Stipulasi kita 
semua betul, kekhawatiran thp pendekatan penyediaan perumahan sekarang, yg 
penting target kuantitas tercapai, kualitas gimana nanti.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

Date: Sun, 7 Jun 2009 08:51:38 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya


Bung Eka, untuk rusun sederhana jangan dibayangkan seperti kita. Mereka itu 
umumnya anaknya banyak, lebih dari 3, sementara kamarnya cuma 1. Pernah saya 
survey, malam hari sekitar jam 8-9. Saya lihat banyak anak-anaknya yang masih 
pelajar berada di luar rumah. Saya tanya mengapa koq nggak belajar? Jam segini 
koq masih di luar?. Jawabnya :"Bapak dan emak lagi di rumah, kita disuruh 
tunggu di luar dulu".
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Sun, 6/7/09, ffekadj <[email protected]> wrote:


From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya
To: [email protected]
Date: Sunday, June 7, 2009, 2:47 PM









Dear Referensiers,
Pengembangan rusun bisa jadi tidak berguna,
bila tidak disertai program pembangunan keluarga sejahtera.
Satu rumah untuk satu keluarga.
Satu rumah dengan 2 kamar untuk pasutri dengan 1 anak,
satu rumah dengan 3 kamar untuk pasutri dengan 2 anak,
demikian seterusnya.
Untuk jomblo, tipe studio saja.
Jadi kita tidak menghitung tipe dan ukuran,
karena rusun dibangun dengan budaya urban.
Sehingga perlu program pengaturan dan penertiban.
Demikian sedikit saran.
 
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, isoedradjat@ ... wrote:
>
> Yaitulah pak Koes, yg dimukimkan bukan culture sbgmana dipesankan pak Suhadi, 
> semata - mata perhitungan ekonomi, tanpa secara cermat implikasi dr capasitas 
> masyarakat kumuhnya. Jd nanti yg terjadi adalah siapa yg mampu itu yg 
> menghuni. 
> Powered by Telkomsel BlackBerry® 
> 
> -----Original Message----- 
> From: muhammad koeswadi m_koesw...@. .. 
> 
> Date: Sun, 7 Jun 2009 03:13:29 
> To: refere...@yahoogrou ps.com 
> Subject: Re: [referensi] Rusun, ruang dan budaya 
> 
> 
> Pro Referenser 
>   
> Setuju kang Risfan. Sekarang mulai rame2 mendirikan rusun sederhana (wa/mi) 
> yang sebagian di antaranya ditempatkan pada lahan ex kumuh ataupun ex lahan 
> pemda. Targetnya penyediaan hunian dan kalo bisa mengurangi suasana 
> kumuh...Ada hal penting dan sulit (saat ini) teratasi: yaitu hal keadilan 
> hak, menjamin seluas2nya  bagi ex penghuni kumuh untuk memperoleh kesempatan 
> menghuni/memiliki rusun tersebut. Sering kali banyak yang tidak kebagian dari 
> awal. Penghuni dan atau pemiliknya bertukar sedari awal. Mereka ujungnya pada 
> pindah ke lokasi kumuh lainnya...  Jadilah rusun bertambah, kumuhnya pindah. 
> Adakah mekanisme "mengawasi hak penghunian ataupun pemilikan" yang 
> dikhususkan, diprioritaskan, didisain dan ditawarkan sesuai kemampuan mereka. 
> Barulah sisanya dilepas ke masyarakat umum. Di Forkim hal ini masih terus 
> didalami untuk mendapatkan cara praktis. Di Kuala Lumpur, misalnya di sekitar 
> Ong Tai Kim ataupun Idaman Komplek, program rusun sederhana 
> terus berlangsung, dan area kumuhnya menyusut secara nyata (hampir habis).  
> Penghuninya dari berbagai latar belakang budaya (mayoritas: Melayu, Cina, 
> India) dan sisanya budaya Timur Tengah. Mereka bisa saling menyesuaikan, 
> termasuk cara menjemur, ngasuh anak, menghargai hak publik dst. 
> Salam. MK 
> 
> --- On Sun, 7/6/09, Risfan M risf...@... wrote: 
> 
> 
> From: Risfan M risf...@... 
> Subject: [referensi] Rusun, ruang dan budaya 
> To: "refere...@yahoogro ups.com" refere...@yahoogrou ps.com 
> Date: Sunday, 7 June, 2009, 7:56 AM 
> 
> Dear referesiers ysh, 
> 
> Bicara budaya jadi ingan rumah susun (rusun). Dua puluhan tahun lalu saat 
> rusun dikenalkan, kampanye pola hidup di lingkungan baru itu banyak 
> didiskusikan. Sampai ada film &quot;Cintaku di Rumah Susun&quot; (Eva 
> Arnaz?). Sekarang saat banyak dibangun justru tak ada bahasan untuk itu. 
> Rusun apalagi dengan target 1000 tower, tentu kalau terbangun 1/3 nya saja 
> jadi fenomena besar di perkotaan. Masalah prasarana, terutama air, masalah 
> ruang terbuka, dan bangkitan lalu-lintas akibat konsentrasi penduduk 
> tersebut. 
> Dari segi kehidupan komunitas warganya, tentu timbul persoalan dan 
> romantikanya sendiri. 
> Rusuna dengan ukuran 21 m2 pada satu tower yang memuat lebih dari seratus 
> unit, merupakan perkampungan padat, yang membutuhkan pola hidup dan 
> kedisiplinan tertentu, dalam menjaga kebersihan, menjaga diri tak mengganggu 
> tetangga, saling tenggang rasa. Soal buangan sampah, jemuran, suara musik dan 
> teriakan anak-anak - adalah hiruk pikuk yang sudah terbayangkan dari rusuna 
> yang ada. Juga pengelolaan ruang bersama di lantai dasar. 
> 
> Memang diskusi tata ruang biasanya terbatas konsepsi rencana, standar dari 
> pemerintah dan peraturan perundangan, tapi fenomena kehidupan atau budaya 
> konemporer perkotaan seperti ini mungkin perlu dilirik pula. 
> 
> Salam, 
> Risfan Munir
>
















      

Kirim email ke