Pak Ekadj, mungkin benar pendapat panjenengan tentang keblat papat lima pancer 
khas Jawa dan terkait dengan letak geografis. Namun sebenarnya isi dari setiap 
kiblat itu mirip di Bali yaitu panca maha bhuta atau lima unsur dalam kiblat 
Cina Kuno yang sekarang populer dalam film Avatar ! Bahkan dalam film lain juga 
ada yang menggunakan dasar filsafat alam yang sama. Itu lho yang bintangnya 
anak-anak muda kemudian berubah jika mereka mengalami desakan yang mengancam 
jiwa.

Keblat papat limo pancer yang saya kenal sebenarnya lebih mendalam dari itu 
sebab di setiap titik kiblat ada 9 unsur (maka ada 5 x 9 = 45 unsur). Isi ini 
sangat dirahasiakan dalam kepercayaan Jawa yang tidak boleh dibuka karena 
masing-masing unsur mengandung kekuatan dahsyat. Nah, penjelasan singkat ini 
ingin mengatakan bahwa kiblat jawa tersebut bukan sekedar arah melainkan 
mengandung dimensi spiritual, yang jaman dahulu digunakan untuk mengendalikan 
kekuatan-kekuatan gaib. Kalau saya teruskan....saya bisa jadi dukun hehehe..... 
tetapi saya menyimpan itu semua dan mencoba mencari penjelasan lewat ilmu-ilmu 
positif. Jadi yang ditulis orang selama ini memang baru sebagian, yang mudah 
dan "boleh" dimengerti. Saya kira panca maha bhuta di Bali juga digunakan untuk 
hal-hal yang sejenis.

Dari paparan ini saya semakin meyakini bahwa konsep ruang dalam khasanah budaya 
masyarakat kuno bukan sekedar ruang geometris-fisik, melainkan mengandung 
roh-roh dan kekuatan gaib. Ini sudah banyak yang tahu dan semakin hilang ketika 
konteksnya kota. Tentu konsep ini sangat bermanfaat ketika diterapkan di tempat 
yang tepat. Jika Rapoport mengatakan bahwa tata spasial tergantung pada relasi 
benda dengan benda, manusia dengan benda dan manudia dengan manusia, maka di 
kalangan masyarakat mitis sosok Tuhan dan nenek-oyang serta roh-roh lain 
terlibat di dalamnya. Ini kekayaan lokal yang barangkali menarik untuk diuji, 
apakah sungguh penting dan perlu untuk penataan ruang di Indonesia dengan 
paradigma ruang lokal !

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 7/21/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 234
To: [email protected]
Date: Tuesday, July 21, 2009, 12:44 AM






 




    
                  

Pak Djarot ysh, uraian 234 berikut ini cukup lengkap dan dalam

menguraikan aspek geomachy dan kosmologi 'jagad Jawa', dan telah

memperkaya perbendaharaan kita. Saya tertarik dengan orientasi empat

penjuru angin dan titik pusat (keblat papat limo pancer) yang saya kira

khas Jawa, dan telah tertanam sejak zaman dahulu sejak era belum

mengenal kompas. Sehingga lahir istilah-istilah lor-wetan-kidul- kulon

dsb. Mungkin karena kebetulan posisi axis pulau Jawa yang lurus

membentang timur-barat, sehingga orientasi seperti ini menjadi familiar

dalam masyarakat. Untuk posisi Yogya terbantu dengan orientasi gunung

dan laut. Namun perlu diselidiki juga untuk daerah-daerah lain di Jawa

yang tidak memiliki orientasi geomorfologis seperti itu.



Daerah-daerah lain di nusantara boleh dibilang tidak terlalu mengacu

orientasi mata angin. Di Sumatera misalnya, orientasi geografis dominan

dibentuk oleh hulu-hilir, ulu-ilir, kanan-kiri, atas-bawah, bukit-lurah,

gunung-pesisir, darat-laut, dst. Malah kalau Cak Andri di Medan

ditanyakan dimana letak kota Pekanbaru, maka pasti akan dijawab: "ada di

bawah kota Medan". Kalau Banda Aceh ada di atas Medan, dst. Benarkah

Cak? Saya kira hal serupa juga berlangsung di Kalimantan sampai Papua.

Jadi orientasi mata angin memang tipikal Jawa saya kira. Atau mungkin

rekan-rekan di daerah punya pendapat yang lain?



Sementara demikian dulu. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Pak

> Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi,

>

> Â

>

> Saya

> usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius

seperti

> ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain.

>

> KEDUA.

> Konsep ruang berbentuk lingkaran konsentris di kraton Yogyakarta versi

> Mangkubumi mewujud menjadi lapisan Kraton, Kutanegara, Negara dan

Mancanegara sebenarnya

> memiliki referensi dari naluri pertahanan diri masyarakat kuno. Jika

kita baca

> riwayat Mangkubumi, orang akan segera tahu referensinya dari kejawen,

Hindu,

> Islam dsb. Masuknya nilai Islam ke dalam tata ruang kraton di Jawa

saya kira

> sejak Demak (Sultan Trenggono). Orang Baduy selalu bilang, kami dari

inti

> jagad, artinya dari titik tengah dunia dan konsep titik dan lingkaran

ini

> ditemukan dimana-mana bahwa untuk bisa merasa tenteram hidup di dalam

chaos

> harus ditetapkan sebuah titik pusat, maka segera chaos berubah menjadi

cosmos

> menurut pandangan etnosentristis.

>

> Â

>

> Orang

> Indian meletakkan tiang di tengah wigwam mereka sebagai sebuah pillar

cosmic,

> menurut Eliade. Orang Kaenbaun meletakkan batu suci sebagai elemen

pertama

> untuk sebuah rumah tinggal, disusul tiang suci di dekat batu suci

(mirip

> tonggak tuo di Minang ? atau saka tuwo di Kulon Progo!). Titik suci

ini titik

> tengah, tempat terpancarnya enerji (supranatural) kehidupan ke segala

arah menurut

> kacamata kuno; jadi titik orientasi kehidupan. Dalam gambaran Eliade

pola suatu

> ruang menurut masyarakat kuno adalah ada sacred object (obyek atau

titik paling

> tengah), holy place (ruang di sekelilingnya) , founded cosmos (lapisan

ruang di

> luarnya) dan sacred cosmos (lapisan ruang paling luar). Artinya, idea

tentang ruang

> selalu dikaitkan dengan dimensi suci (Tuhan/Allah) , minimal enerji

> supranatural.

>

> Â

>

> Dulu

> rumah petani Jawa ada sentong tengah karena mereka memuja Dewi Sri,

maka

> sentong tengah selalu ada tempat tidur Dewi Sri, siapa tahu mau

berkunjung ke

> rumah mereka. Artinya, bagi mereka bekerja dan berdoa adalah satu.

Tetapi

> sekarang senthong tengah di rumah orang Jawa di Jawa tidak ada lagi,

yang umum

> ada ialah ruang keluarga dengan pesawat televisi. Sejauh ini saya

belum pernah

> menemukan sentong tengah diganti dengan fungsi sebagai ruang doa untuk

keluarga

> modern, misalnya untuk sembahyang menurut cara Islam atau Katolik atau

Hindu

> atau yang lain.

>

> Â

>

> Konsepsi

> tata ruang kraton versi Mangkubumi realitasnya mengatur ruang secara

meruang

> empat arah (yang lima di tengah) sekaligus isinya (tatanan sosial)

yang bisa

> dilihat banyak aspeknya. Dari aspek pertahanan diri jelas ada

perkampungan

> prajurit yang ditata menurut empat arah mata angin, ada yang tinggal

di dalam

> kraton (Mantrijero, para mantri yang dekat dengan sultan dan prajurit

Langenastro,

> pembawa tombak), di luar beteng ada perkampungan prajurit lainnya.

Tegasnya, ada

> penataan ruang dan ada penataan tata masyarakatnya sekaligus dan

Belanda memanfaatkannya

> untuk menata kota Jakarta, misalnya, dengan nama kampung-kampung

berdasarkan

> etnisnya. Menata ruang adalah menata wadah dan isinya sekaligus,

tetapi

> perumahan massal kita menata sebaran tipe rumah dengan membayangkan

status

> ekonominya saja; menurut kategori terbatas (ekonomi).

>

> Â

>

> Selain

> itu, pola konsentris tersebut menggabungkan empat arah (lima arah)

dengan pola

> luar-dalam. Lingkaran-lingkaran itu berpusat pada Sultan, khususnya

kraton,

> lebih khusus gedong pusaka, lebih-lebih khusus "kyai damar" (sebutan

> saya, karena lupa namanya). Kyai Damar adalah sebuah dian - sentir di

gedong

> pusaka yang selalu menyala dan nggak boleh padam dan itu diyakini

menjadi titik

> enerji supranatural kraton / kerajaan Yogyakarta. Inti konsepnya,

titik tengah

> sebagai titik suci - sumber enerji kehidupan; jadi pola tengah dan

pinggiran

> digabung dengan konsep keblat papat limo pancer.

>

> Â

>

> Sisa-sisa

> konsepsi itu masih bisa disaksikan sampai sekarang, yaitu dari peta

terlihat

> jelas kota Yogyakarta dikelilingi empat kabupaten pada empat arah mata

angin;

> sultan dikeliling empat bupati penjaga empat wilayah di emat arah mata

angin.

> Setiap pengangkatan bupati baru selalu diberi gelar oleh Sultan, tentu

ini

> menyimbolkan adanya ikatan fungsional - simbolis empat bupati dengan

kraton. Nah

> konsep walikota tampaknya merupakan hal yang menarik, sebab dulu

adanya hanya kraton

> sebagai pusat ruang kehidupan di Yogyakarta, sekarang ada walikota

sebagai

> unsur baru dalam cara pikir tradisional.

>

> Â

>

> Konsep

> lingkaran konsentris ini sangat etnosentris, pertanyaannya apakah bisa

menjadi

> semacam best-practices yang layak digunakan untuk menata ruang-ruang

era masa

> modern ? Tentu ada hal yang bisa diambil, misalnya bagaimana ikatan

antara

> titik tengah dan "pinggiran" dijamin menjadi kerjasama sinerjis, bukan

> sebuah cara memecah diri bupati menjadi semacam raja kecil di era

otonomi.

> Disini manajemen dan birokrasi bisa disinerjikan dengan pengelolaan

ruang yang

> utuh, wadah dan isinya tadi.

>

> Â

>

> Buku

> yang ditulis oleh Aleksander Usfinit berjudul "Maubes Insana"

menjelaskan

> bagaimana keunikan kerjaan Insana di Timor secara konsep tatanan

keruangan memiliki

> kemiripan dengan kraton Yogyakarta menurut interpretasi saya. Tata

ruang diatur

> dengan menggabungkan empat arah (lima arah) dengan konsep luar-dalam,

sekaligus

> menata ruang dan masyarakatnya. Ada wilayah pusat, wilayah tengah dan

wilayah

> luar. Di dalam wilayah pusat berdiam keluarga Usfinit (raja),

kerabatnya dan

> suku-suku yang dekat dengan raja dan terdapat "kraton Maubes Insana"

> berupa rumah bulat bertiang tunggal. Pada wilayah tengah ada kelompok

suku-suku

> pemagar yang tersebar secara relatif acak mengelilingi wilayah pusat;

menjadi

> wilayah pertahanan diri untuk pusat. Di dalam wilayah luar terdapat

puluhan

> suku yang ditata menurut empat arah, sehingga menjadi jelas suku apa

tinggal di

> wilayah luar-timur, misalnya. Jaman dulu di Timor tampaknya pertahanan

diri

> menggunakan tameng suku/manusia, kini macan tamil di Srilanka juga

demikian.

> Jadi ada naluri universal pertahanan diri yang sama. Apakah naluri

pertahanan diri

> yang kuno ini bisa diubah menjadi naluri untuk membangun diri ???

>

> Â

>

> Saya

> kira keunikan penataan keruangan dengan memanfaatan konsep empat-lima

arah dan

> konsep luar-dalam umum dilakukan pada kerajaan-kerajaan kuno di

Indonesia.

> Persoalannya, apakah jiwanya dapat diteruskan untuk masa kini, bukan

> melestarikan feodalisme melainkan aspek manajemen wilayah, misalnya.

Jika di

> kerajaan kuno di Timor maupun Mataram menggunakan kekerabatan untuk

menata

> suatu wilayah atau jalur perkawinan untuk mengembangkan (aneksasi)

wilayah (Kasus

> Wandansari dan Pangeran Pekik dari Surabaya jaman Panembahan

Senopati),

> tentunya pada masa kini nggak seperti itu. Era orde baru kekerabatan

pernah

> digunakan untuk menguasai departemen-departem en, misalnya Harmono

tetangga saya

> yang masih kerabat dengan prameswari raja-presiden karena cara pikir

kno tadi

> lantas diletakkan dan menjabat di departemen bagian cuap-cuap.

>

> Â

>

> Bila

> diimplikasikan untuk Indonesia tentunya perlu dirumuskan dengan jelas,

sebab referensi

> masa lalu memang ada sisi baik dan buruk yang mesti dikritisi ya Pak.

Secara

> tidak sengaja, sebenarnya cara pandang saat ini-pun sudah terpengaruh

referensi

> Jagad Jawa itu: ada Jawa dan Luar Jawa, ada bagian barat dan timur,

tetapi

> relasi dan mekanisme yang dimiliki dari konsep kuno itu tidak

dijalankan dengan

> konsisten, sehingga muncul kesenjangan- kesenjangan. Ada usaha

mengangkat

> pasangan nusantara tetapi ya tetap gagal juga karena masyarakat tidak

berpikir

> seperti referensi kuno itu. Jika diterapkan secara terbatas, mungkin

masih ada

> manfaatnya, misalnya skala provinsi (seperti DIY, meskipun banyak juga

> masalahnya) atau skala kabupaten.

>

> Â

>

> KETIGA.

> Soal sentralisasi dan keblat papat limo pancer umumnya selalu menjadi

referensi

> orang Jawa yang masih senang dengan gagasan-gagasan kuno itu. Wujudnya

tidak

> selalu persis pleg dengan realitas visual yang tampak. Gunung Merapi

dan Laut

> Kidul juga menjadi orientasi kraton Surakarta, tetapi wujud ideal dan

real

> sangat sempurna ketika ada pada desain kraton Yogyakarta, sebab gunung

Merapi

> tepat di utara kraton dan laut kidul tepat di selatan kraton. Pada

kraton -

> kraton Mataram sebelumnya tidak bisa terjadi berimpitnya gagasan ideal

dengan

> tatanan fisiknya, dan itu hanya terjadi di kraton Yogyakarta. Ini

interpretasi

> saya Pak.

>

> Â

>

> KEEMPAT.

> Posisi kraton sebenarnya menghadap ke timur, sebab Bangsal Kencono di

dalam

> tembok kraton menghadap ke timur juga karena ketika sultan duduk di

bangsal itu

> menghadap ke timur. Jika dikaitkan dengan tempat sinewoko sultan yang

menghadap

> ke utara (siti hinggil utara) sambil bersamadi menatap pucuk tugu dan

pucuk

> Merapi memang tampaknya Masjid di kiri dilihat dari sisi Sultan duduk.

Sultan

> menghadap ke utara karena rakyatnya ada di sisi tara kraton, bagian

selatan

> dianggap belakang (wingking) secara fungsional maupun simbolis. Apakah

ini

> artinya juga di kiri kraton ? Bangsal Kencono memang menghadap ke

timur dan

> Prabayekso menghadap ke utara. Rumusan paling jelas, masjid ada di

sisi barat

> aksis imajiner kraton Yogyakarta atau sebelah barat alun-alun utara.

Konon ada

> yang bilang, alun-alun utara adalah halaman depan kraton Yogyakarta.

>

> Â

>

> Soal

> membendung utara dalam arti fungsional-simbolis , ada maksud Belanda

memotong

> garis imajiner kraton-tugu yang menjadi arah semadi Sultan. Ini sangat

> mengganggu sebab garis semadi itu eksklusif hanya milik sultan dan

diganggu

> dengan suara sepur yang memotong garis itu. Pada waktu Sultan HB-I

masih hidup,

> garis imajiner itu tampaknya belum diganggu, tetapi setelah perang

Diponegoro

> yang dimenangkan Belanda, maka usaha mengacak-acak (dari sisi Jawa)

atau

> membuat pusat baru (dari sisi Belanda) sebagai tandingan kraton dengan

cara

> menghadirkan Jam Kota, Gereja Protestan, Rumah Residen, Beteng

Vredeburg, dsb

> sebagai upaya degradasi wibawa kraton dikembangkan terus. Pemotongan

as

> imajiner ini terjadi makin keras pada era HB VII atau VIII, yaitu

dengan

> pembuatan rel kereta api yang memotong garis imajiner itu. Tugu

sekarang ini

> hasil rekayasa kepala dinas PU jaman Belanda yang disupervisi oleh

pepatih

> dalem (yang bermuka dua, saat konflik harus memihak Belanda), bentuk

dan

> maknanya dibelokkan bukan pro-rakyat melainkan pro-belanda ! Ya karena

> pengawasnya memihak Belanda. Padahal di era Mangkubumi, tugu

golong-gilig

> merupakan simbol manunggaling Sultan dengan Rakyatnya dalam melawan

Belanda.

>

> Â

>

> Belanda

> memang mengetahui dengan tepat kosmologi kraton Yogyakarta, karena

banyak

> ilmuwan Belanda yang mahir budaya Jawa. Disini ilmu antropologi dan

arkeologi

> masih berpihak kepada penguasa seperti kasus Hurgronye di Aceh.

Belanda secara

> bertahap bisa memudarkan wibawa kraton dengan cara â€" cara

menata fisik, tetapi

> tidak berhasil secara spiritual kecuali jika labuhan-labuhan kraton

dihapuskan,

> maka kraton usailah sudah. Pada kasus ini, ritual menjadi penting

untuk

> menghidupkan dan menghidupi ruang, hanya pemanfaatannya pada masa kini

kurang

> optimal. Apakah kasus semacam Hurgronye bisa dibalik menjadi positif

untuk

> kehidupan masa kini dst ? Tentu bisa, tetapi sekarang ini jiwa ruang

berupa

> ritual sangat serius atau sekedar pasar malam â€" bazar mulai

disadari peran pentingnya

> di berbagai tempat. Ruang tanpa kegiatan yang convivial tampaknya

merupakan

> ruang yang mati dan beku serta dingin. Oleh karenanya, keberadaan

sektor

> informal pada sisi tertentu dan dengan karakter tertentu pula sangat

potensial untuk

> menghidupi dan menghidupkan ruang, tidak harus ritual dari kraton

karena

> sekarang kebudayaan ya perilaku semua orang.

>

> Â

>

> Perbaikan

> di Yogyakarta pada masa kini tampaknya menggunakan referensi yang

lain, bukan

> kosmologi masa lalu, bukan untuk mengembalikan aksis imajiner

seutuhnya

> melainkan membiarkannya dengan membuat jalan mobil sejajar di sisi

selatan rel

> kereta api yang sudah ada. Paradigmanya kelancaran lalu lintas yang

maunya juga

> ingin melestarikan konsep kunonya. Paradigmanya tambal-sulam karena

banyak

> kesulitannya. Aksis imajiner, khususnya pada penggal kraton-tugu,

unik, rumit

> dan sangat kompleks. Sebab untuk menurunkan rel kereta api menjadi di

bawah

> jalan Malioboro diperlukan usaha yang luar biasa. Rel harus turun

sejak dari

> bandara Adisucipto dan ini menjadi sangat rumit. Tetapi dari sisi

teknologi

> sebenarnya tidak masalah. Barangkali karena DIY bukan Riau, yang kaya

raya bisa

> membangun perpustakaan ideal yang boros ruang, sehingga seperti itulah

jadinya,

> masih dipertahankan sisa-sisa era penjajahan dengan argumentasi dan

narasi yang

> disertakannya.

>

> Â

>

> Sekian

> dulu Pak, semoga Pak BSP dan sahabat lain berkenan menambahi atau

meluruskan

> hal-hal yang keliru dalam uraian saya.

>

> Â

>

>

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke