Pak Koes ysh, terima kasih atas tambahan penjelasannya, mudah-mudahan
menambah semangat untuk ingin berkunjung ke Madura. Saya kira kita perlu
pendalaman lagi mengenai 'Jagad Madura' ini, mengingat adanya kekhasan
orang Madura terutama yang merantau ke luar daerah. Saya meyakini traits
yang disampaikan Pak Koes karena pernah dekat dengan keluarga Pak Joni
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3774> dulu.
Saya ingin menambahkan penjelasan terutama kepada Pak Djarot, bila di
dalam Islam juga dihargai adat-budaya setempat ('urf). Hal ini dapat
dilihat dari kisah pembebasan Salman al Farisy
<http://www.sasak.net/forum/viewtopic.php?f=26&t=698> , ketika
Rasulullah mengikuti 'langkah demi langkah' adat-istiadat dalam
pembebasan budak, justru ketika beliau dalam kondisi sangat berpengaruh
saat itu di Madinah. Namun tentu sejauh yang tidak bertentangan dengan
syariat dan aqidah.
Salam,
-ekadj
--- In [email protected], muhammad koeswadi <m_koesw...@...>
wrote:
>
> Pro Rekans ysh
>
> Asw. Semoga puter p BSP lekas sehat...amien
>
> Wah kebeneran mas Djarot, atas rencana kiriman artikel pemukiman
masyarakat Madura 'bercorak carok'. Saya tunggu banget. Makasih
sanget lho.. Juga info mas Ekadj soal kampung tatanan Madura di
Rawamangun, saya akan sempatkan lihat...semoga tidak nyasar jalan
masuknya..
> Sedikit soal wayang, saya menyukai pesan2 luhur terutama dari wayang
> kulit (cucal). Satu2nya wayang kulit yang saya koleksi adalah begawan
> Abiyoso (th 1987 saya pesan pribadi dibuatkan wayang dengan ukiran
halus prodo
> di Jogja).Terima kasih atas infonya...sangat bermanfaat.
>
> Sekedar tambahan informasi soal pola pemukiman Madura dan
kehidupannya.
> Mayarakat Madura, dulunya dipimpin Ratu/Rato (Raja) di timur berpusat
di Sumenep seperti yg sdh saya sampaikan sebelumnya. Di barat jug ada
kerajaan yang pindah beberapa kali mengikut keputusan raja2 pada
jamannya, dan yang terakhir lokasinya di Arosbaya Kab Bangkalan.
Karena berpindah2, mungkin menyebabkan situsnya dan artefaknya
sudah banyak hilang. Ada perbedaan mendasar soal derajad kehalusan
berbicara. Masyarakat Madura keturunan timur (Sumenep-Pamekasan) lebih
halus (lembut) seperti budi bahasanya Solo/Jogja, dan semakin ke barat
yaitu Sampang-Bangkalan relatif lebih kasar/keras. Agaknya halus kasar
di pulau ini berhubungan dengan sikon hinterland masing2. Di belahan
timur, banyak padi sawah, sungai, dan tanahnya lebih subur. juga
tembakau. Sedikit saja yg berbatu karang, paling di kec Bluto.
Ringkasnya belahan timur lebih developed. Nah semakin ke barat
(Sampang-Bangkalan-hingga Jembatan Madusura/Suramadu..) kondisi
geografis juga curah
> hujannya lebih kering kerontang, tanah berkapur. Wilayah ini banyak
memproduksi jagung, jambu mete/monyet dan srikaya besar. Nah persoalan
perilaku carok lebih terasa di kab Sampang khususnya di perdesaan. Di
kab Sumenep mungkin tinggal kenangan. Menarik untuk dimonitor dan dikaji
secara kewilayahan untuk perkembangan pembangunan dan perilakunya
setelah jembatan jadi, mungkin percepatan pembangunan berbalik
mengalir dari barat ke belahan timur.
>
> Soal makanan pokok, p. Ekadj, di perdesaan sudah mulai banyak makan
nasi beras, atau beras campur jagung. Mungkin hal ini dipengaruhi berita
tayangan TV / media lainnya yang gencar menampilkan olahan menu makanan
dari beras/tepung beras. Jarang kita lihat olahan bahan dasar jagung.
Nah, adanya jembatan Suramadu ini, pasti pasokan beras lebih ramai ke
tanah pulau produsen tembakau istimewa ini. Oh ya, guna melengkapi
khasanah p Aby, di Madura juga dikenal wayang (wayang kulit dan wayang
orang) diiringi gamelan disebut Kliningan (bhs jawa klenengan). Hanya,
wayang orangnya pake topeng (masker) dan dominan warna merah.
>
> Yang suka koleksi batik dan ukir2an kayu jati tua, dan ikan tongkol,di
sini tempatnya. Ikan (bhs madura JUKO'), persis seperti orang Jawa
menyebut ikan (IWAK) sebagaiman tulisan sebelumnya. Singkatnya, kalau
mau mengatakan : makan nasi dengan lauk (= ngakan nase ben
juko')...makan ikan ayam (= ngakan juko' ajem..) kan sama dg bhs Jawa =
mangan iwak pitek..
> Beberapa sifat orang Madura itu ialah : nurut, setia, dan tidak takut
kematian..(masih banyak sifat lainnya). Ada yg harus dihormati/dijaga,
ada yg boleh kompromi, ada yg jangan diganggu...bila kita mengenal baik
sifat tsb..pembangunan pasti dijamin lancar.
>
> Ini yang terlihat (kasad mata). Yang tersimpan/tidak
terlihat/supranatural masih banyak yg belum dipublikasi. Bila mau
mendalami, menseriusi, bisa ke para informal leaders.. Termasuk
pemahaman soal 'anasir alam'. Sebagai info, di beberapa tempat, diyakini
banyak lahan keramat, makam keramat, juga 'pesantren tua' seperti di
Batu Ampar. Nah, soal 'keramat' ini, saya agak khawatir dengan rencana
expansi pembangunan2 lantaran adanya jembatan baru. Semoga tidak ada
konflik sosial-ekonomi. Semoga semua beroleh berkahNya. Wassalam Koes,
JKT
>
> --- On Thu, 23/7/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 234-madura
> To: [email protected]
> Date: Thursday, 23 July, 2009, 7:38 PM
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
> Sebelumnya marilah kita panjatkan doa untuk kesembuhan putera Pak BSP.
Siril fatihah ...
> Pak Aby ysh, terima kasih atas 'simpanan ilmu'-nya, menjadi semakin
jelas. Sebenarnya dari saya sendiri tidak ada maksud lain selain
curiosity, siapa tahu jadi pengetahuan berguna dalam kajian spatial
culture kita.
> Untuk Minangkabau sendiri, saya yakin dulu ada namun sekarang sudah
tidak ada, tentang perhitungan budaya geografis ini. Beberapa yang
tersisa tersimpan di dalam tambo secara tertulis, dan sisa yang lain
tersimpan di alam terkembang yang menjadi guru. Pada awal abad 19
tepatnya pada tahun 1803-1821 telah berlangsung gerakan Paderi yang
memurnikan ajaran Islam di Minangkabau yang dilakukan oleh kelompok yang
diistilahkan sebagai Wahabi. Beberapa ekses gerakan ini di antaranya
adalah penghancuran Kerajaan Pagaruyung pada tahun 1808 yang pernah
hidup lebih 4 abad, dalam artian fisik dan pemusnahan keturunannya
(walau ada yang dapat meloloskan diri). Termasuk juga berbagai praktek
kurafat, bid'ah, dll yang hidup di dalam masyarakat. Dari chaos itu
lahir budaya baru yang sering disebut dengan adat bersendi syarak dan
syarak bersendikan kitabullah (abssbk). Kapan waktu saya akan
menguraikan, karena cukup mendalami masalah ini.
> Pengembangan 'budaya' ini di masa sekarang saya kira untuk memahami
kearifan orang-orang terdahulu yang telah mewariskan suatu sistem
keruangan yang Tuhan telah beri nikmat, dan Tuhan tidak murka, serta
orang-orang terdahulu itu juga bukan orang yang sesat (al ayat).
> Demikian Pak Aby, saran-saran Pak Aby selalu saya perhatikan, terima
kasih dan mohon tuntunan selanjutnya. Salam.
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso watashiaby@ ..>
wrote:
> >
> > Milisters semuanya ysh,
> > Sebenarnya saya tak mau ikutan diskusi ttg keblat papat limo pancer
(k45p) iniââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦ tapi apa boleh buat host postingtainment
kita kemarin menyinggung jg masalah penerapan oleh orang2 Jawa diluar
Jawa dan kawasan transmigrasi dan beliau nunjuk, maka terpaksa saya
ikutan sedikitââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦
> > Tak banyak mengerti soal keblat 4-5 pancer ituââ¬Â¦. Tapi
setidaknya model tata ruang k45p ini adalah model mistikasi ÃÂ tata
ruang peruntukan bagi raja atau especially raja Mataram/ Yogya (walau
sblmnya malah sudah ada sejak Majapahit atau lbh lama lagi)ââ¬Â¦.
maka ia bersifat aristosentrikââ¬Â¦.dan benar spt kata rekan
Djarot bhw k45p lbh banyak mengandung dan mengutamakan dimensi spiritual
berikut aspek energi gaibnyaââ¬Â¦ dan barulah sesudahnya dimensi
sosial ekonomi sekedar menempel ÃÂ
dibelakangnyaââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦.
> > Sementara itu proyek transmigrasi (kecuali yg pertama 1904, di
Lampung) adalah model tata ruang pemerintah republik/ planologik/
demokratikââ¬Â¦. Yg lbh mengandung dimensi ekonomi dan sosial dan
tak lagi berkait dgn masalah hubungan rakyat dan raja atau bahkan antara
raja dan Tuhanââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦. Apalagi semasa orde baru kita tahu
sendiriââ¬Â¦ selain recruitnya tak melulu orang jawa saja
lagiââ¬Â¦. target2 recruitnya jg kuantitatip dan sementara itu
àtak semua orangsuka transmigrasiââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦ makaÃÂ
program ÃÂ transmigrasi menjangkau targetnya dgn cara a.l. membujuk
orang2 susah di Jawa termasukÃÂ spt pemulung, tunawisma dsb agar
pindah keluar Jawaàyg padatââ¬Â¦.. atau kalau di Deli
menjadi kuli kontrak..ââ¬Â¦ jelas bhw tak ada kedekatan migran dgn
pemikiran2 filosofi keruangan ÃÂ model apapun ditempat mereka yg
baruââ¬Â¦..
> > Bahwa tak lagi seperti masa 1904 dimana transmigrasi (kolonisasi)
lbh merupakan resettlement yg benar2 bedol desa dgn keleluasan replikasi
budaya dari tempat asalââ¬Â¦.. transmigrasi pasca kemerdekaan tak
lagi memiliki banyak keleluasan keruanganââ¬Â¦..tak hanya dalam
satu unit pemukimanââ¬Â¦ bahkan dalam satu blok pemukiman pun
transmigran bisa berasal dari bbrp sukuââ¬Â¦. atau kalau yg dari
jawapun juga berasal campuraduk dari kabupaten pedalaman maupun
pesisiranââ¬Â¦.jg campuraduk bahasa baik Jawa maupun Banyuwangi/
Madura dsbââ¬Â¦. Sehingga budaya mistik keruangan k45p itu semakin
tak lagi terpikirkanââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦ paling2 dilokasi transmigrasi
sisa2 nostalgia budaya ditempat asal sekedar diwujudkan berupa bahasa
sehari2 serta pemberian nama-nama jalan lokal ÃÂ diblok2 pemukiman
dgn nama2 pewayangan ÃÂ sptÃÂ Samiaji, Werkudoro (Bima),
Madukara, ÃÂ Kresno, Abimanyu, Gatotkaca dan tak kurangÃÂ ada
juga jalan Abiyoso di lokasi
> transmigrasi Batumarta SumSel sanaââ¬Â¦..ÃÂ
> > Tapi kembali ke spatial planning mistis ÃÂ yg mengandung unsur
enenrgi gaib Jawa k45p tadi ituââ¬Â¦.. àFalsafah Kiblat 4-5
pancer yg lalu memiliki aspek energi di 4 arah mata angin ÃÂ yg
semula berasal dari pengertian Dulur 4-5 Pancer (4 saudara/air ketuban,
ari2, darah persalinan, potongan pusar - dan 1 diri kita sendiri) dimana
dgn kita ÃÂ mengaktifkan ritual tertentu orang lain lalu setidaknya
dapat melihat halusinasi kembaran sosok dari diri kitaââ¬Â¦. K45p
ini juga dihubungkan ÃÂ pula dgn hitungan hari2 pasaran yg
jumlahnya 5 pula, bahkan juga energi sinar serta warnanyaââ¬Â¦.
Seperti Legi/ timur/ udara/ sinar putihââ¬Â¦. Paing/ selatan/ api/
sinar merahââ¬Â¦.Pon/ barat/ air/ kuningââ¬Â¦.. Wage/utara/
tanah/ sinar hitamââ¬Â¦ dan terakhir Kliwon dipandang sbg
ââ¬Ëpusatnyaââ¬â¢/ jiwa/ bermacam warna
sinarââ¬Â¦.. ÃÂ
> > Tak hanya ituââ¬Â¦ k45p bahkan ada yg menghubungkan dgnÃÂ
sosok 4 punakawan dan 1 ksatria yg kemana2 selalu ÃÂ ber-5 pergi
bersama2ââ¬Â¦.
> > Sebenarnya para advanced learners ilmu Kejawen ÃÂ yg melingkupi
k45p itu banyak mengatakan bahwa k45p ÃÂ yg asalnya adalah dulur4 5
panceràitu belumlah àapa2ââ¬Â¦.. yg jauh lebih
canggih lagi adalah energi ke 6 dan ke-7 yg berasal dari udara yg
dihirup dan dikeluarkan ketika ÃÂ siibu mengejan dalam melahirkan
kitaââ¬Â¦ yg ia bahkan dpt berkomunikasi dgn kita dan menjaga
kitaââ¬Â¦ ànamun mungkin itu dipandang sebagai tak
kebanyakan orang mampu menggalinya dan memahaminyaââ¬Â¦.. sehingga
brkali yg lbh sederhana dan mudah dan orang kebanyakan lbh dapat
memahaminya ÃÂ lalu adalah filosofi ÃÂ k45p tadi
ituââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦ dan barangkali juga konstelasi àangka 4
dan 1 itu kompatibilitas dgn banyak sekali fenomena alam yg konkrit
disekitar kita jauh lbh luas dan luwes ââ¬Â¦..maka lalu
berkembanglah falsafah tata ruang mistik aristosentrik ÃÂ k45p
ituââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦.. ààÃÂ
> > Dimata orang Jawa, keraton itu dipandang ÃÂ keramat. Kawula
takut kuwalat jika berbuat semaunya di lingkungan keraton. Kawula selalu
berasumsi bahwa raja itu memiliki kuluk kanigara, yaitu mahkota yg
esensinya memuat kewibawaan. Mahkota/ makutha menyimpan hal-hal yang
"the seen" dan "unseen worlds". Yang kasatmata, makutha itu benda
berharga, yg ada di balik barang itu, adalah lambang kesaktian,
kekuasaan, sebagai warisan pusaka Kiai Jaka Piturun. Maka ketika
dipimpin raja, kawula merasa adhem ayem, tenang.
> > Kosmologi keraton Yogya tidak terlepas dari pandangan dunia Kejawen.
Masyarakat kejawen berpikir tentang kosmologi Jawa melalui jenjang
ciptaan Yg Maha Kuasa yang disebut Tribuwana, terdiri atas Guru loka
(baitul makmur), Endra loka (baitul muharam), dan Jana Loka (baitul
muqadas). Guru loka dalam posisi keraton diwakili oleh Gunung Merapi.
Gunung berada utara (lor, utama), luhur. Posisi tengah yaitu Endra loka.
Endra artinya raja. Raja kehidupan tidak lain hati (rasa sejati). Adapun
Jana loka adalah gambaran kawula, rendah, dan bawah. Ketiga ranah
filosofi-kosmis ini lalu memposisikan keraton sebagai sentral/ pustnya.
> > Pemikiran kosmologi Jawa kemudian berkembang lagi, dari ÃÂ
Tribuwana menjadi Pancabuwana. Konsep Pancabuwana tetap meletakkan
keraton sebagai pusat. Pancabuwana memuat keblat papat lima pancer.
Artinya, bahwa buwana manusia selalu dilingkupi oleh empat anasir dan
keraton sebagai sentral (pancer) kehidupan.
> > Keraton Yogyakarta secara kosmis diapit oleh empat anasir kiblat,
yaitu Kampung Gandamanan (Timur), Kampung Krapyak (selatan), Barat
(Wirabrajan) , Utara (Jetis). Makna filosofi Kampung Gandamanan ini jika
ditarik ke utara lurus, simetris dengan Kampung Gandalayu (timur Tugu).
Adapun Kampung Wirabrajan jika ditarik lurus ke utara muncul Kampung
Pingit, sebelah barat Tugu. Jadi garis imajiner keraton ke Tugu menandai
bahwa keraton itu diapit oleh dua nama kampung yang melambangkan hidup
(Pingit, berarti suci) dan mati (Gandalayu, artinya bau bangkai). Hal
ini ditandai pula, bahwa Kampung Pingit itu dialiri sungai Winanga dan
Kampung Gandalayu dialiri Sungai Code. Winanga, berasal dari bahasa Jawa
winong, artinya paham, ketahuilah, dekatkanlah dengan Hyang Winong yaitu
Tuhan. Sebaliknya, jauhilah yang buruk, berbau bangkai, yang
dilambangkan Sungai Code (dalam bahasa Jawa, cocode, kejelekan).
> > Dari waktu ke waktu, umumnya orang Jawa memandang keraton selalu
menyebarkan ruh kosmis, yaitu: (1) memberi perlindungan (hangayomi), (2)
memberi rasa aman, tenang, dan tenteram (hangayemi), (3) memberi berkah
berbagai hal (hamberkahi) . Ketiganya tergambar pada watak raja yang
mahambeg paramarta. Artinya, raja selalu menyebarkan watak keutamaan
kepada kawula. Kawula memandang sultan sebagai figur yang mampu
amangku-amengku.
> > Amangku, artinya bisa menciptakan suasana tenang, adhem ayem,
memahami aspirasi bawahan secara total sebagaimana seorang ibu memangku
anaknya. Amengku, berarti mampu menjalankan kekuasaan yang tidak
semena-mena, penuh kecintaan, perlindungan, penuh perhatian, seperti
halnya sayap ayam melindungi anaknya. Among-momot, artinya mampu
memimpin dengan kultur kejawaan yang penuh asah-asih-asuh, mewadahi
segala keinginan kawula.
> > Rekan H. Ekadj ÃÂ yg adalah raja danÃÂ pemimpin adat
disalah satu kawasan Sumatera Barat kiranya boleh juga kalau mau coba
menerapkan ÃÂ filosofi keblat 4 5 pancer itu utk tata ruang
disanaââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦ konsultasi lengkapnya bisa ke mas Djarot dan
pak BSPââ¬Â¦..ââ¬Â¦
> > Salam,
> > aby
> > ÃÂ
> > ÃÂ
> > On Wed, July 22, 2009 4:27 AMÃÂ "ffekadj" 4ekadj@ wrote :
> > ÃÂ
> > Pak Djarot ysh, sebenarnya ada dua hal yang ingin saya tanyakan,
yaitu :
> > 1 Bagaimana konsep keblat papat limo pancer itu diterapkan di luar
Jawa? Saya sering memperhatikan bagaimana orang Jawa yang berada di luar
Jawa menentukan orientasinya, dan kelihatannya agak 'miss' gitu. Atau
ada orientasi bentukan baru? Untuk permukiman yang dominan seperti
transmigrasi, kelihatannya belum terlalu terlihat, atau malah lebur.
Yang tertinggal hanya 'bahasa Jawa'-nya saja? Mungkin Pak Aby bisa
sekalian membantu. Namun ada yang mewujud seperti Lampung, ada
kreativitas membangun orientasi sendiri. Untuk 'Jawa Deli', saya kira
sudah lebur. Dulu saya sempat bergaul dengan keluarga-keluarga Jawa
Suriname di Belanda, tidak terlalu 'kontak', namun komunikasi bisa
intens bila menggunakan basa Jawi.
> > 2 Untuk aspek 'saudara bayangan' (9 unsur) dll sebenarnya dapat
terjawab secara Islamologi, namun kelihatannya hal ini sangat nyata
dalam pandangan Katholik sebagai diskusi yang duluÃÂ ? Sehingga
saya ingin menanyakan sedikit tentang konsep 'Roh Kudus' secara
Christology bila berkesempatan ?
> > Salam.
> > -ekadj
> >
>