Pak Risfan dan sahabat Referensiers,

Mungkin perlu penelitian lebih dalam lagi barangkali ya tentang
klaster industri maritim sehingga kebijakannya tepat, realistik dan
bisa menekan resiko gagal lebih kecil lagi.

Yang saya bayangkan adalah semacam klaster industri kecil menengah
untuk pembuatan kapal ukuran kecil dan sedang beserta supply chainnya.
Yang pasti, bahannya bukan dari kayu. Pasarnya misalnya ekspor dan
domestik, untuk nelayan, ataupun kelas menengah ke atas untuk
yachting, perahu untuk rekreasi di pantai, danau, dan sungai.

Saya yakin, teman-teman perkapalan dan kelautan pasti punya konsep,
minimal belum ditulis secara terintegrasi untuk meyakinkan pengambil
kebijakan. Isinya tentang masing-masing "diamond" nya Michael Porter
(1990 dan 1998) tentang klaster industri. Banyak studi kasus ungkapkan
pentingnya tata kelola, karena dari sinilah innovasi muncul, dan
timbullah "keunggulan kompetitif" nya Porter.

Jangan-jangan gagalnya konsep "Kawasan Khusus" itu karena tata kelola
yang lemah kali ya ditambah lagi infrastruktur.. nggak ada innovasi,
dll. Solusinya? mungkin perlu manager professional kali ya...yang
bantu itu birokrat penguasa kawasan khusus...ampun.. .takut banyak
yang tersinggung he he he...

Yang saya perhatikan selama ini, konsep klaster industri sudah ada,
Departemen Perindustrian punya prioritas pengembangan 10 klaster
menurut industri (RPJM Industri 2005-2009), termasuk di antaranya
klaster industri hasil perikanan, furniture, dll. tapi belum ada yang
spesifik industri maritim, khususnya untuk UKM.

Di Riau Kepulauan, tradisi membuat perahu dan kapal tampaknya tidak
terlalu menonjol dibandingkan Riau Daratan; sepanjang hulu dan muara
sungai dulu banyak industri kapal rakyat. Masuk akal karena kayu ada
di daratan. Sekarang tampaknya semakin pudar. Mungkin ada sahabat
referensiers yang bisa beri pencerahan lebih lanjut?

Untuk bidang jasa maritim, kontribusi Singapura saja sekitar 4,9% PDB,
mulai dari jasa pelabuhan, agen pelayaran, carter, hngga bunkering.
Wah kalau saja ada sedikit "spill over" untuk BBK, wah lumayanlah,
tapi hindarkanlah yang merusak lingkungan.

Mau tau berapa kira-kira kontribusi perhubungan laut Kepri? Jangan
kaget, hanya 0,56% PDRB Kepri (2007). Jadi kesempatan masih sangat
besar.

Sekian dulu pak.

Salam hangat,

Nuzul Achjar

Kirim email ke