Pro Rekans ysh

Asw. Semoga puter p BSP lekas sehat...amien

Wah kebeneran mas Djarot, atas rencana kiriman artikel pemukiman masyarakat 
Madura  'bercorak carok'. Saya tunggu banget. Makasih sanget lho.. Juga info 
mas Ekadj soal kampung tatanan Madura di Rawamangun, saya akan sempatkan 
lihat...semoga tidak nyasar jalan masuknya.. 
Sedikit soal wayang, saya menyukai pesan2 luhur terutama dari wayang
kulit (cucal). Satu2nya wayang kulit yang saya koleksi adalah begawan
Abiyoso (th 1987 saya pesan pribadi dibuatkan wayang dengan ukiran halus prodo
di Jogja).Terima kasih atas infonya...sangat bermanfaat. 

Sekedar tambahan informasi soal pola pemukiman Madura  dan kehidupannya.
Mayarakat Madura, dulunya dipimpin Ratu/Rato (Raja) di timur berpusat di 
Sumenep seperti yg sdh saya sampaikan sebelumnya. Di barat jug ada kerajaan 
yang pindah beberapa kali mengikut keputusan raja2 pada jamannya, dan yang 
terakhir  lokasinya di Arosbaya Kab Bangkalan. Karena berpindah2, mungkin 
menyebabkan  situsnya dan artefaknya sudah banyak hilang. Ada perbedaan 
mendasar soal derajad kehalusan berbicara. Masyarakat Madura keturunan timur 
(Sumenep-Pamekasan) lebih halus (lembut) seperti budi bahasanya Solo/Jogja, dan 
semakin ke barat yaitu Sampang-Bangkalan relatif lebih kasar/keras. Agaknya 
halus kasar di pulau ini berhubungan dengan sikon hinterland masing2. Di 
belahan timur, banyak padi sawah, sungai, dan tanahnya lebih subur. juga 
tembakau. Sedikit saja yg berbatu karang, paling di kec Bluto. Ringkasnya 
belahan timur lebih developed. Nah semakin ke barat (Sampang-Bangkalan-hingga 
Jembatan Madusura/Suramadu..) kondisi geografis juga curah
 hujannya lebih kering kerontang, tanah berkapur. Wilayah ini banyak 
memproduksi jagung, jambu mete/monyet dan srikaya besar. Nah persoalan perilaku 
carok lebih terasa di kab Sampang khususnya di perdesaan. Di kab Sumenep 
mungkin tinggal kenangan. Menarik untuk dimonitor dan dikaji secara kewilayahan 
untuk  perkembangan pembangunan dan perilakunya setelah jembatan jadi, mungkin 
percepatan pembangunan  berbalik mengalir dari  barat ke belahan timur. 

Soal makanan pokok, p. Ekadj, di perdesaan sudah mulai banyak makan nasi beras, 
atau beras campur jagung. Mungkin hal ini dipengaruhi berita tayangan TV / 
media lainnya yang gencar menampilkan olahan menu makanan dari beras/tepung 
beras. Jarang kita lihat olahan bahan dasar jagung. Nah, adanya jembatan 
Suramadu ini, pasti pasokan beras lebih ramai ke tanah pulau produsen tembakau 
istimewa ini. Oh ya, guna melengkapi khasanah p Aby, di Madura juga dikenal 
wayang (wayang kulit dan wayang orang) diiringi gamelan disebut Kliningan (bhs 
jawa klenengan). Hanya, wayang orangnya pake topeng (masker) dan dominan warna 
merah. 

Yang suka koleksi batik dan ukir2an kayu jati tua, dan ikan tongkol,di sini 
tempatnya. Ikan (bhs madura JUKO'), persis seperti orang Jawa menyebut ikan 
(IWAK) sebagaiman tulisan sebelumnya. Singkatnya, kalau mau mengatakan : makan 
nasi dengan lauk (= ngakan nase ben juko')...makan ikan ayam (= ngakan juko' 
ajem..) kan sama dg bhs Jawa = mangan iwak pitek..
Beberapa sifat orang Madura itu ialah : nurut, setia, dan tidak takut 
kematian..(masih banyak sifat lainnya). Ada yg harus dihormati/dijaga, ada yg 
boleh kompromi, ada yg jangan diganggu...bila kita mengenal baik sifat 
tsb..pembangunan pasti dijamin lancar.

Ini yang terlihat (kasad mata). Yang tersimpan/tidak terlihat/supranatural 
masih banyak yg belum dipublikasi. Bila mau mendalami, menseriusi, bisa ke para 
informal leaders.. Termasuk pemahaman soal 'anasir alam'. Sebagai info, di 
beberapa tempat, diyakini banyak lahan keramat, makam keramat, juga 'pesantren 
tua' seperti di Batu Ampar. Nah, soal 'keramat' ini, saya agak khawatir dengan 
rencana expansi pembangunan2 lantaran adanya jembatan  baru. Semoga tidak ada 
konflik sosial-ekonomi. Semoga semua beroleh berkahNya. Wassalam Koes, JKT

--- On Thu, 23/7/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 234-madura
To: [email protected]
Date: Thursday, 23 July, 2009, 7:38 PM






 




    
                  Sebelumnya marilah kita panjatkan doa untuk kesembuhan putera 
Pak BSP. Siril fatihah ...
Pak Aby ysh, terima kasih atas 'simpanan ilmu'-nya, menjadi semakin jelas. 
Sebenarnya dari saya sendiri tidak ada maksud lain selain curiosity, siapa tahu 
jadi pengetahuan berguna dalam kajian spatial culture kita.
Untuk Minangkabau sendiri, saya yakin dulu ada namun sekarang sudah tidak ada, 
tentang perhitungan budaya geografis ini. Beberapa yang tersisa tersimpan di 
dalam tambo secara tertulis, dan sisa yang lain tersimpan di alam terkembang 
yang menjadi guru. Pada awal abad 19 tepatnya pada tahun 1803-1821 telah 
berlangsung gerakan Paderi yang memurnikan ajaran Islam di Minangkabau yang 
dilakukan oleh kelompok yang diistilahkan sebagai Wahabi. Beberapa ekses 
gerakan ini di antaranya adalah penghancuran Kerajaan Pagaruyung pada tahun 
1808 yang pernah hidup lebih 4 abad, dalam artian fisik dan pemusnahan 
keturunannya (walau ada yang dapat meloloskan diri). Termasuk juga berbagai 
praktek kurafat, bid'ah, dll yang hidup di dalam masyarakat. Dari chaos itu 
lahir budaya baru yang sering disebut dengan adat bersendi syarak dan syarak 
bersendikan kitabullah (abssbk). Kapan waktu saya akan menguraikan, karena 
cukup mendalami masalah ini.
Pengembangan 'budaya' ini di masa sekarang saya kira untuk memahami kearifan 
orang-orang terdahulu yang telah mewariskan suatu sistem keruangan yang Tuhan 
telah beri nikmat, dan Tuhan tidak murka, serta orang-orang terdahulu itu juga 
bukan orang yang sesat (al ayat).
Demikian Pak Aby, saran-saran Pak Aby selalu saya perhatikan, terima kasih dan 
mohon tuntunan selanjutnya. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashi...@. ..> wrote:
>
> Milisters semuanya ysh,
> Sebenarnya saya tak mau ikutan diskusi ttg keblat papat limo pancer (k45p) 
> ini…… tapi apa boleh buat host postingtainment kita kemarin menyinggung 
> jg masalah penerapan oleh orang2 Jawa diluar Jawa dan kawasan transmigrasi 
> dan beliau nunjuk, maka terpaksa saya ikutan sedikit……
> Tak banyak mengerti soal keblat 4-5 pancer itu…. Tapi setidaknya model tata 
> ruang k45p ini adalah model mistikasi  tata ruang peruntukan bagi raja atau 
> especially raja Mataram/ Yogya (walau sblmnya malah sudah ada sejak Majapahit 
> atau lbh lama lagi)…. maka ia bersifat aristosentrik….dan benar spt kata 
> rekan Djarot bhw k45p lbh banyak mengandung dan mengutamakan dimensi 
> spiritual berikut aspek energi gaibnya… dan barulah sesudahnya dimensi 
> sosial ekonomi sekedar menempel  dibelakangnya…….
> Sementara itu proyek transmigrasi (kecuali yg pertama 1904, di Lampung) 
> adalah model tata ruang pemerintah republik/ planologik/ demokratik…. Yg 
> lbh mengandung dimensi ekonomi dan sosial dan tak lagi berkait dgn masalah 
> hubungan rakyat dan raja atau bahkan antara raja dan Tuhan……. Apalagi 
> semasa orde baru kita tahu sendiri… selain recruitnya tak melulu orang jawa 
> saja lagi…. target2 recruitnya jg kuantitatip dan sementara itu  tak semua 
> orangsuka transmigrasi…… maka  program  transmigrasi menjangkau 
> targetnya dgn cara a.l. membujuk orang2 susah di Jawa termasuk  spt 
> pemulung, tunawisma dsb agar pindah keluar Jawa  yg padat….. atau kalau di 
> Deli menjadi kuli kontrak..… jelas bhw tak ada kedekatan migran dgn 
> pemikiran2 filosofi keruangan  model apapun ditempat mereka yg baru…..
> Bahwa tak lagi seperti masa 1904 dimana transmigrasi (kolonisasi) lbh 
> merupakan resettlement yg benar2 bedol desa dgn keleluasan replikasi budaya 
> dari tempat asal….. transmigrasi pasca kemerdekaan tak lagi memiliki banyak 
> keleluasan keruangan…..tak hanya dalam satu unit pemukiman… bahkan dalam 
> satu blok pemukiman pun transmigran bisa berasal dari bbrp suku…. atau 
> kalau yg dari jawapun juga berasal campuraduk dari kabupaten pedalaman maupun 
> pesisiran….jg campuraduk bahasa baik Jawa maupun Banyuwangi/ Madura dsb…. 
> Sehingga budaya mistik keruangan k45p itu semakin tak lagi terpikirkan…… 
> paling2 dilokasi transmigrasi sisa2 nostalgia budaya ditempat asal sekedar 
> diwujudkan berupa bahasa sehari2 serta pemberian nama-nama jalan lokal 
>  diblok2 pemukiman dgn nama2 pewayangan  spt  Samiaji, Werkudoro (Bima), 
> Madukara,  Kresno, Abimanyu, Gatotkaca dan tak kurang  ada juga jalan 
> Abiyoso di lokasi
 transmigrasi Batumarta SumSel sana…..  
> Tapi kembali ke spatial planning mistis  yg mengandung unsur enenrgi gaib 
> Jawa k45p tadi itu…..  Falsafah Kiblat 4-5 pancer yg lalu memiliki aspek 
> energi di 4 arah mata angin  yg semula berasal dari pengertian Dulur 4-5 
> Pancer (4 saudara/air ketuban, ari2, darah persalinan, potongan pusar - dan 1 
> diri kita sendiri) dimana dgn kita  mengaktifkan ritual tertentu orang lain 
> lalu setidaknya dapat melihat halusinasi kembaran sosok dari diri kita…. 
> K45p ini juga dihubungkan  pula dgn hitungan hari2 pasaran yg jumlahnya 5 
> pula, bahkan juga energi sinar serta warnanya…. Seperti Legi/ timur/ udara/ 
> sinar putih…. Paing/ selatan/ api/ sinar merah….Pon/ barat/ air/ 
> kuning….. Wage/utara/ tanah/ sinar hitam… dan terakhir Kliwon dipandang 
> sbg ‘pusatnya’/ jiwa/ bermacam warna sinar…..  
> Tak hanya itu… k45p bahkan ada yg menghubungkan dgn  sosok 4 punakawan dan 
> 1 ksatria yg kemana2 selalu  ber-5 pergi bersama2….
> Sebenarnya para advanced learners ilmu Kejawen  yg melingkupi k45p itu 
> banyak mengatakan bahwa k45p  yg asalnya adalah dulur4 5 pancer  itu 
> belumlah  apa2….. yg jauh lebih canggih lagi adalah energi ke 6 dan ke-7 
> yg berasal dari udara yg dihirup dan dikeluarkan ketika  siibu mengejan 
> dalam melahirkan kita… yg ia bahkan dpt berkomunikasi dgn kita dan menjaga 
> kita…  namun mungkin itu dipandang sebagai tak kebanyakan orang mampu 
> menggalinya dan memahaminya….. sehingga brkali yg lbh sederhana dan mudah 
> dan orang kebanyakan lbh dapat memahaminya  lalu adalah filosofi  k45p tadi 
> itu…… dan barangkali juga konstelasi  angka 4 dan 1 itu kompatibilitas 
> dgn banyak sekali fenomena alam yg konkrit disekitar kita jauh lbh luas dan 
> luwes …..maka lalu berkembanglah falsafah tata ruang mistik aristosentrik 
>  k45p itu……..    
> Dimata orang Jawa, keraton itu dipandang  keramat. Kawula takut kuwalat jika 
> berbuat semaunya di lingkungan keraton. Kawula selalu berasumsi bahwa raja 
> itu memiliki kuluk kanigara, yaitu mahkota yg esensinya memuat kewibawaan. 
> Mahkota/ makutha menyimpan hal-hal yang "the seen" dan "unseen worlds". Yang 
> kasatmata, makutha itu benda berharga, yg ada di balik barang itu, adalah 
> lambang kesaktian, kekuasaan, sebagai warisan pusaka Kiai Jaka Piturun. Maka 
> ketika dipimpin raja, kawula merasa adhem ayem, tenang.
> Kosmologi keraton Yogya tidak terlepas dari pandangan dunia Kejawen. 
> Masyarakat kejawen berpikir tentang kosmologi Jawa melalui jenjang ciptaan Yg 
> Maha Kuasa yang disebut Tribuwana, terdiri atas Guru loka (baitul makmur), 
> Endra loka (baitul muharam), dan Jana Loka (baitul muqadas). Guru loka dalam 
> posisi keraton diwakili oleh Gunung Merapi. Gunung berada utara (lor, utama), 
> luhur. Posisi tengah yaitu Endra loka. Endra artinya raja. Raja kehidupan 
> tidak lain hati (rasa sejati). Adapun Jana loka adalah gambaran kawula, 
> rendah, dan bawah. Ketiga ranah filosofi-kosmis ini lalu memposisikan keraton 
> sebagai sentral/ pustnya.
> Pemikiran kosmologi Jawa kemudian berkembang lagi, dari  Tribuwana menjadi 
> Pancabuwana. Konsep Pancabuwana tetap meletakkan keraton sebagai pusat. 
> Pancabuwana memuat keblat papat lima pancer. Artinya, bahwa buwana manusia 
> selalu dilingkupi oleh empat anasir dan keraton sebagai sentral (pancer) 
> kehidupan. 
> Keraton Yogyakarta secara kosmis diapit oleh empat anasir kiblat, yaitu 
> Kampung Gandamanan (Timur), Kampung Krapyak (selatan), Barat (Wirabrajan) , 
> Utara (Jetis). Makna filosofi Kampung Gandamanan ini jika ditarik ke utara 
> lurus, simetris dengan Kampung Gandalayu (timur Tugu). Adapun Kampung 
> Wirabrajan jika ditarik lurus ke utara muncul Kampung Pingit, sebelah barat 
> Tugu. Jadi garis imajiner keraton ke Tugu menandai bahwa keraton itu diapit 
> oleh dua nama kampung yang melambangkan hidup (Pingit, berarti suci) dan mati 
> (Gandalayu, artinya bau bangkai). Hal ini ditandai pula, bahwa Kampung Pingit 
> itu dialiri sungai Winanga dan Kampung Gandalayu dialiri Sungai Code. 
> Winanga, berasal dari bahasa Jawa winong, artinya paham, ketahuilah, 
> dekatkanlah dengan Hyang Winong yaitu Tuhan. Sebaliknya, jauhilah yang buruk, 
> berbau bangkai, yang dilambangkan Sungai Code (dalam bahasa Jawa, cocode, 
> kejelekan).
> Dari waktu ke waktu, umumnya orang Jawa memandang keraton selalu menyebarkan 
> ruh kosmis, yaitu: (1) memberi perlindungan (hangayomi), (2) memberi rasa 
> aman, tenang, dan tenteram (hangayemi), (3) memberi berkah berbagai hal 
> (hamberkahi) . Ketiganya tergambar pada watak raja yang mahambeg paramarta. 
> Artinya, raja selalu menyebarkan watak keutamaan kepada kawula. Kawula 
> memandang sultan sebagai figur yang mampu amangku-amengku.
> Amangku, artinya bisa menciptakan suasana tenang, adhem ayem, memahami 
> aspirasi bawahan secara total sebagaimana seorang ibu memangku anaknya. 
> Amengku, berarti mampu menjalankan kekuasaan yang tidak semena-mena, penuh 
> kecintaan, perlindungan, penuh perhatian, seperti halnya sayap ayam 
> melindungi anaknya. Among-momot, artinya mampu memimpin dengan kultur 
> kejawaan yang penuh asah-asih-asuh, mewadahi segala keinginan kawula. 
> Rekan H. Ekadj  yg adalah raja dan  pemimpin adat disalah satu kawasan 
> Sumatera Barat kiranya boleh juga kalau mau coba menerapkan  filosofi keblat 
> 4 5 pancer itu utk tata ruang disana…… konsultasi lengkapnya bisa ke mas 
> Djarot dan pak BSP…..…
> Salam,
> aby
>  
>  
> On Wed, July 22, 2009 4:27 AM  "ffekadj" 4ekadj@ wrote :
>   
> Pak Djarot ysh, sebenarnya ada dua hal yang ingin saya tanyakan, yaitu :
> 1 Bagaimana konsep keblat papat limo pancer itu diterapkan di luar Jawa? Saya 
> sering memperhatikan bagaimana orang Jawa yang berada di luar Jawa menentukan 
> orientasinya, dan kelihatannya agak 'miss' gitu. Atau ada orientasi bentukan 
> baru? Untuk permukiman yang dominan seperti transmigrasi, kelihatannya belum 
> terlalu terlihat, atau malah lebur. Yang tertinggal hanya 'bahasa Jawa'-nya 
> saja? Mungkin Pak Aby bisa sekalian membantu. Namun ada yang mewujud seperti 
> Lampung, ada kreativitas membangun orientasi sendiri. Untuk 'Jawa Deli', saya 
> kira sudah lebur. Dulu saya sempat bergaul dengan keluarga-keluarga Jawa 
> Suriname di Belanda, tidak terlalu 'kontak', namun komunikasi bisa intens 
> bila menggunakan basa Jawi.
> 2 Untuk aspek 'saudara bayangan' (9 unsur) dll sebenarnya dapat terjawab 
> secara Islamologi, namun kelihatannya hal ini sangat nyata dalam pandangan 
> Katholik sebagai diskusi yang dulu ? Sehingga saya ingin menanyakan sedikit 
> tentang konsep 'Roh Kudus' secara Christology bila berkesempatan ?
> Salam.
> -ekadj
>


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke