Dear all.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura sebentar lagi
diresmikan. Kita ingat bahwa ide menyambung dua pulau (Jawa dan Madura) sudah
lama sekali. Pak Harto (bersama Liem Swie Liong) telah memprakarsai. Pada waktu
itu Pemerintah lagi giat-giatnya membangun kawasan industri dan inginnya Madura
sebagai pusat industri baru (dengan investornya para konglomerat). Upayanya
adalah membujuk warga Madura agar daerahnya boleh dijadikan pusat industri
dengan membangun Universitas Bangkalan yang modern. Setelah dibangun,...orang
Madura ogah. Madura hanya boleh dibangun industri ringan-ringan saja. Karena
itu ide membangun jembatan Suramadu gugur karena bila hanya industri ringan,
buat apa harus membangun jembatan yang mahal itu? Tapi komitmen membangun
jembatan Suramadu sangat kuat, utamanya komitmen dari mantan Gubernur Moch Noer
dan gubernur-gubernur Jatim berikutnya. Akhirnya, setelah mendapat pinjaman
lunak (kalau nggak salah dari Jepang),
Pemerintahan Megawati mulai membangun setengah jalan dan terus dilanjutkan
oleh Pemerintahan SBY-Kalla.
Rencananya, Jembatan Suramadu itu menjadi jembatan tol dan sepeda motor boleh
ikut masuk. PP 15/2005 yang hanya mengijinkan kendaraan roda empat sehingga
PPnya harus dikoreksi. Yang menjadi pertanyaan apakah Jembatan Tol Suramadu
akan berhasil, dalam arti untung karena jumlah kendaraan yang lewat akan banyak?
Umumnya, jalan tol yang untung itu adalah yang menghubungkan 2 pole yang
sama-sama kuat dan jalan tol dalam kota (untuk menghindari kemacetan). Jalan
tol yang menghubungkan 2 pole yang kuat misalnya antara Jakarta dan Bandung;
Jakarta dan Bogor; jakarta dan Tangerang. Jalan Tol yang menghubungan 2 pole
yang kurang kuat, umumnya mengalami kerugian, alias jumlah kendaraan yang lewat
tidak memenuhi batas ambang untung (biasanya 25 ribu per hari). Jalan tol yang
tidak untung antara lain : Belmera yang menghubungkan Medan dan Belawan/Tanjung
Morawa dan ruas tol Serang dan Merak. Beberapa tender jalan tol yang
menghubungkan 2 pole yang tidak seimbang, misalnya Semarang-Demak, Solo-Ngawi,
Medan - Kuala Namu kurang diminati investor.
Bagaimana prospek Jembatan Suramadu yang menghubungan Surabaya (Jawa Timur)
yang kuat dan Madura yang kurang kuat? Apakah jembatan Suramadu itu
menguntungkan? Hemat saya, kalau posisi Madura tetap seperti apa adanya, dan
hanya boleh untuk industri ringan, maka kemungkinan akan kurang menguntungkan
karena traffic generation-nya sangat lemah. Nah di sinilah peran perencana
pembangunan termasuk Planner perlu memikirkan strategi pengembangan Madura.
Untuk itu pertanyaannya, apakah RTR Madura sudah mengakomodir pembangunan aneka
industri yang tidak terbatas industri ringan saja, di mana lokasi-lokasi
kawasan industrinya, bagaimana kesiapan masyarakat Madura untuk menerima
pendatang dan kehidupan baru akibat industrialisasi, apa regulasi yang
diperlukan untuk itu, dan banyak lagi enginering yang musti dilakukan terhadap
Madura. Kalau tidak, nasibnya seperti jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang),
cuma bagus di foto-foto saja.
Bagaimana pendapat teman-teman?
Thanks. CU. BTS.