Dear All,
Begini Pak ABY menulis: ....Kita tak boleh
berlama2 ragu bhw “perencanaan pengembangan dan kemajuan kawasan”
memang suka tak suka harus berwawaskan apa yg oleh seorang sahabat
milister kita Djarot sering diibaratkan sebagai wawasan Gatotkaca atau
mungkin juga Spiderman eyeview…… namun pada saat yg sama agar kita juga
harus mampu pula merunduk dalam dan memakai pula worm eyeview spt bgmn
mengembangkan UKM lokal….. yg perpaduan dari keduanya insyaallah akan
melahirkan visi2 yang perfeksionistik. .… konkretisasi pembangunan bagi
seluruh lapisan masyarakat  dan hasilnya dapat dibanggakan oleh bangsa dan 
negara………
 
Benar bhw pengembangan Dumai bahkan pulau  Rupat sbg pusat perkembangan dari 
Riau Daratan kiranya kedepan akan lbh strategis dibanding  Pekanbaru… namun apa 
mau dikata….”kearifan lokal” para wakil rakyat disana  telah terlanjur dgn 
suara terbanyak lbh memilih Pekanbaru…… sesuatu yg brkali menunjukkan bahwa 
Gatotkaca sky eyeview  tidak
perlu selalu dipandang sinikal sbg visi yg tidak membumi (dan tak
melaut?) yg terlampau mengawang2.. yg bila kita tak memakainya…..
jangan2 kita nanti malah benar2 diselat Malaka  ini bisa
 terus2an jadi peran pupuk bawang……   

Catatan saya: sebenarnya perspektif Mata Elang atau Mata Cacing sudah lumrah 
dalam proses merancang obyek arsitektur. Perspektif tersebut bahkan dapat 
sangat leluasa ketika mendapat dukungan teknologi informasi. Dalam proses 
mendesain rumah, misalnya, ada kemungkinan melakukan proses overlay berbagai 
informasi ke dalam sebuah desain rumah tinggal. Orang dapat menghidupkan layer 
informasi tertentu dan mendapatkan image yang membangun persepsi tertentu 
terhadap obyek yang dikaji. Layer informasi dapat dimatikan atau dihidupkan, 
tergantung apa yang mau dilihat. Teknik zoom in atau zoom out juga merupakan 
kecanggihan TIK dalam membantu imajinasi dan persepsi perancang bangunan. Pada 
saat menggambar denah rumah, misalnya, arsitek menggambar dengan Autocad 
berbasis skala 1:1 sehingga ketika zoom in pada potongan kusen akan terlihat 
ukuran kayu dengan pasti sekian mm atau cm, bahkan tebal kaca yang 3 atau 5 mm 
dapat tampak dengan sangat akurat. Teknik overlay
 informasi sudah dikembangkan dalam GIS dan amat bermanfaat. 

Pak Aby, saya kadang hanya memindahkan teknik melihat dalam proses merancang 
obyek arsitektur ke dalam cara berpikir semacam mata elang dan mata cacing itu. 
Secara umum, menurut pengamatan saya, kita seyogyanya melihat bahwa produk 
seorang arsitek atau planner dengan sikap popperian yang rendah hati karena 
menyadari keterbatasannya.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 7/20/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Coretan Ringan Tentang Maritim
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Monday, July 20, 2009, 7:31 AM






 




    
                  Rekan Nuzul yg baik….  cucu  pewaris bakat Raja Ali Haji….. 
pahlawan nasional,  ulama, sejarawan, pujangga, sastrawan  dan pencatat pertama 
dasar-dasar  tatabahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa ; buku yang menjadi 
standar bahasa Melayu ……. yang dalam Kongres Pemuda pada 1928 ditetapkan 
sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia……. 
 
Apa yg  anda tuliskan sbg “Sebuah catatan ringan, di tengah kesedihan kita 
melihat kondisi nasional hari ini”…... bagi saya
 rasanya itu bukanlah sesuatu yg ringan…..tetapi malah totokan yg pedih 
didada…..  


         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke