Rekan2 referensiers semua ysh,
 
Setidaknya tahun 2009 ini akan menjadi salah momen penting dalam sejarah 
pembangunan bangsa. Tahun ini, untuk pertama kali Indonesia akan memiliki 
sebuah jembatan dengan bentang sekitar 5 km yang menghubungkan 2 buah pulau 
besar yang berkepadatan cukup tinggi. 
 
Saya setuju dengan opini Pak Irwan yang mengharapkan adanya penyediaan armada 
angkutan umum bus yang intensif melayani pergerakan transportasi penumpang 
antara Bangkalan dan Surabaya. Selain mengurangi potensi pergerakan motor di 
jembatan (yang bisa jadi berangin keras, sehingga bisa memperbesar potensi 
kecelakaan di saat mengendarai motor sejauh 5 km dengan jalan lurus dan 
berangin, jadinya bikin ngantuk he he he), penyediaan angkutan umum tsb juga 
bisa memperluas "pasar properti" perumahan dan bahkan apartemen murah/sederhana 
di Bangkalan.
 
Dengan adanya Jembatan Suramadu ditambah sediaan angkutan umum bis yg efektif, 
bangkalan yang jaraknya sekitar 20 km dari pusat kota Surabaya (setara dengan 
Driyorejo atau kota Sidoarjo), menawarkan potensi lahan bagi "penguraian benang 
kusut" persoalan penyediaan pemukiman di Surabaya dan sekitarnya. Dengan 
kondisi sebagian besar lahan yg berupa lahan kering, bisa jadi lebih baik 
Bangkalan menjadi wilayah pembangunan perumahan dan permukiman bagi 
perkembangan kota Surabaya, daripada terus menerus menjadikan wilayah Gresik, 
Mojokerto dan Sidoarjo yg lahannya jauh lebih subur sebagai wilayah 
perkembangan permukiman dan industri, dengan resiko pengurangan kualitas 
ketahanan pangan wilayah tsb.
 
Bangkalan bisa juga dijadikan kawasan pembangunan tower/tower rusun sewa/milik 
murah sebagai salah satu implementasi pembangunan urban public housing, dengan 
menggunakan aktivitas industri manufaktur dan pelabuhan sebagai "gula-gula"-nya 
di masa depan. 
 
Panjang pantai yang "berlimpah" dengan tingkat sedimentasi rendah di Bangkalan 
mungkin menawarkan tempat untuk "relokasi" atau "perluasan" bagi aktivitas 
pelabuhan di Tanjung Perak, sehingga Tanjung Perak yg saat ini memiliki fungsi 
yg bertumpuk (pelabuhan barang domestik dan LN, penumpang dan bahkan pangkalan 
militer), bisa dikembangkan secara lebih terspesialisasi di masa depan dengan 
memindahkan beberapa fungsinya ke Bangkalan. Selain itu, Bangkalan juga 
 


--- On Mon, 6/8/09, Irwan Prasetyo <[email protected]> wrote:


From: Irwan Prasetyo <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] SURAMADU
To: [email protected]
Date: Monday, June 8, 2009, 9:17 AM









Kalau saya ingin juga mengangkat issue pengoperasian lalu-lintasnya.
Yang saya khawatirkan sekarang adalah motor-motor yang akan melewati
jembatan tersebut. Melihat perilaku pengendara motor di Indonesia, yang
kredit kepemilikannya cuman modal KTP, bagaimana nanti tingkat kecelakaan
disitu?

Dengan panjang jalan mungkin kurang lebih 5 km, kecepatan motor bisa
sampai 100 km, dan anginnya sangat besar, bahkan bisa menggeser mobil,
lokasi tersebut sangat rentan bagi pengendara motor.

Saya usul diadakan Park and Ride motor saja diujung jembatannya, biar
angkutan umum saja yang melewati jalan tersebut.

Jasa Marga sebelumnya pernah mengelola Jembatan Jamuna 5 km di Bangladesh,
yang lewat rata-rata 6000 kendaraan per hari, motornya cuman 120 per
hari. Saya ga tau yang di Suramadu, it still worries me..

Irwan Pras
------------ --------- --------- --------- ----

Sepertinya yang ditawarkan P.Madura adalah ruang,.. Kalau bukan untuk
industry, yah sepertinya untuk permukiman,.

Para developer real estate mungkin akan menangkap peluang itu dengan
menyulap, kawasan2 deket ujung gerbang suramadu di P.Madura dgn proyek2
perumahan,.. . biar mereka penduduk yang merasa sumpek dengan Surabaya,
mungkin akan melirik2 ke Madura, kalau developer itu mampu menawarkan
sebuah
dormitory town yang nyaman dan tentram,.. Pasarnya ya mereka kaum menegah
ke atas yang bisa beli mobil, nyewa sopir, yang banyak lokasi kegiatannya
dekat dengan kawasan di ujung jembatan di "mainland",. .

Mungkinini analisa ngawur,.. hehehehehe

Regards,

dwiagus

http://bdwiagus. blogspot. com

http://bdwiagus. multiply. com

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised
to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com

Find also Indo-MONEV in facebook:
<http://www.facebook .com/group. php?gid=34091848 127&ref=ts>
http://www.facebook .com/group. php?gid=34091848 127&ref=ts

From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:refere...@yahoogrou ps.com] On
Behalf
Of Iman soedradjat
Sent: 08 June 2009 08:21
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] SURAMADU

pak BTS,

Idea dibangunnya jembatan SURAMADU dari awal saya juga mempertanyakan,
untuk
mendorong apa jembatan tersebut di bangun? Ada apa dengan P. Madura?dan
apa
yang bisa diperbuat oleh Surabaya?. Apakah sudah ada energi potensil di
daratan Surabaya sekitarnya ut mendorong pengembangan P. Madura.

Mungkin cita citanya sama pada saat membangun Jembatan Jalan dan Jembatan
yg
menghubungkan Batam - Rempang - Galang (Barelang), Jembatan tsb dibangun
untuk mendorong pembangunan P. Rempang dan Galang, tapi toh setelah
berpuluh
tahun Jembatan/Jalan dibangun, P. Rempang dan Galang ya, seperti itu2
juga.
Lebih optimis Barelang ini berkembang melihat potensi potensi yg dipunyai
oleh P. Batam serta kedudukan strategis Barelang ini dekat dengan
Singapura.

Okelah, seandainya kita mau membangun kawasan kawasan Industri di Pulau
Madura, untuk memberikan fungsi signifikan terhadap jembatan SURAMADU,
kitapun bisa belajar dari pembangunan kawasan-kawasan Industri di P.
Batam,
Lobam dan Lagoi di Bintan yg betul-betul sdh disiapkan lahannya. Kawasan
Industri Lobam seluas kurang lebih 4.000 Ha, efektif yg baru dibuka adalah
hanya 105 Ha (2,6%), sementera kawasan Wisata Lagoi
seluas 23.000 hanya 10% yg efektif telah dimanfaatkan setelah puluh tahun
dibuka. Mungkin komparasi ini tidak setara, tapi kita bisa belajar seperti
apa yang perlu dilakukan thp P. Madura, yg tgl 10 juni ini akan dibuka.

Tabek
--- On Sun, 6/7/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: [referensi] SURAMADU
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, June 7, 2009, 8:21 PM

Dear all.

Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura sebentar lagi
diresmikan. Kita ingat bahwa ide menyambung dua pulau (Jawa dan Madura)
sudah lama sekali. Pak Harto (bersama Liem Swie Liong) telah memprakarsai.
Pada waktu itu Pemerintah lagi giat-giatnya membangun kawasan industri dan
inginnya Madura sebagai pusat industri baru (dengan investornya para
konglomerat) . Upayanya adalah membujuk warga Madura agar daerahnya boleh
dijadikan pusat industri dengan membangun Universitas Bangkalan yang
modern.
Setelah dibangun,... orang Madura ogah. Madura hanya boleh dibangun
industri
ringan-ringan saja. Karena itu ide membangun jembatan Suramadu gugur
karena
bila hanya industri ringan, buat apa harus membangun jembatan yang mahal
itu? Tapi komitmen membangun jembatan Suramadu sangat kuat, utamanya
komitmen dari mantan Gubernur Moch Noer dan gubernur-gubernur Jatim
berikutnya. Akhirnya, setelah mendapat pinjaman lunak (kalau nggak salah
dari Jepang),
Pemerintahan Megawati mulai membangun setengah jalan dan terus dilanjutkan
oleh Pemerintahan SBY-Kalla.

Rencananya, Jembatan Suramadu itu menjadi jembatan tol dan sepeda motor
boleh ikut masuk. PP 15/2005 yang hanya mengijinkan kendaraan roda empat
sehingga PPnya harus dikoreksi. Yang menjadi pertanyaan apakah Jembatan
Tol
Suramadu akan berhasil, dalam arti untung karena jumlah kendaraan yang
lewat
akan banyak?

Umumnya, jalan tol yang untung itu adalah yang menghubungkan 2 pole yang
sama-sama kuat dan jalan tol dalam kota (untuk menghindari kemacetan).
Jalan
tol yang menghubungkan 2 pole yang kuat misalnya antara Jakarta dan
Bandung;
Jakarta dan Bogor; jakarta dan Tangerang. Jalan Tol yang menghubungan 2
pole
yang kurang kuat, umumnya mengalami kerugian, alias jumlah kendaraan yang
lewat tidak memenuhi batas ambang untung (biasanya 25 ribu per hari).
Jalan
tol yang tidak untung antara lain : Belmera yang menghubungkan Medan dan
Belawan/Tanjung Morawa dan ruas tol Serang dan Merak. Beberapa tender
jalan
tol yang menghubungkan 2 pole yang tidak seimbang, misalnya
Semarang-Demak,
Solo-Ngawi, Medan - Kuala Namu kurang diminati investor.

Bagaimana prospek Jembatan Suramadu yang menghubungan Surabaya (Jawa
Timur)
yang kuat dan Madura yang kurang kuat? Apakah jembatan Suramadu itu
menguntungkan? Hemat saya, kalau posisi Madura tetap seperti apa adanya,
dan
hanya boleh untuk industri ringan, maka kemungkinan akan kurang
menguntungkan karena traffic generation-nya sangat lemah. Nah di sinilah
peran perencana pembangunan termasuk Planner perlu memikirkan strategi
pengembangan Madura. Untuk itu pertanyaannya, apakah RTR Madura sudah
mengakomodir pembangunan aneka industri yang tidak terbatas industri
ringan
saja, di mana lokasi-lokasi kawasan industrinya, bagaimana kesiapan
masyarakat Madura untuk menerima pendatang dan kehidupan baru akibat
industrialisasi, apa regulasi yang diperlukan untuk itu, dan banyak lagi
enginering yang musti dilakukan terhadap Madura. Kalau tidak, nasibnya
seperti jembatan Barelang (Batam-Rempang- Galang), cuma bagus di foto-foto
saja.

Bagaimana pendapat teman-teman?

Thanks. CU. BTS.

















      

Kirim email ke