Pak Suhadi dan milister ysh,
Dari kutipan paragraf berikut :
++++: “………Budaya sering dilihat sebagai kemewahan, sebagai sesuatu yang akan
dibahas setelah kemiskinan diatasi, sesuatu yang akan digarap setelah
pemerintah menyelesaikan hal-hal yang lebih penting.
Tidak disadari bahwa kekuatan budaya sebetulnya justru merupakan kekuatan utama
sebagai landasan pembangunan, sebagai pendorong dan pendukung pembangunan……..”.
>>>>>: Dari serial bbrp postings anda….. apa yg anda katakan ttg gambaran kota
>>>>>yg ideal adlh benar semuanya…… tapi masalahnya adalah jumlah ruang kota2
>>>>>kita secara total nasional dibanding dgn derasnya arus manusia yg bergerak
>>>>>dari desa dan kota lebih kecil utk berpindah tempat menuju kota lbh besar
>>>>>adlh masih sangat kurang sekali jumlahnya…… utk itu diperlukan banyak uang
>>>>>dan kalau bisa tanpa memperbesar hutang………
Arus urbanisasi manusia di Indonesia yg hari ini berpenduduk 235-an juta jiwa…
yg pada 1980 masih kurang dari 20%nya yg tinggal diperkotaan….. lalu sejak 2008
telah sebesar 50%nya tinggal diperkotaan… nanti pada 2025 bisa menjadi sekitar
60%..... dan sgt pasti pada dasa warsa2 berikutnya angkanya terus bergerak
saja menuju 80-85%.......
Ibarat seperti situasi disaat mudik lebaran disetasiun Senen…… jumlah penumpang
(penduduk perkotaan) yg mau berangkat pada jam yg sama tak sebanding dgn
jumlah gerbong (kota) yg ada…… bukannya orang2 tak mengerti ttg pentingnya
budaya….. masalahnya adalah jumlah gerbongnya kurang….. jadi bgmn kita disaat
spt itu akan bicara lbh dulu ttg budaya berkereta api yg ideal….. budaya cara
memasuki gerbong dan menuju tempat duduk yg ideal…… budaya cara duduk dikereta
yg sopan dan tak berebutan….. budaya utk tak bergelayutan dipintu gerbong
kereta, diatap kereta, atau dilokomotip........cara memelihara toilet dikereta
yg ideal… dst……
+++++: “…..Dari pimpinan nasional sudah diisyaratkan bahwa budaya akan menjadi
kekuatan utama di masa depan. Apakah dari sisi tataruang akan ada upaya
menggali, menterjemahkannya dalam perkembangan kota dan wilayah?
Ada beberapa upaya seperti perencanaan kawasan pelestarian borobudur, tetapi
kebijakan pengembangan kota berwawasan budaya belum jelas duduknya……”.
>>>>: Dari sisi tata ruang saya kira cara melihatnya adlh pertama….. tak
>>>>sekedar jumlah dan luas kota2 bahkan kepadatan kota2 perlu terus ditambah
>>>>sesuai dgn pertambahan jumlah penduduk yg berpindah tempat dari desa dan
>>>>kota lbh kecil menuju kota2 lbh besar…… tapi distribusi/ persebarannya…
>>>>bahkan sistem jarak2nyapun juga perlu diperhitungkan/ dikembangkan…….…
>>>>tak hanya itu….. mereka yg sesampainya dikota blm punya pekerjaan dan
>>>>melakukan transformasi pekerjaan dari semula pertanian/ perkotaan khas kota
>>>>kecil…. lalu menjadi pekerjaan perkotaan/ khas kota besar….. teknik
>>>>keruangan jg hrs turut memikirkan ttg bgmn mendorong persebaran perkotaan
>>>>dan industri secara nasional…… mencari jalan keluar agar pengangguran tak
>>>>menjadi2…. sebab keterpusatan yg berlebih (di Jawa) akan akhirnya menjadi
>>>>kontra produktif juga……. Krn banyaknya konflik multisektoral……. penataan
>>>>ruang mengupayakan agar hasil PR yg baik
memungkinkan manusia dpt hidup berbudaya dgn lbh baik sbgmn yg anda
harapkan....... tanpa PR yg baik sulit membayangkan bhw cara hidup bangsa yg
berbudaya baik spt keinginan anda dpt terwujud........
I I I
Seorang arsitek/ budayawan brkali bisa lsg berbicara/ menilai ttg kondisi
buruk (pada) sebuah kota besar yg “kok tidak berbudaya”….. lalu dpt dgn tenang
lbh dulu berbicara ttg bgmn cara menata (pada sebuah) kota yg ideal dan agar
berbudaya (demikian juga analog....seorang ahli lingkungan dpt dgn tenang
memulai dgn "Ciliwung Bersih" misalnya)…. Bgmn mengarahkan cara penduduk kota
mengisi waktunya agar berbudaya.. dsb….. tetapi situasi kota, mahalnya apa2
dikota dan situasi kecilnya pendapatan penduduk sering memaksa penduduk hrs
tinggal jauh dipinggir kota… hrs berangkat kerja dipagi buta dan pulang dilarut
malam….. atau yg bekerja menjadi TKW/ PRT diluar negeri malah banyak lbh
buruk lagi……. Walau pola hidupnya adalah one-stop living….. bangun tidur lsg
sdh berada ditempat kerja….. tetapi keharusan bangun pukul 4.00 pagi dan baru
bisa tidur pada jam 1 malam dan harus bekerja spartan sepanjang hari bahkan
juga hrs turut
berpuasa dibulan Ramadhan (smntr nyonya rumahnya bisa molor sepanjang hari)….
agak sulit utk banyak manusia dimasa sesudah revolusi industri ini dpt hidup
berbudaya yg ideal selagi mereka masih teramat miskin……..
Masyarakat arsitektur dan budaya mungkin bisa tak nomor satu peduli ttg angka
pengangguran dan kemiskinan serta kelaparan…. Mungkin bisa tak nomor satu
peduli (atau sebatas prihatin) dgn kenaikan harga BBM atau PHK atau inflasi….
Karena sebaliknya dari masyarakat ekonomi dan industri….. kepedulian masyarakat
budaya adlh bhw budaya adlh nomor satu dan perekonomian serta lainnya boleh
nomor dua…….. masyarakat sosial ekonomi melihat bahwa yg namanya kelaparan dan
keadaan menganggur (apalagi punya anak istri ortu dan mertua) itu tak bisa
diurus menunggu sampai esok lusa……. Masyarakat hukum juga mirip masyarakat
budaya…. Melihat bhw yg pertama dan terpenting adalah bukan ekonomi (mungkin
juga bukan budaya)….. tapi adlh penegakan dan kepastian hukum……..masyarakat
hankam sama juga melihatnya… masyarakat boleh kaya atau miskin atau berbudaya
atau kurang berbudaya…. Tapi yg terpenting bg mereka adlh kedaulatan negara dan
kepastian
kepemilikan batas negara yg aman adlh nomor satu…… dan budaya menghormati
garis batas negara kita oleh tetangga sebelah adalah dimata mereka nomor satu
pula…….. utk itu sebagian dari kita boleh tak peduli….. tapi mereka bahkan hrs
mempertaruhkan nyawa……. Boleh dibayangkan…. apakah anak dan istri mereka para
prajurit dirumah juga tidak sedang mempertaruhkan nyawa ayah2 atau suami2
mereka tercinta?...... bukannya orang tak mengerti..... tapi msh sempatkah
semuanya berpikir cerdas bhw budaya adalah nomor satu dan diatas
segalanya?.........
Salam,