Pak Djarot ysh, uraian 234 berikut ini cukup lengkap dan dalam
menguraikan aspek geomachy dan kosmologi 'jagad Jawa', dan telah
memperkaya perbendaharaan kita. Saya tertarik dengan orientasi empat
penjuru angin dan titik pusat (keblat papat limo pancer) yang saya kira
khas Jawa, dan telah tertanam sejak zaman dahulu sejak era belum
mengenal kompas. Sehingga lahir istilah-istilah lor-wetan-kidul-kulon
dsb. Mungkin karena kebetulan posisi axis pulau Jawa yang lurus
membentang timur-barat, sehingga orientasi seperti ini menjadi familiar
dalam masyarakat. Untuk posisi Yogya terbantu dengan orientasi gunung
dan laut. Namun perlu diselidiki juga untuk daerah-daerah lain di Jawa
yang tidak memiliki orientasi geomorfologis seperti itu.

Daerah-daerah lain di nusantara boleh dibilang tidak terlalu mengacu
orientasi mata angin. Di Sumatera misalnya, orientasi geografis dominan
dibentuk oleh hulu-hilir, ulu-ilir, kanan-kiri, atas-bawah, bukit-lurah,
gunung-pesisir, darat-laut, dst. Malah kalau Cak Andri di Medan
ditanyakan dimana letak kota Pekanbaru, maka pasti akan dijawab: "ada di
bawah kota Medan". Kalau Banda Aceh ada di atas Medan, dst. Benarkah
Cak? Saya kira hal serupa juga berlangsung di Kalimantan sampai Papua.
Jadi orientasi mata angin memang tipikal Jawa saya kira. Atau mungkin
rekan-rekan di daerah punya pendapat yang lain?

Sementara demikian dulu. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak
> Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi,
>
> Â
>
> Saya
> usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius
seperti
> ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain.
>
> KEDUA.
> Konsep ruang berbentuk lingkaran konsentris di kraton Yogyakarta versi
> Mangkubumi mewujud menjadi lapisan Kraton, Kutanegara, Negara dan
Mancanegara sebenarnya
> memiliki referensi dari naluri pertahanan diri masyarakat kuno. Jika
kita baca
> riwayat Mangkubumi, orang akan segera tahu referensinya dari kejawen,
Hindu,
> Islam dsb. Masuknya nilai Islam ke dalam tata ruang kraton di Jawa
saya kira
> sejak Demak (Sultan Trenggono). Orang Baduy selalu bilang, kami dari
inti
> jagad, artinya dari titik tengah dunia dan konsep titik dan lingkaran
ini
> ditemukan dimana-mana bahwa untuk bisa merasa tenteram hidup di dalam
chaos
> harus ditetapkan sebuah titik pusat, maka segera chaos berubah menjadi
cosmos
> menurut pandangan etnosentristis.
>
> Â
>
> Orang
> Indian meletakkan tiang di tengah wigwam mereka sebagai sebuah pillar
cosmic,
> menurut Eliade. Orang Kaenbaun meletakkan batu suci sebagai elemen
pertama
> untuk sebuah rumah tinggal, disusul tiang suci di dekat batu suci
(mirip
> tonggak tuo di Minang ? atau saka tuwo di Kulon Progo!). Titik suci
ini titik
> tengah, tempat terpancarnya enerji (supranatural) kehidupan ke segala
arah menurut
> kacamata kuno; jadi titik orientasi kehidupan. Dalam gambaran Eliade
pola suatu
> ruang menurut masyarakat kuno adalah ada sacred object (obyek atau
titik paling
> tengah), holy place (ruang di sekelilingnya), founded cosmos (lapisan
ruang di
> luarnya) dan sacred cosmos (lapisan ruang paling luar). Artinya, idea
tentang ruang
> selalu dikaitkan dengan dimensi suci (Tuhan/Allah), minimal enerji
> supranatural.
>
> Â
>
> Dulu
> rumah petani Jawa ada sentong tengah karena mereka memuja Dewi Sri,
maka
> sentong tengah selalu ada tempat tidur Dewi Sri, siapa tahu mau
berkunjung ke
> rumah mereka. Artinya, bagi mereka bekerja dan berdoa adalah satu.
Tetapi
> sekarang senthong tengah di rumah orang Jawa di Jawa tidak ada lagi,
yang umum
> ada ialah ruang keluarga dengan pesawat televisi. Sejauh ini saya
belum pernah
> menemukan sentong tengah diganti dengan fungsi sebagai ruang doa untuk
keluarga
> modern, misalnya untuk sembahyang menurut cara Islam atau Katolik atau
Hindu
> atau yang lain.
>
> Â
>
> Konsepsi
> tata ruang kraton versi Mangkubumi realitasnya mengatur ruang secara
meruang
> empat arah (yang lima di tengah) sekaligus isinya (tatanan sosial)
yang bisa
> dilihat banyak aspeknya. Dari aspek pertahanan diri jelas ada
perkampungan
> prajurit yang ditata menurut empat arah mata angin, ada yang tinggal
di dalam
> kraton (Mantrijero, para mantri yang dekat dengan sultan dan prajurit
Langenastro,
> pembawa tombak), di luar beteng ada perkampungan prajurit lainnya.
Tegasnya, ada
> penataan ruang dan ada penataan tata masyarakatnya sekaligus dan
Belanda memanfaatkannya
> untuk menata kota Jakarta, misalnya, dengan nama kampung-kampung
berdasarkan
> etnisnya. Menata ruang adalah menata wadah dan isinya sekaligus,
tetapi
> perumahan massal kita menata sebaran tipe rumah dengan membayangkan
status
> ekonominya saja; menurut kategori terbatas (ekonomi).
>
> Â
>
> Selain
> itu, pola konsentris tersebut menggabungkan empat arah (lima arah)
dengan pola
> luar-dalam. Lingkaran-lingkaran itu berpusat pada Sultan, khususnya
kraton,
> lebih khusus gedong pusaka, lebih-lebih khusus "kyai damar" (sebutan
> saya, karena lupa namanya). Kyai Damar adalah sebuah dian - sentir di
gedong
> pusaka yang selalu menyala dan nggak boleh padam dan itu diyakini
menjadi titik
> enerji supranatural kraton / kerajaan Yogyakarta. Inti konsepnya,
titik tengah
> sebagai titik suci - sumber enerji kehidupan; jadi pola tengah dan
pinggiran
> digabung dengan konsep keblat papat limo pancer.
>
> Â
>
> Sisa-sisa
> konsepsi itu masih bisa disaksikan sampai sekarang, yaitu dari peta
terlihat
> jelas kota Yogyakarta dikelilingi empat kabupaten pada empat arah mata
angin;
> sultan dikeliling empat bupati penjaga empat wilayah di emat arah mata
angin.
> Setiap pengangkatan bupati baru selalu diberi gelar oleh Sultan, tentu
ini
> menyimbolkan adanya ikatan fungsional - simbolis empat bupati dengan
kraton. Nah
> konsep walikota tampaknya merupakan hal yang menarik, sebab dulu
adanya hanya kraton
> sebagai pusat ruang kehidupan di Yogyakarta, sekarang ada walikota
sebagai
> unsur baru dalam cara pikir tradisional.
>
> Â
>
> Konsep
> lingkaran konsentris ini sangat etnosentris, pertanyaannya apakah bisa
menjadi
> semacam best-practices yang layak digunakan untuk menata ruang-ruang
era masa
> modern ? Tentu ada hal yang bisa diambil, misalnya bagaimana ikatan
antara
> titik tengah dan "pinggiran" dijamin menjadi kerjasama sinerjis, bukan
> sebuah cara memecah diri bupati menjadi semacam raja kecil di era
otonomi.
> Disini manajemen dan birokrasi bisa disinerjikan dengan pengelolaan
ruang yang
> utuh, wadah dan isinya tadi.
>
> Â
>
> Buku
> yang ditulis oleh Aleksander Usfinit berjudul "Maubes Insana"
menjelaskan
> bagaimana keunikan kerjaan Insana di Timor secara konsep tatanan
keruangan memiliki
> kemiripan dengan kraton Yogyakarta menurut interpretasi saya. Tata
ruang diatur
> dengan menggabungkan empat arah (lima arah) dengan konsep luar-dalam,
sekaligus
> menata ruang dan masyarakatnya. Ada wilayah pusat, wilayah tengah dan
wilayah
> luar. Di dalam wilayah pusat berdiam keluarga Usfinit (raja),
kerabatnya dan
> suku-suku yang dekat dengan raja dan terdapat "kraton Maubes Insana"
> berupa rumah bulat bertiang tunggal. Pada wilayah tengah ada kelompok
suku-suku
> pemagar yang tersebar secara relatif acak mengelilingi wilayah pusat;
menjadi
> wilayah pertahanan diri untuk pusat. Di dalam wilayah luar terdapat
puluhan
> suku yang ditata menurut empat arah, sehingga menjadi jelas suku apa
tinggal di
> wilayah luar-timur, misalnya. Jaman dulu di Timor tampaknya pertahanan
diri
> menggunakan tameng suku/manusia, kini macan tamil di Srilanka juga
demikian.
> Jadi ada naluri universal pertahanan diri yang sama. Apakah naluri
pertahanan diri
> yang kuno ini bisa diubah menjadi naluri untuk membangun diri ???
>
> Â
>
> Saya
> kira keunikan penataan keruangan dengan memanfaatan konsep empat-lima
arah dan
> konsep luar-dalam umum dilakukan pada kerajaan-kerajaan kuno di
Indonesia.
> Persoalannya, apakah jiwanya dapat diteruskan untuk masa kini, bukan
> melestarikan feodalisme melainkan aspek manajemen wilayah, misalnya.
Jika di
> kerajaan kuno di Timor maupun Mataram menggunakan kekerabatan untuk
menata
> suatu wilayah atau jalur perkawinan untuk mengembangkan (aneksasi)
wilayah (Kasus
> Wandansari dan Pangeran Pekik dari Surabaya jaman Panembahan
Senopati),
> tentunya pada masa kini nggak seperti itu. Era orde baru kekerabatan
pernah
> digunakan untuk menguasai departemen-departemen, misalnya Harmono
tetangga saya
> yang masih kerabat dengan prameswari raja-presiden karena cara pikir
kno tadi
> lantas diletakkan dan menjabat di departemen bagian cuap-cuap.
>
> Â
>
> Bila
> diimplikasikan untuk Indonesia tentunya perlu dirumuskan dengan jelas,
sebab referensi
> masa lalu memang ada sisi baik dan buruk yang mesti dikritisi ya Pak.
Secara
> tidak sengaja, sebenarnya cara pandang saat ini-pun sudah terpengaruh
referensi
> Jagad Jawa itu: ada Jawa dan Luar Jawa, ada bagian barat dan timur,
tetapi
> relasi dan mekanisme yang dimiliki dari konsep kuno itu tidak
dijalankan dengan
> konsisten, sehingga muncul kesenjangan-kesenjangan. Ada usaha
mengangkat
> pasangan nusantara tetapi ya tetap gagal juga karena masyarakat tidak
berpikir
> seperti referensi kuno itu. Jika diterapkan secara terbatas, mungkin
masih ada
> manfaatnya, misalnya skala provinsi (seperti DIY, meskipun banyak juga
> masalahnya) atau skala kabupaten.
>
> Â
>
> KETIGA.
> Soal sentralisasi dan keblat papat limo pancer umumnya selalu menjadi
referensi
> orang Jawa yang masih senang dengan gagasan-gagasan kuno itu. Wujudnya
tidak
> selalu persis pleg dengan realitas visual yang tampak. Gunung Merapi
dan Laut
> Kidul juga menjadi orientasi kraton Surakarta, tetapi wujud ideal dan
real
> sangat sempurna ketika ada pada desain kraton Yogyakarta, sebab gunung
Merapi
> tepat di utara kraton dan laut kidul tepat di selatan kraton. Pada
kraton -
> kraton Mataram sebelumnya tidak bisa terjadi berimpitnya gagasan ideal
dengan
> tatanan fisiknya, dan itu hanya terjadi di kraton Yogyakarta. Ini
interpretasi
> saya Pak.
>
> Â
>
> KEEMPAT.
> Posisi kraton sebenarnya menghadap ke timur, sebab Bangsal Kencono di
dalam
> tembok kraton menghadap ke timur juga karena ketika sultan duduk di
bangsal itu
> menghadap ke timur. Jika dikaitkan dengan tempat sinewoko sultan yang
menghadap
> ke utara (siti hinggil utara) sambil bersamadi menatap pucuk tugu dan
pucuk
> Merapi memang tampaknya Masjid di kiri dilihat dari sisi Sultan duduk.
Sultan
> menghadap ke utara karena rakyatnya ada di sisi tara kraton, bagian
selatan
> dianggap belakang (wingking) secara fungsional maupun simbolis. Apakah
ini
> artinya juga di kiri kraton ? Bangsal Kencono memang menghadap ke
timur dan
> Prabayekso menghadap ke utara. Rumusan paling jelas, masjid ada di
sisi barat
> aksis imajiner kraton Yogyakarta atau sebelah barat alun-alun utara.
Konon ada
> yang bilang, alun-alun utara adalah halaman depan kraton Yogyakarta.
>
> Â
>
> Soal
> membendung utara dalam arti fungsional-simbolis, ada maksud Belanda
memotong
> garis imajiner kraton-tugu yang menjadi arah semadi Sultan. Ini sangat
> mengganggu sebab garis semadi itu eksklusif hanya milik sultan dan
diganggu
> dengan suara sepur yang memotong garis itu. Pada waktu Sultan HB-I
masih hidup,
> garis imajiner itu tampaknya belum diganggu, tetapi setelah perang
Diponegoro
> yang dimenangkan Belanda, maka usaha mengacak-acak (dari sisi Jawa)
atau
> membuat pusat baru (dari sisi Belanda) sebagai tandingan kraton dengan
cara
> menghadirkan Jam Kota, Gereja Protestan, Rumah Residen, Beteng
Vredeburg, dsb
> sebagai upaya degradasi wibawa kraton dikembangkan terus. Pemotongan
as
> imajiner ini terjadi makin keras pada era HB VII atau VIII, yaitu
dengan
> pembuatan rel kereta api yang memotong garis imajiner itu. Tugu
sekarang ini
> hasil rekayasa kepala dinas PU jaman Belanda yang disupervisi oleh
pepatih
> dalem (yang bermuka dua, saat konflik harus memihak Belanda), bentuk
dan
> maknanya dibelokkan bukan pro-rakyat melainkan pro-belanda ! Ya karena
> pengawasnya memihak Belanda. Padahal di era Mangkubumi, tugu
golong-gilig
> merupakan simbol manunggaling Sultan dengan Rakyatnya dalam melawan
Belanda.
>
> Â
>
> Belanda
> memang mengetahui dengan tepat kosmologi kraton Yogyakarta, karena
banyak
> ilmuwan Belanda yang mahir budaya Jawa. Disini ilmu antropologi dan
arkeologi
> masih berpihak kepada penguasa seperti kasus Hurgronye di Aceh.
Belanda secara
> bertahap bisa memudarkan wibawa kraton dengan cara â€" cara
menata fisik, tetapi
> tidak berhasil secara spiritual kecuali jika labuhan-labuhan kraton
dihapuskan,
> maka kraton usailah sudah. Pada kasus ini, ritual menjadi penting
untuk
> menghidupkan dan menghidupi ruang, hanya pemanfaatannya pada masa kini
kurang
> optimal. Apakah kasus semacam Hurgronye bisa dibalik menjadi positif
untuk
> kehidupan masa kini dst ? Tentu bisa, tetapi sekarang ini jiwa ruang
berupa
> ritual sangat serius atau sekedar pasar malam â€" bazar mulai
disadari peran pentingnya
> di berbagai tempat. Ruang tanpa kegiatan yang convivial tampaknya
merupakan
> ruang yang mati dan beku serta dingin. Oleh karenanya, keberadaan
sektor
> informal pada sisi tertentu dan dengan karakter tertentu pula sangat
potensial untuk
> menghidupi dan menghidupkan ruang, tidak harus ritual dari kraton
karena
> sekarang kebudayaan ya perilaku semua orang.
>
> Â
>
> Perbaikan
> di Yogyakarta pada masa kini tampaknya menggunakan referensi yang
lain, bukan
> kosmologi masa lalu, bukan untuk mengembalikan aksis imajiner
seutuhnya
> melainkan membiarkannya dengan membuat jalan mobil sejajar di sisi
selatan rel
> kereta api yang sudah ada. Paradigmanya kelancaran lalu lintas yang
maunya juga
> ingin melestarikan konsep kunonya. Paradigmanya tambal-sulam karena
banyak
> kesulitannya. Aksis imajiner, khususnya pada penggal kraton-tugu,
unik, rumit
> dan sangat kompleks. Sebab untuk menurunkan rel kereta api menjadi di
bawah
> jalan Malioboro diperlukan usaha yang luar biasa. Rel harus turun
sejak dari
> bandara Adisucipto dan ini menjadi sangat rumit. Tetapi dari sisi
teknologi
> sebenarnya tidak masalah. Barangkali karena DIY bukan Riau, yang kaya
raya bisa
> membangun perpustakaan ideal yang boros ruang, sehingga seperti itulah
jadinya,
> masih dipertahankan sisa-sisa era penjajahan dengan argumentasi dan
narasi yang
> disertakannya.
>
> Â
>
> Sekian
> dulu Pak, semoga Pak BSP dan sahabat lain berkenan menambahi atau
meluruskan
> hal-hal yang keliru dalam uraian saya.
>
> Â
>
>
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com



Kirim email ke